Kamis, 20 Mei 2010
Sinyal dan Sistem
Ia sedang tak ingin berada dimana-mana saat ini. Tidak di rumahnya, tidak di kosannya, tidak pula di surau dekat kampusnya. Benar-benar tidak dimana-mana.
Sejujurnya ia ingin berada di suatu tempat yang bukan suatu tempat. Suatu tempat yang tidak pernah ada di dalam memorinya namun juga suatu tempat yang tidak akan pernah berada di ingatannya. Ia ingin di tempat semacam itu andaikan ada.
Ia ingin dipanggil dengan suatu nama kemudian tersenyum dengan panggilan itu. Dan lantas semua orang akan memanggilnya dengan nama itu sampai suatu titik dimana ia dikenal dengan nama itu yang bahkan ia sendiri tak mampu mengingat namanya yang asli.
Ia ingin keluar dari segala sistem. Sistem yang mengelilinginya kemudian mengaturnya dan pada akhirnya akan membentuk dirinya tanpa ia duga. Dan lantas saat ia sadar semuanya sudah berjalan terlalu lama sehingga ia tak tahu bagaimana cara keluarnya.
Namun semua berbeda saat kau menelepon. Ia tak ingin berada di tempat lain selain di tempat dimana ia menerima teleponmu. Semua pertanyaannya terjawab, denganmu ia tidak lagi menjadi dirinya. Ia menjadi orang yang teramat mirip dengan dirinya namun tetap saja bukan dirinya. Dan ia suka setengah mati dengan perasaan itu.
Ia tak mencintaimu—ia bahkan berencana meminta maaf kepadamu untuk itu. Tapi ia cinta setengah mati dengan keadaan dirinya saat bersamamu. Kukira ia egois tapi aku tahu ia jujur. Mungkin nanti ia akan belajar mencintaimu agar bisa mencintai dirinya dan kemudian berharap dengan sangat bahwa kau mencintainya.
Yah tapi itu mungkin dilakukannya nanti saja. Karena saat kau menelepon, di dunia ini hanya ada kamu, ia, dan sinyal-sinyal elektris yang berterbangan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar