Minggu, 25 Desember 2011

Akan selalu hujan

Akan selalu hujan, ujar ibu
Karena itu ia tak peduli pada juni atau desember
Musim kemarau atau hujan
Indonesia atau Ethiopia

Lampu

Matikan lampu, kita kan ke bulan sekarang
Sampaikan maafku pada sendal jepitmu, aku tak pernah cinta mereka
Lalu mereka akan memberitahukan diam-diam kepada bulan bahwa kau tak pernah cinta bulan
Lalu bulan akhirnya tahu bahwa tak pernah ada siapa cinta siapa kecuali aku dan engkau

Hio

Siapa sangka kita serupa hio? Sayang, dupa yang tampak semalam (asap yang sama kau hirup), semua adalah kita dalam sebaik-baiknya kita Kita selalu berjalan keatas dan berpura-pura bahwa kita sedang terbang Maka kita akan serupa petualang: Saling mencintai satu sama lain namun jatuh cinta pada diri kita lebih tinggi

Kamis, 15 Desember 2011

Kutitipkan

Teman, aku takkan berkoar-koar seperti tetanga-tetanggamu
Aku ada di sini saat ini pun aku tak pernah tahu mengapa

Tapi nanti saat aku mati, yang kutinggalkan bukan hanya namaku
Bukan hanya tanah, gumpalan awan diangkasa, butir-butir batu dipekuburan

Maka dari itu saat aku mati, kutitipkan mimpi-mimpiku
(Dan nanti saat kau terbangun kau menyangka ini adalah mimpimu padahal selama ini kamu hidup dalam mimpiku)

Minggu, 27 November 2011

Ia mencintaimu

Ia mencintaimu seperti ia mencintai bola mata hijau toska yang tak kau miliki dan ia tak pernah peduli

Abjad

Sepotong abjad adalah rangkuman kecil yang terlalu diminimalisir oleh kita
Siapa yang tahu bahwa sebenarnya diantara lengkung "a" terdapat jutaan puisi milik saudara-saudara kita yang sedang jatuh cinta

Siapa yang tahu bahwa didalam "o" terdapat ruang tak berhingga yang tak pernah habis diisi oleh kata-kata kita
Nanti didalam kata-kata yang terdapat didalam "o", pada setiap huruf "o" didalamnya terdapat jutaan puisi yang tak pernah habis diisi oleh kita
Begitu seterusnya

Tapi walau begitu, doa kita terwujud kemarin saat seluruh dunia sebenarnya buta aksara

Seprai itu lautan

Pagi tadi lupa kau masak kolnya
Mungkin karena itu sore ini kita hanya memandang tak percaya botol-botol kaca dihadapan kata-kata milik kata

+
Ya, itu tanda tambah. Anda tak salah lihat

Jumat, 18 November 2011

Telepon

Telefon berdering cukup lama hingga aku berharap itu kamu
Lalu aku sadar bahwa kau tak pernah menelepon di hari sabtu

Kamis, 17 November 2011

Selamat tinggal rumah

Percuma menungguku saat hujan turun, aku takkan datang
Bisa kupastikan aku sedang duduk didepan pintu rumahku, melihat keluar dan tak berpikir tentang apa-apa

Tapi saat pintu sudah tiada, dupa tak bisa dibakar sembarangan, kaleng-kaleng tak punya tempat berinang, anak-anak kecil berlari-lari kegirangan, kakek pemotong dahan rambutan, orang gila yang menyapamu ramah, nenek penjual buah dibawah pelepah kelapa, penjual kopi pecinta bola, anak kecil penjaga toko, lapangan merah ditumbuhi gedung, dan beranda sudah tiada, aku hanya bisa sekedar menulis puisi sederhana ini.

Selamat tinggal, rumah.

Sabtu, 12 November 2011

Sore depan danau

Maka sore itu kita habiskan duduk berdua, menukar beberapa buah kata sampai sambil menatap danau di depan kita

Senin, 07 November 2011

Sewaktu hujan datang

Sewaktu hujan datang, tiba-tiba bayanganku pergi ke jendela, menyelinap di balik di balik jeruji, kemudian pergi begitu saja lalu kembali saat hujan reda

Sejak saat itu aku tak memiliki bayangan saat hujan. Karena itu aku malu berjalan dibawah lampu saat hujan dan lebih memilih meringkuk sendiri di dalam kamar

Sabtu, 29 Oktober 2011

Tebak

Bisakah saya berbicara dengan diri saya sendiri walau saya sadar diri saya adalah saya dan diri saya di seberang ini bukan saya lewat sebuah jembatan supranatural buatan para Dewa?

Saya tidak sadar saat menulis puisi ini

Selamat malam, ini saya.
Ditengah malam yang anda anggap malam dan pagi yang dianggap pagi.
Sebagian dari kita bilang ini masalah persepsi, saya setuju. Bahkan itu saya sendiri sebenernya berpendapat seperti itu.

