Senin, 27 Desember 2010

Bangkai tikus di pinggir jalan

Tak pernah ada yang peduli pada bangkai tikus di pinggir jalan:
Tentang kapan ia mati
Siapa yang menabraknya
Atau sekedar menanyakan,
"Dalam sekejap saat nyawamu diantara ada atau tiada sempatkah kau berpikir tentang takkan ada yang memikirkanmu saat kamu mati nanti?"

Hanya saya yang tahu arti puisi ini

Dalam perempatan, mobil tak pernah tahu tentang berapa banyak motor atau seberapa inginnya para pengendara-pengendara yang kerap ia maki (karena menyalip dari sebelah kiri atau berada di jalan seperti orang tak tahu diri) ingin pulang ke rumah namun tak pernah tahu rumah yang dengan siapakah didalamnya ingin dikunjungi Sayang bukan kamu

Selasa, 07 Desember 2010

Laki-laki yang kamu temui di toko sepatu

Saat ini bisa saja ia sedang berada di puncak tiang listrik memandang kebawah kemudian tertawa-tawa saat orang-orang panik mengira dirinya gila dan akan lompat kebawah atau pergi ke pantai kemudian menendang satu persatu istana pasir yang dibuat oleh anak-anak kecil mungkin juga pergi ke tengah perempatan saat ramai lalu salto beberapa kali diudara. Namun dari semua kemungkinan yang ada itu ia lebih memilih menjadi laki-laki yang tak sengaja kamu temui di toko sepatu

Minggu, 05 Desember 2010

Saat kau pergi entah kemana

Hai. Nanti saat kau dikereta entah menuju kemana kamu tak perlu takut ketika mendengar suara meraung-raung disampingmu bisa saja itu suara kereta lain yang menuju tempat asalmu dan berasal dari tempat tujuanmu nanti juga terbiasa. Kamu juga tak perlu takut juga untuk duduk berjam-jam dalam perjalananmu menuju entah kemana karena biasanya kamu membeli tiket khusus yang penumpangnya pasti mendapat tempat duduk dan walaupun yang kamu beli adalah tiket ekonomi sekalipun, bukankah orang-orang akan berebut memberikan tempat duduknya untuk gadis secantik dirimu? Nanti saat malam dingin kamu juga tak perlu takut kedinginan biasanya petugas akan membagi-bagikan selimut untuk penumpangnya andaikan tidak pun, tidur saja. Saat tidur biasanya kita sudah lupa atas segala

Jumat, 03 Desember 2010

Minggu

Disela-sela kalimat yang mengalir diantara kita tahu-tahu saja aku berpikir: "Sejak kapan aku berjalan bersama gadis secantik ini?"

Kamar

Kipas angin tentu saja memiliki kaki walau tak pernah berjalan dan gelas-gelas yang kau genggam di jemarimu tetap harus kau pegang walau kau berpikir bahwa untuk dicuci adalah kepentingan mereka Dan bukankah kau tak pernah mengeluh jika harus terus menerus menggunakan gelas-gelas kertas sekali pakai? Kertas itu bukan kotak walau memang sering tampil begitu sama seperti bassmu yang mengendap dingin sedang ampli nya tertinggal di kamar atas dan headphonemu sengaja kau tinggal di kamar kosanmu lalu dipojok kamar, buku-bukumu. Menggunung Ah, selalu senang bisa kembali ke rumah

Selasa, 30 November 2010

Dalam setiapmu

Dalam setiapmu ada beberapamu yang tak sempat terucapkan oleh beberapa kata yang mengalir keluar dari mulutmu entah kau sedang berbahasa apa saat itu Sedang di untaian benang kain perca yang sedang kau jahit malam itu kau selipkan beberapa kata cinta yang benar-benar kau berikan hanya untukku Salahkan ketidaktahuanku, sedang aku sendiri tak henti-hentinya menyalahkan bagianku yang menyimpan sebagian dari dirimu Karena tak pernah tahu ada beberapa kata cinta diatas kain-kain perca, kupakai seenaknya ia untuk menghapus tumpahan tinta diatas meja

Kamis, 25 November 2010

Hujan siang hari

Hujan siang hari membuatnya berpikir tentang beberapa hal: Dirimu, pengendara-pengendara motor yang berteduh dibawah jembatan, dan pakaian-pakaian yang tadi pagi baru saja ia jemur Karena ia tak pernah bisa mendapatkanmu lagi atau mengusir para pengendara motor yang memakan sebagian jalan raya ia putuskan untuk diam saja dan pasrah memikirkan bahwa ia harus bersabar paling tidak sampai esok lagi sampai bisa memakai pakaian yang benar-benar kering

Kemarin dan beberapa hari yang lalu

Bukankah semalam sudah kukatakan padamu: "aku tak tahu" waktu kau katanyakan apakah ada yang berbeda dengan kemarin atau beberapa hari lalu lalu kemudian tadi pagi kau datang lagi, tetap menanyakan apakah ada yang berbeda dengan kemarin atau beberapa hari yang lalu aku tak habis pikir, lalu kujawab saja: "aku tak tahu" aku tak tahu aku tak tahu sungguh, aku tak tahu

Rabu, 24 November 2010

Berdua saja

Tak bisakah kita hanya duduk berdua saja tak perlu saling tahu nama hanya memperhatikan lampu taman yang menyala diatas kepala kita kemudian kita lupakan tentang membuka mulut dan berbicara tentang apa saja

Minggu, 21 November 2010

Serupa Nokturno

Mimpi serupa nokturno diam-diam mengendap datang terserah disukai atau tidak namun esok hari ia akan selalu datang lagi mungkin kejam (tapi tak pernah jahat) karena ia selalu ditakdirkan seperti itu. Bukankah memang kita tak pernah memilih lahir sebagai apa?

Jumat, 05 November 2010

Abu-abu vulkanis

Baru kemarin kan bung anda lihat di berita gunung merapi raksasa itu batuk-batuk, sama-sama kita saksikan kan? abu yang datang kemudian ratusan nyawa hilang, whoosh begitu saja anda berduka, tentu saja! namun saat abu-abu vulkanis merangkak merajai udara kota di sekitar anda baru anda benar-benar peduli menyedihkan? Tidak perlu bung, anda tidak sendiri (setidak-tidaknya ada saya menemani)

Senin, 01 November 2010

Ibrahim versi Ekstrim

Ibrahim tak ingin bersama siapa-siapa saat ini. Awalnya ia ingin meneguk segelas kopi berdua saja bersama satu orang yang kelak akan dicintainya setengah mati. Belum setetes pun kopi itu menyentuh bibirnya ia lantas berpikir: "Siapa yang sebenarnya ia cintai?" Ditinggalkannya secangkir kopi itu sendirian diatas meja. Ditemani lampu baca pun tidak. Ibrahim lantas berdiri meninggalkan rumahnya. Lucu, pikirnya. Pertanyaan sepenting itu kenapa baru muncul pada saat seperti ini? Ia ambil jaketnya, sengaja ia tak reslitingkan karena ia merasa sedikit keren saat angin bertiup mengibarkan jaketnya sembari berjalan. Diluar sedang malam dan dilihatnya bintang-bintang berhamburan di langit diatasnya. Ia tersenyum kemudian berkata: "Ah, bintang inilah yang akan kucintai!" Ia lalu duduk menikmati bintang-bintang itu. Lama kemudian fajar datang lalu dalam sekejap pagi tiba dan bintang-bintang itu hilang berganti matahari. Ia menggeleng sendiri: bagaimana ia bisa mencintai sesuatu yang ada lantas tiada? Kemudian ia melihat matahari lantas tersenyum: "Ah matahari inilah yang akan kucintai!" Lalu kemudian matahari terbenam. Ibrahim diam, mana mungkin ia mencintai sesuatu yang kadang ada lantas tiada? Lalu bulan mulai muncul. Ibrahim tersenyum lagi kemudian berkata: "Ah, bulan inilah yang akan kucintai!" Ia diam saja menikmati bulan. Tak terasa kemudian fajar datang dan bulan pun hilang di kejauhan. Lalu matahari kembali muncul. Ibrahim diam, mana mungkin ia mencintai sesuatu yang kadang ada lantas tiada? (Sekarang beri tahu aku, bukankah kita sebenarnya sama-sama penasaran?)

Senin, 25 Oktober 2010

Mungkin juga tidak

Bukankah sudah kukirimkan salamku untukmu melalui hembusan angin lembut yang memainkan rambutmu atau kicauan burung-burung yang membuatmu bersyukur dapat hidup hari ini lalu melalu sinar matahari membuai ramah wajahmu sampai kamu terkantuk-kantuk mungkin juga tidak melalui hembusan angin dingin kering sisa-sisa perjalanan mendaki bukit atau kicauan burung-burung sekarat hampir mati karena polusi atau mungkin sinar matahari yang terlalu terik menghanguskan semuanya

Jumat, 22 Oktober 2010

Kau curi hatiku

Sebenarnya kemarin saat kau curi hatiku aku sungguh-sungguh berharap bahwa takkan kau kembalikan dan akan kau simpan sampai mati Karena itu saat kau kembalikan hatiku tadi siang (beberapa menit sesudah makan siang) aku tak tahu harus sedih atau bahagia ...hampir-hampir saja kumuntahkan seluruh makananku tadi...

Minggu, 17 Oktober 2010

Baru tiga hari

Baru tiga hari yang lalu kau datang dan bertanya padaku: "Maukah kau kutitipkan hatiku? Lalu kita berdua saja bergandengan sambil berjalan walau di depan jalan berbatu?" Saat itu aku menjawab, "Ah, aku tak tahu...." Kemudian hari ini saat sudah benar-benar kutetapkan hatiku untukmu Kuketuk pintumu perlahan dan dengan pakaian rapih kutunggu dirimu lalu kukatakan semuanya Sayang kau hanya berkata, "Maaf, sudah kutitipkan hatiku ke seseorang yang baru." Maka saat itu juga aku benar-benar tak tahu siapakah yang salah. Aku ataukah dirimu

Senin, 11 Oktober 2010

Sederhana saja

Tadi pagi aku berdoa agar hari ini cerah, sederhana saja

aku tak tahu tentang urusan sejuta orang dengan cuaca

atau para petani yang membutuhkan hujan untuk bibit yang disemai

yang kupikirkan hanya cucianku yang mengendap tak bisa terjemur beberapa hari karena hujan

sederhana saja

Baru tadi siang aku berharap dosenku tidak masuk, sederhana saja

aku tak tahu tentang apakah ia memiliki keperluan dikampus

atau tentang perasaan teman-teman sekelasku yang ingin belajar

yang kupikirkan hanya aku sedang malas untuk kuliah

sederhana saja

Rabu, 29 September 2010

Cuaca

Siapa yang tak suka cuaca macam ini? Matahari bersinar tenang sedang awan tak ambil peduli mau dipermainkan sejauh mana ia oleh angin lalu mereka berlarian, mengumpul kemudian menyaring sinar matahari menjadi cahaya malu-malu yang menyenangkan Dan kau ciptakan sendiri awan-awan dari tanganmu lalu terbang keatas, dijadikan kabut di pegunungan sedetik kemudian kuputuskan untuk mengatakan bahwa aku menyukaimua sayang tak ada yang tahu beberapa menit kemudian hujan lebat serta petir yang menyambar-nyambar segera turun

Minggu, 19 September 2010

Setengah gram

Mimpimu setengah gram gas yang terkompres dalam suhu kamar kecil, tak terasa namun liar mencekam kemudian meledak-ledak tak karuan dalam mimpimu kau berharap tertidur barusan, pukul setengah satu dini hari sebelum tertidur kau berharap takkan pernah bisa tertidur dan saat kau terbangun kamu benar-benar tak tahu apakah kamu sudah tertidur atau belum namun ya, itu tadi. Mimpimu hanya setengah gram tak ada yang tahu, tak ada yang mau tahu, tak pernah ada yang mau tahu tapi nanti, suatu saat ketika ramai di berita orang-orang akan mencari ledakkan tabung mimpimu padahal ya yang bermimpi itu kamu. yang bermimpi itu kamu

Sabtu, 04 September 2010

Dongeng

Sudah lama ia tak bermimpi yang benar-benar bermimpi dalam mimpinya belakangan ini ia hanya terbangun lalu bekerja kemudian tahu-tahu ia akan benar-benar terbangun karena dering weker di samping kasurnya sebenarnya ingin juga ia dibangunkan oleh suara kokok ayam lalu membuka jendela lebar-lebar dan membayangkan matahari akan tersenyum seperti yang ia ingat sayang dunia tak seromantis itu, yang tersisa (dan memang benar-benar tersisa) hanya sisa-sisa makanan di meja yang tak sempat ia bereskan karena terlalu mengantuk semalam ah semestinya ia tak pernah beralih dari dongeng-dongeng masa kecil ke kafein dan nikotin terkutuk itu

Tuhan

Tuhan tidak akan datang dihadapanmu tiba-tiba lalu berkata seenaknya: "Sembahlah Aku maka seluruh dunia ini untukmu!" Karena jika begitu kamu takkan menyembah-Nya, ---------------------------------karena kau akan berpikir: untuk apa seluruh dunia saat kamu sudah tersenyum disampingku? Ia juga takkan berteriak-teriak dengan toa butut yang hanya bisa dipakai beberapa menit walau baterainya sudah diisi seharian penuh Karena jika Ia (atau ia) benar-benar Tuhan akan diciptakannya toa yang tak perlu diisi baterainya --------------------------------(atau mungkin Ia tak pernah butuh toa, Ia Tuhan kan?) Ia juga takkan menelpon telpon genggammu lalu meninggalkan pesan dan nanti dari sebuah sms oleh operatormu kau tahu bahwa Tuhan telah menghubungimu Karena kau tak pernah ada ditempat, padahal dimana-mana adalah masjid-masjid yang dihamparkan oleh-Nya untukmu --------------------------------karena kalau dia mau, sebenarnya ia bisa memanggilmu-kapan saja Karena itu Tuhan akan menyapamu dengan dengan sesopan-sopannya Lewat hembusan angin, matahari, cacing-cacing yang menggeliat, bakteri-bakteri pembusuk, bintang jatuh, serangga yang berterbangan Dan nanti saat kau sudah menyadarinya, kamu akan terisak-isak dan tak ingat lagi yang mana dirimu yang mana dosamu

Selasa, 17 Agustus 2010

Short farewell

Halo, selamat pagi/siang/malam Belakangan ini saya merasa kemampuan menulis puisi saya mulai hilang. Sedikit menyedihkan karena sebenarnya saya berharap bisa menulis puisi sampai tua. Mungkin karena keadaan. Saya sedang tak jatuh cinta, patah hati, berharap atau apapun. Saya sedang berpikir tentang sesuatu yang rumit namun tidak seromantis itu hingga bisa dipuisikan. Jadi ya begitu, saya tak bisa menulis puisi yang bahkan memenuhi standar saya (yang sudah amat sangat rendah itu) lagi. Jadi untuk sementara saya vakum dulu menulis puisi. Mungkin nanti jika saya jatuh cinta/patah hati/berharap saya bisa berpuisi lagi. Siapa tahu? Ah betapa puisi amat butuh perasaan. "Saya dulu menulis puisi tapi sudah tidak karena bosan bermain dengan perasaan."-Pram- nb:mungkin bisa melihat blog2 saya yang lain untuk jenis tulisan lain: http://rs-rs-rs.blogspot.com http://cersupen.blogspot.com

Senin, 16 Agustus 2010

Mencintaimu tak

Mencintaimu tak membuat lautan beku atau matahari padam mematikan sebatang lilin saat mati lampu pun tak bisa atau mendetum-detumkan genta yang akan penduduk satu kota panik menggeser beberapa angka 0 pada uang di saku ku pun tak bisa tapi tak mencintaimu, ah aku akan mati saat itu

Sabtu, 14 Agustus 2010

Diterkanya

Diterkanya hujan namun badai enggan datang begitu saja, dinyanyikannya lagu-lagu riang lalu habis terpanggang

Senin, 09 Agustus 2010

Laki-laki dan kota

Suatu hari ada lelaki dan kota Yang satu tidak lebih tua dari yang lain namun yang lain merasa lebih tua dan begitu selanjutnya Dan tentang cerita? Ah, kau bisa membuatnya sendiri bukan? Laki-laki itu berfikir tenang, "Bukankah tak pernah ada waktu sebelum aku lahir?" Sedang kota itu.... yah ia tak pernah berfikir Ia hanya diam dan nyala lampu taman di setiap penjurunya merupakan pertanda bahwa ia masih hidup Laki-laki itu menggeser kakinya perlahan. Untuk sejenak ia lupa bahwa ia tak bisa terbang Kota itu diam, selalu diam. Ia bahkan tak protes saat lelaki itu meludah sembarangan "Manusia mana yang tak bisa terbang?" ia berpura-pura untuk sekejap. Kota itu tak peduli. Toh masih ada jutaan laki-laki lain di sini

Senin, 02 Agustus 2010

Perasaan

Ia sudah bosan rupanya bermain dengan perasaan jadi ditinggalkannya puisi-puisi yang menggungung impian yang menyentuh langit, semuanya Hari ini hujan turun sederas-derasnya dalam hati ia enggan mengakui tapi ia merindukanmu

Jumat, 23 Juli 2010

Cinta tengah mesiu

Baiklah, kau asah pisau dan kurasa itu yang kau sinonimkan dengan rindu Sedang aku menggerek-gerek kasar batang-batang bambu, Kita lupakan sejenak dentuman mesiu, teriakan-teriakan liar membakar Oh ya, dan darah yang barusan berhenti mengalir walau sekejap Mestinya kita tidak seperti ini, mana mungkin kita cukup bodoh untuk memilih berperang? Tapi aku bukan pecundang, dan kau pasti malu memiliki kekasih seorang pecundang Kalau aku? Yah, aku lebih bersedih lagi jika tidak memiliki kekasih Namun kurasa kau lebih malu memiliki kekasih pecundang, ya kan kekasihku? Dan selanjutnya seperti itu, sederhana Kau asah pisau itu, kau berpikir sedemikian rupa ia bukan lagi rindu Dan batang-batang bambu itu? Ah ia sudah bertunas Buahnya bernama cinta, sayang ia terburu-buru dipangkas untuk dijadikan senjata

Selasa, 20 Juli 2010

Tuhan menjadikan

Tuhan menjadikan tanganmu Tapi terserah padamu hendak kau jadikan: Tamparan, pukulan, usapan, pelukan Sama saja Tuhan menjadikan hatimu Tapi terserah padamu hendak kau jadikan: Benci, cinta, sayang, iri Sama saja

Minggu, 18 Juli 2010

Short notice

My new blog: http://cersupen.blogspot.com

Kau tak perlu

Kau tak perlu mengobrak-abrik ruangan atau membakar jendela, terduduk diam di sudut kamar, kemudian mengiba agar senja lekas tiba sedang malam sedang enggan menyapa meninggalkan kita yang hanya bisa menyesal saja. Lalu kau hanya bertanya perlahan, "Mengapa kita harus lahir di pagi hari?" Aku diam, kemudian menjawab perlahan, "Agar bisa saling mencintai kurasa"

Senin, 12 Juli 2010

Blitar

Kota ini bukan kota Waktu tak pernah berputar disini, dan orang-orangnya akan tetap sama Dan anak-anaknya akan tetap menjadi anak-anak Sementara pemakamannya tak akan bertambah Mungkin suatu hari saat penjaga makam sudah meninggal, kota ini berubah Waktu berputar Dan seluruh dunia mengikuti, di bawah langit Blitar

Kamis, 08 Juli 2010

Ini hati

Ini hati sudah kutitipkan padamu sebenarnya
Jadi saat ia bertebaran di tengah lantai, aku hanya mendelik tak percaya

Rabu, 07 Juli 2010

Aku tak tahu

Aku tak tahu apakah kamu datang dengan patah hati Namun kamu datang dengan tubuh bergetar, bibir bawah tergigit dan air mata yang mengalir Yang ku tahu kamu datang basah kuyup, hanya itu Ah mungkin karena hujan, mungkin juga karena air matamu

Senin, 05 Juli 2010

Tidak akan tercipta puisi macam ini

Mungkin hidup ini akan sederhana Jika hanya ada satu, dua, tiga Lalu e, d, c, b, dan a saja Tapi sayang, tidak akan tercipta puisi macam ini jika begitu

Kamis, 01 Juli 2010

Doa dalam mimpi

Kurasa aku tidak tidur semalam namun masih juga bermimpi Tentang kelinci-kelinci yang berlompatan di luar angkasa Lalu musafir-musafir yang mendadak merindukan pulang Dan juga hujan air mata yang mendadak menjadi sinar kuning bertebaran Entah berada dimana aku saat itu, mungkin aku sedang melompat-lompat liar di nebula Mungkin juga terpanggang hangus di kutub utara Siapa tahu? Bukankah aku yang sedang bermimpi saat itu Sedetik kemudian aku berdoa kepada Tuhan agar mimpi ini jangan berhenti Sedetik kemudian aku menyerah, aku berdoa setidak-tidaknya hentikan hujan yang mendadak turun membangunkanku Lalu kemudian aku terbangun karena hujan saat berdoa agar tak membangunkanku karena hujan Mungkin Tuhan tak mengabulkan doaku saat itu Mungkin juga Ia mengabulkan, karena sungguh sampai saat ini aku tak tahu yang mana mimpi dan yang mana kenyataaan

Mungkin kalau

Mungkin kalau kau perlahan sebentar akan kusampaikan pelan-pelan ditelingamu Tentang impian yang selalu tergantung di langit-langit kamar Masa depan yang tertempel rapih dengan selotip di tembok Atau tentang harapan yang terserak bercecer di lantai kosan

Kamis, 24 Juni 2010

Saat ini

Tak pernah ada yang hidup di hari kemarin, entah mengapa Ada yang berandai-andai, mungkin sedikit tapi kurasa lebih banyak dari biasanya Ah kita pun tak pernah peduli, kita hanya hidup sebentar saat ini lalu saat ini sudah menjadi masa lalu Bahkan saat kita berpikir berapa lama saat ini itu sebenarnya, saat ini sudah menjadi saat itu dan kelak menjadi masa lalu Kita bisa menjadi menyedihkan memang, tak tahu mengapa Jangan tanya aku saat aku menanyakan hal yang sama padamu, aku tak ingin mengetes apa-apa saat ini Jadi, berapa lama saat ini sebenarnya?

Senin, 21 Juni 2010

Kopi

Kau sajikan aku kopi padahal kau tahu aku lebih mencintai teh daripada kopi
Tapi kau tahu?
Aku jauh lebih mencintaimu daripada seluruh teh dan kopi di seluruh dunia ini

Sabtu, 19 Juni 2010

Subuh

Seseorang membangunkannya tengah malam buta Ia terbangun terdiam, dan satu-satunya yang terpikirkan olehnya adalah: "Kuharap saat ini sudah subuh" Tapi subuh tak pernah datang, sebagian bahkan percaya bahwa subuh itu hanya dongeng Dan kepalanya terasa sakit, teramat sakit Karena itu dia hanya diam, benar-benar diam Tak ada yang tahu mengenai waktu saat itu Tidak dia, tidak juga siapapun yang membangunkannya Namun entah kenapa ia hanya teringat akan subuh Dan sedetik kemudian ia benar-benar tak tahu dia itu siapa, apa, sedang apa, dan mengapa Tapi yang ada dipikirannya hanyalah subuh Dan saat ini ia benar-benar berani bersumpah bahwa ia tak tahu mengenai apa itu subuh dan bahkan apakah itu benar-benar kata Kemudian saat kepalanya semakin sakit, ia semakin tak peduli lagi andai ia benar-benar mati Dan sayup-sayup ia dengar suara adzan Subuh "Ah tak pernah kubayangkan mati di saat subuh dapat semenyenangkan ini!" ujarnya Padahal ia bahkan tak pernah tahu apa itu subuh, sedang apa dia, dan mengapa ia bisa berkata seperti itu

Jumat, 18 Juni 2010

Kota

Dan walau ia tahu bahwa ia benci setengah mati dengan kota ini Dengan asap-asap knalpot Udara kotor bercampur ludah, bangkai dan riak yang mengering Orang-orang yang berkeliling saling tak peduli Tetap saja ia duduk tenang di malam hari dan berpikir: "Mengapa kota ini hanya indah saat malam?"

Selasa, 15 Juni 2010

Dibiarkan

Gadis itu biarkan rintik-rintik hujan mencintainya Karena saat ia menangis karena patah hati, ia biarkan air mata itu menembus tanah Kemudian di jadikan awan oleh matahari lalu turun lagi sebagai hujan yang membasahimu (tapi kau takkan pernah tahu)

Minggu, 13 Juni 2010

Hantu

Mungkin waktu itu aku terbangun bertelanjang kaki, entahlah Tapi saat aku menapak lantai entah kenapa aku sudah bersepatu Mungkin juga aku sedari tadi malam tidur bersepatu Aku tak tahu. Siapa lagi yang bisa tahu apakah aku bersepatu atau tidak kalau aku sendiri tidak tahu? Sebelum tidur mungkin aku sisakan sebuah kanvas mungkin Namun esok pagi aku juga tak heran saat ia berwarna pelangi Mungkin aku tidur sembari melukis, siapa tahu? Tapi kurasa semestinya aku melukis hitam seperti dalam mimpiku, bukan pelangi berwarna-warni

Sabtu, 12 Juni 2010

Cyanide Girl

Aku melihatnya, tentu saja melihatnya, siapa yang tidak? Dengan gaun hitamnya, kontras sebenarnya dengan citranya yang bagaikan matahari. Tapi siapa yang peduli? Ia bahkan boleh saja memadamkan matahari dan seluruh orang di dunia takkan ada yang akan menyalahkannya. Bukankah gadis-gadis cantik itu selalu dimaafkan untuk melakukan apapun? "Bagaimana kabarmu?", tanyaku singkat. Ah pertanyaan bodoh sebenarnya. Bukankah ia pasti akan menjawab "Baik-baik saja." . Takkan diceritakannya pasti andaikan ia sakit atau bahkan patah hati. Pada akhirnya ia pasti akan menjawab "Baik-baik saja". Seharusnya pertanyaan bagaiman kabar itu sudah sejak lama keluar dari kamus kita karena jawabannya sudah pasti bisa ditebak: "Baik-baik saja", jawabnya Kan, sudah kubilang sebelumnya. Ia akan menajawab seperti itu. Sekarang aku bingung harus bertanya apa lagi. Oh ya, akan kutanyakan saja tentang kabar keluarganya atau hewan peliharaannya! ....baiklah itu aneh. Ah aku sungguh tak tahu harus bertanya apa. "Ah aku tak tahu harus bertanya apa lagi padamu!", ujarku terus terang. "Oh ya?", ujarnya tersenyum. Lalu ia berceritak panjang lebar. Dan aku hanya diam mendengar tapi senang setengah mati.

Selasa, 08 Juni 2010

Ia tak tahu

Ia tak tahu apakah Tuhannya masih berkenan mendengar doanya atau tidak Walau ia sering tak mengindahkan panggilan-Nya lagi Tapi ia terus berdoa terus berdoa Ia tak tahu apakah Tuhannya masih mau menyapanya, membasuh perihnya lantas menyiraminya dengan nikmat yang tak habis-habis Walau ia sering lupa bahwa betapa Tuhan memperhatikannya setiap saat Tapi ia tetap berharap Maka ia akan tetap berdoa lantas berharap Karena jika ia sudah tidak berdoa lantas berharap, apa lagi yang tersisa darinya dihadapan-Nya?

Kamis, 03 Juni 2010

Kamu takkan pernah bisa memaksanya untuk berpuisi

Kamu bisa memaksanya mengsekresikan tinta dari pena Atau kode-kode biner yang kelak diterjemahkan menjadi huruf kemudian kata Atau juga getaran membran pita suara yang kelak kau sangka (dan memang begitu adanya) menjadi suara Tapi sungguh kamu takkan pernah bisa memaksanya untuk berpuisi

Jumat, 28 Mei 2010

Sebuah puisi tentang perih

Ia rasa perih telah berbicara dalam bahasa lain karena itu ditutupnya telinga kemudian ia berpura-pura tak berbahasa apa-apa Lalu perih berbicara dalam bahasa yang lebih sederhana ia berbicara dalam sepi, kemudian menyayat, lalu mengaduh, lantas hilang Dibalik cahaya diduganya seseorang menyanyi, ia sungguh berharap bahwa dialah yang bernyanyi tak ada yang menyanyi, "Nyanyian itu apa?" ia sendiri pun tak tahu Karena tak ada yang mengetahui sejak kapan perih lahir, ia putuskan untuk menari namun ia muak menari karena ia akan menari hanya demi perumpamaan yang mengaduh. Dan karena tak ada yang menari, menyanyi dan berkata-kata ia izinkan nona itu untuk melukis dengan satu warna: hitam *Ada baris didapat dari komentar Blackmemo. Contact me if you mind and I'll delete it right away

Ia tidak akan mati

Dan baru-baru ini saja disadarinya bahwa semesta ini hidup; benar-benar hidup Dunia ini tak melulu tentang dirinya Ada burung-burung yang berkicau Serangga-serangga yang berterbangan Dan seekor kutu busuk yang: mati Jadi ia tak habis pikir kenapa dia harus bersedih saat dirinya sedih Dia manusia tentu saja- karena itu ia bisa berpuisi saat ini kan?- Dan ia ingin lebih dari itu, sungguh lebih dari itu Lalu dibulatkan tekadnya: Ia tidak akan mati Setidaknya tidak hari ini

Minggu, 23 Mei 2010

Hujan

Saat ia menangis, ia tak ingin ada seorang pun yang melihatnya Jadi saat hujan turun, ia senang setengah mati Karena kali ini ada langit yang menemaninya

Kamis, 20 Mei 2010

Sinyal dan Sistem

Ia sedang tak ingin berada dimana-mana saat ini. Tidak di rumahnya, tidak di kosannya, tidak pula di surau dekat kampusnya. Benar-benar tidak dimana-mana. Sejujurnya ia ingin berada di suatu tempat yang bukan suatu tempat. Suatu tempat yang tidak pernah ada di dalam memorinya namun juga suatu tempat yang tidak akan pernah berada di ingatannya. Ia ingin di tempat semacam itu andaikan ada. Ia ingin dipanggil dengan suatu nama kemudian tersenyum dengan panggilan itu. Dan lantas semua orang akan memanggilnya dengan nama itu sampai suatu titik dimana ia dikenal dengan nama itu yang bahkan ia sendiri tak mampu mengingat namanya yang asli. Ia ingin keluar dari segala sistem. Sistem yang mengelilinginya kemudian mengaturnya dan pada akhirnya akan membentuk dirinya tanpa ia duga. Dan lantas saat ia sadar semuanya sudah berjalan terlalu lama sehingga ia tak tahu bagaimana cara keluarnya. Namun semua berbeda saat kau menelepon. Ia tak ingin berada di tempat lain selain di tempat dimana ia menerima teleponmu. Semua pertanyaannya terjawab, denganmu ia tidak lagi menjadi dirinya. Ia menjadi orang yang teramat mirip dengan dirinya namun tetap saja bukan dirinya. Dan ia suka setengah mati dengan perasaan itu. Ia tak mencintaimu—ia bahkan berencana meminta maaf kepadamu untuk itu. Tapi ia cinta setengah mati dengan keadaan dirinya saat bersamamu. Kukira ia egois tapi aku tahu ia jujur. Mungkin nanti ia akan belajar mencintaimu agar bisa mencintai dirinya dan kemudian berharap dengan sangat bahwa kau mencintainya. Yah tapi itu mungkin dilakukannya nanti saja. Karena saat kau menelepon, di dunia ini hanya ada kamu, ia, dan sinyal-sinyal elektris yang berterbangan

Senin, 17 Mei 2010

Warna Semesta

Kamu tahu kurasa Tuhan menciptakan alam semesta ini dari warna Dari putih diciptakan-Nya cahaya Dari hitam diciptakan-Nya dunia Dan dari warna kedua bola matamu diciptakan-Nya Cinta

Sabtu, 08 Mei 2010

Satu langkah sebelum surau

Satu langkah sebelum surau, sayup-sayup kau mendengar keheningan Kumpulan orang, yang satu menarik takbir yang lain khusyuk mengamini Kamu tak pernah tahu berapa jauh sebenarnya satu langkah itu Dalam hati, dirimu meraung-raung sepi Kamu ingin ada dikerumunan itu: Menangis saat ayat-Nya dibacakan Kamu tak pernah tahu berapa jauh sebenarnya satu langkah itu Tak ada yang tahu, sungguh tak pernah ada yang tahu Kamu setengah mati ingin duduk di surau lalu tertidur dan dibangunkan saat subuh Lalu solat dan lantas membaca Al-Quran Kamu sungguh ingin berada di kerumunan itu, sungguh Kamu ingin meneteskan air mata saat Al-Fatihah dibacakan Kamu ingin menyapu seluruh lantai surai itu Jadi nanti jika ada yang berkata: "Ah, bersih sekali surau kita hari ini!", kamu hanya akan tersenyum saja Kamu tak pernah tahu berapa jauh sebenarnya satu langkah itu Kamu tak pernah tahu Sungguh tak pernah tahu

Waktu masih senja

Waktu masih senja saat kau putuskan untuk mencintai bulan Tak ada yang memaksamu, cinta macam apa yang butuh paksaan? Maka kau diam saja menikmati senja Lalu berharap bahwa malam lekas turun

Jumat, 07 Mei 2010

Kelahiran Matahari

Matahari tidak pernah dilahirkan kemarin Dimana hanya ada kegelapan dan malam tak berbatas Karena malam tak melahirkan matahari dan matahari tak pernah melahirkan malam Matahari mungkin dilahirkan hari ini, baru saja tadi pagi Karena itu orang-orang berteriak-teriak senang dan menamakan "pagi" dengan pagi Tapi pagi pun tetap tak melahirkan matahari dan matahari tak pernah melahirkan pagi Matahari mungkin sedang dilahirkan saat ini Karena itu aku bisa memuisikan tentang matahari saat ini Dan ia tak marah atau enggan kelahirannya dilahirkan (walau ia tahu aku selalu berbohong tentang kelahirannya)

Kamis, 06 Mei 2010

Memilah

Ia sibuk memilah yang titik dari yang koma Yang konsonan dari yang vokal Yang sepi dari yang ramai Yang hitam dari yang putih Tapi kamu dari yang lain? Ah ia sudah memisahkannya sedari dulu

Aku dan kamu

Kamu seperti sandal jepit yang hilang satu Sedang aku seperti klakson yang berbunyi kencang saat mobil digedor maling Aku seperti truk gandengan yang diam saat disalip pengemudi tak sabar Kamu seperti sapu yang terdiam dipojokkan walau debu menghampar lebar Kamu seperti lampu jalan yang menerangi jalan dan mati saat pemadaman bergilir PLN Dan aku tetap menjadi buku asing di sudut perpustakaan yang pustakawannya pun tak tahu bahwa ia ada Dan pada akhirnya kamu menjadi jalanan berbatu yang selamanya tetap direncanakan akan diaspal Lalu aku tetap menjadi laki-laki, kelak sendiri

Kamis, 29 April 2010

Enam pagi

Kamu sibuk menerka-nerka yang ada dibalik layar pagi hari Sedang aku mencoba menebak kenapa matahari sudah enggan untuk menari Padahal jarak antara kita hanya beberapa inci lebih beberapa senti Kenapa harus ada pukul enam pagi?

Selasa, 27 April 2010

Diantara beranda

Mungkin kamu berandai-andai apa yang berada di antara beranda dan lantai Kamu kira aku sudah datang seperti biasa Rapih, mungkin dengan kemeja atau sepatu Atau hanya salah satu, sepatu dengan kaos Jadi saat bel kutekan bolak-balik, kubayangkan kau berteriak-teriak panik Dan aku sibuk mengintip jendela, mencari refleksimu yang mungkin ada Lalu berpura-pura sibuk melihat ke jalan raya Bertingkah bahwa aku sedang tak menunggu siapa-siapa Sayangnya saat yang keluar bukan kamu kemudian dikatakan bahwa kamu tak ada Aku hanya terdiam dan berpikir bahwa kamu tak pernah berandai-andai tentang apa yang ada diantara beranda dan lantai Kemudian hanya ada aku yang berandai-andai tentang apa yang ada diantara motorku dan beranda: putus asa

Kusembunyikan

Kusembunyikan baik-baik perasaanku padamu sampai-sampai aku sendiri tak tahu bahwa aku mencintaimu

Senin, 26 April 2010

Bulan

Diterkanya bulan sedang malas terbit malam ini Jadi ia nikmati malam ini dengan kekelamannya Dan ia berpura-pura membenci pagi dengan segala kehangatannya Ia temui kerikil-kerikil yang selama ini dilupakannya Lalu kepada batu-batu yang selama ini tanpa sadar diludahinya Dan terakhir kepada sinar bintang yang selama ini hilang entah kemana

Rabu, 21 April 2010

Sepi

Ada suatu ketika tak ada yang menyapa dirinya sama sekali dalam mimpi Dan dalam hati ia merasa sepi setengah mati Jadi ketika saat suatu hari ia mendengar suaramu, ia tak tahu harus tersenyum atau merasa sepi lagi Ia ingin berpura-pura memilikimu, namun pura-pura tak membantu apa-apa Ia ingin memilikimu, namun memilikimu tak merubah apa-apa Ia ingin meninggalkanmu, namun meninggalkanmu akan membuatnya menjadi bukan apa-apa

Selasa, 20 April 2010

Loving you

Loving you is saying "A, B, C. " then go to home silently

Kamis, 15 April 2010

Pukul empat

Tadi pagi pukul empat aku tahu-tahu terbangun dan tak bisa tertidur lagi Yang terdengar hanya sunyi yang bernyanyi sepi Dan angin yang berputar ringan di ruangan Aku lupa akan mimpiku tapi kukira dalam mimpiku ada kamu Dan kalaupun tak ada, aku tetap bisa membayangkanmu kan?

Selasa, 13 April 2010

Sungguh aku sedang tak ingin berpuisi

Tidak ada yang bisa mengeja satu lebih baik dari seribu Saat kau menghadiri pesta acak kemudian nyala api membakar perlahan kelambu di sekitarmu Dan kau tak tahu apa-apa, benar-benar tak tahu apa-apa Maka hanya kau teguk sekilas air di gelasmu sambil berpikir apa yang salah dengan semesta Jadi suatu saat ketika kau mengira harapan sudah habis kau berharap ia benar-benar habis Tentang cinta yang datang dan kau enggan bahkan untuk sekedar menyapa Maka kau putuskan untuk menulis walau kau tak tahu tak ada apa-apa untuk ditulis Sungguh aku sedang tak ingin berpuisi

Minggu, 11 April 2010

Ia berharap

Ia berharap kamu mencintainya Tapi ia tak bisa menjanjikanmu apa-apa

Jumat, 02 April 2010

Metro mini

Ia ingin sekali menjadi seseorang yang menepuk pelan pundakmu saat kau terkantuk-kantuk diatas metro mini siang itu dan memberi tahu bahwa tujuanmu sudah terlewat beberapa puluh meter Tapi seperti biasanya, ia urungkan niatnya. Dibiarkannya kau terbangun terkaget-kaget sambil menoleh kanan dan kiri kemudian berteriak-teriak panik menyuruh kondektur atau supir atau siapa saja untuk membuat metro mini itu berhenti Pada saat seperti itulah ia baru berteriak membantu, kemudian dalam hati berharap amat sangat bahwa kau ingat untuk mengucapkan terima kasih

Rabu, 31 Maret 2010

There are nothing to display here

"Suatu hari akan ada seseorang yang mencintaimu, dan ia menyedihkan", ujarmu. *** Ah, siapa pula yang membutuhkan sesuatu yang berlebih? Maksudku begini: apakah kita memang selalu membutuhkan apa yang lebih dari kebutuhan kita? Kujelaskan secara sederhana. Sepasang kaki dan tangan cukup tapi bagaimana dengan seribu kaki dan seribu tangan? Kita ini menyedihkan, semua manusia. Kau, aku, kita, mereka, kalian, semua. Lalu apa yang menyedihkan membutuhkan lebih dari yang menyedihkan? Disembunyikan baik-baik segala kelemahan kita dan berpura-pura bahwa kita kuat lantas kemudian kita berharap dalam hati bahwa kita akan lupa bahwa kita lemah dan benar-benar merasa kuat. Tapi menyembunyikan kelemahan sejak awal sudah merupakan kelemahan sendiri menurutku, lantas apa yang harus diubah? Aku tak tahu. Menjadi orang lain itu mudah, semua orang bisa melakukannya, menjadi diri sendirilah yang sulit karena tak ada yang tahu diri kita sendiri selain diri kita. Dan ada kepingan hati yang hilang disini. Sekuat-kuatnya kau mencari tak pernah kau temukan dimana. Kau menduga mungkin ia terjatuh saat kau bermain dengan teman-teman masa kecilmu dulu. Waktu dimana hari ini hanyalah hari ini, dan kemarin adalah hari ini yang datang sehari lebih cepat sedangkan esok adalah hari ini yang belum datang. Tak ada yang perlu dirisaukan, masalah ada di pagi hari dan ia sudah hilang saat sore kau bermain dengan teman-temanmu. Tapi bukan itu, ada benar-benar yang hilang. Sampai akhirnya kau menemukan konsep tentang cinta. Cinta, permainan baru lagi kah? pikirmu. Tak ada yang tahu jawabannya, sungguh tak ada yang tahu. Pertanyaan sederhana buah pikiran anak kecil itu bahkan tak juga akan kau temukan jawabnya dari manusia tua berusia ribuan tahun. Cinta itu masalah perasaan, begitu dugamu awalnya. Tapi kau tak yakin dan kemudian saat kau mencari pembenaran yang kau temukan malah bahwa pemikiranmu salah. Dan bukankah menyedihkan bahwa pemikiranmu disalahkan oleh dirimu sendiri? Kau akhirnya membuang tentang segala konsep dan membiarkan semua berjalan apa adanya. Dan tak ada masalah selama ini. Ya setidaknya sampai selama ini. Tapi ada yang salah di cinta namun kau tak tahu dimana kesalahannya. Kau akhirnya berpikir bahwa darimana datangnya cinta. Cinta itu milikmu sendiri atau milik Tuhan? Apabila ia milik Tuhan, bukankah berarti cintamu itu adalah peminjaman dari-Nya? Dan bisa sekuat apakah cinta pinjaman itu? Kau menggeleng tak jelas. Entah tak peduli, entah tak ingin memperbaiki, entah. Kau menolak keberadaan cinta pinjaman tapi sadar bahwa dirimu ya hanya dirimu. Kau akhirnya diam-diam menyetujui bahwa cinta itu baru ada saat kamu lahir. Dan saat kau ingin berkata tapi, tapi berkata tapi terlebih dahulu. Kau muak terhadap tapi lantas kemudian terhadap cinta. Entah kenapa kau benci terhadap cinta walau ia bernama cinta. Bukankah jika sedari awal cinta bernama benci ia akan menjadi 'benci' ? Kau memutar kata-kata, berharap akan lepas dari jebakan makna. Ah, kau muak terhadap pikiranmu rupanya. Tak mengapa kau tak sendiri, aku juga begitu. Maaf tapi aku adalah kau, jadi kau saat ini sendiri. Tak mengapa, kau bisa berpikir bahwa kau bukanlah aku dan kemudian kita akan menjadi berdua walau tetap sendiri. Paradoks? Mungkin, tapi siapa yang peduli? Tak ada yang peduli. Kalau kau tak peduli, maka seluruh dunia takkan peduli karena selama ini dunia berputar dengan cara seperti itu. Kemudian kau kembali pada pikiran awal. Menyedihkan? Tak mengapa lah, aku sendiri menyedihkan. Apakah kita mau memiliki sesuatu diluar kebutuhan kita? Tentu saja! Tapi apa kita butuh? Entahlah. Kadang iya, kadang tidak. Tak ada yang tahu karena pada akhirnya kita tak pernah dapat lebih dari yang kau butuh. Kau bercanda? Mungkin, tapi aku berkata jujur. *** "Tak mengapa, tapi kuharap orang menyedihkan itu kamu." ujarku

Sabtu, 27 Maret 2010

Sabda

"Dan tentang kematian?" tanyaku "Hal itu justru yang paling tidak menakutkan" jawab entah siapa Mungkin aku mencoba menghibur diri entah mengapa

Jumat, 26 Maret 2010

Semesta

Ada yang mengetuk pintu perlahan tapi kau enggan membukakan "Ah, mungkin itu kematian lagi yang datang kali ini.", ujarmu Kemudian ketukannya bertambah kencang, kau dan aku tercekat berdua berhadapan diatas meja "Hanya ketukan lain, haruskah kita pergi?", tanyamu Kemudian ketukan berubah menjadi gedoran Tak ada yang berani memecah sunyi diantara kita "Ayo kita lari!" ajakku "Kemana?" tanyamu "Semesta!"

Selasa, 23 Maret 2010

Janji

Di sela malam tiba-tiba kau datang tersenyum Kau ulurkan tanganmu sembari berkata, "Ikutlah denganku, tapi takkan kujanjikan apa-apa surga tidak, bahagia tidak, bahkan sekedar cinta pun tidak" Dan entah karena senyumanmu atau kehangatan yang terpancar dari telapak tanganmu itu kuterima mereka tanpa ragu-ragu

Senin, 22 Maret 2010

Sepatu putih

Sepatu putih yang ada dalam otakmu membuatmu membisu Tentang lagu-lagu jaman dulu yang berputar sendu Ah kau takkan pernah mengerti, bukan begitu?

Senin, 15 Maret 2010

Mimpi

Aku lelah dengan harapan yang kau bisikkan berulang Menjadi manusia itu mudah kukira, tapi kau bersikeras bahwa itu susah Aku hanya butuh segelas kopi, angin dan matamu yang menyala Kemudian aku tersadar bahwa aku terlalu lelah Lalu aku akan tertidur pulas Dalam sela-sela mimpi kuharap kau akan tiba Telah berhenti berbicara tentang harapan dan tersenyum lebar Kunantikan dalam mimpiku itu kau berkata berbinar-binar: "Ah siapa yang butuh harapan! Kita hidup di mimpi saat ini!" Lantas aku terbangun kemudian menyesal bahwa mimpi hanya mimpi Tapi kemudian bersyukur bahwa kau masih bersedia menemani

Hanya itu saja

Tiba-tiba malam tiba Kau tak sadar berada dimana, hanya tersenyum terisak mengiba Yang kau rasakan hanya kaki yang menapak dan mata yang sembab Sudah, hanya itu saja Kau tak rasakan luka-luka yang menganga Atau tentang perih dan putusnya harapan yang terbang entah kemana Kau hanya ingat kakimu dan matamu yang sembab Sungguh, hanya itu saja Tak juga tentang mayat-mayat yang berceceran Atau suara raungan yang walau perlahan tapi menggetarkan Kau hanya ingat kakimu dan matamu yang sembab Sayangnya, hanya itu saja Lalu akhirnya kau sadar ini waktu terakkhirmu Kau terduduk; kakimu sudah tak kuat menopang apa-apa Kakimu lemas, matamu tertutup; kemudian kamu mati Ya, hanya itu saja Kau mati Hanya itu saja

Minggu, 14 Maret 2010

Lalu

Hanya karena api lantas kau bakar segala Lalu kau salahkan kah matahari karena menggurunkan samudra? Atau gunung berapi yang mematikan apa yang ada di seluruh pandangan mata? Hanya karena air lantas kau terjang segala Lalu kau salahkan kah bulan menaikkan semua air yang ada? Atau tanah yang melongsorkan seluruh pelosok desa (walau tak pernah ada di peta)?

Minggu, 07 Maret 2010

Esok tak pernah ada

Di jemarimu bahkan perih tak mampu bergetar Kau susuri deretan hitam-hitam di kalender, kemudian tersenyum saat menyentuh merah "Hei, besok tak pernah ada! Hanya ada hari ini, dan kemarin!", ujarmu tiba-tiba Aku hanya tertegun tak percaya, kemudian bertanya: "Ah, kau sedang berdusta!" Kau kemudian merengut, menjawab "Mana yang lebih kau percaya: Kalender itu atau aku?" Lalu aku diam, menimbang-nimbang "Tentu saja kamu...seluruh hatiku percaya padamu. Tapi..." Lalu matamu berbinar terang penuh tanya, "Tapi apa?" Aku tak tahu, "Aku tak tahu"

Sabtu, 06 Maret 2010

Diujung

Ia tak suka berbicara tentang rambutnya yang acak-acakkan Atau tentang matanya yang berbinar lalu bergetar atau tentang sepasang kakinya yang terkadang gemetar Ia tak juga ingin bercerita tentang cinta yang terbakar semalam Atau tentang rindu yang mengendap bertahun-tahun atau tentang betapa ia setengah mati berharap mendengar namamu Ia kembali berpikir tentangmu, dan semua mendadak tak penting lagi Dari balik tawa renyahmu, ia bersembunyi kemudian menikmatinya sendiri takkan diserahkannya pada angin; ia hanya ingin tawamu jadi milikmu (dan miliknya, entah -Nya) Dan lalu sepi menghajar tiba-tiba, kau tak peduli dan hanya ada ia yang tersenyum sendiri Dihadapannya maut terbentang berkilo-kilo entah meter, entah gram Ia hanya tersenyum; ia pasrah bahwa ia benar-benar kalah (walau tak pernah sekalipun menang) Lalu kabut datang, nyawanya tertarik diam-diam Dan ia menikmati gemerentak tulangnya yang terakhir kali "Tak pernah yang menjajikan bahwa kau takkan mati bukan?", ujar suara dari pikirannya Ia ingin tersenyum namun gagal, perih membius dirinya dengan rasa sakit tak tertahankan Lantas ia berpikir, "Sebenarnya tak seburuk itu jika saja Kau dan kau masih sudi datang menghampiri..."

Jumat, 05 Maret 2010

Terlalu baik

Membencimu; aku tak pernah Mencintaimu; aku selalu Tapi berpura-pura tidak mencintaimu; ah aku terlalu baik dalam hal itu

Tak ada yang memaksamu

Tak ada yang memaksamu meneguk racun kemudian menghembus nafas Sama seperti tak ada yang memaksamu membungkuk atau membusung bangga Pada akhirnya kau sendiri yang memutuskan, bukan orang lain Jatuh terhuyung, lompat terhempas, atau terbang tinggi melayang

Sabtu, 27 Februari 2010

Rinduku

Kutitipkan rinduku pada sebuah lampu pijar diatas tumpukan kertas-kertas puisi di rumahmu Jadi, ketika suatu saat ia pecah berkeping-keping kemudian membakar habis rumahmu Dalam nyala api yang berkobar-kobar, kuharap kau berpikir: "Ah, laki-laki itu sedang merindukanku rupanya..."

Jumat, 26 Februari 2010

Koma

Ditahannya sekian lama tapi kini tak bisa lagi Semestinya tak ada yang beda dengan detik-detik yang berganti, tapi entahlah Terakumulasi mungkin, atau ia hanya sedang berada di tempat yang teramat tidak tepat Siapa yang tahu? Ah, mungkin kamu? Ah, ini kisah tentang koma yang iri terhadap titik Yang muak berada di sela-sela kalimat, yang selalu ingin menjadi akhir dari segalanya Akhirnya diucapkan segala-galanya pada titik Titik menatap murung; tak percaya lantas berkata: "Adakah kau lihat titik di setiap akhir kalimat dari puisi ini?"

Rabu, 24 Februari 2010

Sedetik

Kamu tahu? Untuk sedetik tadi aku sempat amat teramat mencintaimu

Minggu, 21 Februari 2010

Jatuh cinta

Suatu hari ada laki-laki yang jatuh cinta kepada angin Esoknya ia jatuh cinta pada angin Esoknya ia jatuh cinta pada angin Kemudian diurungkan niatnya, lalu ia jatuh cinta pada matahari Esoknya ia jatuh cinta pada matahari Esoknya ia jatuh cinta pada matahari Kemudian diurungkannya niatnya, lalu ia jatuh cinta pada laut Esoknya ia jatuh cinta pada laut Esoknya ia jatuh cinta pada laut

Membakar Warna

Teman-temanku membakar warna untuk bersenang-senang Merah dibakar menjadi api Biru dibakar menjadi laut Hijau dibakar menjadi tundra Tapi aku bingung Hitam haruskah menjadi kelam atau sepasang bola matamu yang indah?

Senin, 08 Februari 2010

Ssst, anggap aku sedang berpuisi

Kalau aku menghinamu, seharusnya itu tersirat setidak-tidaknya dalam bentuk puisi atau prosa, atau apalah terserah Kalau begitu anggap saja kalimat dibawah ini dalam bentuk prosa-prosa indah, kalimat yang mengetuk jiwa, atau kata-kata yang membius "Seleramu jelek"

Lantas

Kukira bukan aku yang membuatmu datang kemari Tapi sayangnya matahari sudah tak terbit disini lagi hari ini Lantas kau pergi

Minggu, 07 Februari 2010

Joni

Joni mati di bulan Januari Ironis memang,tapi mau bagaimana lagi? Tunggu-tunggu, apa kita mengenal Joni? Satu orang diantara milyaran, akan tahukah kita? Yang datang,menghilang sama persis dengan yang lainnya Joni mati di bulan Januari

Jumat, 05 Februari 2010

Sisa-sisa bulan januari

Saat ini Februari memang, kita yang mengumpulkannya terserak saat subuh terlalu mengantuk untuk bangun terlalu pagi sewaktu kokok-kokok ayam tercekat, meleleh atas ketidakberdayaan dan hujan yang turun terlalu tajam sinar matahari yang terlalu dingin, membekukan kain-kain yang terjemur di beranda dan angin yang terlalu panas, membakar keringat yang semestinya berhenti tentang segelas kopi yang mengepul-ngepul ringan dihadapan kita lalu sendok yang menari-nari seorang diri sekarang ini jam berapa?

Sabtu, 30 Januari 2010

Kalau-kalau

Sudah kusiapkan kata-kata indah Kalau-kalau aku jatuh cinta Yah tapi kalau-kalau, siapa yang tahu berapa lama?

Sebuah puisi yang tak tahu dari mana datangnya

kau ditolak oleh langit lagi malam ini bahkan saat kau duduk tengadah semalaman dan kau rasakan mata-matamu rontok dari celah-celahnya yang darinya kau sangka darah segar mengalir, namun air matamu berhasil menipumu kali ini lalu esoknya lagi kau berharap langit menerimamu sebaik-baiknya harapan sudah kau jadikan biji-biji tasbih, kemudian kau pelintir pelan-pelan oleh jemarimu sayang kau bukan Nabi atau Tuhan kau tak punya Tuhan dan sepasang surga-neraka buatanmu sendiri karena itu kau terus berdoa, berdoa, berdoa "Bukankah Setan sendiri pernah berdoa agar abadi dan hampir dikabulkan?" ujarmu memelas

Kamis, 28 Januari 2010

Harapan

Langit mana lagi yang kau maksud kali ini? Sisa-sisa abu, matahari mendadak terbakar habis semalam Malam sejenak, kau tak pernah berharap pagi untuk datang Katamu,"Untuk apa berharap hal yang sudah pasti?" Lalu dikemudian hari kau berkata hal yang asing "Untuk apa berharap untuk hal yang tak pasti?" Sedang kita duduk berdua, saling tersenyum Dan aku sibuk menerka-nerka, adakah cinta di hati kita?

Jumat, 22 Januari 2010

Puisi tentang apa saja

Aku senang saat kau bercerita tentang apa saja Dan aku bahagia mendengarkan, tertawa-tawa Dan aku suka saat kau bercerita tentang apa saja Dan aku tersenyum, menatap matamu yang menyala-nyala Dan aku rindu saat kau bercerita tentang apa saja Ah,aku rindu padamu sebenarnya

Senin, 18 Januari 2010

Awan

Awan berarak cembung hari ini Entah bergambar apa ia, tapi kukira ia menggambar wajahmu Lalu semakin jelas, semakin jelas Kemudian awan itu turun, ia menjelma menjadi dirimu di sampingku Ah,aku tak perlu segila itu seandainya kau ada disini hari ini

Minggu, 17 Januari 2010

Mencintaimu?

Jangan bercanda, siapa yang tidak? Mendengar suaramu, dentingan merdu piano si bisu Melihat senyummu, yang aku yakin mencairkan kutub utara Mendengar tawamu, semilir angin hangat pertama musim semi

Rabu, 13 Januari 2010

Mencuri hujan

V: "Kau masih bangun, Jack?" J: "Aku sudah tidur sebenarnya, tapi aku akan selalu bangun untukmu" V: "Ah, begitu... Kau tahu apa yang sedang aku pikirkan?" J: "Selain berandai-andai apakah aku sedang tertidur atau tidak, aku tak tahu..." V: "Mau kah kau mencuri hujan untukku?" J: "....mencuri hujan?" V: "Ya, mencuri hujan..." J: "........" V: ".....Jack?" J: ".....Kau tahu apa yang sedang kupikirkan?" V: "Selain berpikir tentang apa yang gadis gila ini maksud, aku tak tahu..." J: "Ya... hanya itu yang kau pikirkan." V: "Jadi...kau tak mau mencuri hujan untukku?" J: "Kalau kau minta aku bahkan akan mencuri surga"

Kamis, 07 Januari 2010

Tadi pagi

Kamu tahu, tadi pagi matahari menemuimu diam diam

Rabu, 06 Januari 2010

Seribu lilin

Dan mendadak seribu lilin padam hari ini (Tapi kau tak pernah yang tahu mana milikku dan mana milikmu) Karena angka sebenarnya tak berarti apa-apa (Asal bukan milikmu, tak mengapa kalau milikku. Bukan begitu?) Egois kan kita? Bukan seperti manusia? (Sayangnya manusia semuanya begitu. Bahkan ketika kita tak suka itu) Dan seribu lilin menyala lagi hari ini (Sayang bukan lilin milikmu) Ssst kuberi tahu, milikmu bahkan tak pernah menyala (Sialan...)

Minggu, 03 Januari 2010

Kabut

Waktu malam berkabut itu kau bersikeras untuk bertemu Tapi aku tak tahu, bukankah semestinya kita tak pernah ada? Aku aku dan kamu kamu tak mengapa, asal jangan berdua Esoknya kau marah kepadaku "Mengapa kau tak datang malam itu?" Tapi aku ada, aku selalu ada "Aku kabut itu" ujarku lirih