Kapan terakhir kali kamu melihat abu diatas kepalamu?
Dan mendadak di seluruh udara ada jilat-jilat api memelukmu pelan. Sedang pelan-pelan panas menyelinap ke balik bola matamu dan membuatmu teracun kilat.
Oh Tuhan, kapan terakhir kali kamu melihat rumahmu terbakar di depanmu?
Pertanyaan kemudian muncul, apakah kamu benar-benar melihat rumahmu terbakar di depanmu?
Oksigen mengundangmu pulang.
Sinting, pulang kemana?
Di mana rumahmu?
Apa abu menjelma alamat, sedang teror menjadi kode pos. Kalau memang harus begini, kenapa ia tak habiskan kopi tadi pagi?
Selamat datang di kotamu dan kamu tak pernah benar-benar yakin pernah tinggal di kota.
Sejak kapan kamu menjadi asing di kotamu sendiri? Seperti musafir, hanya singgah sejenak di beranda dan setiap pagi kemudian pergi entah kenapa.
Kenapa pula aku tulis puisi ini?
Kalau kamu sempat, kamu bisa sapa beberapa kelereng di pinggir jalan. Kemudian setelah beberapa langkah kamu bisa ucapkan selamat tinggal kepada riak yang mengering di udara.
Dan walau mustahil bukankah air matamu bisa menjadi uap dan menjelma menjadi kastil di angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar