Selasa, 27 Desember 2016

Obat

Malammu mengingatkanku akan aku yang akan menjelma segala sesuatu. 

Tapi aku bukan itu. Aku hanya akan duduk di bangku taman mendengarkan lagu.

"Jangan menjadi sesuatu yang kamu inginkan. "

Aku selalu bisa duduk di bangku kosong pinggir jalan menatap jalan dan berpikir tentang akan jadi apa aku jika aku tidak di sini saat ini:

Astronot
Astronom
Asteroid 


Sabtu, 24 Desember 2016

Belajar menari Salsa

"Tidak sulit untuk menari Salsa. Kamu hanya perlu mengikuti irama, begitu saja." 

Aku mengangguk cepat. Tapi tetap saja aku tak bisa. Aku menggeleng, 

"Sia-sia. Lebih baik kamu mengajari bambu menari."

Kamu diam. Aku kira kamu akan tertawa mendengar lelucuonku yang tidak lucu. 

Plak. 

Kamu tampar aku. Pelan sebenarnya tapi aku terdiam tak percaya. Kamu berkata datar namun dalam, 

"Dari seluruh makhluk di dunia, hanya manusia yang mampu menari Salsa..."

Aku mengerti maksud ucapanmu. Aku meminta maaf dan kamu tersenyum. Jemarimu menyentuh pelan bekas tamparanmu di pipiku yang mulai memerah. Kemudian mereka bergerak ke dagu lalu mencium pelan bibirku. 

"Tatap aku dan aku saja tapi biarkan telinganu mendengar suara musiknya."

Aku menggangguk lagi. Aku menatapmu dan kamu saja. Rambut hitammu, mata hazelnutmu, senyum serupa mataharimu, semuamu. 

Dan semestaku mendadak hanya ada kamu dan musik salsa yang mengalun pelan ditelingaku. 

Mendengarkan Andrew Jackson Jihad

Kamu tak bisa pulang pukul sekian dan berharap sampai di rumah pukul setengah satu.
Akan ada pembangunan jalan di suatu tempat di Jakarta yang akan menghambatmu dan mencegahmu pulang tepat waktu. 

Kamu tak bisa pula duduk santai diatas kursi membakar dupa dan berdoa tentang segala. 
Kamu harus mengarahkan doa pada suatu rupa, bukan doa seenaknya tentang semuanya. 

Kamu tetap saja tak bisa pulang jika tak tahu rumahmu dimana. Atau hatimu dimana. Atau kepalamu. Pikiranmu. 

Kamu mungkin bisa bersenandung tenang sembari mengetukkan jemari diatas kemudi memandang perbaikan jalan di depan mata. Kamu tak harus pulang, kamu bisa di jalan selamanya. 

Jadi tentang apa puisi malam ini? Aku belum tahu, jadi kenapa tidak kamu baca sampai selesai? 

Aku akan menjelma menjadi kalimat pendek penyambung kalimat pembuka dan penutup pada sebuah paragraf tentang suatu kota. 

Aku adalah trotoar kecil yang remuk ditembus lumut dan ilalang. 

Aku adalah sendal sebelah kiri yang terlindas gepeng dijalanan.

Aku adalah lampu jalan yang mendadak mati saat kamu lewat tadi. 

Aku adalah bangkai tikus yang bahkan tak pernah kamu sadar telah lindas tiga kali dalam seminggu ini. 

Aku adalah pandangan matamu. Ceruk legam ditrotar jalanmu. Kelakson angkutan umum. Dan jalan pulang panjang tak berujung

Selasa, 20 Desember 2016

Britannia Raya ke Indonesia

Tiket pesawatmu menunjukan hanya ada sekitar 7000 mil jarak antara Britannia Raya dengan Indonesia 
tapi dalam hati kamu tahu betul jarak antara keduanya ada lebih dari itu. 

Ada masa depan, masa lalu dan masa kini yang terhampar diantaranya 

Sabtu, 17 Desember 2016

Pergi kembali

Kalau kamu tak memaafkan aku ketika aku pergi maka seharusnya kamu akan bahagia setengah mati saat aku kembali... 
kan? 

Tapi tidak, kamu tetap saja diam dan aku menghabiskan makan malam ditemani sepi.

 "Pergi lagi?" 
Aku mengangkat bahu tak mengerti. Tentu saja, siapa yang mampu berdiam diri seperti ini? 

Kamu menghela nafas tak peduli. Aku hanya melirik jam kayu di sebelah atas kursi. 

Manchester

Udara dan jalanan membawamu ke suatu kota lagi suatu waktu suatu ketika. 

Ketika punggungmu lelah dihajar debu jalanan dan matamu tak mampu lagi mampu membedakan kecepatan kendaraan sebenarnya. 

Di tengah kantukmu kamu berpikir:
Apakah aku benar-benar berada di jalanan Britania Raya saat ini? Apakah kecepatan mengacaukan pikiranmu dan membawamu ke suatu tol di Pulau Jawa, mendengarkan Dialog Dini Hari menuju Jakarta? 

Tapi kamu sadar kamu disini. Dan tidak disini. Kamu di mana-mana. Kamu bukan pengunjung. Kota lah yang datang dan pergi di sekelilingmu. 

Jadi wajar saja kamu tak mampu membedakan Manchester, Liverpool, Birmingham dengan Bandung atau Jakarta sekalipun. Karena kamu tak pernah kemana-mana. Kota lah yang mengunjungimu. 

Dengan batu bata usang, tepian trotoar, jembatan penyebrang jalan. Mana bisa kamu membedakan kota dari jarak dekat? 

Lalu kamu terbangun. Puisi ini tercipta saat kamu setengah tertidur. Tidak masalah. Justru puisi terbaik tercipta saat kamu tak sedang i ingin berbuat apa-apa. 

Dan kali ini? Aku rasa aku sedang tak ingin berbuat apa-apa di Manchester. 

Jumat, 02 Desember 2016

Konservatisme

Aku tak tahu apakah harus meminta maaf untuk kejadian yang aku tak pernah sepenuhnya sadar terjadi karenaku, tapi bagaimanapun... 
maaf... 
tidak. Aku cabut kembali permintaan maafku.

Aku sudah begini, Sayang. Dan akan terus begini. 

Aku akan pulang ke rumah sebelum pagi dan makan malam sebelum terlelap lagi. 

Aku akan terbangun tengah malam, berandai-andai kenapa mendadak jemariku memanjang dan tersadar  bahwa aku sedang bermimpi. 

Aku akan terbangun tengah hari di keliling gelak tawa dengan cara terbangun yang sebaik-baiknya. 

Aku akan tersenyum diatas roda-roda sepeda ya g membawaku ke suatu tempat di peta. 

Aku akan tetap menghabiskan waktu di beranda membandingkan masa lalu dan masa kini. 

Jadi untuk apa untuk meminta maaf atas hal yang menjadikanku aku? 

Kamis, 01 Desember 2016

Pekanbaru

Waktu akan berkali-kali membawamu ke suatu tempat asing dan kemudian menjadikanmu bagian dari semesta kecilnya,
kamu akhirnya terbiasa dengan udara suatu kota sampai beberapa saat kamu dipaksa menuju kota lainnya.

Dan Pekanbaru?

Siapa yang tak merasa asing disini? Tapi kamu merasa betul-betul rindu suasana seperti ini. Kamu ingin pulang, tentu. Tapi siapa pula tak ingin disini untuk beberapa waktu lagi

Minggu, 27 November 2016

18

Sulit untuk tidak membaca berita dan berhenti membayangkan bahwa ketika suatu nama disebut sesungguhnya bukan dirinya yang dimaksud. Ia hanya tersenyum membayangkan tentang bagaimana cuaca Jogja hari itu dan betapa indah andaikan ia bisa bersamamu.

Tapi ia tak bersamamu kan?

Ia tak pernah membayangkan yang aneh-aneh. Duduk berdua dan mungkin di tengah-tengah pembicaraan kalian entah mengapa ia mendadak memutuskan untuk melamarmu. Kamu hanya akan tersenyum dan menanggap semua hanya canda. Tapi tak pernah ada canda pada cintanya padamu.

Ia lupa apa yang terjadi padanya malam itu. Ia ingat menyalakan dupa dan berdoa singkat sebelum tertidur nyenyak seperti batu. Tapi ia tak ingat selain itu. Sungguh.

Ia ingat akan ingatan yang tak pernah terjadi:  Ia ingat tentang angkasa dan beberapa ekor kura-kura. Atau kelinci dan mengajari orang buta bagaimaba caranya membaca.

Suatu malam ketika ia Desember

Apakah akhirnya kamu bertemu denganmu sendiri pada suatu malam di hari Sabtu itu?
Maaf aku tak sempat tiba, sebentar lagi November habis dan kamu tentu ingat betapa Desember merindukanku.

Bukan berarti aku tak merindukanmu, kadang-kadang kata sedemikian sulit menyampaikan maksud. November hanya 30 hari, sama andai saja 1 hari adalah satu tahun. Dan satu tahun adalah satu hari.

Jadi kita tidak akan bisa bersama untuk beberapa masa ke depan, aku tak akan minta maaf untuk itu. Kenapa pula aku harus minta maaf untuk itu? Aku akan menjelma menjadi Desember. Bukan untukmu, bukan untukku. Tapi untuk kita

Senin, 14 November 2016

Menjadi yang tidak ada

Kali ini akan masih tertinggal aroma rambutmu di sarung bantalku beberapa hari setelah kamu pergi meninggalkan kamar ini.
Ini masalah pengalaman, hal yang sama terjadi beberapa waktu yang lalu.

Kemudian tentu saja kamu harus pergi, aku mengerti tak ada yang mampu mengekang seseorang terlalu lama.
Indah mungkin kalau aku bisa menyimpan sebagian darimu dan selamanya tak perlu kemana-mana.

Lalu sayang salah satu atau kedua dari kita akan berubah menjadi sesuatu yang tidak ada.

Senin, 07 November 2016

Kalau ada mu

Kalau ada mu yang selain mu, maka aku sudah pulang malam itu. 

Ternyata tidak, aku mau tak mau masih terduduk di halaman sampai pukul tujuh. 

Kamis, 03 November 2016

Terlalu lama

Kamu terlalu lama duduk di gedung tinggi, terlena dengan hembusan dingin pendingin ruangan dan kursi empuk super ergonomik. 

Sehingga kamu lupa rasanya bercengkrama di pinggir jalan sembari duduk di bangku kayu usang sambil dihajar debu dan kumpulan riak yang mengering di udara. 

Kamu lupa betapa kamu mencintai kopi murah. Kamu ingat dulu pernah membandingkan brp ml satu kemasan dan mencoba membandingkan satu merek dengan merek lainnya tentang mana yang lebih banyak jika kamu mengeluarkan beberapa lembar uang seribuan. 

Kamu terbiasa menikmati kopi asam yang tak pernah kamu suka. Sungguh tak pernah kamu suka. Lalu kamu anggap wajar dan berpikir:

"Kopi memang harus begini. Kenapa harus banyak berpikir lagi?"

Siapa yang mendikte rasa harus begini atau begitu. Ampas adalah cita rasa, ujarnya dalam hati. Tapi ia tak pernah benar-benar menolak ketika seseorang menceritakan tentang tata cara meminum kopi harus begitu dan begini. 


Kamu jatuh cinta dengan kopi super pahit yang pernah kamu teguk yang dibuat oleh nelayan yang mengajakmu memancing suatu dulu. Kamu ingat kamu melepehnya dan tak pernah sadar bahwa beberapa tahun kemudian kamu merindukannya. 

Aku yang dulu bukanlah aku yang sekarang. 
Aku setuju. 

Tapi menjadi Aku yang sekarang bukan berarti melupakan segala sesuatu yang menjadikanmu (ka)mu yang dulu

Kolibri

Suratmu tiba juga akhirnya,
mungkin beberapa hari yang dijanjikan oleh kantor pos yang kebetulan buka 24 jam di jalan menuju kantormu itu terlewat karena tukang pos salah mengirim. 

Aku tertawa saat suratmu tiba, kamu tempel perangko di alamatmu bukan di alamatku. Untung ia tak sampai kerumahmu.

Omong-omong, kamu bertanya apakah ada yang berbeda dari suratmu sebelumnya. Maksudku, apakah yang tak ada yang berbeda dari surat yang kamu tulis sebelumnya?

Kertasmu mengecil, tulisanmu mengecil. Serupa Kolibri. Serupa dan seperti aku tak pernah paham apa perbedaannya

Minggu, 16 Oktober 2016

Lelah ke rumah

Kapan terakhir kali kamu pulang dan benar-benar merasa berada di dalam rumahmu sendiri?
Kamu mendadak merasa asing dengan tembok kamar,
pantulan ranjang pegas,
beranda,
dan segala yang berada di antara pintu depan dan pintu belakang.

