Minggu, 25 Desember 2011
Akan selalu hujan
Karena itu ia tak peduli pada juni atau desember
Musim kemarau atau hujan
Indonesia atau Ethiopia
Lampu
Sampaikan maafku pada sendal jepitmu, aku tak pernah cinta mereka
Lalu mereka akan memberitahukan diam-diam kepada bulan bahwa kau tak pernah cinta bulan
Lalu bulan akhirnya tahu bahwa tak pernah ada siapa cinta siapa kecuali aku dan engkau
Hio
Kamis, 15 Desember 2011
Kutitipkan
Aku ada di sini saat ini pun aku tak pernah tahu mengapa
Tapi nanti saat aku mati, yang kutinggalkan bukan hanya namaku
Bukan hanya tanah, gumpalan awan diangkasa, butir-butir batu dipekuburan
Maka dari itu saat aku mati, kutitipkan mimpi-mimpiku
(Dan nanti saat kau terbangun kau menyangka ini adalah mimpimu padahal selama ini kamu hidup dalam mimpiku)
Minggu, 27 November 2011
Ia mencintaimu
Abjad
Siapa yang tahu bahwa sebenarnya diantara lengkung "a" terdapat jutaan puisi milik saudara-saudara kita yang sedang jatuh cinta
Siapa yang tahu bahwa didalam "o" terdapat ruang tak berhingga yang tak pernah habis diisi oleh kata-kata kita
Nanti didalam kata-kata yang terdapat didalam "o", pada setiap huruf "o" didalamnya terdapat jutaan puisi yang tak pernah habis diisi oleh kita
Begitu seterusnya
Tapi walau begitu, doa kita terwujud kemarin saat seluruh dunia sebenarnya buta aksara
Seprai itu lautan
Mungkin karena itu sore ini kita hanya memandang tak percaya botol-botol kaca dihadapan kata-kata milik kata
+
Ya, itu tanda tambah. Anda tak salah lihat
Jumat, 18 November 2011
Telepon
Lalu aku sadar bahwa kau tak pernah menelepon di hari sabtu
Kamis, 17 November 2011
Selamat tinggal rumah
Bisa kupastikan aku sedang duduk didepan pintu rumahku, melihat keluar dan tak berpikir tentang apa-apa
Tapi saat pintu sudah tiada, dupa tak bisa dibakar sembarangan, kaleng-kaleng tak punya tempat berinang, anak-anak kecil berlari-lari kegirangan, kakek pemotong dahan rambutan, orang gila yang menyapamu ramah, nenek penjual buah dibawah pelepah kelapa, penjual kopi pecinta bola, anak kecil penjaga toko, lapangan merah ditumbuhi gedung, dan beranda sudah tiada, aku hanya bisa sekedar menulis puisi sederhana ini.
Selamat tinggal, rumah.
Sabtu, 12 November 2011
Sore depan danau
Senin, 07 November 2011
Sewaktu hujan datang
Sejak saat itu aku tak memiliki bayangan saat hujan. Karena itu aku malu berjalan dibawah lampu saat hujan dan lebih memilih meringkuk sendiri di dalam kamar
Sabtu, 29 Oktober 2011
Tebak
Saya tidak sadar saat menulis puisi ini
Ditengah malam yang anda anggap malam dan pagi yang dianggap pagi.
Sebagian dari kita bilang ini masalah persepsi, saya setuju. Bahkan itu saya sendiri sebenernya berpendapat seperti itu.
Maka apakah bisa dianggap berpendapat jika kita menyetujui pendapat kita sendiri? Mungkin bisa. Tp nieztche takkan setuju. Tapi mungkin gajah2 terbang, rembulan kembar yang enggan muncul setuju.
Saya? Saya selalu setuju
Kamis, 27 Oktober 2011
261011
Tapi yang saya tahu selama kita bergandengan tangan berdua, pergi ke ujung semesta pun tak pernah menjadi masalah
Ps: Ya, ini puisi untukmu, Nda :)
Selasa, 25 Oktober 2011
Dari puncak gedung
Maksudku begini, kita adalah batu-batu dari langit dan akan menjadi abu jika mencapai bumi
Nyaris, jika memang anda hendak di kremasi
Kita ditelan pusaran angin
Siapa yang menduga bahkan ada burung terbang pada malam hari
Dan mendadak beberapa meter sebelum terkapar di tanah tak pernah tampak mencekam
Lalu kita kembali di puncak. Diam-diam akan kukirimkan pesan ke semesta sebelum nantinya udara akan membungkam suaranya
Selamat malam.
Senin, 24 Oktober 2011
Tinta merah
Sayang, pertemuan kita terlalu sempurna. Kemudian kita menjelma menjadi akhir minggu favorit masing-masing
Tapi bukankah kita memang adalah tinta merah di kalender?
Minggu, 23 Oktober 2011
Selamat malam, tapi Tak pernah saya ucapkan dan judul sebuah puisi sebaiknya tidak menggunakan titik kata guru saya dulu
Stanza
Mengatakan bahwa anda mencintainya bukanlah pilihan
Bukankah menatap layar-layar kaca menyala memang selalu menakutkan?
Sabtu, 15 Oktober 2011
Menulis, membaca, duduk, mendengarkan
Sedang duduk sejenak dan mendengarkannya itu adalah urusanmu
Selasa, 11 Oktober 2011
Maka malam itu
Sejak angin menabrak dinding dan aku menyalakan dupa batang demi batang
Senin, 10 Oktober 2011
Perumpamaan di jalan raya
Gemeretak roda adalah nikotinmu
Raungan gas adalah simfonimu
Kecepatan adalah kafeinmu
Minggu, 09 Oktober 2011
Hai senja
Jumat, 30 September 2011
Selama anda menulis
Tampak kasar mungkin, tapi bagaimana lagi?
September
Yang berdoa di tengah musim dingin di tengah benua dengan menerbangkan balon-balon ke angkasa sambil menggantungkan harapan
Yang mengirimkan sekelompok orang terpecundangnya menjelajahi sepersekian dari dunia
Yang berdoa dalam ekspedisi, berharap suatu saat akan tiba di suatu tempat dimana matahari terbenam di dalam lumpur
Yang ratusan juta penduduknya menyaksikan kotak bercahaya dan menari-nari kegirangan; dibodohi
Milik segelintir orang dari suatu kaum yang berharap di suatu saat September tak pernah ada dan selalu Oktober pada hari ini
Kamis, 29 September 2011
Perkalian
Ia tak habis pikir, dalam pikirannya perkalian membuat segala sesuatu menjadi jauh lebih besar. Karena itu ia benci setengah mati dengan satu kali satu yang tak berubah apa-apa dan bahkan lebih kecil dari satu tambah satu
Dan baru saja tadi pagi ia putuskan untuk berhenti membenci satu kali satu dan mulai membenci satu kali nol
Rabu, 28 September 2011
(...)
Okay, this is not a poem. You caught me red handed.
Selasa, 20 September 2011
Tip
Mungkin untuk membeli obat untuk anaknya yang sakit, utangnya pada rentenir atau apalah
Tapi mungkin pada akhirnya kita yang menangis karena harus pulang sendiri-sendiri
Kotanya
Membangunkannya pagi-pagi lalu mengajaknya sarapan disuatu tempat
Menjemputnya pulang lalu berjalan-jalan sambil tertawa-tawa
Memeluknya disaat ia membutuhkannya dan mengatakan bahwa kamu mencintainya disaat ia tak menyangkanya
Selamat Pagi Depok
"Berhentilah meminta maaf."
Karena dimanapun aku lihat, wajahmu ada disana
Karena di sela-sela huruf pada puisi ini, suaramu selalu bergema
Tolong ucapkan selamat pagi dariku untuk kotamu lalu akan kuucapkan selamat pagi untuk kotaku dan berpura-pura bahwa kau memintaku melakukannya
Jumat, 16 September 2011
Merindukannya
Tapi siapa tahan selalu hidup dalam jendela, gemerincik rantai motor dan tetesan-tetesan oli?
Merindukannya? Jangan bercanda, siapa yang tidak?
Tapi siapa tahan jika matanya terpaku di masa lalu, duduk menatap sepatu, dan pura-pura tak tahu bahwa di depannya ada aku.
Di depannya ada aku
Rindu
tolong tuliskan surat padaku dan ingatkan bahwa aku selalu merindukanmu.
Kemudian akan kutangkap sayup-sayup rindumu bahkan saat kamu ragu
Minggu, 11 September 2011
Kamarnya
Pada akhirnya
Minggu, 04 September 2011
Diantara jemarimu
Rabu, 10 Agustus 2011
Antara Balkon, Saya, dan Anda
Senin, 08 Agustus 2011
899 Kilometer
Minggu, 31 Juli 2011
Tahu
Anda mungkin suka ikut campur dan berpikir bahwa tau akan segala padahal segala hanyalah
Senin, 18 Juli 2011
Di sebuah TK
Kita bisa menggambarkan tiga buah matahari, setengah garis sawah kemudian melingkarkan senyum pada sapi-sapi, sapi-sapi tak pernah tersenyum.
Penilaian itu kan milik kalian yang sudah dewasa. Bagi kami seluruh dunia tersenyum.
Minggu, 17 Juli 2011
Selasa, 05 Juli 2011
Mimpi buruk
Hujan turun
Jumat, 01 Juli 2011
Aku tak bertanya
"Rumahku disana," ujarmu sambil menunjuk.
"Cijawura?"
Tanyaku.
"Bukan, dekat Cicadas."
Dan aku menggeleng tak mengerti. Bukankah Cicadas itu bersebrangan dengan arah yang kamu tunjuk?
"Kalau hatiku, sudah kutitipkan padamu." Lanjutmu. Aku diam.
Bukankah aku tak bertanya itu?
Kamis, 23 Juni 2011
Sonet: Bandung Bulan Juni
Dalam hati kau berharap amat sangat malam tak pernah datang maka ia berpura-pura saja senja ini selamanya
Yang tak kau ketahui menjadi apa yang kau tak tahu. Lantas kau takkan pernah tahu apa yang kau tak tahu. Karena itu disimpannya cinta terhadapmu diam-diam di hatimu. Dan bukankah memang ia berharap amat sangat kau juga akan menyimpan cinta terhadapnya diam-diam dihatimu?
Maka ia akan merindukanmu. Dengan rindu yang takkan ia katakan padamu, pada matahari, bahkan pada dirinya sendiri.
Seingatnya ia sudah mengatakan padamu bahwa ia akan menunggu sampai kapan ia tak tahu. "Selamanya," tapi tak pernah dikatakannya.
Dan ia diam saja mencium aroma malam. Senja tak sebaik itu. Matahari tak pernah peduli. Dan ia benci bulan setengah mati. "Dan bukanakah memang kita semua adalah pendosa?", ujarmu. Ia menggangguk tak peduli. Tapi kata-katamu serupa ayat suci baginya
"Maaf karena ia mencintaimu. Maaf karena kau tak mencintainya. Maaf untuk alasan-alasan," lagi-lagi tak ia pernah katakan.
Hati-hati ia berteman angin. Jadi saat sepatumu kering ia akan selalu berada disana. Ia berada dimana-mana. Mungkin saja ia hanya dapat menggumam rindu. Mungkin saja ia memang harus melupakanmu. Mungkin saja kamu harus melupakannya. Mungkin saja kalian memang harus seperti itu. Setidak-tidaknya kalian (atau setidaknya ia saja) masih punya kenangan saat kalian duduk berdua saja
Senin, 20 Juni 2011
Sabtu, 11 Juni 2011
Menampar
"Sekeras, sesering, sesakit apa pun kau menamparku, yang menciptakanmu itu AKU!"