Mustahil kamu ada disini namun ada disana dalam waktu bersamaan. Tapi memang kadang sesuatu kadang bisa begitu tidak masuk akal hingga satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah suatu penjelasan yang tidak masuk akal. Aneh.
Kamu terduduk di kursi depan omprengan dan mencoba mengingat segala sesuatu dalam jangka waktu tertentu. Waktumu berhenti pada suatu Senin sore, kamu tertidur di dalam bis menuju demak dan terdampar di suatu tempat.
"Berapa jauh dari sini ke Masjid Agung Demak?"
"Lebih jauh dari yang kamu duga. Lebih baik kamu kembali ke bus yang sudah meninggalkanmu."
Kamu diam saja kemudian memutuskan untuk berjalan mundur.
"Hendak ke Masjid Agung Demak, kah? Mari naik, aku sendiri tidak kemana-mana." ujar pengendara taksi baik hati.
Kamu tersenyum setengah mati. Jalan hitam panjang membawamu kembali ke tempat yang sudah kamu lewati tapi tak pernah benar-benar kamu pahami.
"Apa yang membawamu ke jalan sepi macam ini? Kamu beruntung aku adalah salah satu yang tersisa dari banyak pengendara. Kamu bisa saja beberapa jam menghabiskan waktu seorang diri."
Kamu mengangguk dan berterimakasih betul betul. Sedang tentang apa yang membawamu? Kamu tak pernah tahu. Kamu hanya ada saat ini, perlukah ada pertanyaan lebih jauh lagi?
"Terima kasih. Aku harapkan keberuntungan ada di manapun kamu menuju." ujarmu pada pengendara taksi. Pengendara taksi tersenyum kemudian menghilang. Kamu tak pernah tahu apakah ia pernah benar-benar ada.
Kamu habis sudah dan akhirnya tertidur di Masjid Agung Demak. Lucu mengingat bangunan ratusan tahun masih saja mampu meneduhkanmu. Lucu mengingat ia sudah ada jauh belum kamu ada dan mungkin masih akan ada jauh setelah kamu tiada.
Kamu serupa tatal. Serpihan. Harus ada yang mengikat, betul. Karena itu kamu tertidur dan terbangun saat azan subuh sayup-sayup berkumandang.
Pagi tiba dan kamu berjalan ke makam. Kamu merasa ada dimana-mana sekali lagi. Tapi kamu selalu disini walau tak ada orang yang mengenali. Kamu bisa saja mengakui sebagai siapa pun, tapi apa untungnya untuk selalu berdusta.
"Manusia itu begitu. Mulutnya kecil, perutnya kecil, tapi jika diberi dunia pasti mau dimakan semua."
Kamu tertawa mendengar lelucuon. Kamu kemudian menghabiskan sisa waktu menyadari betapa lelucuon menjadi pelajaran.
"Bagaimana dengan Muria?" Tanya supir Angkot.
"Aku tak tahu tentang panggilan. Aku hanya merasa harus pergi." ujarmu jujur.
Supir angkot tersenyum. Ia mengangguk dan bercerita tentang ceritanya. Kamu duduk dan merasakan udara semakin dingin. Kamu mendengar benar-benar ceritanya. Kamu merasa ia adalah juru kunci dan kamu hanya salah satu pengunjung makam.
"Lain kali kita harus bertemu lagi. Kamu bisa mencariku: Muhendi, kamu bisa tanya semua orang di sekitar sini. Lalu kita bisa duduk dan berbincang melalu kopi."
Kamu lagi-lagi hanya tersenyum dan berterima kasih sungguh-sungguh. Kamu rasakan dunia sayup pelan-pelan. Siapa kamu sebenarnya saat tak ada yang mengenalmu?
Kamu tiba di Gresik. Kamu duduk di pagar dan pagar mengarah pada seseorang. Ia kemudian bercerita:
"Bagaimana tentang daun?"
Kamu menatap ke atas dan menatap pohon dengan cara yang tak pernah kamu rasakan sebelumnya. Kamu merasa dikelilingi oleh segala sesuatu. Kamu meraba lehermu dan merasa sedemikan dekat.
Lalu kamu harus pulang.
Sayang kamu harus pulang...