Kamu enggan untuk diam lebih lama di dalam rumah,
kamu memilih untuk mengembara dan sekedar singgah untuk tidur saat sudah terlalu lelah.

Kemana kamu akan hinggap kalau nasibmu ternyata membuatmu tak pernah lelah?

Jumat, 30 September 2016

hal-hal yang kamu lihat di luar jendela di tengah suatu tempat tidak dimanapun juga.

Ada yang akan selalu menarikmu untuk pergi pulang pergi dari perjalanan ini. 

Kamu memandang pemandangan diluar jendela busmu dan sepenuhnya sadar bahwa kamu benar-benar tidak tahu sedang berada dimana. Atau harus kemana. Apalagi bersama siapa. Tapi apakah seburuk itukah perasaan kesendirian? 

Beberapa ratus kilometer kemudian kamu kembali melihat keluar jendela omprenganmu. Setelah dilenakan oleh cuaca dan aroma asap dupa, kamu ingat kembali bahwa untuk kesekian kalinya kamu kembali sadar tidak tahu sedang berada dimana. Atau harus apa. Terlebih lagi berapa lama. Tapi apakah seburuk itukah perasaan terasing? 

Sudah ternuahkan harapanmu. Habis semua sedih sedu sedanmu di suatu hari pada suatu waktu. Karena itu akhirnya kamu pulang membawa foto-foto berisi hal-hal yang kamu lihat di luar jendela di tengah suatu tempat tidak dimanapun juga. 

Rabu, 28 September 2016

Aku tak habis pikir

aku tak habis pikir kenapa aku harus pulang jika nanti aku hanya makan, tertidur, mandi kemudian berangkat lagi
lalu bekerja
lalu pulang
lalu makan, tertidur, mandi, kemudian berangkat
lagi.

Lalu mati

Senin, 26 September 2016

Kita suatu ketika

Ia adalah kita pada suatu ketika.

Saat kamu mengangakat-angkat tanganmu membawa kumpulan proses sambil terbingung-bingung harus apa kamu hari ini. 

Kamu bisa saja membakar rokok berbatang-batang sampai habis oksigen terakhir di paru-parumu digantikan  karbon dioksida. Atau kamu bisa kembali terdiam dalam kamar gelap dan kembali menulis surat tentang sesuatu yang pernah ada. 

Atau sebagai aku yang menatapmu dan berpikir tentang apa yang Tuhan pikirkan saat menciptakan sempurnamu. Luar biasa. 

Ia adalah kita suatu ketika. 

Ia sungguhan pergi, 
ujarmu penuh-penuh. Kamu kemudian mengeluh dan memutuskan untuk membiarkan kapal dengan dirinya untuk terus berlabuh. 

Aku kembali terbangun tengah malam dengan lintingan tembakau di tangan dan asap di udara.  Kamu tak pernah tahu tentang segala sesuatu, tapi apa kamu perlu tahu tentang segala sesuatu? 


Minggu, 25 September 2016

Panekuk

"Aku ingin makan panekuk pisang," ujarku pagi itu.

Kamu tertawa. "Yang terbaik yang bisa kusarankan hanya roti bakar. Bagaimana?" 

Aku menatapmu tak percaya. Kenapa kamu tawarkan roti bakar pada orang yang ingin panekuk pisang? Apa nanti kamu akan menawarkanku kacang pada saat aku ingin memakan Pizza? 

"Roti tak masalah. Tapi mungkin lebih baik kita tetap disini untuk beberapa saat lagi."

Kali ini kamu setuju. Sayang diluar tidak sedang hujan jadi aku kehilangan alasan untuk membujukmu tetap disini hingga sore tiba. 

Dan ternyata roti bakar tak terlalu buruk juga

Rabu, 21 September 2016

Tentang tengah malam

*untuk: bocah-bocah utara

Aku muak untuk selalu meminta maaf dan tak berani menatap bola matamu,
sungguh.

Kondisi ini tak ideal, memang. Berapa banyak sebenarnya rahasia yang kamu sembunyikan di hatimu aku tak pernah tahu, sayang.

Apa aku ingin pergi atau aku ingin selalu disini? Kamu tak peduli. Aku peduli sesungguh hati.
Apa kamu memikirkanku saat tengah malam terbangun dan saat tanganmu mencoba meraih gelas untuk membilas mimpi buruk? Aku peduli.

Sekarang kutemukan sulit untuk menulis puisi hanya dari sudut pandang pertama. Jadi bagaimana ceritamu?

**

Kamu meminta maaf lagi dan lagi. Permintaan maaf macam apa kalau kamu tak berani menatap bola mataku?

Aku muak dengan ceritamu. Rancauanmu di tengah malam saat setengah mabuk membangunkanku. Tak ada yang suka menjadi orang seperti itu.

Tahukah kamu mimpi burukku selalu tentangmu?




Sore itu

Semua selesai sudah saat aku tertidur di Sofa sore itu
kamu tak membangunkanku, hanya berjingkat lalu mengambil tasmu kemudian pergi.

Mungkin kamu tak ingin kenangan terakhir yang kuingat tentangmu adalah punggungmu yang bergetar haru.

Mungkin kamu selalu ingin diingat sebagai mimpi indah sore itu.

Selasa, 20 September 2016

Tetrahedral

Seharusnya kita tidak berbicara tentang satu sama lain,
tentang rumus kimia yang mencipta kita,
tentang cairan dan semburan hormon yang membuat kita saling mencinta.

Aku menginginkanmu dan kita bisa mulai menari di sisi miring dan merasa sedikit bagian dari surga ada di bawah telapak kita.
Dan sebagian dari neraka ada di ujung jemari kita saat saling bersentuhan.

"Bukankah kamu rasa lagu kali ini berbeda dengan lagu-lagu lain (kali)?"

Aku mengangguk dan mencoba mengalihkan perhatianmu dari gerakan kaki payah. Kamu pura-pura tak terpengaruh oleh rindu tapi bagaimana kamu masih manusia.

"Seluruh keberadaan kita bisa didefiniskan dengan atom. Dan kalau atom hanya direkatkan oleh medan magnet, aku bersyukur bisa merasakan dirimu di ujung jemari."

aku berkata jujur. Aku tahu kamu mengerti rancauanku. Aku mengerti kamu mengerti aku. Aku mengerti tentang semesta. Dan semestaku kini seluruhnya di hadapanku sedang menari kali ini.

Puisi tentang kilometer, jarak, dan segala yang ada disekitarnya

Kamu tidak perlu menjadi satu untuk mampu berhitung sampai lima ratus tiga puluh satu. Selalu ada yang tidak berkeberatan menjadi ratusan puluhan dan satuan. Kamu dan aku tidak pernah masalah kalau kita menjadi nol.

Jadi apakah kamu masih takut pada gelap di siang hari dan terang di malam hari? Masih kah kamu melakukan tindakan magis diatas meja makan.

"Semalam aku bercumbu dengan gadis bisu melalui bahasa isyarat."
ceritaku bangga.

Kamu hanya tertawa dan menanyakan tentang bagaimana kabar cuaca di Jakarta dan segala tetek bengeknya.

Aku hanya menggeleng. Jakarta akan selalu seperti itu, kota ini hanya indah pada tengah malam jika kamu mencintai kota semacam yang kamu bayangkan.

Tapi kamu selalu ada dimana-mana. Benar-benar dimana-mana:
di ujung Piramida
di balik tembok Alamo
ujung kereta gantung namsan
di
pi
ki
ran
ku.

Agak aneh membayangkan kamu ada dimana-mana padahal kamu tak pernah pergi dari mana-mana,

"Telah kutitipkan sebagian dari diriku di bola matamu malam itu. Kemudian kamu besarkan dengan baik di tenggorokan lalu saat ia menjadi darah, ia akan tiba di hatimu dan takkan pergi kemana-mana lagi."

Aku hanya mengangguk-angguk. Mungkin karena angin, mungkin karena ucapanmu yang semakin lama semakin mencoba dimengerti malah semakin sulit itu dipahami.

"Jadi bagaima kabar.."

"Jakarta?" ujarku memutus cepat.

Kamu menggeleng. Kamu tersenyum lalu berkata:

"...ku."

Aku tertawa. Mana mungkin kamu menanyakan kabarmu padaku padahal kita sudah sekian lama tak bertemu. Aku melirik jam, pukul 12 tengah malam.

"Mungkin kita harus di Jalan saat ini."

Kamu menggangguk pada anggukanku. Kita di Jakarta. Pukul 12 tengah malam dan berhenti di bahu jalan kilometer satu saat tangismu pecah sekeras-kerasnya.

Kamis, 15 September 2016

Jatuh cinta dengan dirimu sendiri

Kapan terakhir kali kamu jatuh cinta dengan dirimu sendiri semacam ini?
Kamu akhirnya menikmati lagi di atas motor, tertawa-tawa seperti orang gila dan berkendara.

Motor bisa berbeda, dirimu tidak pernah sama, tapi ada perasaan yang tak pernah berubah.
Kamu bisa merasakan senyummu tergores lebar. Samar-samar kamu mendengar tawa yang tak kamu ketahui milik siapa sampai sesaat kamu sadar bahwa kamu yang tertawa

Kamu ingat, di atas motor kamu bisa jadi siapa saja di atas motor. Kamu serupa Musa di Thursina. Kamu mendadak seperti Muhammad, menyendiri di Gua Hira. Kamu hampir-hampir mendapat pencerahan seperti Buddha di Pohon Boddhi. Dan nyaris menjadi abadi seperti Yesus di Tiang Salib.

Kamu tetap kamu. Dengan sepeda motormu. Dengan angin kamu rasakan berderu-deru.

Ziarah

Mustahil kamu ada disini namun ada disana dalam waktu bersamaan. Tapi memang kadang sesuatu kadang bisa begitu tidak masuk akal hingga satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah suatu penjelasan yang tidak masuk akal. Aneh.

Kamu terduduk di kursi depan omprengan dan mencoba mengingat segala sesuatu dalam jangka waktu tertentu. Waktumu berhenti pada suatu Senin sore, kamu tertidur di dalam bis menuju demak dan terdampar di suatu tempat.

"Berapa jauh dari sini ke Masjid Agung Demak?"

"Lebih jauh dari yang kamu duga. Lebih baik kamu kembali ke bus yang sudah meninggalkanmu."

Kamu diam saja kemudian memutuskan untuk berjalan mundur.

"Hendak ke Masjid Agung Demak, kah? Mari naik, aku sendiri tidak kemana-mana." ujar pengendara taksi baik hati.

Kamu tersenyum setengah mati. Jalan hitam panjang membawamu kembali ke tempat yang sudah kamu lewati tapi tak pernah benar-benar kamu pahami.

"Apa yang membawamu ke jalan sepi macam ini? Kamu beruntung aku adalah salah satu yang tersisa dari banyak pengendara. Kamu bisa saja beberapa jam menghabiskan waktu seorang diri."

Kamu mengangguk dan berterimakasih betul betul. Sedang tentang apa yang membawamu? Kamu tak pernah tahu. Kamu hanya ada saat ini, perlukah ada pertanyaan lebih jauh lagi?

"Terima kasih. Aku harapkan keberuntungan ada di manapun kamu menuju." ujarmu pada pengendara taksi. Pengendara taksi tersenyum kemudian menghilang. Kamu tak pernah tahu apakah ia pernah benar-benar ada.

Kamu habis sudah dan akhirnya tertidur di Masjid Agung Demak. Lucu mengingat bangunan ratusan tahun masih saja mampu meneduhkanmu. Lucu mengingat ia sudah ada jauh belum kamu ada dan mungkin masih akan ada jauh setelah kamu tiada.

Kamu serupa tatal. Serpihan. Harus ada yang mengikat, betul. Karena itu kamu tertidur dan terbangun saat azan subuh sayup-sayup berkumandang.

Pagi tiba dan kamu berjalan ke makam. Kamu merasa ada dimana-mana sekali lagi. Tapi kamu selalu disini walau tak ada orang yang mengenali. Kamu bisa saja mengakui sebagai siapa pun, tapi apa untungnya untuk selalu berdusta.

"Manusia itu begitu. Mulutnya kecil, perutnya kecil, tapi jika diberi dunia pasti mau dimakan semua."

Kamu tertawa mendengar lelucuon. Kamu kemudian menghabiskan sisa waktu menyadari betapa lelucuon menjadi pelajaran.

"Bagaimana dengan Muria?" Tanya supir Angkot.

"Aku tak tahu tentang panggilan. Aku hanya merasa harus pergi." ujarmu jujur.

Supir angkot tersenyum. Ia mengangguk dan bercerita tentang ceritanya. Kamu duduk dan merasakan udara semakin dingin. Kamu mendengar benar-benar ceritanya. Kamu merasa ia adalah juru kunci dan kamu hanya salah satu pengunjung makam.

"Lain kali kita harus bertemu lagi. Kamu bisa mencariku: Muhendi, kamu bisa tanya semua orang di sekitar sini. Lalu kita bisa duduk dan berbincang melalu kopi."

Kamu lagi-lagi hanya tersenyum dan berterima kasih sungguh-sungguh. Kamu rasakan dunia sayup pelan-pelan. Siapa kamu sebenarnya saat tak ada yang mengenalmu?

Kamu tiba di Gresik. Kamu duduk di pagar dan pagar mengarah pada seseorang. Ia kemudian bercerita:

"Bagaimana tentang daun?"

Kamu menatap ke atas dan menatap pohon dengan cara yang tak pernah kamu rasakan sebelumnya. Kamu merasa dikelilingi oleh segala sesuatu. Kamu meraba lehermu dan merasa sedemikan dekat.

Lalu kamu harus pulang.

Sayang kamu harus pulang...

Minggu, 11 September 2016

Minotaur

Kamu bisa menaruh jemariku di dahimu dan berpura-pura bahwa jempol dan telunjuk adalah tanduk. 

Oh siang, kamu tak pernah tahu betapa lahirnya selalu menunggumu pulang. Tak bisa selalu mencium dinding sebelah kiri dan berharap kamu kan sampai di singgasana yang pemiliknya akan menyambutmu:

"Selamat datang di istana. Kamu kah Theseus berikutnya? "

Kamu kemudian menatap cermin lalu membalas pandang pada minotaur. Kamu tahu tandukmu palsu, jadi kamu menduga bahwa kamu akan tinggal disini selamanya. 

Senin, 29 Agustus 2016

Laut

Apa masih tersisa aromaku di sela-sela rambutmu saat kamu hadir di pantaiku beberapa waktu lalu?
Aku selalu berada disini dan tidak kemana-mana.

 Aku rumah yang baik bagi moyangmu dan aku akan menjadi aku yang sama beberapa masa kemudian ketika anak cucumu lahir dan berganti mengunjungiku di pantaiku menggantikanmu.

Bukankah aneh aku jutaan tahun lalu akan sama dengan aku beberapa juta tahun kemudian?

Semestinya aku tak pernah merindukanmu. Apalah arti dua jammu dibandingkan jutaan tahunku? Tapi aku ingat jelas beberapa tetes air matamu yang menambah ketinggianku walau tak seberapa.

Orang-orang seperti kita

Kamu selalu bisa menemui orang sepertiku dan orang sepertiku akan selalu bisa menemui orang sepertimu,
kita tak perlu kemana-mana. Jendela selalu terbuka untuk kita sedang kita akan tengadah saat hujan pelan-pelan masuk ke kamar kita masing-masing.

Kita tak perlu kemana-mana. Hujan mengundang kita untuk tidak keluar, kita biarkan hujan berkumpul dan menggenang di suatu tempat entah dimana. Orang-orang seperti kita selalu bebas asal kamu percaya pada aku yang percaya padamu.

Orang-orang seperti kita akan menjadi seperti kita sampai orang-orang seperti kita tak terlalu suka menjadi orang-orang seperti kita lagi untuk seterusnya.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Lalu kenapa kamu harus pergi

Kenapa pula kamu harus pergi padahal hujan sudah sedari tadi menanti
Kamu seharusnya di rumah, tertidur atau menatap pelan ke jendela
atau menonton televisi sambil mengantuk-ngantuk seperti biasa. 

Lalu kenapa kamu harus pergi? 

Senin, 22 Agustus 2016

Aku seterusnya hujan

Tak ada yang mendengarmu datang pada suatu malam suatu ketika. 

Ditinggalkanmya oleh yang lain dalam tidur mereka sedang kamu begitu saja turun perlahan-lahan lalu tersangkut di suatu cabang suatu pohon entah dimana. 

Kamu akan merayap hingga batang lalu hanya mampu pasrah saat tanah menyambutmu dan membuatmu hanya sekedar menjadi lembar pada suatu lahan entah bagaimana. 

Rabu, 03 Agustus 2016

Nelayan

Tak ada yang melarang seorang nelayan menjadi astronom atau astronot sekalipun. 
Siapa yang lebih mampu memahami pantulan sinar bintang tak berhingga di tengah lautan di bawah sinar rembulan pada suatu ketika? 

Pun cita-cita untuk menjadi gejolak darah di jantung untuk sore itu. 
Siapa yang lebih faham tentang aliran darah, samudra (apapun)?

Tapi kita memilih mendaki angin laut malam itu. Dihempas ombak fajar itu. Lalu menjelma plankton suatu sore nanti 

Siapa kamu?

Apa telah sampai pada telingamu cerita tentang orang yang pernah hampir ada dan mengetuk pintu rumahmu pada suatu masa, suatu ketika? 

Akan kah kau sambut dengan senyuman dan pelukan kasih sayang 
atau sekedar segelas teh berbasa basi sebelum memaksanya untuk pulang? 

Apakah lebih baik tiba tanpa berita sehingga bisa dinikmatinya wajah terkejut saat pintu terbuka? 

Atau lebih baik ia datang setelah terkirim kabar sehingga bisa dinikmatinya rindu hilang selembar demi selembar?

Tak ada yang tahu karena ia tak akan berani bahkan menghirup udara yang sama denganmu dan mengizinkanmu bertanya:

"Siapa kamu?"

Yang pada akhirnya akan memaksanya bercerita tentang segala sesuatu tentang gua dalam dirimu. 

Kamis, 14 Juli 2016

Puisi selamat tinggal

Kita tak akan kemana-mana. 

Temanku tak akan lari dari rumah lalu tiba-tiba kembali pulang pada suatu lebaran menenteng seorang bayi yang konon adalah cucu orang tuanya. 

Temanmu tak akan meminum kopi murahan sambil bercengkrama dengan penjual buah yang kebetulan lewat sore hari. 

Kamu akhirnya mencintai dirimu, selamat. Kurasa itu alasan kenapa kita tak akan pernah bisa (bertemu). 

Aku bisa saja menyukaimu lantas kamu menyukaiku dan kamu akan menyukai seseorang yang benar-benar menyukaimu. 

Apakah itu sama dengan menyukai dirimu? 

(Aku tak tahu)

Puisi ini tidak akan baik tapi perlu untuk dituliskan. 
Dan jika kebetulan lewat suatu kejadian yang luar biasa kamu menemui dirimu membaca puisi ini dan merasa ini adalah puisi tentang dirimu, kamu akan selalu diterima untuk menyapaku setiap waktu. 

Aku tak tahu kapan kamu akan pergi ke altar, aku hanya berharap kamu akan selalu bahagia. Sungguh, tak ada lagi keinginan lain yang tersisa. 

Hidup tak pernah mau menunggu lama, tahu-tahu salah satu dan kemudian seluruh dari kita menjelma tua. 

Aku ingat pada suatu malam saat aku berpikir kamu adalah semua. Dan ketika pada pagi itu aku melewatimu dan melirik wajahmu dari spion motorku aku hanya mampu berpikir bahwa manusia selalu berubah. 

Aku berubah, kamu berubah, tak pernah ada salah. Semua hanya harus begitu, mau bagaimana lagi? 

Jadi, selamat tinggal! 

Sabtu, 25 Juni 2016

Menghitung mundur

Kalau kalau ceritamu habis
lalu ceritaku habis 
kita akan selalu bisa duduk berdua melakukan apa saja. 

Mungkin tidak bercerita, bukankah sudah kukatakan bahwa ceritaku dan ceritamu sudah habis? 

Kita mungkin bisa menghitung mundur dari tak terhingga sampai nol. 

Lalu jika kita telah mencapai nol dan masih ingin  berdua, kita bisa menghitung mundur hingga minus tak terhingga. 

Satelit

Aku pernah ke bulan saat mata-matamu tertutup dan telingamu terbuka lebarlebar. 

Dan saat jarak antara lingkaran telunjuk dan jempol lebih luas dari diameter bumi, kamu baru akan sadar tentang sendiri. Dan semesta tampak tak ada artinya sama sekali. 

Apa aku harus pulang? Pikiran baik. 

Atau bisa saja selamanya aku mengorbit serupa satelit. 

Lalu kamu akan ingat aku ketika kamu tengadah menatap langit. 

Minggu, 19 Juni 2016

Aku tahu

Aku tahu aku tahu

Jumat, 17 Juni 2016

Bagaimana cara menjadi Astronot

"Aku tak harus pulang malam ini," 

Aku hanya mendengar suaramu sambil mengetuk-ngetukkan jemari ringan diatas kemudi. 

"Jadi...?"

Aku membalas ringan. Kamu tampak kecewa dengan balasanku. Aku memandang jalan tiada henti.

"Maaf aku harus pulang malam ini. Esok pagi aku harus belajar benar cara mendaratkan Rover di Mars. "

Kamu membalas dengan  senyum cantik luar biasa. Aku turun dan mengucapkan selamat tinggal. 

Hanya beberapa bulan  kemudian aku berkata pelan, 
" Ya Tuhan! Sejak kapan aku menjadi sebodoh itu? "

Kamis, 16 Juni 2016

Namaku

Aku pasti lupa namaku malam itu, jika tidak aku tidak akan berakhir di tempat ini pagi ini. 

Mana mungkin aku tidak berada di rumah saat mata sudah tertutup dan kepala sudah terebah. 

Aku ingat kamu menanyakan namaku, betul. Tapi namaku bukan yang aku berikan

. Apa aku harus pulang? 

Kamis, 09 Juni 2016

Trapeze

Aku akan berada di udara saat kamu menahan napas
dan kemudian bertepuk tangan saatu aku salto beberapa kali di udara.

Aku akan memandang langit-langit dengan senyum lalu pada setiap putaran hanya ada harapan tangan meraih palang gantung.

Lalu andaikan (dan andaikan memang) tak tergapai malam itu, hanya perlu sedetik untuk merubah tatapan kagum menjadi jeritan tak percaya

Jumat, 03 Juni 2016

Kapan hatimu menjadi Supernova?

Hal yang paling indah untuk dijelaskan adalah hal-hal yang tak pernah dapat dipahami dengan jelas,
lubang hitam
supernova
hatimu.

Jadi hari-hari yang buruk akan selalu bisa dijelaskan dengan baik tapi hadirmu malam itu tetap sebuah Enigma.
Ada beberapa hal fundamental tentang datang dan kehilangan. Berburu atau tertidur. Lalu apa yang harus kulakukan?

Aku hanya mampu menjelaskan dengan baik kamu membuatku bahagia. Hanya. Itu. Kita tak perlu keluar angkasa sekarang, kita berada di luar angkasa sejak saat ini. Sejak kemarin bahkan.

Tapi kita tak akan selamanya begini pada setiap malam, betul aku setuju. Kamu tak perlu mengulang-ngulang kalimat yang sudah kuhafal dengan benar, aku sudah ingat betul ketika kamu mengatakannya beberapa masa lalu.

Yang kita tunggu hanya ketika salah satu dari hatiku atau hatimu berubah bentuk. Hatiku menjadi lubang hitam sedang hatimu meledak supernova.

Senin, 30 Mei 2016

Semanggi

Kami titipkan suara dan rasa lapar kami pada gemeretak gigimu saat kamu dihajar oleh polisi pagi itu.

Jadi kamu akan merasa perlu untuk terus berseru-seru walau moncong senapan sudah siap menunggu.

Kami titipkan tangisan anak dan keluhan tak berujung kami pada aliran darah saat ia keluar dari pelipismu sore itu.

Jadi kamu tak akan ragu walau dadamu tembus dihajar peluru

Jumat, 27 Mei 2016

Kekasihku Astronot

Kekasihku, Astronot. Ia pergi ke bulan kemarin. 

Aku terima telegramnya pagi ini:
"aku baik-baik saja. Tak perlu menungguku pulang, kamu bisa makan sendiri."

Dan dunia ini terlalu aneh sedang kamu terlalu jauh

Senin, 23 Mei 2016

Tanda baca

Aku tak sempat berpikir dalam hati, "Apakah itu sebuah pertanyaan?" ketika kamu berkata singkat setelah aku memakai jas dan bersiap pergi,

"Kamu akan pergi"

Sulit menerka maksud perkataanmu apabila tak ada tanda baca. Suaramu selalu datar. Tak ada kurasakan tanda seru, titik, tanda tanya, atau titik tiga sebagai perumpamaan ucapan yang tak perlu dibalas.

Dan jawabanku? Tentu Aku hanya diam.

Minggu, 22 Mei 2016

Nebukadnezar

Tuhanku yang baik,
apakah ada perbedaan doa semut-semut dan doa raja-raja?

Planet-planet

Planet-planetmu kemarin kini telah hilang dimakan lubang hitam dan kini aku tak bisa melihat langit dengan perasaan yang sama ketika aku melihatnya bersamamu beberapa masa lalu,

"Ada yang bilang ketika kamu mati kamu menjadi bintang. Omong kosong..."
ujarmu. Aku menyandarkan tanganku di kepala beralas rumput, kamu setengah duduk sambil membakar kretek di sampingku.

"Omong kosong bagaimana?"

"Ketika bintang mati ia akan menjadi lubang hitam. Mana mungkin yang sudah mati menjadi lebih mati dan menghancurkan yang lain?

Aku tak terlalu peduli dengan ucapanmu malam itu saat itu tapi aku ingat seluruh kalimatmu pada malam ini ketika planet-planetmu hilang dimakan lubang hitam.

"Kalau aku mati, aku akan menjadi planet." ujarmu yakin. Kamu kemudian menunjuk satu tempat diantara bintang yang kosong dan berujar bahwa disanalah kamu akan muncul.

"Aku adalah putaran debu, dalam jantungku ada jalur susu darah namanya, oksigen yang tersisa disana cukup untuk beberapa mikroba. Sungguh aku akan menjelma planet ketika aku mati."

Aku tersenyum dan menggeleng. Aku balas ucapanmu,

"Kalau aku mati, aku akan menjadi bintang. Kalau aku lebih mati lagi, aku akan menjadi lubang hitam pemangsamu."

"Gila kah, kau?" tanyamu cepat.

"Mungkin. Tapi bukankah dengan begitu kita bisa bersama selamanya?"

Di warung kopi

Kamu bilang kita bukanlah tentang waktu atau lama bersua
jadi kukira pada malam itu saat kita bertemu pada pukul setengah sepuluh malam, kamu, aku
(barangkali siapa pun diantara kita berdua)
sudah pulang menuju rumah.

Kamu kemudian mengeluh,
"Aku seharusnya sudah menuju rumah. Tapi lihat dimana kita saat ini: di warung kopi dan hanya salah satu diantara kita yang meneguk air rebusan biji."

Aku menatapmu,
"Aku tak menghalangimu. Hujan yang baiklah yang mencegahmu pulang."

Diluar hujan turun. Kita tak kembali bercerita, betul. Tapi uap biji kopi yang digerus tetap bersembunyi diam-diam dibalik diam kita.

Jumat, 20 Mei 2016

Mistik

Jilatan matamu pada sore hari itu adalah mantra

Penumpang terakhir

Kereta berhenti juga, kamu melirik jauh ke kanan kemudian memutuskan bahwa ini benar-benar stasiun terakhir.

"Bagaimana kalau aku ingin ke stasiun terakhir tapi tak ingin menambah membayar tiket?

Petugas restorasi yang cantik tersenyum kemudian menempelkan jari ke mulut sambil menunjuk pojokan tempat cuci yang penuh dengan piring kotor.

Kamu mengangguk mengerti.

Satu piring kotor...

Dua piring kotor...

Tiga piring kotor...

"Maaf aku harus turun, rumahku bukan disini tapi aku harus berada disini malam ini. Kamu bisa turun dimanapun, kereta ini milikmu selama kamu mencuci habis piring-piring di sini."

Kamu menggangguk sebagai ucapan terima kasih. Petugas restorasi memelukmu pelan. Sesaat kamu merasa ingin pulang. Sesaat kamu ingin turun dimanapun petugas restorasi turun.

Empat piring kotor...

Sekian piring kotor...

Piring kotor habis sudah. Kamu adalah masinis kereta malam ini dengan hantu-hantu yang baik sebagai penumpang yang buruk. Kamu tersenyum, kereta masih berjalan sedang pikiranmu tak hendak kemana-mana.

Jadi kita kembali ke awal puisi ini, kereta berhenti. Kamu adalah penumpang terakhir tapi sayang kamu harus turun supaya kereta tetap menjadi kereta.

Tandukmu

Tandukmu yang semalam mengoyak paru-paruku kini telah tergantung gagah diatas ruang tamuku.
Kamu tak sempat menghela nafas pagi itu, aku ingat tentu. Dan tentang ceritamu? Siapa yang selalu ingat seluruh cerita tentang seseorang pada suatu waktu?

Lalu aku?
Aku akan pulang dengan tangan di dalam saku dan mata menatap segala penjuru. Aku kira sekarang pukul dua, masih maukah kamu keluar rumah dan pulang menyambutku?

Telah kuterima suratmu tadi pagi.
"Ketika kamu terima suratku, aku sudah jauh pergi..."

Jumat, 29 April 2016

Aku kita

Hampir-hanpir saja aku terbangun semalam dan tersadar bahwa aku sedang bermimpi pada waktu aku sedang bermimpi
"Tuan, kamu sedang tidak terbangun saat ini, kamu bisa menikmati saat sedang tak berada dimana-mana"
ujar kabel listrik.

Aku tersenyum.

Ya ya ya, aku kita bukan kupu-kupu aku harus terbangun.

Tentang Jalan Pulang

Jalan pulang yang kamu tuju itu tak pernah ada walaupun kamu sesungguhnya sangat yakin bahwa langkah-langkah yang kamu ambil beberapa hari lalu itu benar-benar pernah terjadi pada suatu ketika, suatu masa, suatu saat.

"Kamu tiba pukul berapa?"
takkan ada yang menanyakannya apapun tentang perjalanan pulangnya. Apakah ia benar-benar berumah? Aku tak tahu jadi bagaimana mungkin kamu bisa tahu?


Minggu, 10 April 2016

Tuan kemarin

Cerita-ceritamu yang sempat kamu sampaikan dulu dan kukira akan cepat kuli pakai dan membosankan setengah mati ternyata masih juga aku nikmati hingga detik ini. 

Pun juga nafas dan semburan hangat ringan yang kamu berikan setiap kali kamu terengah-engah menaiki tangga. 

Semua tampak jadi sederhana ketika tuanku yang kemarin, aku yang sekarang dan tuanku untuk hari ini adalah tuanku yang sama

Jumat, 08 April 2016

Sepatu lari

Aku hanya menghela nafas pelan sambil mengepak barang-barangku,

"Kamu ingat dimana kamu taruh sepatu lariku?"

Kamu membalas pertanyaanku dengan pandangan nanar tak percaya. Aku tahu aku tahu, tidak semestinya aku membahas pertanyaan konyol seperti itu ditengah isak air matamu. Tapi aku benar-benar harus tahu dimana sepatu lariku.

"..."

Kamu hanya diam. Aku menggeleng dan mengangkat bahu pelan, sia-sia aku tanyakan pertanyaan semacam itu saat ini. Aku tahu kamu berharap pelukan terakhir, ucapan maaf atau apapun serupa itu.

Maaf aku tak sekuat itu, kamu tak tahu kan betapa setengah mati kutahan isak tangisku saat diam-diam kumasukkan foto kita berdua ke saku kemejaku?

Selamat tinggalmu mempesona

Aku tidak mendengar dan tidak akan pernah mendengar setiap kamu mengucapkan selamat tinggal,
aku akan terus menyapamu esok hari
esoknya lagi
esoknya lagi
esok

nya

lagi.

Siapa yang ingin hidup luar biasa? Hidup serupa ini bisa mempesona jutaan orang. Kopi di tangan kanan dan kretek di tangan kiri sedang gunung berganti motor di hadapan mata.

"Selamat tinggal," ujarmu lagi.

Aku menggeleng. Sayang, bukankah sudah kukatakan:

"Aku tidak akan mendengar selamat tinggalmu."

Kamu balas gelenganku dengan gelengan lain tapi kamu tambahkan senyum disitu. Aku mau tak mau tersenyum pula

aih sayang,

Kamis, 07 April 2016

Siapa sangka

Kamu tak mendengar suaranya malam itu karena tidak seperti malam-malam sebelumnya, pada malam itu kamu tertidur sore-sore benar.

Kamu tak sempat mendengar sapaan halusnnya, ketukan jemarinya di pagar saat menunggu atau pandangan matanya penuh ragu menghadapi pintu yang tak kunjung terbuka. 

Ia membayangkan kamu masih marah dan enggan bertemu dengannya untuk beberapa lama,
padahal kamu hanya tertidur, siapa sangka? 

Senin, 28 Maret 2016

Andaikan cerita

Andaikan cerita yang kamu ceritakan beberapa hari itu benar sekalipun aku tak tahu harus berbuat apa hari ini
pun apa bila cerita yang kamu sampaikan itu salah sekalipun aku tetap tidak akan berbuat apa-apa hari ini,
jadi aku benar-benar tak tahu untuk apa kamu sampaikan ceritamu kemarin?


Selasa, 15 Maret 2016

Gigi geraham

Aku tahu diammu adalah bom waktu, 
Bam! Tahu-tahu kau hantam rahangku. 

Aku menatap senyummu tak percaya. Kusentuh daguku pelan dan kurasakan darah mengalir perlahan. 

"Apa nama gigi yang berada antara taring dan geraham?" Aku bertanya padamu. 

Kamu mengangkat bahu. Aku pun lupa yang pasti tak ada bedanya sekarang. Kuludahkan gigi keluar, untuk sesaat aku merasa seperti jagoan di televisi. 

Kuraba pipiku untuk merasakan gigi-gigiku dr luar. Bisa kurasakan gusi mengalirkan darah segar. 

"Anjing juga kamu hari ini... "

Rabu, 09 Maret 2016

5 mililiter

Kamu ingat benar kamu pernah meminum obat batuk yang sama beberapa belas tahun lalu. 

Dan saat cairan memenuhi garis batas 10 mililiter di gelas takar, kamu sadar dulu kamu hanya meminum 5 mililiter

Dewasa: 10 mililiter 3 kali sehari 
Anak kecil: 5 mililiter 3 kali sehari


Apa perbedaan antara kedewasaan dan ketidakdewasaan hanyalah sekedar 5 mililiter? 
Aku tak tahu. 


Tapi harapan untuk segera sembuh memang tak pernah selalu ada. Dulu kamu berharap supaya tak harus pergi ke sekolah, sekarang kamu berharap supaya tak harus pergi bekerja. Sama saja. 

Senin, 15 Februari 2016

Itu ini mana

Kamu tak pernah suka seperti ini lalu kenapa pula kamu masih saja sepert ini?

Dan kalau kamu tahu kamu suka seperti itu kenapa pula kamu masih pura-pura tidak tahu?

Jika saja kamu masih ada dimana-mana, apakah kamu masih akan mempertanyakan hal yang sama?

Lalu apakah masih ada kamu jika kamu masih saja seperti ini, tak suka disitu, dan enggan pergi kemana-mana?

Kata

Tuanku yang baik tidak dianugerahi kata-kata di ujung jarinya
sehingga setiap malam ia diam-diam berjalan keluar membiarkan pikirannya
matanya
dan kadang
segalanya


mencipta kata-kata.

Menulis bukan merupakan terapi yang baik, betul.

Selalu ada
                Candu
tapi kata-kata akan tetap mengiba untuk disuara
kan.


Aku yang baik tidak memiliki kata-kata atau huruf di ujung jariku
lalu aku diam saja saat matahari bersinar pelan-pelan dan musik blues mengalir pelan dibalik teling.

"Kamu hendak kemana pagi ini?"
aku tak tahu, aku hendak bertemu dengan kata tapi aku tak pernah tahu ia berada dimana.

Dan kumpulan kata-kata ini nyaris saja menjadi puisi jika saja ada

Kamis, 28 Januari 2016

2130 atau lebih

Maaf aku terlambat sampai kotamu walau aku tahu kamu tak akan pernah sabar menunggu. 

Berapa hari? 2130? Ah Nona, apakah kamu tahu aku tak pernah menghitung sampai seribu? 

Aku harap masih ada sisa karbon dioksida dari paru-parumu di udara,  massa dari bayanganmu di ujung-ujung kota dan getaran nyanyianmu di tengah-tengah hiruk pikuk kota. Tapi aku sadar aku bermimpi terlalu banyak saat ini. 

Aku tak suka kota ini, sungguh tak suka. Dengan manusia serupa robot dimana-mana. Aku ingin pulang, betul. Tapi aku jauh lebih ingin bertemu denganmu. 

Selasa, 12 Januari 2016

Tuhan di perempatan

Aku rasa ada Tuhan di setiap perempatan yang akan menunggumu apakah kamu akan belok ke kiri, ke kanan atau lurus saja ke depan. 

Pun juga dibalik tembok rumahmu yang diam-diam mulai retak dibayar hujan dan matahari. 

Atau mungkin di jantungmu yang masih saja tidak bosan memompa darah ke otakmu jadi kamu bisa memutuskan untuk belok ke kiri karena kamu tahu pada pukul berapa jalanan di depan akan mulai dipadati anak-anak yang pulang sekolah. 

Kamu hanya diam saja mengetuk-ngetuk setir mobilmu sambil bersenandung pelan mengiringi musik familiar yang kebetulan keluar dari radio yang kamu setel sedari tadi. 

Dan saat kamu belok ke kiri, Tuhan tahu dengan  pasti bahwa kamu sudah akan belok ke kiri puluhan masa bahkan sebelum kamu lahir. 

Tapi Tuhan menunggu. Dan kamu? Kamu tak pernah sesabar itu