Selasa, 30 Desember 2014
Disapu angin
Dan Cinta yang baik tidak harus memiliki semuanya, ia hanya harus memiliki saja.
Kalau-kalau puisimu hilang disapu angin, aku masih akan pulang menjemputmu.
Dialog Monolog
Jadi setelah malam hampir habis aku pergi sendiri.
Malam masih indah sedang fajar hampir tiba. Lalu di antara Jalan Dempo 2 dan Dempo 5 kamu berdiri di bawah lampu jalan.
"Ah, kamu. Kebetulan aku sedang berjalan-jalan dekat sini."
Aku mengangguk.
Omong kosong, mana ada orang berjalan-jalan di tengah malam buta dan kebetulan saja bertemu. Ia pasti menungguku keluar.
"Kamu pasti berpikir aku berbohong. Mungkin."
Ia berkata seperti membaca pikiranku.
Aku kemudian berjalan saja, jaket kukancingkan lebih rapat. Udara masih terlalu dingin. Kamu tanpa diminta mengikuti, aku diam saja.
"Bagaimana kabar istrimu sekarang?"
Aku mengangkat bahu.
Kamu mengangguk-angguk seakan mengerti.
"Ah, ya ya."
Ujarmu singkat.
Aku hampir mengeluarkan dan membakar rokok sampai ingat bahwa kamu tak pernah suka asap rokok. Aku menarik nafas panjang lalu kukeluarkan perlahan-lahan.
Kamu masih saja berjalan disampingku. Aku tidak peduli. Tapi mungkin kamu lebih tidak peduli kepada ketidakpedulianku. Beberapa kali kamu tertinggal langkah, beberapa kali pula aku diam menunggu.
"Mungkin aku harus pergi "
Entah kalimat berita, entah kalimat tanya. Aku berhenti berjalan. Kamu juga berhenti. Aku menatap matamu dan kulihat mataku di matamu. Aku melihat wajahmu dan kutemukan wajahku disana.
Aku menutup mata cukup lama.
Senin, 22 Desember 2014
Puisi tentang Rindu
Aku tak pernah yakin apakah rindu pernah berhasil dipuisikan dengan baik. "Aku merindukanmu." |
Rabu, 17 Desember 2014
Surat
Surat yang kamu kirimkan kemarin sudah kuterima hari ini. |
Kamis, 04 Desember 2014
Yang diam-diam menari
Dan semalam iya akhirnya pergi juga. "Aldo, mohon maaf aku terlalu lama tinggal. Tapi aku harus pergi sekarang. " ujarnya saat pamit kepadaku. Aku mengantarnya sampai depan pintu gerbang dan ia pamit sekali lagi. Aku hanya tersenyum ketika setiap langkah yang ia ambil membuat punggungnya semakin jauh. Dan ketika ia yakin tak ada seorang pun yang melihatnya di sekitar ia kemudian menari. |
Senin, 01 Desember 2014
Tentang Desember
Desember yang malang hanya mengagumimu dari jauh saat kamu mulai berjalan mendekatinya. Desember yang baik tidak akan membangunkanmu walau ia sudah menghabiskan seminggu belakangan mencari resep cheesecake yang kamu sukai. Ia hanya akan berharap kamu terbangun dengan aroma ketika cheesecake baru keluar dari panggangan. Atau jika kamu benar-benar tidak akan terbangun, ia akan menghabiskan waktu memperhatikan wajahmu ketika tertidur, menyeduh teh hijau lalu memikirkan apa yang harus dilakukannya tahun depan ketika kamu kembali lagi. Desember tidak akan pernah memarahimu. Tidak seperti ibu-ibumu. Desember seperti matahari. Ia hanya membiarkanmu begitu saja walau kadang mungkin membahagiakan baginya jika kamu sesekali terbangun ketika ia baru muncul |
Jumat, 28 November 2014
Dindaku sayang
Aku juga tidak tahu, Sayang. Sungguh. Aku hanya tahu seperti ini, duduk sendiri kemudian menulis puisi. Tentang romantis? Aku tidak pernah paham benar.
Maaf aku tak pernah bisa mengejutkanmu di Hari Ulang Tahunmu. Aku tak tahu apa yang harus disiapkan, siapa yang harus ditelepon atau harus pergi kemana.
Dan untuk hari-hari yang sudah-sudah dan hari-hari yang akan datang, aku minta maaf. Puisi ini pun sebenarnya hanya omong kosong, aku hanya akan selalu memainkan kata-kata sampai kamu lupa tentang apa yang sedang kita bicarakan sebenarnya.
Tapi kalau kamu masih berkenan menerima permintaan maaf lelaki yang tidak romantis ini, nanti suatu malam saat kamu sedang sakit dan anak kita sudah tertidur pulas. Aku akan terjaga semalaman membisikkan "I love you" di telingamu sampai pagi.
Pola bicara
Aku sudah hafal dengan pola bicaramu jadi aku yakin setengah mati kamu akan berkata "Kita tak seharusnya begini" setelah kita berbicara tentang berita di koran pagi ini. Tapi apalagi yang aku punya? Sepoci teh untuk berdua, kretek untukku dan ceritamu. Aku kira kamu sudah cukup hafal dengan pola bicaraku tapi aku selalu saja terkejut saat kamu terkejut ketika aku berkata, "Kita? Kita-mu telah berakhir ketika malam hari kamu terisak-isak mendengarkan aku berbicara tentang segelas teh yang tertinggal di halaman rumahku. " |
Kamis, 27 November 2014
Di atas meja makan
Kalau kamu pulang esok hari, takkan lagi ada yang mengingat namamu. Tapi kalau kamu masih benar-benar mau pulang, akan aku sajikan segelas susu hangat dan roti bakar di atas meja makan. |
Senin, 24 November 2014
Senapan dari San Francisco
Dan peluru-peluru yang bergemerincing pelan ketika keluar dari Senapan (dari San Francisco), tak pernah berandai-andai tentang bagaiman jika ia terlahir sebagai aku dan kamu.
Senapan dari San Francisco yang baik itu tak pernah menanyakan tentang namaku atau kenapa aku mulai menembusi daging dan tulang dengan peluru.
Dan aku yang tidak baik ini pun tak perlu tahu tentang darimana Senapan (dari San Francisco) itu datang.
Aku, kamu, dan Senapan dari San Fransisco tak pernah berpikir hal yang sama sampai suatu ketika Senapan melihat air matamu menetes pelan saat peluru hampir habis. Kemudian kami berpikir:
"Akan berada dimana kita jika kita tak pernah saling bertemu?"
Ikan
Aku ingat akan dingin,
gelap,
dingin.
Dan lagipula kenapa kamu ingin mengetahui tentang Atlantik?
Aku menginginkanmu. Utuh. Lalu kita bisa menari semalaman di bawah ombak disinari bulan purnama yang kebetulan tiba. Lalu nanti sejuta anak kita akan saling menari di dalam perut gurita.
Minggu, 23 November 2014
Cerita yang baik
Mungkin jalanan memang tak pernah indah tapi kita selalu bisa melihat sekeliling kita. Bergandengan tangan bersama berharap lubang dan selokan serupa taman dan lampu jalan.
Kalau kamu harus pulang mungkin aku juga harus pulang. Kita tidak pernah terlalu muda atau terlalu tua. Kita tak pernah terlalu terlambat atau cepat. Tapi mungkin kita terkadang lupa. Aku tak tahu.
Aku ingin meminta maaf ketika melihat wajahmu esok hari. Maaf aku harus pergi, ujarmu.
Aku terdiam. Bukankah aku yang harus kemana-mana?
Maaf sayang, kamu tak perlu pergi. Aku bisa menggantikanmu mendongeng pada anak-anak perempuanmu. Tapi sekali-sekali kamu perlu menemui anak lelakimu. Kamu sesekali perlu menemuiku.
Sekarang pukul setengah tiga sore. Lampu jalan belum juga menyala. Pulang selalu ada di pikiranmu jadi aku tak habis pikir kenapa pula kamu duduk di meja sembari menangis. Kamu kekasihku yang baik. Kekasihku yang baik. Kekasihku yang...
Baik, cerita mungkin harus usai. Telingamu masih bisa mendengar kan, Sayang? Maka aku undang kamu ke rumahku sebaik-baiknya rumah. Seratus meter persegi, tenda dan meja makan. Perlu apa lagi kita untuk hidup?
Kalau memang aku tak merubah apa-apa, anak-anakmu tak merubah apa-apa, maka setidaknya izinkan kami menjadi foto yang selalu tersenyum di dalam dompet yang selalu tersembunyi di saku celanamu.
Petinju Pasar Malam
Mana mungkin aku pulang dengan rahang terlepas, mata lebam dan wajah yang membiru?
Aku harap kamu terima suratku bulan kemarin serta semoga tukang pos masih sedikit baik untuk tidak mengambil selembar uang lima puluh ribu yang kuselipkan di sela-sela kertas jadi kamu bisa membeli beras atau gincu.
Nina kekasihku, maaf aku tidak akan bisa pulang dua bulan lagi atau bulan-bulan setelahnya. Kamu bisa berkenalan dengan lelaki baru atau menjadi penyendiri seumur hidup.
Tapi kalau kamu masih sisakan rindu untukku (walau sedikit), kamu bisa potong rambut panjangmu dan tinggalkan di atas tanahku.
Bukankah kamu selalu cantik dengan rambut panjang hitam, senyum tanpa gincu dan bola matamu yang menatap mataku tajam?
Sabtu, 22 November 2014
Pergi ke istana
Kamu masih saja pergi malam itu. Belum sempat kuceritakan tentang mimpi-mimpi semalam lalu. Apalagi tentang cinta yang mendadak muncul. Kamu hanya berkata pelan, "Aku harus ke istana, " Aduh nona. Tidak cukup kah kamu pergi dari halte malam itu? Kenapa pula sekarang kamu harus pergi malam ini (dan malam-malam berikutnya?) |
Jumat, 21 November 2014
Makhluk luar angkasa
Kamu tak perlu menilai tentang pukul, meja dan bangku taman. Kamu tak perlu juga meraba hati mencoba mengerti perasaan.
Lalu kamu benar-benar yakin bahwa kamu adalah makhluk luar angkasa yang baik. Kamu makhluk luar angkasa yang baik.
Tak usah kamu tanya lagi tentang sedang apa disini, melupakan tentang esok hari dan melupakan namamu.
Minggu, 09 November 2014
Keanehan pada puisi saya
Tapi karena saya terlalu malas memperbaiki dan lebih memilih menulis lagi, saya mohon maaf sekali lagi
Kamu tawar telingaku
Dengan harga yang sama kamu bisa dapatkan tiga pasang telinga dari sekeluarga pemulung yang sempat kita temui sedang tertidur semalam di dalam gerobak sampah.
Dan aku bukanlah seorang pedagang yang baik.
Mungkin kita sudah terlalu jauh berjalan dari keramaian namun kamu pasti ingat tentang trotoar dan lampu taman. Dan jendela dan cahaya lampu. Dan bayangan dan air mata.
(Serta telingaku dan telingamu)
Jadi kamu tak perlu menawar telingaku. Aku tawarkan hatiku, itu saja. Telingaku tetap milikku dan keping-keping recehmu selamanya jadi milikmu.
Sampai suatu hari kamu memutuskan untuk menawar tiga pasang telinga dari keluarga pemulung yang tertidur di bawah cahaya lampu taman berselimut bayang dan lirikan mata-mata penuh cemooh dari jendela rumah.
Dan air matamu bisa saja tetap jadi milikmu jika saja tak kamu keluarkan malam itu.
Jumat, 07 November 2014
Jalan masih terlalu panjang
"Sampai kapan kita akan terus begini?"
Aku diam-diam bertanya,
"Sebenarnya sejak kapan kita begini?"
Tapi tak kukatakan. Tak pernah kukatakan.
Jalan masih terlalu panjang, pertanyaan-pertanyaan akan terus keluar. Tapi daripada pertanyaan dan jawaban bagaimana kutawarkan tanganku untuk kamu genggam selamanya?
Selasa, 04 November 2014
Puisi untukmu
Tapi percayalah dari balik sela-sela spasi, titik, dan koma pikiranku tentangmu tak henti-hentinya mengalir
Rabu, 29 Oktober 2014
Mengobrol tengah malam
Tak ada lagi yang menemaninya mengobrol saat tengah malam. Jelas saja kini ia semakin fasih berbincang sendiri dengan kertas dan puisi. |
Semalam saat hujan
Sudah lama Jakarta tidak hujan hingga tak bisa kuingat lagi kapan terakhir kali pohon di halaman basah kuyup oleh rintik hujan. Saat ini pukul setengah dua belas malam. Beberapa hantu mungkin sedang bersiap menakuti. Hantu yang baik mungkin duduk saja memperhatikan hujan baik-baik: Adakah yang lebih indah dari Jakarta saat hujan malam hari? Tentu ada. Banyak. Tapi malam ini hanya ada kamu Jakarta dan rintik-rintik hujan yang turun perlahan mencintaimu. |
Pikir pikiranmu
Tidak perlu hilang kalau kamu hanya ingin ditemukan. Aku di matamu, Hatimu selembar kain, jiwaku lebih hitam dari jelaga, Tapi aku masih perlu pulang kan? Hanya ada tetesan air dari keran yang bocor di kamar mandi menyambutmu. Dan kamu enggan untuk ke kamar mandi sebenarnya jadi kamu tak pernah sadar bahwa ada yang menyambutmu pulang. Aku ingin tidur, pikirmu. |
Sabtu, 25 Oktober 2014
Puisiku takkan pernah indah
Puisi- puisiku takkan pernah indah. "Pelangganku yang baik, telah keluar musikalisasi puisi Aldo RS serupa Sapardi. Mungkin ada sedang ingin mendengar dan enggan membajak? " Sayang, sudah kukatakan tadi namun akan kuulangi lagi. " Pelangganku yang baik, telah keluar kumpulan puisi Aldo RS serupa Joko Pinurbo. Mungkin ada sedang enggan membaca berdiri disini dan ingin membaca di rumah? " Tapi pembacaku yang baik, karena puisiku tak pernah indah dan baik untuk dinyanyikan itulah makanya aku bisa santai saja menulis puisi. (Seburuk apapun) |
Pulang malam ini
Jikalau aku benar-benar pulang malam ini, apakah kamu akan memaafkanku? Jadi mungkin saja kamu bisa simpan sementara air matamu dan bisa kamu lanjutkan kembali ketika aku pergi. |
Kamis, 16 Oktober 2014
Sewaktu
Sewaktu kau tak ada jendela jam masih berseru sementara aku hanya diam. Mungkin aku harus diam, mungkin jam harus berputar, mungkin aku harus berputar dan jam harus diam. |
Sabtu, 11 Oktober 2014
Pulang melupakan janji
Lalu kapan kamu akan pulang melupakan janji? Tapi Sayang, aku lebih butuh dari sekedar cinta. Aku butuh kamu untuk pulang |
Minggu, 14 September 2014
Pemberitahuan: puisialdors.com
Senin, 08 September 2014
Roda
Manusia itu tak semenakjubkan itu, Sayang, ia masih membutuhkanmu untuk berjalan. Dan manusia tak secantik itu, Sayang. Tapi aku masih saja berandai dimana kamu saat seluruh jalan sudah habis terlihat. Diam-diam saja kau dengar suara tapi tak pernah yakin dari mana. |
Rabu, 03 September 2014
Mencegahmu pulang
Mungkin hujan yang mendadak turun benar-benar berharap dapat mencegahmu pulang. Jadi kalian bisa berdua saling memiliki. Pada akhirnya ada juga yang memperhatikanmu benar-benar dan ada kamu yang memperhatikannya sungguh-sungguh. |
Senin, 01 September 2014
Kuala
Kota ini serupa dengan beberapa kota-kota yang pernah kamu kunjungi. Tapi kamu tak pernah yakin yang mana Tapi setelah kamu pikir - pikir lagi lama kelamaan kota-kota pada akhirnya akan tampak serupa: Jadi mungkin lebih baik untuk tidak berpikir sedang berada di kota mana dan menikmati saja sesaat kamu berada di Kuala. |
Rabu, 20 Agustus 2014
Mungkin Mungkin Mungkin
Mungkin pintu sudah lelah menunggu.
Mungkin jendela sudah malas terbuka.
Mungkin lampu sudah suram terdiam.
Mungkin halaman sudah hitam berdebu.
Mungkin pagar sudah usang berkarat.
Mungkin karpet sudah kusam legam.
Mungkin jeruji jendela sudah enggan bertaut.
Mungkin hanya ada aku dan memang aku saja yang menunggumu di rumah.
Mungkin pintu sudah malas terbuka.
Mungkin jendela sudah usang berkarat .
Mungkin lampu sudah kusam legam .
Mungkin halaman sudah lelah menunggu.
Mungkin pagar sudah enggan bertaut.
Mungkin karpet sudah suram terdiam .
Mungkin jeruji jendela sudah hitam berdebu .
Atau mungkin hanya ada aku yang sudah malas terbuka, usang berkarat, kusam legam, lelah menunggu, enggan bertaut, suram terdiam dan hitam berdebu menunggumu.
Terkadang
Jadi kamu tak perlu lagi menyambut lantas menunggu lalu menyambut lagi.
Tapi tepat pada suatu hari,
aku akan pulang dan selesai dengan semua
aku ceritakan cerita, aku beritakan berita.
Tapi nanti, suatu saat nanti.
Jadi sementara kita menunggu suatu saat nanti, ada baiknya aku dan kamu melakukan hal yang kita sudah baik melakukannya:
aku akan pulang lantas pergi lalu pulang lagi,
sedang kamu akan menyambut lantas menunggu lalu menyambut lagi.
Jumat, 08 Agustus 2014
Pepya
Mungkin malam ini aku dan kamu sedang menghirup oksigen yang dihasilkan sebatang pohon pepaya di halaman belakang rumahku. Sayang, jarak beberapa kilo tak pernah jadi masalah. Yang jadi masalah tentang siapa yang ada di samping kita masing-masing. Aku dengan jam tangan merah jambu dan kamu dengan bando biru kelabu. |
Pada malam itu
Pada malam itu ia ingin lupa sedang ada dimana, harus pergi kemana atau bahkan tentang sekedar siapa dia. |
Jumat, 18 Juli 2014
Farewel
Suatu saat mungkin kamu akan merindukan Balikpapan setengah mati sehingga kamu enggan pergi kemana-mana lagi sebelum sempat berada disini. |
Selasa, 15 Juli 2014
Desing
Telah sampai desingan pelurumu di telingaku. |
Senin, 07 Juli 2014
Yang tak pernah pulang
Puisiku tertahan di gerbong terakhir sebelum mimpimu. Aku tak pernah ingat jelas rupanya tapi lucu aku tak pernah bisa lupa aromanya. Mungkin jika kamu sedang dalam perjalanan pulang dari mimpimu ke mimpiku bisa saja kamu temui puisiku yang tak pernah pulang di salah satu stasiun |
Selasa, 24 Juni 2014
Mungkin karena harus pulang
Mungkin karena harus pulang aku hanya tersenyum saja di halaman rumahmu. Aku menunggu. |
Selasa, 17 Juni 2014
Mungkin (saja)
Mungkin ada bayanganmu diam-diam mengintai. Jadi kita bisa diam-diam saja berjalan pulang sendiri-sendiri dan berandai-andai berjalan berdua. Mungkin juga telah menjelma kota harapanku. Dan hadapanmu. Harapan kita. Tentang bayangan, kota, dan jalan berdua. (dan tentang kita) Mungkin suatu saat aku tak perlu lagi berkata -ku atau -mu. Atau mungkin (saja) jalan masih terlalu terjal berliku. |
Maaf aku harus menulis
Maaf aku harus menulis, Mungkin karena kamu sedang tampak cantik-cantiknya malam ini. Mungkin karena aku harus pulang dan segera berpuisi |
Selasa, 13 Mei 2014
Di Apotek
Di Apotek sore itu apoteker sibuk meracik obat dibalik kelambu, Apoteker tersenyum, Aku ragu, kemudian bertanya pelan, Ia membalas pelan, Aku tersenyum kemudian pergi. Jadi jangan kaget jika tiba-tiba malam nanti aku mengetuk pelan pintu rumahmu |
Sabtu, 10 Mei 2014
Selasa, 06 Mei 2014
Meronce
Lalu mengapa pula kamu masih duduk di halaman, memandang taman dan menggumam rindu? Selamat pagi. Aku harap kamu ada di rumah saat ini. Kadang aku teramat muak dengan nada panggil teleponmu dan pikiran yang melumat perasaan. Waktu itu pukul satu. Kamu mungkin tertidur di kamar atau sibuk meronce duka. Saat itu aku sedang pulang, sungguh. Untuk apa aku berduka? Lalu matahari serupa peluru, sayang cahaya tak mampu membunuh manusia. Lalu mengapa pula kamu masih duduk di halaman, memandang taman dan menggumam rindu? |
Selasa, 29 April 2014
Menjadi Indonesia
Mungkin Tuan sudah lama tidak berjalan-jalan sendiri dibimbing Bayangan Tuan sendiri.
Tuan bisa menyaksikan betapa orang sudah kebal dengan doa sedang derita tak pernah berkurang. Mungkin derita ibarat virus dan doa ibarat vaksin. Mungkin derita sudah kebal dan doa tak mampu lagi menawar apa pun.
Mungkin saat Tuan berjalan sendiri di negara asing, tak pernah sedikit pun orang-orang serupa ini hinggap di pikiran tuan. Tapi bukankah Tuan dan mereka masih sama-sama manusia?
Bukankah diam-diam dalam hati Tuan bangga menjadi Indonesia. Dan Indonesia lah yang dicintai mereka diam-diam. Jika kalian saling cinta diam-diam, tidak perlu alasan lain lagi kan untuk menjadi saudara?
Kalau nanti suatu saat Tuan rindu dengan segala sesuatu, sebagian dari mereka rindu setengah mati tidur di tempat tidur sendiri. Mungkim bisa makan tiga kali sehari, syukur-syukur anak-anak kalian bisa menemani.
Tapi kami bukan Tuan. Mereka bukan Tuan. Dan sayangnya Tuan enggan dengan kami.
Kami titipkan mimpi kami pada tuan-tuan yang berdasi. Kami tak mampu lagi bahkan sehendak mengusap daki. Mimpi kami hancur lebur setiap malam. Dan rindu yang kami rindukan semakin habis dihisap cacing dalam perut kami.
Tuan yang baik, jalanan selalu memiliki cerita sedih. Pun begitu, cerita baik tak henti-hentinya tiba. Jadi janganlah menjadi iba.
Maaf hamba hanya berpuisi. Hamba pun bukan kami, tapi mereka menjadikan hamba sebagian dari mereka. Siapa lagi yang mampu menulis semacam ini?
Cukuplah selesai dengan doa-doa. Biarkan doa menjadi milik yang teraniaya. Dan kaum mana lagi yang lebih teraniaya dari kami?
Sempatkanlah dalam pikiran tuan tentang kami. Teteskan beberapa rindu tapi cukup sampai disitu.
Lalu jika enggan, izinkan kami diam-diam membangun rindu dan tak perlu kemana-mana lagi.
|
Hujan di braga
Diam-diam hujan turun di braga. Ada yang menyebrang jalan, berdiri di trotoar dan menghirup udara bercampur air. Seorang gila berteriak-teriak, ia lupa bahwa dirinya harus pulang 20 tahun lalu. Tapi hujan mengembalikan ingatannya, dan nanti saat hujan reda ia akan kembali menjadi orang gila biasa di pinggir jalan. Jadi kalau suatu ketika kamu sempat berjalan kala hujan di braga, sisa-sisa bayanganku akan masih tersisa di sebuah restoran sejak 1929 sembari menunggu ampas kopiku turun ke bawah |
Ia lupa tentang doa
Ia tak ingat betul dengan doanya semalam tadi. Jujur, ia bahkan tak sungguh-sungguh ingat apakah ia sempat berdoa semalam. Lalu saat pada akhirnya sore hari cerah, ia bisa duduk santai di bangku taman sembari menegak kopi. Dalam hati ia sungguh-sungguh berpikir: |
Rabu, 23 April 2014
Gula dalam secangkir kopi
Sembari kamu memikirkan kenapa, mengapa dan kapan, aku akan menyeduh kopi dan meniriskan gula
dan nanti jika air sudah mendidih dan kopi telah siap, aku akan bertanya pelan:
"Kali ini berapa banyak gula yang kamu butuhkan dalam secangkir kopimu?"
Jumat, 18 April 2014
Untuk: Anakku
Anakku sayang,
saat kutulis puisi ini kamu belum ada, tapi ada yang takkan berubah: Aku mencintaimu
Ayahmu ini belum tahu akan jadikah kamu lelaki atau perempuan. Tapi aku akan sayang. Sungguh.
Aku akan berada di rumah sebelum kamu tertidur, mendengarkan cerita tentang permainanmu seharian penuh, menceritakanmu cerita tentang Mahabharata dan legenda, dan diam-diam keluar dari kamarmu saat kamu tertidur.
Nanti saat tengah malam tiba dan ibumu tertidur, ayahmu ini akan diam-diam masuk kamarmu dan mencium pelan keningmu.
Aku harap kamu takkan bosan dengan doa-doa, karena akan kusirami kamu dengannya setiap hari.
Sesekali kamu akan bertemu dengan tantemu, dan kamu akan tahu bahwa ia adalah tante terbaik di dunia.
Kamu harus sayang ibumu. Kamu bisa marah padaku tapi selalu dayangi ibumu. Ucapkan kamu sayang padanya setiap hari. Jangan jadikan penyesalan Ayahmu ini kelak menjadi penyesalanmu.
Kamu bisa jadi penulis terbaik, pelari terbaik, atau penulis terburuk dan pelari terburuk. Terserah. Aku hanya ingin kamu melakukan apapun dengan usahamu yang terbaik.
Anakku sayang. Anakku tercinta. Aku hantarkan rindu dan cinta dari masa lalu. Maaf ayahmu tak pandai berpuisi, aku harap kamu akan lebih baik dari ayahmu ini.
Jadilah lebih baik dari Ayah dan Ibumu dalam segala sesuatu. Dan nanti saat kami tua, kami hanya akan tersenyum saja saat kamu mengunjungi kami sesekali.
Anakku sayang, Aku mencintaimu. Dan Ibumu aku yakin begitu. Jadi kemana pun kamu akan melangkah tolong yakinlah bahwa setidaknya kamu akan selalu dicintai oleh dua orang ini
|
Senin, 14 April 2014
Bensin
Gas yang mengalir pelan dalam tangki tak mau banyak tanya saat semburan api busi menjadikannya abu dan dikeluarkan. Aku rahasiakan tentang jalanan panjang yang habis kulumat semalam. Sehingga tepat 130 kilometer per jam kemudian aku bisa benar-benar merasa ada dan tiada bersamaan |
Tukang cukur di taman
Cerita ini belum habis, jadi akan kubawa sisanya pelan-pelan tak terceritakan.
Suatu hari aku potong rambut di sebuah taman pinggir jalan. Di sela-sela bayangan cermin, tukang cukur itu berkata pelan, "Ah aku ingat benar. Aku yang memotong rambutmu 23 tahun lalu saat kamu masih bayi dulu. Bagaimana kabar ayahmu? Masih menangiskah kamu setiap habis potong?"
Aku tersenyum. Cerita mengalir. Orang gila mana yang masih ingat wajah bayi 23 tahun lalu?
"Ah ceritamu selalu indah. Dulu aku harap bola matamu takkan pernah membesar, tapi apa lacur?"
Aku tersenyum.
|
Karena aku mencintaimu
Karena aku mencintaimu makanya aku bisa terbangun malam-malam mendengar isakmu tak mengeluh, menyebrang lautan ratusan kilo untuk hadir di kotamu lalu mengucapkan selamat pagi, mendengar dengan sabar dan tertawa pada setiap candaanmu. Tapi sungguh sayang, jangan pernah paksa aku menerjang hujan. Besok pagi-pagi benar aku harus bekerja. (Dan duduk sendiri di beranda kadang jauh lebih mengundang dari segala sesuatu) |
Dihantam hujan
Kalau wajahmu sudah habis dihantam hujan sore itu, mungkin kamu bisa berhenti dipinggir jalan dan menadahkan tangan berkata: Karena hujanmu dan hujanku adalah hujan yang baik. Dan air hujan dan air matamu serta ku, adalah air sebaik-baiknya air. |
Minggu, 13 April 2014
Bila aku pulang
Aku tak mengharapkanmu menyunggingkan senyum atau menawar tawa jika nanti benar-benar aku akan pulang. Aku hanya sekedar meminta untukmu membuka pintu bila aku pulabg |
Sabtu, 05 April 2014
Cerita
Namun bila aku tak selalu hadir dalam ceritamu, tolong maafkan aku
Apabila ini bukan permintaan maaf yang baik, maka aku maklum saja jika kamu tak pernah merindukanku.
Vulkanus meletus sayang, aku di puncaknya saat itu (merindukanmu)
Ini cerita tak sempat sampai telingamu, tak mengapa. Salah satu rindu yang baik adalah rindu yang tak pernah disayangkan.
Zaitun-zaitun tumbang, air mata mengalir.
Aku? Aku mencintaimu tentu. Tapi sampai kapan? Aih sayang aku tak pernah tahu jawaban macam itu |
Jumat, 04 April 2014
Seminggu
Jika Senin sedang cerah dan senyummu tak juga membatu, pelan-pelan akan kueja namaku ke telingamu jauh: Nanti di selasa setelah kudengar namamu kita akan berjalan menuju jendela. Nyanyianmu kudengar dan samar-samar akan kurayu dirimu. Rabu, matamu. Bukankah cahaya mengalir pelan dan aku tersenyum menyaksikan matahari terbenam dan tenggelam. Kamis, kuharap gerimis. Ceritamu tak habis-habis. Cintaku tak habis-habis. Jumat kepalamu telapak kakimu. Sedang airmatamu adalah darahku. Matamu telingaku. Sabtu abu. Sebagianku adalah sebagianmu. Kau ambil hatiku dan kusimpan hatimu baik-baik. Jemarimu melingkar di leherku, ku percayakan jantungku di sela-sela bola matamu. Lalu minggu kuharap tak ada lagi aku dan mu. |
Ceret
Selagi kupanaskan ceret kamu mungkin bisa duduk di kursi dihadapanku menyajikan cerita. Bagaimana kabarmu? |
Selasa, 01 April 2014
Kamu harus pulang
Kepalamu tidak mengutuk. Tapi bukankah lebih baik kamu pulang dan terebah. Perlukah kamu berada di tempat ini saat ini? Kamu harus pulang. |
Tentang ingatan
Mungkin kamu masih ingat saat kamu duduk di bangku penumpang dan aku dibangku pengemudi. Kamu mungkin tak ingat tentang lagu-lagu, tapi samar-samar kamu ingat tentang band favoritku. Kuharap begitu. Lalu ratusan malam berikutnya. Bukankah aku benar-benar menyayangimu? Kenapa pula kamu terus menurus menggores hatiku? Bukankah aku mencintaimu? Lalu untuk apa kamu mencuri hatiku lalu menginjaknya diam-diam? Kalau kamu berkenan, aku akan menjadi satu memori ketika suatu lagu terdengar di radio. Sekedar itu |
Langit malam ini
Sedang kopi mendingin, pikiran kita tak pula sama. "Sudah habiskah kita? Maka tak akan ada lagi cerita kita, anak-anak kita, masa depan kita, semua?" Tanyaku. Kamu tersenyum. Kemudian menangguk. Kemudian menangis. |
Selasa, 25 Maret 2014
Jemarimu telah pulang
Tak ada lagi yang tersisa tentang mimpi,
sayang waktu terlalu terburu-buru.
Lama kelamaan kamu terlupa tentang buku-buku jari, ulir-ulir kuku dan cerita tentang telunjuk dan kelingkingmu.
Kamu tak sempat berkata atau kamu mungkin lupa karena tak pernah bercerita. Bagaimana dengan kenangan? Ah omong kosong
Minggu, 23 Maret 2014
Angin membawamu
Entah kemana lagi angin telah membawamu. Kadang kamu berandai-andai apakah laut dan tanah semudah itukah dibawa angin? Walau kamu masih ingin tertidur, angin menamparmu pelan. Lalu ia menciummu. Lalu ia meninggalkanmu di kota baru. Dan lagi-lagi kamu membereskan perkakasmu, memutihkan matamu lalu mengucapkan selamat tinggal dan selamat tinggal pada dua kota yang berbeda |
Kartu pos
Tak ada kartu pos yang lebih baik dari kartu pos yang berasal dari kepalamu. |
Selasa, 11 Maret 2014
Sajak tentang kota
Sesaat lalu kamu benar-benar berada di mobilmu dan di kotamu. Tetap saja Perlahan seluruh kota tampak serupa. Beda gedung, nama jalan, semua nampak kabur saat kamu memperhatikan lekat-lekat: Jadi wajar ketika kamu pulang ke kotamu, kamu napak ragu. Mungkin ini memang bukan kotamu, kamu tak tahu. Lampu merah mungkin sudah berganti beberapa hari lalu, kamu tak tahu. Dan semua mungkin kamu berubah, kamu tak tahu. Maka mau tak mau kamu hanya percaya saja pada rambu dan marka jalan. Walau kamu bersumpah kamu hampir merasa kamu pernah berada di kotamu. Siapa yang mampu menyalahkan para musyafir? Lalu beberapa jam kemudian saat kamu tertidur kamu akan semakin tidak yakin akan keyakinanmu. Kamu bisa berada dimana-mana dan tidak dimana-mana. Mungkin ini kota kekasihmu, sedang kamu hanya sekedar hinggap di hatinya barang sejenak. Dan tak ada yang benar-benar berubah. Tak ada yang benar-benar sama. Tak ada yang membedakan kotamu dan jutaan kota lainnya. Jadi bisa saja kamu dibilang egois dan bodoh saat kamu bilang ia mencintai kota ini lebih dari kota-kota lainnya |
Minggu, 02 Maret 2014
Musim dingin di Texas
Beberapa hari ini aku kerap berandai-andai apakah kelak aku akan merindukan musim dingi di Texas? Mungkin, mungkin juga tidak. Yang jelas saat ini aku rindu setengah mati untuk segera pulang |
Kamis, 27 Februari 2014
Belalang
Kapan terakhir kali kamu bertemu ibumu pun sudah tak tahu,
hanya kemarin kamu sempat dibaptis embun sisa semalan dan beberapa waktu kemudian matahari muncul di segala.
"Aih, mungkin matahari sedang rindu pada aroma hujan sore hari."
Mungkin tapi bukankah matahari akan lebih rindu kepada aromamu yang baru muncul dan hilang beberapa saat lalu?
Atau mungkin kamu bukan seekor, seonggok, atau sesuatu. Kamu mungkin adalah "ketika" tapi tak pernah pandai menjelaskan pada orang tentang cerita.
|
Rumahku
Rumahku tak indah, tapi kamu selalu diterima di dalamnya. aku hidup di kepalamu, sungguh. Dan kita akan memiliki satu sama lain: jadi mungkin rumah tak pernah berpengaruh apa-apa. rumahku tak terlalu indah. Kalau kita bersama semua akan berbeda, mungkin. Kita belum pernah mencobanya kan? |
Rabu, 26 Februari 2014
Membaca peta
Kapan terakhir kami pulang? Aih Nona, pertanyaanmu seperti pertanyaaan Ibu kami saja
Api dan abu di rumahmu
Dan mendadak di seluruh udara ada jilat-jilat api memelukmu pelan. Sedang pelan-pelan panas menyelinap ke balik bola matamu dan membuatmu teracun kilat.
Oh Tuhan, kapan terakhir kali kamu melihat rumahmu terbakar di depanmu?
Pertanyaan kemudian muncul, apakah kamu benar-benar melihat rumahmu terbakar di depanmu?
Oksigen mengundangmu pulang.
Sinting, pulang kemana?
Di mana rumahmu?
Apa abu menjelma alamat, sedang teror menjadi kode pos. Kalau memang harus begini, kenapa ia tak habiskan kopi tadi pagi?
Selamat datang di kotamu dan kamu tak pernah benar-benar yakin pernah tinggal di kota.
Sejak kapan kamu menjadi asing di kotamu sendiri? Seperti musafir, hanya singgah sejenak di beranda dan setiap pagi kemudian pergi entah kenapa.
Kenapa pula aku tulis puisi ini?
Kalau kamu sempat, kamu bisa sapa beberapa kelereng di pinggir jalan. Kemudian setelah beberapa langkah kamu bisa ucapkan selamat tinggal kepada riak yang mengering di udara.
Dan walau mustahil bukankah air matamu bisa menjadi uap dan menjelma menjadi kastil di angkasa.
Senin, 24 Februari 2014
Tengah
tahu-tahu kamu sudah duduk di depan televisi dan tak sadar kenapa kemudian menangis tersedu-sedu
Senyummu
Bagaimana kalau kamu tawarkan senyummu padaku dan aku tawarkan sebagian hatiku untukmu? |
Minggu, 23 Februari 2014
Sebuah nasihat
masa kini, ceritamu, dan tentangmu.
Mungkin kamu tak akan ingat, tapi akan kuberikan satu kata-kata untukmu:
"Kamu tak akan mendapatkan semua yang kamu inginkan."
Mungkin kata-kata itu buruk, tapi kata-kata itu kudapatkan dari kakekmu. Kamu tak perlu mengingatnya, namun cukup baik apabila kamu ingat tentang kakekmu.
Lalu aapabila semua tidak berjalan dengan baik walau kamu tak ingin tersenyum, walau kamu ingin menangis, atau pun jika kamu benar-benar ingin tersenyum , kuharap kamu akan tersenyum.
Membaca pikiranku
"Bisakah kamu membaca pikiranku?"
Aku sungguh berandai apakah kamu bisa membaca pikiranku.
Jadi mungkin pada malam ini kita bisa mengurangi sedu sedan
dan menyisakan kenangan yang cukup baik bagi siang.
Namun kalau memang misalnya kamu benar-benar bisa membaca pikiranku: kenapa pula aku harus pergi?
Aku tak berkeberatan jika kamu tak berkeberatan, dan bukankah kamu diam-diam akan tahu bahwa aku mencintaimu terserah kamu mencintaiku atau tidak
Intermission
Tak terasa sudah 5 tahun lebih sejak blog puisi ini dibuat. Dan, Bam! Tahu-tahu 500 puisi. Saya tak menyangka, sungguh!
Blog puisi ini adalah bagian kecil yang penting bagi saya. Jika orang-orang menggunakan album foto dan diari untuk mengingat ceritanya yang lampau, saya akan membaca blog ini.
Seperti yang sudah saya ceritakan berkali-kali, saat saya membaca kembali puisi saya, saya akan ingat tentang segala sesuatu tentang diri saya saat itu. Perasaan, keadaan di sekililing, dan pikiran-pikiran saya. Maka dari itu jangan heran kalau kadang puisi saya seperti tak bermakna, karena kadang memang hanya saya yang.
Ibarat rumah, menyenangkan apabila saya duduk sendiri sambil mengopi di beranda. Namun saat beberapa tamu datang, saya akan bahagia setengah mati karena pada saat itulah saya benar-benar yakin bahwa saya tidak sendiri. Karena itu saya ucakpan terima kasih pada pengunjung yang datang ke blog ini.
Terima kasih. Sungguh. Terima kasih.
Jadi mungkin lebih baik jika saya tutup celotehan ini. Apakah saya akan menulis terus? Mungkin. Mungkin tidak. Siapa tahu? Tapi jika saya ditanya begitu tentu saja jawaban saya adalah ingin terus menulis.
Dan bukankah masa depan adalah misteri?
Selasa, 18 Februari 2014
Pintu rahasia
Kamu tak perlu menunggu di depan pintu sampai aku tiba. Ah sayang, aku mengerti sungguh kenapa kamu tetap duduk menghadap tembok dalam gelap. Lalu saat tiba-tiba mimpi menghampirimu kamu tak mampu lagi membedakan hitamnya tembok dan mimpimu tentang malam semalam. Aku akan pergi, tentu saja. Dan kembali? Pasti. Tapi aku tak tahu kapan, bagaimana, dan cerita macam apa yang akan kubawa. Yang bisa kujanjikan hanyalah aku akan sungguh-sungguj merindukanmu sampai sesaat aku akan membuka pintu |
Minggu, 16 Februari 2014
Puisiku tak lagi indah
Aku bisa saja menyalahkan pena dan tinta, tapi sejak kapan aku menulis puisi di atas kertas?
Beberapa hari belakangan cuaca sedang buruk. Sungguh, aku tak berbohong.
Kamu bisa melihat abu dari mulutmu mengeluarkan asap setiap kali kamu bernafas dan membuatmu berandai-andai untuk apa pula beberapa hari kemarin kamu membeli tembakau untuk sekedar menghembus udara jika kamu bisa melakukannya setiap saat?
Atau mungkin aku rindu untuk pulang. Aku tak tahu. Mungkin, mungkin juga tidak. Aku rindu pada segala apapun yang tak bisa kuingat. Dan yang demikian itu bukankah rindu yang paling indah?
Mungkin bisa juga jika dikatakan tak ada yang salah. Ujung jari mungkin pada akhirnya mengambil alih. Tapi kupikir lagi manusia macam apa yang menyalahkan ketakmampuan menulis puisi pada ujung jari?
Jadi aku akan menulis. Sekali lagi maaf jika ia tak lagi indah.
Atau jangan-jangan memang puisiku tak pernah indah?
Cuaca sedang baik
Selain satu sama lain, bukankah kita merindukan sinar matahari?
Kamu bisa memesan awan yang menggelantung pelan-pelan, sedang aku bisa memesan aroma rumput dan pepohonan.
Lalu nanti setelah semua lengkap, kita bisa kembali ke kamar kita masing-masing ketika cuaca kembali buruk
Rabu, 12 Februari 2014
Tentang malam
Apa kabar malam? Atau bisa saja malam adalah orang tua yang baik, yang memberikan istirahat pada anak-anaknya |
Beritamu
Aku benar-benar berharap beritamu dibawa oleh angin.
Namun kadang aku berpikir, jika cerita tentangmu dibawa angin akan sampaikah ia kepadaku? Atau mungkin ia hanya akan hanyut diatas samudra.
Maaf atas puisiku kali ini. Tapi setidaknya aku kembali menulis puisi saat ini.
(Kukira) |
Rabu, 29 Januari 2014
Selasa, 28 Januari 2014
Puisiku tak pernah indah
Maaf puisi-puisiku tak pernah indah.
Mereka hanya membicarakan tentangku. Bagaimana mungkin bisa indah? |
Sabtu, 18 Januari 2014
Menari pulang
Lalu masing- masing dari kami harus pulang ke kepala masing-masing. Kukira pukul tiga pagi waktu itu. Siapa sangka waktu itu bisa benar-benar terasa tak ada? Beberapa enggan, beberapa menyambut ide untuk pulang dengan riang. Beberapa hendak tidur, sebagian masih enggan berbagi waktu dengan lindur. Bagaimana mungkin tercipta puisi sebaik ini jika aku tidak pernah ingin pulang? |
Kamis, 16 Januari 2014
Coba lihat
Coba lihat kemana udara membawamu saat ini. Dan bukankah terlalu barat akan menjadikannya timur? Lalu kamu duduk di taman dengan aroma dupa yang sama dari timur. Dan kamu bersyukur bahwa hidup tak selamanya harus diam. |
Kamis, 02 Januari 2014
Dari suratmu
Dari suratmu aku tak pernah mendengar suaramu, jdi maafkan jika ketika malam-malam kamu meneleponmu aku tak sadar bahwa kamu sedang terisak. |