Maka apakah bisa dianggap berpendapat jika kita menyetujui pendapat kita sendiri? Mungkin bisa. Tp nieztche takkan setuju. Tapi mungkin gajah2 terbang, rembulan kembar yang enggan muncul setuju.

Saya? Saya selalu setuju

Kamis, 27 Oktober 2011

261011

Ini puisi saya untuk anda Nona Saya tahu tidak akan indah, saya belum cukup baik dalam perasaan macam ini.

Tapi yang saya tahu selama kita bergandengan tangan berdua, pergi ke ujung semesta pun tak pernah menjadi masalah

Ps: Ya, ini puisi untukmu, Nda :)

Selasa, 25 Oktober 2011

Dari puncak gedung

Beberapa sentimeter tidak pernah tampak lebih menakutkan daripada ini
Maksudku begini, kita adalah batu-batu dari langit dan akan menjadi abu jika mencapai bumi
Nyaris, jika memang anda hendak di kremasi

Kita ditelan pusaran angin
Siapa yang menduga bahkan ada burung terbang pada malam hari
Dan mendadak beberapa meter sebelum terkapar di tanah tak pernah tampak mencekam

Lalu kita kembali di puncak. Diam-diam akan kukirimkan pesan ke semesta sebelum nantinya udara akan membungkam suaranya
Selamat malam.

Senin, 24 Oktober 2011

Tinta merah

Kita adalah tinta merah di kalender
Sayang, pertemuan kita terlalu sempurna. Kemudian kita menjelma menjadi akhir minggu favorit masing-masing
Tapi bukankah kita memang adalah tinta merah di kalender?

Minggu, 23 Oktober 2011

Selamat malam, tapi Tak pernah saya ucapkan dan judul sebuah puisi sebaiknya tidak menggunakan titik kata guru saya dulu

Oh nona, hippolyta sudah lama tak bercerita Ia tinggal di gedung-gedung tinggi dan kau panggil itu gunung Dengan emas-emas, mengambil alih dunia, menyerah pada masa depan, dan sari-sari jeruk Kita berandai bahwa kita serupa dewa, berkebun apel dan mengusir dari taman firdaus pencuri kecil yang mencuri apel Sayang kita tak pernah lulus dari bangku sekolah, vitamin C terlalu menyakiti lambung, asam terlalu perih untuk antiseptik Menumbuk alung, kemudian anda berikan pada orang lain Berjalan-jalan ke bulan mungkin. Bukankah anda membawa hewan peliharaan anda berjalan-jalan. Dan kini semua masuk akal. Seekor kelinci di bulan, membuat mochi, berjalan-jalan, oh tidak. Oh tidak. Ya tuhan, aku tidak sedang bercanda kan? Ditengah kepungan asap, lagu dan soneta. Kita bacakan puisi untuk tembok. Semen yang mengering hanya menggangguk-angguk. Kita hidup di bumi. Kita tak pernah kehilangan akar. Kita selamanya berlayar di atas laut Untuk apa menjadi pelaut jika anda tidak romantis? Untuk apa menjadi bakau jika anda tidak berkelana diatas laut? Untuk apa menjadi Untuk apa Untuk Esok nanti kita akan bertemu setelah lambaian tangan. Pesta tak pernah berhenti. Kuharap pada akhirnya Kita tak berharap, aku lupa. Kuharap pada akhirnya Kau tak berharap, aku ingat Kuharap pada akhirnya Nanti balon-balon akan terbang di angkasa membawa doa-doa. (Kita, aku, kamu, sendiri-sendiri, bersama-sama. Aku tak tahu, kamu tak tahu, kita tak tahu. Tak pernah tahu)

Stanza

Bagaimana anda bisa melupakan stanzamu, tuan?
Mengatakan bahwa anda mencintainya bukanlah pilihan
Bukankah menatap layar-layar kaca menyala memang selalu menakutkan?

Sabtu, 15 Oktober 2011

Menulis, membaca, duduk, mendengarkan

Menulis puisi dan membacakannya kepada angin itu adalah urusanku
Sedang duduk sejenak dan mendengarkannya itu adalah urusanmu

Selasa, 11 Oktober 2011

Maka malam itu

Maka sejak malam itu aku memutuskan berhenti mencintaimu
Sejak angin menabrak dinding dan aku menyalakan dupa batang demi batang

Senin, 10 Oktober 2011

Perumpamaan di jalan raya

Jalanan adalah candumu
Gemeretak roda adalah nikotinmu
Raungan gas adalah simfonimu
Kecepatan adalah kafeinmu

Minggu, 09 Oktober 2011

Hai senja

Hai senja, semoga suatu hari kelak kau akan teringat (akan ingatan yang tergeletak) tentang mimpi yang tersadur aroma kemiri, dentingan kecapi (yang tak pernah ada dimana-mana) lalu membedakannya dengan beberapa malam lalu ketika ia bermimpi dan berharap hari ini adalah kemarin, kemarin adalah kemarin, dan esok adalah kemarin

Jumat, 30 September 2011

Selama anda menulis

Selama anda menulis, anda tak perlu apa-apa lagi
Tampak kasar mungkin, tapi bagaimana lagi?

September

September adalah bulan milik kaum-kaum:

Yang berdoa di tengah musim dingin di tengah benua dengan menerbangkan balon-balon ke angkasa sambil menggantungkan harapan
Yang mengirimkan sekelompok orang terpecundangnya menjelajahi sepersekian dari dunia
Yang berdoa dalam ekspedisi, berharap suatu saat akan tiba di suatu tempat dimana matahari terbenam di dalam lumpur
Yang ratusan juta penduduknya menyaksikan kotak bercahaya dan menari-nari kegirangan; dibodohi
Milik segelintir orang dari suatu kaum yang berharap di suatu saat September tak pernah ada dan selalu Oktober pada hari ini

Kamis, 29 September 2011

Perkalian

Dari kecil ia muak dengan satu kali satu yang tetap menjadi satu, entah kenapa
Ia tak habis pikir, dalam pikirannya perkalian membuat segala sesuatu menjadi jauh lebih besar. Karena itu ia benci setengah mati dengan satu kali satu yang tak berubah apa-apa dan bahkan lebih kecil dari satu tambah satu

Dan baru saja tadi pagi ia putuskan untuk berhenti membenci satu kali satu dan mulai membenci satu kali nol

Rabu, 28 September 2011

(...)

You don't know how I'm dying waiting for your birthday just because I want to text you and not feeling awkward about it.
Okay, this is not a poem. You caught me red handed.

Selasa, 20 September 2011

Tip

Pelayan yang membereskan meja kita nanti mungkin akan menangis jika tahu sudah kita selipkan tip beberapa puluh ribu untuknya
Mungkin untuk membeli obat untuk anaknya yang sakit, utangnya pada rentenir atau apalah

Tapi mungkin pada akhirnya kita yang menangis karena harus pulang sendiri-sendiri

Kotanya

Berani taruhan, ia tak pernah tahu betapa setengah mati kamu berharap hidup di kotanya
Membangunkannya pagi-pagi lalu mengajaknya sarapan disuatu tempat
Menjemputnya pulang lalu berjalan-jalan sambil tertawa-tawa
Memeluknya disaat ia membutuhkannya dan mengatakan bahwa kamu mencintainya disaat ia tak menyangkanya

Selamat Pagi Depok

Maaf-maafku tetap milikmu walau berkali-kali kau tolak dan kau ucapkan kalimat yang sama:
"Berhentilah meminta maaf."

Karena dimanapun aku lihat, wajahmu ada disana
Karena di sela-sela huruf pada puisi ini, suaramu selalu bergema

Tolong ucapkan selamat pagi dariku untuk kotamu lalu akan kuucapkan selamat pagi untuk kotaku dan berpura-pura bahwa kau memintaku melakukannya

Jumat, 16 September 2011

Merindukannya

Merindukannya? Jangan bercanda, siapa yang tidak?
Tapi siapa tahan selalu hidup dalam jendela, gemerincik rantai motor dan tetesan-tetesan oli?

Merindukannya? Jangan bercanda, siapa yang tidak?
Tapi siapa tahan jika matanya terpaku di masa lalu, duduk menatap sepatu, dan pura-pura tak tahu bahwa di depannya ada aku.

Di depannya ada aku

Rindu

Nanti pada malam-malam yang kuhabiskan sendiri,
tolong tuliskan surat padaku dan ingatkan bahwa aku selalu merindukanmu.

Kemudian akan kutangkap sayup-sayup rindumu bahkan saat kamu ragu

Minggu, 11 September 2011

Kamarnya

Beberapa jam tertidur didalam kontainer selalu terasa lebih panjang daripada berhari-hari berbaring di kasur kamarmu sambil berandai-andai peran mana cocok untuk tokoh yang mana. Satu persatu tapi ya itu, ia tetap memuja kasur kamarnya: Atap yang roboh di kamar mandinya. Dan pembatas di beranda lantai dua miliknya. Ruangan 7x3.5 meter itu tetap dan akan selalu menjadi kerajaannya

Pada akhirnya

Mimpimu terfabrikasi (akhirnya!) Dan kamu tak pernah harus tahu serapan dari bahasa mana kata itu karena kata tak pernah berwarna mungkin warna hijau sebenarnya terasa susu dan dari kuning selalu tercium aroma bambu siapa tahu? Kita tak pernah tahu asal mula kata nanti pada bulan Oktober ia akan pergi ke kotamu mungkin saat kamu ulang tahun, mungkin juga tidak mungkin kamu terima, mungkin juga tidak mungkin ia akan menghabiskan waktu-waktu sedih dalam pesawat pulang sembari berharap hujan turun lebat, mungkin juga tidak

Minggu, 04 September 2011

Diantara jemarimu

Maafkan atas inspirasi yang hilang perlahan diantara jemarimu Atas jari-jari telunjuk yang ada di kanan kirimu yang menunjuk-nunjuk Atas jari-jari manis yang melingkari cincin. Yang enggan dilingkari cincin. Yang ada terlingkari cincin

Rabu, 10 Agustus 2011

Antara Balkon, Saya, dan Anda

Duduk di balkon bagaimana mungkin saya mengira anda adalah saya? Saya sudah terbangun tadi pagi, menyeduh segelas kopi, langsung duduk di balkon sembari menatap jalanan melihat saya lantas mengira diri anda adalah saya. Tapi bagaimana mungkin? Anda beratus kilometer terpisah, mungkin terbangun mungkin tidak, tidak melakukan apa-apa selain muncul di pikiran saya dan diduga bahwa anda adalah diri saya oleh diri saya

Senin, 08 Agustus 2011

899 Kilometer

Maaf nona, ia tak pernah bisa cukup masuk ke dalam amplop. Sehingga dengan berat hati ia urungkan niatnya untuk dikirim sejauh 559 Mil lalu saat kau membuka amplop dirinya akan muncul. Romantis sih tidak, tapi ia rasa kamu akan tertawa.

Minggu, 31 Juli 2011

Tahu

Ya tentu saja saya tahu, tapi masalah mau tahu atau tidak itu urusan lain.
Anda mungkin suka ikut campur dan berpikir bahwa tau akan segala padahal segala hanyalah

Senin, 18 Juli 2011

Di sebuah TK

Bukankah menyenangkan bisa menggambar seenaknya dan menyerahkan penilaian mengenai gambar apa, titik tengah apa, gaya melukis apa pada orang lain?
Kita bisa menggambarkan tiga buah matahari, setengah garis sawah kemudian melingkarkan senyum pada sapi-sapi, sapi-sapi tak pernah tersenyum.

Penilaian itu kan milik kalian yang sudah dewasa. Bagi kami seluruh dunia tersenyum.

Minggu, 17 Juli 2011

Dari masa lalu

Dan pesawat-pesawat tempur kertas satu persatu mulai berterbangan

Selasa, 05 Juli 2011

Mimpi buruk

Makanya mimpi buruk lantas ia terbangun jendela masih enggan terbuka, matahari belum datang menyeruak masuk

Hujan turun

dia pun terbangun, hujan turun ia tak ingat sedang apa, dimana atau sekedar siapa ia yang ia tahu hanya satu: hujan turun

Jumat, 01 Juli 2011

Aku tak bertanya

Hampir bulan Juli,
 "Rumahku disana," ujarmu sambil menunjuk.
"Cijawura?"
Tanyaku.
 "Bukan, dekat Cicadas."
Dan aku menggeleng tak mengerti. Bukankah Cicadas itu bersebrangan dengan arah yang kamu tunjuk?
 "Kalau hatiku, sudah kutitipkan padamu." Lanjutmu. Aku diam.

 Bukankah aku tak bertanya itu?

Kamis, 23 Juni 2011

Sonet: Bandung Bulan Juni

Matahari membiarkanmu berkaca-kaca tapi ia takkan bisa menebak: siapa yang berdarah. Siapa yang menangis kamu bahkan tak peduli saat ia tak peduli
Dalam hati kau berharap amat sangat malam tak pernah datang maka ia berpura-pura saja senja ini selamanya
Yang tak kau ketahui menjadi apa yang kau tak tahu. Lantas kau takkan pernah tahu apa yang kau tak tahu. Karena itu disimpannya cinta terhadapmu diam-diam di hatimu. Dan bukankah memang ia berharap amat sangat kau juga akan menyimpan cinta terhadapnya diam-diam dihatimu?

Maka ia akan merindukanmu. Dengan rindu yang takkan ia katakan padamu, pada matahari, bahkan pada dirinya sendiri.
Seingatnya ia sudah mengatakan padamu bahwa ia akan menunggu sampai kapan ia tak tahu. "Selamanya," tapi tak pernah dikatakannya.

