Selasa, 15 Desember 2015

25

25 tahun lagi aku akan lebih tua dari usiamu, Ibu, karena kamu akan seusiamu selamanya.

Anakmu kini 25 tahun awal bulan Desember tahun ini dan ia tak pernah yakin bahwa benar-benar sudah 25 tahun. 
Ia merindukanmu masuk diam-diam ke kamarnya setiap tahun dengan membawa kue dan hadiah. 
Setiap tahun ia berpura-pura terkejut, setiap tahun pula ia tak pernah berpura-pura bahagia. 

Ia benar-benar bahagia. 
Ia benar-benar merindukanmu. 

Jadi ibuku sayang, ibuku yang cantik, ibuku yang... 

Aku selalu berandai-andai bahwa Tuhan ingin mencabut nyawamu ketika kamu sedang cantik-cantiknya. Dan jika itu memang benar, maka Ia tepat mencabut nyawamu saat itu, kamu tak tahu betapa cantiknya kamu saat itu. 

Tapi Ia tak pernah dengan baik menjelaskan padaku harus bagaimana aku merindukanmu dengan rindu yang serindu-rindunya?

Ibu, aku ingin menangis dipangkuanmu

Jadi kalau aku menulis

Jadi kalau aku masih diperlukan untuk menulis puisi tentang seseorang yang pernah ada dan tak pernah ada dalam waktu yang sama, maka kamu bisa menikmati dengan baik puisi yang aku tulis ini. 

Apakah rembulan malam ini mendadak menjadi dua? Aku bertanya. 

Lalu aku sadar bahwa puisiku tak pernah bercerita dengan baik. Lebih jauh lagi,  puisi mana yang mampu bercerita dengan baik? 

Jadi kalau aku sudah tak memerlukan lagi untuk menulis tentang seseorang yang tak pernah ada, maka puisi ini akan menceritakannya dengan teramat baik. 

Dengan asumsi semacam itu aku menulis. Jadi mohon maaf jika tak ada yang bisa menikmati puisiku saat ini. Aku bahkan tak bisa menikmatinya. 

Karena aku tak perlu kemana-mana, suaraku akan terdengar jauh di ribuan kilometer bersahut-sahutan dengan suara azan subuh yang membuatmu enggan meninggalkan kasur. 

Ada yang bilang puisiku bukan puisi. Aku setuju. 
Ada yang bilang puisiku serupa prosa. Aku tak setuju. 
Aku tak tahu beda puisi dan prosa, sungguh. 

Apakah ada tempat yang paling kamu sukai dari kota ini, Tuan? 
Aku tak tahu. Aku selalu menyukai beranda, aku bisa tinggal dimana saja jika ada beranda dan segelas kopi. 

Aku bisa berada Dimana mana jika ada beranda dan segelas kopi. 

Tapi karena malam ini aku harus tertidur cepat, hanya ada aku, beranda,  dan segelas susu kacang kedelai malam ini

Terakhir kali(mu/ku) menangis

Aku tak ingat kapan terakhir kalimu menangis dan mau tak mau aku memikirkannya sekarang saat bibirmu mulai bergetar, matamu berpendar merah dan pundakmu naik turun. 

Saat air matamu tak juga turun pula akhirnya aku sadar kamu mencoba setengah mampus untuk menahan tangismu, pikiranku malah semakin menjadi-jadi mencari di sela-sela memori tentang kapan terakhir kali aku melihatmu menangis. 

Lalu saat kamu berputar menunjukkan rambut indah dan matahari pelan-pelan turun di depan wajahmu menyisakan bayanganmu yang perlahan-lahan memanjang seiring langkah yang kamu ambil menjauhiku yang sedari tadi hanya diam saja mencoba mengingat kapan terakhir kali aku melihatmu menangis, mendadak yang ada dipikiranku adalah kapan terakhir kali kamu melihatku menangis. 

Rabu, 09 Desember 2015

Puisi dan kata ulang berkali-kali

Akan ada Tuhan di setiap-setiap perempatan dan lampu kota yang kamu lewati setiap malam-malam tadi, entah kamu ingin atau tidak
dan kamu pada akhirnya mau tak mau harus pulang juga, kan? 

Tidak penting bagaimana kita bertemu karena pada akhirnya toh kita bertemu juga. Jadi bagaimana kabarmu, masihkah kamu bertinju setiap kali jemarimu tertekuk dan tanganmu terkepal? 
Masih adakah asap motor di sela-sela alveoli mu? 
Masih adakah rindu tentang diriku samar-samar tersimpan dalam sinapsis neuronmu? 

Apakah puisi ini terlalu fiksi ataukah terlalu ilmiah?
Ataukah aku sudah semakin tak mahir lagi berpuisi?
Atau aku sudah tak mahir lagi menjadi aku? 

Lalu aku mencoba mengingat bagaimana biasanya aku mengakhiri puisi:
Pertanyaan? 
Kalimat ambigu? 
Titik? 

Lalu apakah puisi ini masih berupa puisi? 
Apakah cerita dariku masih pantas didengar? 

Apa aku bisa mendengar suaramu? 

Aku rasa puisi bertelinga makanya ia bisa mendengar isak tangismu subuh-subuh 1263 malam yang lalu. 
Tapi puisi tak pernah punya hati, sungguh tidak. Ia tak pernah melanjutkan tangisan itu kepada siapa-siapa. 

Ia biarkan tangisanmu menjelma menjadi aksara, titik dan koma. Lalu begitu saja, ia tak kemana-mana. 

Bisa jadi puisi malam ini serupa dengan puisi-puisi pada malam seperti itu, aku tak yakin. 
Bisa jadi puisi ini adalah puisi baru yang baru akan menemui teman-temannya 1000 tahun lagi, aku tak tahu. 

Atau bisa jadi puisi ini hanya menjadi puisi yang sekedar puisi. 

Aku tak tahu,
aku tak tahu. 

Terima kasih

Kamis, 03 Desember 2015

Sebuah puisi panjang

Apakah kalau malam nanti kuberi tahu tentang suatu rahasia bahwa sebenarnya puisi-puisiku adalah satu buah puisi panjang kamu masih akan membaca puisi-puisiku lagi? 

Namun jika kamu tidak berkenan, kamu masih bisa membaca puisi-puisiku satu persatu

Rabu, 25 November 2015

Tertidur di beranda

Aku hampir tertidur di beranda, 
semalam. 

Dibawah awan yang perlahan-lahan berjalan dan sinar rembulan yang lembut-lembut menghilang.

Jadi apa kabarmu malam ini? 

Aku ingat kabarmu beberapa ratus malam lalu, aku ingat kamu baik-baik saja. Tapi apa yang sebenarnya aku tahu, Sayang? 

Mana aku tahu jika pada ratusan malam berikutnya (hari ini)  aku baru tahu bahwa kamu tak pernah baik-baik saja beberapa ratus malam yang lalu. 

Aku bayangkan kamu seperti aku saat ini pada malam-malam yang lalu:
Duduk sendiri di beranda, melihat awan dan mendengar lagu. 

Sudah, begitu. 

Aku bayangkan kamu tiba dan memelukku yang setengah tertidur diam-diam.

Dan aku tak perlu terbangun. Lalu kamu tak perlu sadar bahwa kamu adalah bagian dari mimpiku. 

Jadi tolong terima permintaan maaf lelaki pecundang ini untuk masa lalu. 
untuk masa depan yang tak pernah ada,
dan untuk masa kini di beranda. 

Senin, 16 November 2015

Tentang Bangkok

Beberapa saat setelah mendarat di Bangkok, aku bertanya pelan dalam hati:
"Apakah di paru-paruku masih tersisa udara dari Shanghai?"

Lalu aku diam saja dibawa taksi dari bandara menuju hotel. Pengemudi yang baik susah payah bertanya apakah aku berasal dari Thailand, aku menggeleng.

"Same-same." ujarnya sambil meraba wajahnya lalu menunjuk wajahku. Aku tertawa,

"Indonesia." jawabku. Ia mengangguk.

"Aya-aya-aya."

Ada yang berkata bahwa kamu akan jatuh cinta pada Bangkok. Mungkin. Tapi bisa sejatuh cinta apa aku pada kota ini jika aku sudah jatuh cinta kepada Jakarta terlebih dahulu?

Senin, 09 November 2015

Beberapa belas

Kota ini tak pernah cukup besar  hingga membutuhkan Bus
jadi kita bisa berjalan berdua saja dan hanya akan habis beberapa belas menit untuk menghabiskan perjalanan dari gerbang kota sampai tugu ucapan selamat jalan.

"Kalau salah satu dari kita pergi dan kemudian kembali, aku harap yang tetap disini akan menunggu di gerbang kota dan mengajak yang kembali untuk berjalan lagi." ujarku.

Kamu mengangguk,
lalu begitu saja sudah beberapa belas tahun sejak kamu pergi meninggalkan kota ini.
Aku masih saja disini,
berjalan perlahan di beberapa sore dalam sebulan.

Lalu ketika kabar kamu akan kembali ke kota tersebar dari penjuru, aku mau tak mau turut gembira juga. Kubayangkan kamu akan kembali dan kita bisa menghabiskan waktu lebih dari beberapa belas menit untuk menghabiskan jalanan kota sekedar membicarakan tentang beberapa belas tahun yang telah kau tinggalkan di kota ini.

Sayang kini sudah ada orang lain yang mengajakmu berjalan di kota kita selama beberapa belas menit.

Jumat, 06 November 2015

Pagi di Shanghai

Pagi di Shanghai mengingatkanmu pada pagi-pagi lain yang kamu lalui di kota-kota lainnya.

Akan selalu ada lampu jalan yang masih menyala, 
jalanan, 
aroma perkotaan di kejauhan, 
manusia. 
Semua. 

Aku tak akan pernah sempat menceritakan tentang orang-orang yang tampak terburu-buru menuju sesuatu,
lelaki tua setengah mabuk tertidur di naungi apartemen, 
dan burung yang bernyanyi malu-malu. 

Kota manapun akan selalu mempunyai ceritanya sendiri tapi pada akhirnya cerita tentang kota akan selalu cerita tentang manusia. Selalu manusia. 

Dan di Shanghai? Dengan orang sebanyak ini entah berapa banyak cerita yang bisa kamu temukan. 
Dan kalau Tuhan benar-benar menyukai cerita maka Tuhan  akan benar-benar menyukai Shanghai 

Rabu, 04 November 2015

Gerimis di Shanghai

Kamu tak tahu kapan akan tiba di Shanghai lagi tapi kamu benar-benar yakin bahwa gerimis di Shanghai akan selalu siap menyambutmu kembali. 

"Hujan di Shanghai selalu begini. Gerimis perlahan namun bisa bertahan berjam-jam. Bagaimana hujan di kotamu?"

"Biasa saja." Aku mengangkat bahu. "Lebat sesaat terus hilang dalam sekejap." 

"Aku suka hujan seperti itu." Ujarmu. 

"Mungkin kita hanya akan benar-benar suka yang tak pernah kita pernah miliki?"

Mungkin. 

Mungkin 

 

Selasa, 27 Oktober 2015

Setengah perjalanan

Setengah perjalanan menuju rumah mau tak mau aku berandai-andai pula apakah kamu benar-benar akan baik-baik saja kutinggal sendiri dan mendadak hujan turun.

Lalu apakah aku harus kembali? Sedang jalan sudah tak jauh lagi. Aku bisa saja pulang meneguk cokelat. Atau kembali menawarkanmu bernaung satu payung menuju rumah.

Jadi tepat pada saat itu aku berada diantar tengah-tengah. Tak ada yang terlalu jauh. Pulang atau kembali padamu, sama jauhnya.

Sampai saat ini aku berpikir bahwa "Selamanya" itu terlalu lama.

Kamis, 22 Oktober 2015

Hal-hal kecil yang indah

Kalau aku tak sempat memesan apa-apa mungkin kamu sudah pergi sedari tadi.
Sayang, kamu tahu betapa jauhnya kotaku dari kotamu lalu kenapa pula kamu buru-buru pergi meninggalkan segelas kopi?

"Pesawatku sudah tiba,"
Tutupmu.

"Pesawat selalu bisa menunggu."
Tantangku.

"Begitu?"

Lalu kita berbicara berempat di kafe di bandara.

"Kamu ingat kita pernah pergi ke suatu menara?"
bukamu.

Minggu, 18 Oktober 2015

Kembang Gerbera

"Aku tak pernah benar-benar tahu bahwa bunga Gerbera itu benar-benar ada,"
ujarku jujur.

"Oh ya?", pancingmu.

"Ya, aku kira Gerbera hanya julukan yang diberikan oleh Sitor pada si Gadis." Balasku.

"Masuk akal. Tidak ada nama bunga seindah itu di bahasa Indonesia." Jawabmu.

Aku mengangguk. Di tanganku masih tergenggam seikat bunga mawar dan dua kuntum bunga Gerberra di tengah-tengahnya.

"Gerbera serupa matahari," ujarmu.

Aku mengangguk. Bunga Matahari seperti matahari tapi kurasa Gerbera serupa matahari. Apa beda antar seperti dan serupa? Tak sempat kutanyakan karena kamu menanyakan hal yang lebih penting setelah itu.

"Jadi kenapa kamu berikan seikat Mawar dan dua Gerberra padaku?"

Aku tersenyum.

"Karena Gerberra kusangka tak pernah ada, ternyata ia ada dan seindah ini. Aku rasa hal yang sama berlaku padamu. Aku sangka kamu yang serupamu tak pernah ada, tapi ternyata ia ada. Bukankah kamu serupa Gerbera?"

Aku menjawab panjang.

"Serupa atau seperti?" kamu menanyakan hal yang sama dengan yang hampir kutanyakan.

"Aku tak tahu perbedaan antara serupa atau seperti." Jawabku jujur. "Bukankah mereka sinonim?"

"Aku sinonim dengan Gerbera?"

"Bukan, serupa dengan seperti."

"Ah ya, ya." jawabmu. "Lalu kenapa ada dua kembang Gerbera?"

Aku mengangkat bahu. "Kenapa kamu banyak bertanya?

"Oh, ya? Kenapa menurutmu?"

"Kan, kamu bertanya lagi." Aku kemudian tertawa. Di tanganku masih tergenggam seikat mawar dan Gerbera.

"Jadi, aku adalah si gadis dalam ceritamu?"

"Mungkin, mungkin. Apakah kamu akan selalu ada dimana-mana saat aku kemana-mana?"

"Mungkin. Tapi Sitor bukan penulis ceritamu kan?" ujarmu sembari mengambil seikat mawar dan dua kuntum Gerbara dari tanganku.

"Mungkin, mungkin."

*untuk Sitor Situmorang dan Kembang Gerbera nya

Senin, 05 Oktober 2015

Para serdadu

Aku ingin menceritakanmu tentang...
kupikir-pikir lagi tidak. Aku tak pernah benar-benar ingin menceritakanmu tentang apapun.

Aku sempat ingin bertanya apa kamu ingat saat...
kupikir-pikir lagi tidak. Aku tak pernah berharap kamu teringat apapun tentangku.

Mungkin pada waktu kamu memikirkan akankan kamu mencintaiku apa tidak pagi itu, aku sudah pergi entah kemana.

Aku berharap ingat namamu, sungguh aku berharap. Tapi aku hanya akan selalu ingat genggaman tangamu yang erat dan tetes air matamu

Minggu, 04 Oktober 2015

Kalau kamu sempat

Kalau kamu sempat aku ingin kamu keluar sebentar di sela-sela pekerjaanmu lalu berjalan perlahan menuju resepsionis dan menyambutku di depan.

Jika kamu beruntung bisa saja kamu mendapatkanku tengah tersenyum lebar membawa bunga dan coklat.

Jika kamu sedang tidak beruntung setidaknya kamu masih bisa mandapatkanku tengah tersenyum lebar namun tanpa bunga dan coklat.

Dan jika kamu sedang benar-benar tidak beruntung kamu masih bisa mendapatkanku.

Paris

Aku dengar kamu ke Paris malam itu, benar begitu?
Aku hanya sesekali melihat Paris dari televisi dan gambar. Siapa sangka seseorang diantara kita benar-benar merasakan kehidupannya.

Aku tahu benar gambar-gambar pojok kotanya, tentang orang yang berjalan, dan menara Eifel. Ya, Tuhan Menara Eifel!
Aku tak tahu pasti tentang tata kota, tapi apa benar kamu bisa melihat Menara Eifel dari segala penjuru kota? Ibu kota negara mana yang bisa seromantis itu membiarkan bongkahan besi dapat terlihat dari segala?

Kalau kamu kembali akan kutanyakan cerita dan kuucapkan selamat. Tapi sampai kamu memberitahuku padaku sendiri, aku hanya akan berpura-pura tidak tahu.

Lalu pada suatu hari kamu akan bercerita,
"Aku ke Paris bulan September 2015."
Aku akan memasang wajah terkejut lalu bertanya pelan, "Oh ya? Ceritakan padaku..."

Bisa aku bayangkan wajahmu saat bercerita. Bisa kubayangkan wajahku yang memperhatikanmu bercerita. Bisa aku bayangkan Parismu. Tapi aku tak akan pernah bisa benar-benar membayangkan apa yang ada di dalam hatiku saat itu

Jumat, 25 September 2015

Kenapa Kamu hanya meneleponku ketika kamu menangis?

Kamu tak pernah menelepon kecuali ketika kamu menangis.
Jam tiga pagi itu, telepon berdering sedang sesaat sebelumnya aku tengah tertidur. 

"Halo" mu keluar. Lirih. Beberapa menit kemudian kamu bercerita. Beberapa menit kemudian mau tak mau aku harus benar-benar terbangun. 

Aku tak mempermasalahkan teleponmu di tiga pagi, atau fakta aku sedang tertidur, atau tentang tangisan serta ceritamu. Tidak

Aku hanya penasaran kenapa kamu hanya meneleponku ketika kamu menangis?  

Selasa, 22 September 2015

Lalu bagaimana

Lalu bagaimana kalau suatu hari nanti aku temui kamu terduduk sendiri di bangku taman?
Tutupmu sore itu.

Aku merasa kita sudah harus pergi. Ceritamu sudah habis. Ceritaku sudah habis. Cerita kita sudah habis. Apalagi yang bisa ceritakan?

Kamu mungkin bisa menyapaku.
Jawabku singkat.

Kamu mengangguk.

Lalu bagaimana kalau suatu hari nanti aku temui aku masih jatuh cinta padamu?

Minggu, 13 September 2015

Devil Blues

Sayang kita bukan Tuhan di Persimpangan, Sayang.
Kita juga bukan Setan sehingga tak mampu menjajikan apa-apa kepada lelaki dengan gitar.
Aku juga tak tahu harus apa dan sedang apa.

Lalu bagaimana kabarmu, tanya lelaki dengan gitar.
Aku mengangkat bahu. Tak tahu, jawabku.

Kamu bukan Setan atau Tuhan? Tanyanya.

Aku menggeleng. Ia nampak sedih tapi mau bagaimana lagi, tak ada gunanya berbohong pada waktu-waktu seperti ini.

"Bagaimana kalau kamu kuajarkan bermain gitar?"
Ujar suatu suara

Rabu, 19 Agustus 2015

Cerita tengah malam

Kamu tak ingin jatuh cinta padaku, terutama pada malam-malam seperti ini.

Ujarku yang tak pernah kukatakan padamu. Setengah dua belas masih bersiap untuk berdentang dua belas kali di jam yang terduduk diam di tembok atas. Kamu entah dimana, aku sedang berada disini. Jadi begini,

Bagaimana kalau kepada cerita? Bukankah kamu selalu penuh cerita?

Balasmu. Aku tersenyum. Jatuh cinta pada cerita, apalagi yang bisa lebih indah dari itu?

Baik. Jadi pada suatu hari...

Aku bercerita. Tentang suatu hari yang tak pernah benar-benar terjadi. Tentang lelaki yang tak betul-betul pernah ada disini. Tentang wanita yang mungkin hanya hidup di imajinasi belaka. Tapi begitu cerita itu diberikan dan begitu pula cerita akan kusampaikan.

Kamu mendengarkan dengan tenang. Aku tak bercerita tentang naga, istana atau kurawa. Tidak. Aku bercerita tentang bukan apapun. Tentang apapun. Dan tentang sedikit yang pernah terceritakan.

Sedetik sebelum pukul dua belas kamu angkat bicara:

"Ini untuk para pendosa dan tindakan baiknya dimasa depan." ujarmu mengangkat gelas. Aku membalas

"Ini untuk masa lalu, masa depan dan masa sekarang."

Lalu kita tertidur dengan tenang.

Di atas motor

Bagaimana gemeretak rantai memanggilmu kamu sudah tak begitu ingat lagi
kamu ingat tentang masa lalu, masa depan dan mendadak masa kini tak pernah begitu semenakjubkan sekarang.

Kamu berada di masa kini, masa lalu dan masa depan sekaligus. Siapa sangka motor usang akan membawamu seperti itu?

Rabu, 12 Agustus 2015

Hujan di Denpasar

Aku tak begitu yakin apakah hujan di Denpasar ini membawa air yang sama dengan hujan di Malang, Surabaya, atau Jakarta.

Tapi hujan yang baik selalu membiarkan aku duduk sendiri di beranda. Ia tak menggangu. Ia tak menghakimi. Lebih dari apapun ia tak apa-apa.

Senin, 10 Agustus 2015

Ketapang

Aku tahu semestinya aku tetap duduk manis dan tertidur didalam bus.
Tapi apa pasal? Perjalanan 7 jam mau tak mau akan berubah jahat kepada bokongku akhirnya.

Aku tahu semestinya aku tak berhenti mendengar dangdut yang menghentak.
Tapi apa pasal? Tawaran mendengar lagu sendiri sembari berpikir terlalu manis untuk ditolak.

Aku tahu semestinya aku duduk manis saja di kabin bawah
Tapi apa pasal? Angin selat memanggilku ringan untuk hadir di atas dek.

Aku tahu semestinya aku tak pergi sendiri.
Tapi mau bagaimana lagi? Aku lelaki.

Supir

Tuanku supir yang baik, kenapa pula kamu antarkan ke tempat-tempat penuh masa lalu dan kenangan sore ini?
Ujarku memojokkannya.

Tuanku penumpang yang baik, tugasku hanya mengantarkan penumpang-penumpangku ke tujuan. Urusan masa lalu, masa kini, dan masa depan adalah urusan masing-masing kalian dengan pikiran-pikiran kalian sendiri.
Ia membalas ringan

Ah sejak kapan pula aku mendapat supir seromantis ini?

Sabtu, 08 Agustus 2015

Cerita dan cinta

Cerita yang baik bisa saja berakhir pendek, panjang tak berujung atau tak pernah benar-benar selesai diceritakan.

Apakah karena lantas cerita yang pendek berarti cerita itu bukan cerita yang baik?
Apakah karena panjang apakah berarti cerita itu cerita yang baik?
Apakah karena tak pernah benar-benar selesai apakah berarti itu bukan sebuah cerita (yang baik atau yang buruk)?

Begitu pula cinta.
Ya, kurasa

Jumat, 07 Agustus 2015

Rentang suatu cerita

Aku tak yakin benar apakah kamu sempat mengetuk pintu rumahku atau tidak. Aku hanya ingat bahwa saat aku membuka pintu untuk duduk di beranda, tiba-tiba kamu sudah muncul berlinang air mata. 

"Maaf aku telah dan akan selalu mengganggumu malam-malam. "
Aku membuang nafas kemudian tersenyum.

"Menjawab tangisan-tangisanmu dan mengembalikanmu kepada rumahmu adalah resiko yang kuambil ketika aku katakan aku mencintaimu sore hari itu."

Ujarku lewat diam

Senin, 03 Agustus 2015

Apa pertanyaan yang membuka puisi ini?

"Zahara?" jawabku cepat.
"Ah... Gurun itu? Mungkin maksudmu Sahara? "

Aku cepat-cepat pula mengangguk. Zahara? Orang bodoh macam mana yang tertukar antara Sahara dengan Zahara?

Tapi kamu tampak tak peduli dengan kesalahanku. Kamu hanya mengangguk dalam diam. Beberapa menit pikiranmu berkelana entah kemana. Beberapa menit pula kukagumi kecantikanmu.

"Mungkin... Jawaban yang baik. "

Kamu tersenyum. Dan aku tak habis pikir bagaimana bisa seseorang yang sudah sedemikian cantik jadi bertambah cantik hanya dengan tersenyum.

Kamu kemudian menyadari aku memperhatikanmu tak tahu malu. Kamu senggol ringan telapak tanganku.

" Hey... "

" Ah maaf... Pertanyaan apa yang sedang kita bicarakan tadi? "

" Entah... Aku juga lupa. "

Kamu melihatku. Aku balas melihatmu. Kemudian kita tertawa terbahak-bahak.

Minggu, 02 Agustus 2015

Dusta

Aku tak pernah mengerti kenapa kamu masih pula berdusta bahkan ketika kamu sudah tahu bahwa aku tahu kalau kamu berdusta.

Kamu selalu berkata,
"Kita akan baik-baik saja. Sungguh, Sayang. "
Dan kini? Lihat kita sekarang.

Aku tak pernah berkata aku adalah orang yang baik. Aku yang baik hanya ada di kepalamu. Aku yang ada di kepala semua orang selainmu adalah aku yang buruk.
Ujarku suatu waktu.

Tapi kamu menggeleng.
"Kamu adalah kamu yang baik. Kamu tahu itu. "

Dan aku tak tahu apakah kamu berdusta atau tidak saat itu karena aku tak pernah yakin aku menilai diriku apa di dalam kepalamu itu.
"Kita akan baik-baik saja. Apakah kamu percaya padaku?"

Dan aku menggeleng. Gelengan jujur pertamaku semenjak ribuan kali kamu ulang pernyataan itu yang selalu kubalas dengan anggukan.
"Kita tak bisa begini selamanya. Kamu harus kembali dan aku harus pergi. Kenapa pula kamu menyodorkan tanganmu malam itu?"

Kamu melihat ke matahari senja saat itu. Aku bersumpah melihatmu menangis tapi aku pura-pura tak melihat.
"Katakan, " tanyamu." Tanya pada hatimu. Apakah aku benar-benar melakukan hal yang salah? "
Aku berpaling menunjukkan punggungku padamu. Kutahan sekeras mungkin keinginanku untuk menangis.

"Ya, tindakanmu salah. Lebih baik kamu pergi."
Lalu begitu saja kamu pergi. Tak ada tangisan, tak ada permohonan, tak ada apa pun.
Yang tersisa hanyalah rasa sesal bahwa kata-kata yang terakhir kuberikan padamu adalah dusta.

Dompet

Jadi kadang aku merasa perlu minta maaf padamu karena tak selalu bisa pulang.

Maaf sayang, setidaknya kamu selalu bisa menyimpan foto kita di kantung transparan dalam dompetmu

Sabtu, 01 Agustus 2015

Bunga bakung

Saat aku membuka pintu malam itu, seharusnya kamu yang berkata, "Maafkan aku," bukannya aku.

Kamu mengalihkan pandangan ke beberapa pot kosong yang dulu pernah berisi bakung yang kau taruh di beranda sebelum kamu pergi. Aku ingat benar-benar kata-katamu sore itu,

"Aku harus pergi. Tolong jaga bunga bakung di beranda kita."

Begitu saja. Tak ada permintaan maaf, tak ada penjelasan kamu pergi kemana, berapa lama sampai kamu kembali, berapa kali sehari bunga bakung harus disirami, pupuk mana yang harus kuberikan, hama apa yang harus kuwaspadai, semuanya.

Jadi ketika lewat tiga tahun sejak kamu pergi akhirnya bunga-bunga itu mati aku habiskan beberapa malam dalam tangisan. Aku ingat suara dan pesanmu tapi samar-samar wajahmu mulai hilang dari ingatanku.

Lalu tepat sebulan dari matinya bunga-bunga itu kamu kemudian mengetuk rumah perlahan. Dan ketika kubuka pintu semua kenangan tentangmu mengalir deras. Dan hal pertama yang kuingat adalah pesan terakhirmu untukku supaya menjaga bunga bakung itu.

Jadi aku tak sempat berpikir betapa kurang ajarnya kamu yang seenaknya saja pulang dan pergi begitu saja. Tentang air mata yang habis pada malam-malam saat kumerindukanmu. Tentang cuaca yang tak ramah lagi pada bunga bakung. Semuanya.

"Maafkan, bunga bakung yang kamu titipkan padaku sudah mati semua." ujarku.

Lalu aku menangis kencang-kencang di pelukanmu

Rabu, 29 Juli 2015

Tentang cerita

Aku kira aku harus belok kiri tadi, tapi apa pasal aku sudah terlanjur tersesat.
Jadi aku harus pulang, siang hari sudah habis dan malam pelan-pelan mengintai. Dan kamu sungguh-sungguh tak ingin berada di tempat semacam ini pada malam hari.

Oh, semesta masih suka pula kau mengerjai tua bangka semacam ini.

Rabu, 01 Juli 2015

Tentang kemarin

Jadi tentang kemarin,
apa masih ada akhir bahagia tentang kita?

Sudah pukul dua belas hari ini, aku masih berandai-andai apakah kamu sudah terbangun ataukah masih mabuk air mata sedang aku hanya duduk di beranda.
Jadi mohon maaf kalau tentang kemarin tak bisa habis dalam hari ini. Cerita kita tak pernah indah, karena memang selalu begitu. Siapa yang selalu memiliki cerita indah?

Aku masih berharap kamu menerima tanganku dan terbangun dengan tanganmu masih benar-benar berada di tanganku. Siapa yang kuat untuk bermimpi tidak seperti itu setiap malam?

Lalu tentang kemarin. Tentang hari ini. Tentang esok. Tentang tiga detik.
Satu detik yang lalu, satu detik saat ini, satu detik kemudian...

Dan diam-diam aku berharap ada Tuhan Tiga detik.

Jumat, 19 Juni 2015

Meja konservatif

Kalau tak ada salah satu dari kita yang memesan apa-apa, untuk apa pula kita masih duduk di samping meja?
Kita bisa saja pergi lalu berbicara tentang yang lalu.
Atau kita bisa memesan air putih dan membicarakan tentang yang akan.

Tapi kamu memilih diam. Aku mencoba memesan rindu, tapi tak ada yang lebih mengenal rindu daripada malam.

"Maaf tuan, kami tak pernah menjual rindu." ujar pelayan jujur.

Aku dan kamu menghela nafas. Kamu tetap tak memesan apa-apa. Aku mencoba memesan air tapi sorot matamu menolak.

"Jam sembilan malam aku pulang. " ujarmu.

Kamis, 11 Juni 2015

Setidaknya

Aku tidak tahu pukul berapa di bantalmu saat ini tapi setidaknya aku masih terbangun.

Maaf untuk surat (dan rindu) yang masih terus kukirim--

Jadi dimana aku harus mulai dan kapan aku harus selesai?

Setidaknya aku masih terbangun

Jumat, 22 Mei 2015

Di persimpangan sore nanti

Aku tak bisa mengatakannya sekarang jadi kuharap kamu akan menunggu ku di persimpangan jalan sore nanti,
ujarmu.

Aku diam di meja makan. Aku melihat sekeliling, masih pukul dua belas siang orang-orang sedang makan siang. Aku tahan keinginanku untuk mengunyah roti yang sedari tadi kubayangkan sudah lumat di perut.

Persimpangan jalan, meja kantin, apa bedanya? Katakan saja disini,
jawabku.

Kamu menggeleng.

Persimpangan memberimu jalan pulang. Lalu karenanya akan memberiku harapan. Dan selanjutnya memberi arti pada hidup kita.
Kamu menjelaskan perbadaan antara Persimpangan jalan dan yang bukan persimpangan jalan. Aku tak mengerti

Aku mengangkat bahu lalu tertawa. Roti kumakan juga akhirnya.

Persimpangan jalan tak pernah kemana-mana, Sayang.
Ujarku sambil mengunyah roti.

Tapi aku serupa Peta cintaku. Dan kamu persimpanganku.
Ujarmu setelah mendengarkanku.

Aku tak pernah mengerti bahasamu, Sayang.
Ujarku.

Dan aku tak pernah tahu kenapa aku mencintaimu, Kekasihku.
Ujarmu.

Tapi kamu tahu kan aku mencintaimu?
Ujarku

Selalu. Jadi kutunggu kamu di persimpangan sore nanti.
Ujarmu sebelum pergi.

Aku kembali duduk sendiri. Susu sudah kuteguk untuk membilas roti.

Rabu, 20 Mei 2015

Pada malam

Salah satu dari kita tidak akan lagi terbangun tengah malam dan berpikir harus mencintai apa dirinya esok pagi.

Pada malam yang baik, salah satu dari kita yang beruntung itu hanya akan diam dan tertidur sampai pagi.

Dan yang tak beruntung hanya akan mengeluh walau pada akhirnya akan tertidur pula

Senin, 11 Mei 2015

Pertanyaan sesungguhnya

Apakah sulit menulis puisi yang baik,
ujarmu setelah memesan pilu.

Aku menutup menu, aku isyaratkan untuk tak memesan apa-apa malam itu.

Pelayan pergi. Aku hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaanmu.

Kamu tertawa. Aku perlahan mengambil segelas teh hambar yang sedari tadi disediakan di meja.

"Pertanyaannya sesungguhnya adalah..." bukaku.

Tutupku.

Pergi

Apakah sudah benar-benar enam hari sejak aku terakhir berkunjung?

Aku masih ingat tentang gelas yang sempat berisi teh manis kini masih duduk manis dirubung semut.
Aku masih ingat tentang kaki-kaki kursi yang terdiam dan ujung meja kayu tercukil sisa isengku yang lalu.

Dan aku takut pergi sendiri, betul. Namun malam semakin jelas hingga aku benar-benar harus pergi sebelum kamu berkata,
"Jangan Pergi. Mari kuhidangkan segelas kopi."

 Aku pergi. Jangan pergi. Selamat pagi

Mungkin Mungkin

Adakah yang lebih indah daripada duduk sendiri?

Duduk berdua? Mungkin. Mungkin.

Adakah yang lebih indah daripada berjalan sendiri?
Berjalan berdua? Mungkin. Mungkin

Adakah yang lebih indah daripada berbicara sendiri?
Berbicara berdua? Mungkin. Mungkin

Kamis, 30 April 2015

Jalan panjang tak berujung

Kelak jalan akan terasa panjang tak berujung dan membuatmu tak sempat berpikir sejak kapan kita melangkah sendiri-sendiri.

Tapi kamu, aku, kita, masih tetap akan memiliki kenangan di taman sore itu.

Minggu, 26 April 2015

Ikatan

Lalu kamu belenggu tanganku,

"Ikatan di tanganku.." ujarku.

Aku menatap wajahmu, kamu membalas menatap wajahku. Cuaca cerah, bola matam berpendar. Aku ingat tentang sore itu dan tentang ucapanku.

"...lepaskan," lanjutku.

Kamu hanya tertawa

Selasa, 14 April 2015

? Jalan pulang

Puisi macam apa yang diawali tanda tanya?
Tapi kupikir-pikir lagi, orang tidak gila mana yang masih saja suka duduk dan menulis sendiri?
Jadi orang tidak gila ini masih saja menulis, walau puisi diawali dengan tanda tanya dan kata-kata: "Jalan Pulang" yang menjadi judul tidak bermakna apa-apa.
Tidak ada cerita tentang orang yang pulang, tidak ada cerita tentang jalanan. Kata-kata jalan pulang berulang muncul tapi tak menjelaskan apa-apa.
Apa yang kamu harapkan muncul dari puisi seorang yang tidak gila?

Taksi

Taksi yang kini membawamu menembus jalan raya adalah taxi yang sama yang membawa ibumu ke rumah sakit dulu.
"Aku ingat saat kamu masih belum ada, " ujar supir taxi.
"Aku ingat erangan ibumu, Plat mobil terakhir yang aku temui dan berapa lama lampu merah di perempatan terakhir sebelum ke rumah sakit menyala. "
"Semuanya," ujarnya lagi.
Aku diam. Mana mungkin seseorang mengingat tentang yang tak pernah ada? Pikirku.
"Tapi aku ingat tentang alam semesta, bukan? "
Sayang aku tak benar-benar ingat siapa yang mengucapkan kalimat terakhir itu

Kamis, 09 April 2015

Ibuku penjual koran

Ibuku penjual koran.
Ia tak pernah memiliki berita, ia hanya menjual kata-kata.

Hari ini ia jual berita, judul utamanya mencekam:
"BEGAL JALANAN MEMAKAN KORBAN",
kemarin lagi beritanya lebih menyedihkan lagi,
"300 ORANG MATI DITERJANG BANJIR BANDANG"



Berita-berita itu milik orang kaya, ujarnya padaku suatu hari. Aku menatap wajahnya kemudian bertanya,

"Apa kita serupa burung bangkai, Bu? Bisa hidup atas kemalangan orang lain? Bisa makan karena menjual kemalangan orang?"

Ibu tersenyum. Hanya tersenyum. Ia memelukku dan samar-samar aku bisa mendengarnya berkata,

"Manusia mana yang tidak memakan manusia lain, Nak?"

Terakhir menulis puisi

Aku tak ingat kapan terakhir aku menulis puisi dan tentang apa.
Aku hanya ingat tentang malam dan tenang,
dan bulan dan bintang.

(Dan huruf, kata, dan kalimat)

Sabtu, 28 Maret 2015

Kalau saja

Kalau diluar terlalu ramai, kamu selalu bisa masuk lalu menutup pintu.
Nanti kamu ceritakan yang baik-baik tentang dunia dan akan kuceritakan yang baik-baik tentang rumah yang sudah lama kamu tinggalkan.

Jadi kamu bisa duduk di ruang tamu dan mencoba mereka-reka di tembok mana kamu pernah menatap kosong lalu menangis sampai pagi

Selasa, 17 Maret 2015

Tentang aku, kamu, dan kita

Sayang, akhirnya kita harus pulang.

Nanti saat tak ada lagi yang bisa mengingat namaku, namamu, nama kita. Aku rasa aku masih sanggup menyimpan namaku, namamu, dan nama kita saja.

Jadi aku bisa memanggilku, memanggilmu, dan memanggil kita.

Jadi aku, kamu, dan kita tak pernah merasa sendirian lagi

Selasa, 24 Februari 2015

Selamat sore

Selamat sore, hujan. Aku rasa kamu baik-baik saja.

Jadi jika kamu benar-benar berkenan, mungkin kamu bisa tunda hadirmu dan akan kutunda sedihku.

Tapi jika tidak bisa, mungkin kita bisa saling memandang sampai salah satu entah sedihku atau rintikmu habis

Menunggu kamu dan aku pulang

Sebenarnya kita bisa saja berjalan begini selamanya.
Tapi Sayang, kamu memiliki orang-orang yang menunggumu pulang.

(Dan aku memiliki orang-orang yang menungguku pulang)

Kamis, 19 Februari 2015

Penyapu

Jadi maafkan jika aku masih pulang pukul setengah lima pagi. Aku baru bekerja waktu itu.

Aku tak ingat tentang cantikmu yang sedang duduk manis di bangku penumpang. Aku sedang sibuk melihat sampah dan bekas ludah yang dibakar matahari tadi pagi.

Dan aku tak bisa pulang jika ingin. Kalau semua yang seperti aku pulang, siapa yang bisa lagi menggunakan jalan ini?

Sabtu, 24 Januari 2015

Membukakan pintu

Akhirnya kamu keluar membawa kunci. Tergopoh kemudian berkata pelan sambil sibuk memilih kunci mana untuk gembok yang ini,

"Maaf lama menunggu. Aku tak ingat lagi dengan wajahmu."

Aku diam kemudian membalas berkata,
"Tak apa. Aku pun sering tak ingat lagi dengan wajahku."

Januari

Terakhir berpuisi di bulan Januari, aku tak sempat ingat dengan namamu.
Aku hanya ingat lukisan bunga yang tergantung di ruang tamumu, segelas air yang kamu hidangkan dan betapa waktu enggan untuk berjalan.

Aku masih ingat tentang harum bunga bakung yang kamu coba gambarkan dan betapa aku tak peduli (saat itu) saat tiba-tiba kamu melangkah perlahan ke sofa tempat aku duduk dan berkata,
"Jadi Aldo, ada cerita apa kali ini? "

Aku hanya diam. Setengah panik kuteguk cepet air putih yang kamu suguhkan. Aku diam menatap wajahmu dan ketika kukira kamu mengerti arti pandanganku kamu hanya diam.

"Pejamkan matamu, kita ke Venesia saat ini." ujarmu tiba-tiba.
Aku menggeleng. Kamu menghela nafas panjang kemudian pergi ke dapur membawa gelasku yang sudah kosong.

"Apa namamu benar-benar Aldo?" tanyamu sembari duduk. Tak ada gelas air putih lagi. Aku mencoba menanyakan tapi kamu menjawab sebelum aku sempat bertanya.

"Air putih hanya membilas dustamu. Aku ingin jujurmu saat ini."

Aku melihat sekeliling. Lukisan bunga bakung tidak balas menatapku, hanya matamu yang membalas pandangku di ruang tamumu ini.

Aku akhirnya mengangguk. "Namaku Aldo Rahmansyah Sosodoro. Berkata jujur adalah urusanku sedang urusan percaya atau tidak, itu urusanmu."

Kamu akhirnya tersenyum untuk kesekian kalinya hari ini. Aku balas bertanya,

"Siapa namamu?"

Kamu tidak menjawab. Kamu berdiri ke dapur membawa segelas air putih kembali. Aku sudah tidak haus lagi.

"Namaku adalah . Tapi toh percuma saja aku sampaikan, kamu takkan pernah ingat. "

Aku kemudian tertawa. Dalam hatiku aku berpikir mana mungkin aku bisa tak ingat?

Tapi betul saja. Karena saat kutulis puisi ini aku tak bisa ingat betul namanya. Yang aku ingat hanya aroma lukisan bunga bakung yang tergantung di ruang tamunya.

Minggu, 04 Januari 2015

Penyair yang

Penyair yang buruk akan berkata puisinya menceritakan seribu cerita dan membuat pembacanya mendadak mengerti tentang dunia lalu segala.

Sedang penyair yang baik hanya akan merampok kata-kata dan berkata bahwa puisinya tak pernah bermakna apa-apa.

Bukit melankoli

Sayang, kadang aku merasa bola lampu yang menggantung di atas kasur kita itu menyala sekejap sekali-kali.
Lalu gelap terkadang hilang dan muncul lagi. Sekejap.

Apa kamu masih mendengar?
Apa kamu masih bersamaku?