Dan ia diam saja mencium aroma malam. Senja tak sebaik itu. Matahari tak pernah peduli. Dan ia benci bulan setengah mati. "Dan bukanakah memang kita semua adalah pendosa?", ujarmu. Ia menggangguk tak peduli. Tapi kata-katamu serupa ayat suci baginya

"Maaf karena ia mencintaimu. Maaf karena kau tak mencintainya. Maaf untuk alasan-alasan," lagi-lagi tak ia pernah katakan.

Hati-hati ia berteman angin. Jadi saat sepatumu kering ia akan selalu berada disana. Ia berada dimana-mana. Mungkin saja ia hanya dapat menggumam rindu. Mungkin saja ia memang harus melupakanmu. Mungkin saja kamu harus melupakannya. Mungkin saja kalian memang harus seperti itu. Setidak-tidaknya kalian (atau setidaknya ia saja) masih punya kenangan saat kalian duduk berdua saja

Senin, 20 Juni 2011

Tentang seseorang

Aku sudah mencintai seseorang itu cukup

Sabtu, 11 Juni 2011

Menampar

Siang datang menerka sedang masa lalu datang menamparmu sedari tadi ia rasa hari sudah malam, bahkan mungkin sudah pagi lagi tapi ia tetap tak habis pikir kenapa siang selalu datang dan menerka lalu ia membiarkan masa lalu menamparnya sekali lagi kemudian ia berkata,

 "Sekeras, sesering, sesakit apa pun kau menamparku, yang menciptakanmu itu AKU!"

Selasa, 24 Mei 2011

Antara lantai lima dan seratus sekian kilometer per jam

ada bagian dari tangga darurat di gedung lantai lima ini yang membuatnya sedikit sama dengan saat ia berada diatas motor dengan kecepatan seratus sekian kilometer per jam dan tak pernah peduli lagi dengan pengguna jalan raya lain yang mengklakson-klakson liar atau saling menyalip tak tahu diri dan juga tentang masalah-masalah yang ia miliki sehari-hari karena ia tahu masalah baru ada jika ia sudah sampai pada suatu sempat, bukan saat diatas sepeda motor: Kesendirian

Dalam benaknya

dalam benaknya tak habis pikir kenapa ada dan selalu ada pikiran tentangmu bukankah semua semestinya sudah berakhir saat kamu bilang bahwa kamu tak bisa menjadi seseorang yang amat serupa dengan dirimu saat kemarin? Tapi bukankah memang tak harus menjadi seseorang seperti kemarin untuk berjalan bersama sampai besok? Atau setidak-tidaknya lima menit terakhir ini

Kamis, 19 Mei 2011

Terlanjur

lalu apa lagi? Semua kata-kata sudah terlanjur keluar perasaan sudah terlanjur mengalir kopi sudah terlanjur habis malam terlanjur larut masih pukul setengah setengah sembilan sebenarnya tapi bukankah setengah delapan saja menurutmu sudah terlalu malam?

Sore hari setelah dan sebelum purnama

bahasaku sederhana, engkau yang menerjemahkannya terlalu rumit bagaimana bisa pertanyaan "Ya" atau "Tidak" malah kau balas dengan rentetan jawaban tak henti? Puisiku sederhana, engkau yang membacanya terlalu lantang bagaimana bisa puisi lembut macam ini malah kau teriakkan seakan membangungkan yang mati? Patah hati itu sederhana, engkau yang membuatnya sulit (bukankah menyebalkan kalau akhir puisi ini tak berima? Tapi bagaimana lagi? Puisiku tak sulit, keinginanmu lah yang membuatnya terlalu rumit)

Minggu, 15 Mei 2011

Tentang cinta

mungkin ia jatuh cinta padamu, mungkin mungkin saja ia terjatuh dan melupakan tentang cinta dan ia hanya akan membiarkanmu pergi begitu saja

Rabu, 04 Mei 2011

Sonet tengah malam

maafkan karena kata maaf sudah terlanjur tercipta maaf karena ia sudah terlanjur bangun di malam hari dan enggan bermimpi. Apalagi tertidur lagi. (Apalagi mati). Dan bukankah memang sudah sejak kemarin ia menjelma manusia? Nak, kau tak pernah terbangun lantas tertidur lantas terbangun lantas berpikir bahwa kau masih tertidur lantas terbangun lantas tertidur lagi, ujar ayahmu saat kau terbangun lalu kau tak ingat lagi apakah kau memang berayah? apakah kau memang terbangun? apakah kau emang kau? lalu ia berjalan sendiri saja, melayang. lalu ia melayang sendiri saja, bersama saya. lalu ia melayang berdua saja bersama saya, ke semesta. lalu ia melayang ke semesta berdua saja bersama saya. ia melayang ke semesta berdua saja bersama saya. Tapi bukankah ia tak pernah ke semesta? ia melayang berdua saja bersama saya. Tapi bukankah ia tak pernah bersama saya? ia melayang sendiri saja. Tapi bukankah ia tak pernah bisa melayang? ia berjalan sendiri saja. (Dan ia tak pernah ingin diingat namanya) "Panggil aku 'Malam' saat pagi, 'Siang' saat sore, dan 'Sore' saat malam. Bukankah namaku akan selalu dan memang selalu mengundang rindu?" Ah nak, seharusnya jangan pernah kau duduk sendiri lantas berlari-lari dengan imajinasi. Racun! Racun! Racun!

Selasa, 03 Mei 2011

Jatuh cinta pada bulan

Ah nak, semestinya kau jangan pernah jatuh cinta pada bulan (terutama saat malam hari)

Selasa, 26 April 2011

Selamat malam, malam

Selamat malam, malam ujarnya sendiri mungkin kepada malam, mungkin ia sedang enggan berjalan sendiri dan menganggap malam teman yang paling baik ia bisa hitam dan melupakanmu hari ini namun ia memilih berjalan tidak sendirian malam ini dan menganggap malam datang kemudian terbang melayang lantas menghilang ia rasa sunyi serupa candu yang membuatnya datang dan pergi walau tak pernah melangkah keluar dari tempat ini sedari tadi Selamat malam, malam

Rabu, 13 April 2011

13

Setengah langkah dan ia masih saja berharap ucapanmu akan berubah atau sekedar memegang tangan kasarmu sekali lagi namun tetap saja malam memeluknya lebih erat

Kamis, 07 April 2011

Selamat malam

jadi malam ini dia duduk sendiri dalam hati berharap setengah mati ada yang datang dan bertanya, "Kenapa matahari tak pernah bosan terbit? Ah lupakan, kenapa kamu duduk dan diam saja sendiri?" lalu dia akan mencintainya sepenuh hati

Rabu, 06 April 2011

Pejalan kaki

maafkan, ia lagi-lagi berdarah ia selalu berada di sisi jalan yang salah, yang membuatnya bingung adalaha bukankah seharusnya pejalan kaki memang harus berjalan di sebelah kiri?

Senin, 04 April 2011

duduk berdua saja

mungkin ia duduk sendiri saja mungkin bersama tuan mungkin saja bersama Tuhan namun tetap saja ia tak meminta apa-apa mungkin Tuhan mendengar doanya namun enggan mengabulkannya, pikirnya sendiri. karena doa itu serupa minuman keras saat anda mabuk tak ada bedanya apakah yang anda minum itu tuak ataukah arak mungkin ia duduk berdua saja dengan Tuhan tapi tetap saja ia lupa tak tahu haruskah berdoa atau tidak ia rasa hidup seperti ini, doa tak membantu ia enggan menyalahkan Tuhan, apalagi dirinya, karena itu ia tetap saja keras kepala. Membatu. mungkin ia berdiri sedari tadi, siapa tahu? ia lupa untuk menutup doanya, kemudian ia sadar dan bingung sejak kapan ia mulai berdoa mungkin karena ia duduk berdua saja dengan Tuhan. Sedari tadi

Senin, 28 Maret 2011

Ode untuk sesuatu

Hari sudah malam nak tapi kita akan tetap melesat seperti ini bukankah memang kita ini selalu dan akan selalu serupa peluru? Bukankah memang kita diciptakan, selalu seperti itu sebagai apa kita hanya bisa menerka, tapi bukankah kita menganggap diri kita manusia? Lalu apa beda kita dengan peluru? Sekumpulan batu bahkan serumpun bambu? Kita akan selalu melesat seperti ini nak, selalu begini selamanya kita akan serupa peluru, terkadang batu esok hari mungkin bambu. Kita tak tahu, kita tak tahu bukankah kita menganggap diri kita manusia, nak? Kita akan selalu berada di tepi jalan selama jalan ini tak berujung

Senin, 21 Maret 2011

Waktu

Waktu itu tak abadi, kita yang abadi Yang selamanya itu selalu satu setengah detik, sedangkan satu menit adalah setengah keabadian

Semenjak

Semenjak udara terbakar, ia sudah lupa sejak lama untuk merajah wajahnya lagipula orang gila mana yang tak pernah berhenti berpuisi? Waktu itu merentang, sayang. Jauh. Bukankah kemarin kamu berharap ia tak berhingga? Lantas kenapa kamu tampak amat menyesal saat mati pagi hari ini? Lalu aku akan menggumam rindu tak henti-henti. Tak henti-henti hingga ia dianggap bid'ah, padahal orang macam apa yang tak pernah mendzikirkan sesuatu karena rindu?

Sabtu, 19 Maret 2011

Aku berandai-andai

Aku berandai-andai: bisakah jendela aku anggap sebagai hatimu? Jika bisa, dengan senang hati akan aku congkel dengan linggis kemudian menyelinap kedalamnya dan takkan pernah ingin keluar Aku berandai-andai: bisakah tebing aku anggap sebagai hatimu? Jika bisa, dengan senang hati aku akan melompat kemudian berharap untuk tak pernah jatuh membentur tanah Aku berandai-andai: bisakah hatimu aku anggap sebagai hatimu? Jika bisa, aku ingin menghilangkan hatiku, hatimu, lantas menggantikannya dengan hati kita

Jalanan itu tak pernah berujung

Bukankah ia memang benar-benar bisa berada dimana-mana? Saat tangan menggenggam stang dan mata menatap jalan sedang pikiran tak pernah memikirkan suatu tempat ia bisa kemana-mana saat ini, kan? Mungkin ke rumahmu (yang tak pernah ia tahu) mungkin ke hatimu (yang ia tak pernah tahu) atau setidaknya ke matamu (yang tak pernah ia tahu) Dan bukankah memang jalanan itu tak pernah berujung? Lalu ia bisa kemana-mana

Minggu, 06 Maret 2011

Rembulan

mungkin ini yang terakhir, siapa tahu? "Aku tak tahu," ujarku jujur dan bukankah memang aku selalu jujur padamu walau kamu tak henti-hentinya ragu (ah, aku tak pernah menyalahkanmu) mungkin nanti saat kita bertemu lagi hanya tinggal jemari yang tergetar menggerek batu pun tak mampu, paru-paru menghisap udara pun tak mau, air mata yang mengalir pun enggan keluar ia berharap bisa menghabiskan udara yang ada, dijadikan abu pun tak masalah dan bukankah memang aku selalu jujur padamu? ah betapa kamu selalu benar

Laki-laki dan kota

Ia eratkan kemejanya sambil berpura-pura itu jaket. Andai kamu bisa melihat betapa rapihnya ia di kemeja -kontras dengan yang biasanya kamu lihat: jeans belel dan kaos seadanya-. Aku rasa beberapa orang yang berpapasan dengannya dijalan bahkan sudah jatuh cinta padanya. Di tangan kanannya ia mengenggam badai sedang tangan kiri ia sembunyikan baik-baik payung merah jambu. Tetap saja ia berandai-andai tentang dimana kalian akan berada saat ini andaikan ia memilih menyambut ajakan tanganmu.

Kamis, 24 Februari 2011

Laut

Gadis itu diam saja saat bertanya dalam hati: "Mengapa air laut itu terasa asin?" --mungkin karena air matamu yang terus-menerus kamu kucurkan sejak pagi tadi-- kita tak pernah tahu Laki-laki itu ingin meminta maaf kepadamu tapi ia berdiri saja memandangimu dari jauh dari tadi --mungkin kamu memang ditakdirkan seperti ini, indah di lautan-- kita tak pernah tau

Selasa, 22 Februari 2011

Di sudut taman

Tadi pagi kau yakinkan aku bahwa kita akan bertemu nanti sore di sudut taman tapi bukankah sedikit menyedihkan kalau ternyata taman ini tidak bersudut?

Senin, 21 Februari 2011

Melindungimu

Waktu-waktu itu ia rasa akan lelah jika harus selalu menunggu ia lalu ia berharap. Sederhana saja. Jika kerinduannya tak bisa, maka semoga malam melindungimu.

Rabu, 16 Februari 2011

Cahaya

Ia pun berjalan sendirian saja, digerek paksa olehnya bayangannya. inginnya ia mengatakan selamat malam untukmu namun mendadak jarak antara pagar rumahmu dengan pintu rumahmu menjadi tak hingga, jadi ia urungkan saja niatnya. bukankah semua permintaannya sudah terkabul saat semua lampu jalan itu menyala? jadi pada malam itu ia putuskan untuk jatuh cinta pada cahaya namun tetap saja terasa berat saat ia berjalan menggerek bayangannya

Selasa, 15 Februari 2011

Lelaki pukul tiga dini hari

Pukul tiga dini hari ia berkata pada emaknya, "Mak, aku akan pergi membingkai kata, memprosa makna kemudian membantingnya hingga pecah berkeping-keping lantas orang-orang akan berteriak-teriak: 'Ini puisi! Ini puisi!' " Emaknya menggeleng, antara mengantuk dan tak peduli ia hanya membalas ringan, "Pergilah dan saat pulang carilah kunci di bawah tumpukan jerami." "Ah mak! Itu dia yang sedari tadi kucari! Inspirasi!" dan emaknya tertidur lagi. Esoknya pukul tiga dini hari laki-laki itu tak tampak lagi batang hidungnya mungkin dimakan angin, atau juga di simpan karang, apa bedanya? Yang jelas saat ini emaknya tak henti-hentinya berteriak-teriak: "Ini puisimu nak! Ini puisimu nak!"

Minggu, 06 Februari 2011

Isa

"Laki laki itu tak boleh menangis," ujar ibunya entah dimana ia cari kemana kebijakan itu, mungkin di balik buku-buku Dari ia kecil ibunya selalu berkata seperti itu: "Kita selalu mencari-cari diri kita dibalik lembaran-lembaran... kemarin buku, lalu hari ini ayat-ayat (suci)." Dan baru tadi pagi, benar-benar baru pagi ia dapat merasakannya "Hey! Aku tak pernah suci walau selalu bersuci! Aku tak pernah ada walau selalu terjaga! Dan Ayahku tak pernah pulang walau ibuku selalu duduk sendiri dirumah!" Dalam hati ia merasa dirinya Isa Tiba-tiba petir menyambar kemudian ia mati Sedang kita takkan pernah tau apakah ia benar-benar Isa atau anak haram jadah biasa

Kamis, 03 Februari 2011

Jika ia diperkenankan

Jika ia diperkenankan untuk mencintaimu 
Namun jika tidak boleh, duduk sendiri menulis puisi untukmu pun tak mengapa 

Jika ia deperkenankan mengirimkan puisi untukmu
Namun jika tidak boleh, duduk sendiri kemudian membacakannya untuk angin pun tak mengapa 

Jika ia diperkenankan membacakan puisi untuk angin
Namun jika tidak boleh, diam sendiri membaca dalam hati pun tak mengapa

Jika ia diperkenankan membaca puisi dalam hati
Namun jika tidak boleh, duduk saja di beranda rumahmu berharap kamu keluar pun tak mengapa

Ia takkan pernah menjadi penyair

Ia takkan pernah menjadi penyair, takkan pernah Menulis satu sajak saja tak mampu menggerinda gerigi dan celah jari untuk bernarasi pun takkan mau Ia takkan pernah menjadi penyair, takkan pernah Ia hanya mampu menyimak mana yang gigi lalu membedakannya dengan gusi mana yang nyala lampu dan mana yang nyala petromaks Namun tetap saja ia berkeliling kampung sambil berteriak-teriak

Minggu, 30 Januari 2011

Masakan

Sekarang pukul berapa pun ia tak tahu yang ia pikirkan sedari tadi sederhana saja, mungkin ia seharusnya memesan masakan yang matangnya lebih lama: 5 menit, 10 menit, selamanya setidak-tidaknya ia akan bersamamu saat menunggu

Sabtu, 22 Januari 2011

Kenapa juga

Kenapa juga kita masih duduk berdua saja padahal senja sudah datang sedari tadi dan bukankah kamu tadi berkata berkali-kali: "Aku harus sampai rumah sebelum maghrib." Kenapa juga kita masih berbicara berdua saja padahal sudah sedari tadi aku tak tahu apa yang harus kubicarakan Kurasa tak pernah masalah mendengar ceritamu yang tak habis-habis

Pada suatu malam

"Hari ini aku akan pergi ke Mekkah," begitu ujarnya pada suatu malam kepada istrinya karena itu dikosongkannya celengannya istrinya hanya menarik nafas kemudian berkata: "Haji itu selalu milik yang mampu." Ia terdiam, kemudian mulai dimasukkannya kembali satu persatu koinnya sambil berkata perlahan: "Haji itu milik yang mampu...haji itu milik yang mampu...haji itu milik yang mampu..." Berulang-ulang.

Revolusi

Johny membakar bendera lagi tadi pagi Lantas berteriak lantang: "Revolusi-revolusi!" Beberapa menit kemudian saya buru-buru berlari membawa bendera Sayang Revolusi ternyata tak pernah terjadi (Dan Johny ternyata berbohong (lagi))

Senin, 10 Januari 2011

Sebuah nasihat yang baik

Nak, suatu saat kamu akan terbangun dan enggan tertidur lagi pada saat kamu tak perlu berpikir apa-apa nikmati saja karena sebenarnya kita tak pernah perlu terlalu banyak tidur

Senin, 03 Januari 2011

Baru seminggu

Baru seminggu, ya benar-benar baru seminggu (waktu sesingkat itu kadang malah tak pernah cukup untuk berpikir) dan voila! Aku benar-benar tak tahu lalu: Bam! Remuk hatiku Baru seminggu, ya benar-benar baru seminggu (seminggu? Ah beberapa malah bilang tak sampai seminggu) akhirnya aku bisa tertawa-tawa dan berpikir memang semua ini salahku kemudian kau bunyikan lagi bel rumahku Tapi hey, aku lelaki! P.S. : Ada dirumahpun aku berpura-pura sedang keluar kemudian saat kau bertanya aku bisa beralasan sedang mengambil cucian. Kamu mungkin tahu aku berbohong, tapi hey! Aku tak peduli!