Rabu, 23 Desember 2009
Akulah hitam
Yang menelusup riang di dalam hatimu, kemudian menghapus kelam
Tapi hei, aku gelap? Kelam mana yang tidak tunduk pada gelap?
Lalu kemudian aku (harap) akan menjadi senja yang menolak dikatakan pagi atau malam
Pernahkah kau berandai-berandai, kenapa diantara biru dan hitam hanya ada jingga?
Karena hitam itu adalah masa lalu, biru adalah masa depan, dan jingga itu tak pernah ada
Dan aku masih tetap saja hitam kan?
Jumat, 18 Desember 2009
Abstrak
Dan mata tak tuli selagi telinga tak pernah buta
Lalu kataku tak lagi bermakna selama buta tak pernah melihat
Kemudian perih mengalir sepi tak seberapa lama selama duka tak mengalir lama
Rabu, 16 Desember 2009
Satu tiga kali
Impianmu dihancurleburkan
Oleh angka satu, ya hanya satu
Satu yang berjejer tiga kali
Bagai bedil mereka membidikmu
Mengarahkan moncong-moncong mereka tepat ke arah matamu
Dan sebelum sempat bernafas, kau sudah tak berada disini
Yang menyedihkan bukan kehilangan impian
Yang menyedihkan mempermalukan
(tapi bukan dirimu)
Selasa, 15 Desember 2009
Keping
Sekeping hatiku untukmu
Kemudian sekeping lagi
Lalu sekeping lagi
Sekeping lagi
Hei, sejak kapan kamu memiliki seluruhnya?
Minggu, 13 Desember 2009
Puisi ini untukmu dan tak berbasa-basi
Kau tahu aku selalu tersenyum tanpa henti
Saat mendengar suaramu
Tak aneh memang
Tapi aku tersenyum seharian
Aku ingin menulis 4 bait puisi malam ini
Aku ingin menulis 4 bait puisi malam ini
Satu tentang aku
Satu tentang kamu yang tak ada habis-habisnya
Satu lagi tentang kita
Baru bait kedua, kata-kataku sudah habis
Aku? Aku yang mana?
Kamu? Kamu yang mana?
Kita? Kita yang mana?
Ah lagi-lagi hanya mampu sebanyak ini
3 bait puisi yang tak jelas tentang siapa
Entah kamu, aku, atau kita
Akan kucoba lagi, nanti suatu malam
Jutaan dan satu
Berdua denganmu kurasa tak begitu menyedihkan
Ada dirimu, matamu, suaramu
Jutaan dirimu, dan aku
Lalu jutaan dirimu dan jutaan diriku
Kemudian hanya aku dan kamu
Aku dan kamu
Aku dan kamu
Sabtu, 12 Desember 2009
Kalau aku hujan
Akan kubisikkan kata-kata cinta dengan lembut di setiap tetesku
Kemudian ia akan meresap ke dalam tanah
Lalu ke dalam hatimu
Dan suatu hari nanti, aku sungguh berharap kamu akan merindukanku
(yang turun rintik-rintik)
Jumat, 11 Desember 2009
Kebetulan
Kebetulan saja aku berada disitu
Lalu kau menangis keras-keras seakan aku tempat peraduanmu
Dan aku hanya bisa tersenyum, berdusta saat berkata
"Semua akan baik-baik saja"
Aku tak tahu tentang kemarin dan yang sudah-sudah
Atau juga tentang yang akan terjadi esok nanti atau sedetik lagi
Yang aku tahu aku dan kamu berada disini
Lalu kau tersenyum cerah
Dan mendadak aku tak lagi berada disitu
Sabtu, 05 Desember 2009
Ayah
Seberapa aku cinta ayahku tanyamu?
Andaikan kalau aku mati bisa membuat ia tersenyum, sungguh aku akan mati sepuluh kali agar dia tertawa
Selasa, 01 Desember 2009
Senin, 30 November 2009
Yah,kurasa tak mengapa
Pada akhirnya bukan hujan,pelangi, atau langit cerah yang menyapaku
Tapi gelap...
Minggu, 29 November 2009
Dan kepalaku sakit
Dan kepalaku sakit, itu respon pertamaku
Aku tak sempat berpikir tentang suka, duka, atau cinta
Atau juga tentang dirimu
Apalagi tentang kita
Dan kepalaku sakit, tetap begitu
bermain dengan keterdesakkan tapi tak terbayang tentang kelapangan
Kemudian memberontak, muak
Terhadap kebodohanmu, pemaksaanmu, pembencianmu
Namun pada akhirnya definisiku tentang cinta tetap sama:
kamu
Dan kepalaku sakit, lagi...
Senin, 23 November 2009
Aku tak sengaja membunuhmu
Maaf kurasa, aku tak bermaksud begitu
Semestinya kita tak pernah bertemu
Dan lalu, air matamu memburu
Kukira sejenak lalu dan waktu keras bertalu-talu
Ah aku muak dengan segala kata-kata ini dan huruf "u"
Bukankah sudah kukatakan bahwa aku bersalah padamu?
Dan mohon semohon-mohonnya agar kau memaafkanku
Kau sendiri kan yang berkata padaku,
"Silakan buka dan ambil hatiku"
Surati aku
Surati aku jika sampai
Suatu waktu, jika kau mengerti
Suatu tempat dimana pada akhirnya kau merindukanku
Dan aku akan tetap sabar menunggu
Menunggu, menunggu, menunggu
Sampai habis waktuku
Minggu, 22 November 2009
Kamis, 19 November 2009
Selasa, 17 November 2009
Aku mencintaimu
Sudahkah kukatakan bahwa aku mencintaimu? Ah aku lupa
Tapi untuk berjaga-jaga saja andai aku lupa:
"Aku mencintaimu"
Debu debu
Diusapnya wajahnya dengan debu
Sudah tujuh kali dalam seminggu ia mengairi sungai tak pernah kering
Namun sedihnya tak hilang-hilang
Bukankah ia ada,
Lalu tiada?
Ia tak tahu
Dan tak pernah tahu
dan tak ingin tahu
Sialan
Jumat, 13 November 2009
Rabu, 11 November 2009
Abstrak
Bukankah selalu menyenangkan untuk menghitung satu dua tiga
dan tak pernah berhenti berharap
walau harapan itu mainan, dan kenyataan kadang menjadi hal yang menyakitkan
kemudian memuisikan rasa sakit dan mengeja kata-kata cinta walau terbata
Sabtu, 07 November 2009
Aku sebagai gelap
Kau berpikir:
"Kenapa aku selalu sepi dan tak ada yang menemani
di sudut kamar sendiri
di tengah gelap terbaring mati
Bukankah ada aku
Yang menjadi gelap saat kau di sudut kamar sendiri
Yang menjadi hitam suatu saat ketika kau terbaring mati
Selasa, 03 November 2009
Bulan Purnama
Lucu memang, dan kita tertawa untuknya
Terpisah ribuan kilo namun tetap melihat hal yang sama
Cahaya putih berkilat, berpendar kuat di langit malam
Lalu aku bersyukur memiliki nama yang indah
Jumat, 30 Oktober 2009
Kukira puisi ini untukmu
Saya rindu terhadap gelap yang sesaat kau tinggalkan
Atau kepada aroma rintik-rintik basah yang duduk merendah saat kau hadir
Warna pucat semburat yang mendadak mengisi celah di atmosfir
Cahaya tak terbatas yang menyembur dari harapan kehadiranmu
Saat kau tak ada atau tak ada
Bermain-main dengan waktu yang berpikir akankah dirimu hadir dari celah-celah mimpi
Terlalu sopan puisiku kali ini
Kamis, 29 Oktober 2009
Membenci orang baik
Untuk sekali ini, kumohon jangan menjadi orang baik
Sedetik saja lalu kukeluarkan jutaan umpatan untukmu
Ah aku tak pernah bisa membenci orang baik...
Selasa, 27 Oktober 2009
Aku menulis apa sebenarnya?
Dari sekawanan kura-kura liar
Yang melompat-lompat lincah, seekor
Impala
Lalu kau dirikan tinggi-tinggi
Menara, yang lebih tinggi
Lebih tinggi, semakin tinggi lalu jatuh
Sebuah jembatan hancur, impian berserakan
Sungai meluap-luap, nyanyian mengebiri impian
Kotak-kotak menutupi wajah, deretan angka bergantian mengisi celah kosong
Kertas-kertas yang berhamburan
Pena yang kau sangka mengering mendadak mengalir kembali
Tapi kau tak berpuisi kali ini, kau sangka dirimu gila
Kau sangka dirimu gila
Kau sangka dirimu gila
Ah, kau normal namun kau harap dirimu gila
Lalu kau menjadi gila, lalu kau berharap menjadi normal
Orang normal yang menjadi gila lalu berharap menjadi normal, kau harap gila orang-orang yang beberapa kali menganggapmu gila walau kau tahu orang tak bisa dijadikan gila hanya dengan harapan
Lalu kau sadar kalau kau harap dirimu menjadi gila
Aku gila, lalu kutinggikan menara, kura-kura yang menjelma menjadi impala, pena diatas kertas, gempa yang mengisi sungai kembali
Aku menulis apa sebenarnya?
Tak tahu
Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tak mau berada di sini?
Membuang-buang waktu, berjudi ketika menanti
Aku tahu kau takkan datang, jadi untuk apa menunggu semenit lebih lama?
Ah aku tak tahu, sungguh tak tahu
Kamis, 22 Oktober 2009
I love you
A: "I hate the words 'I love you' "
N: "Why?"
A: "Well, simply because I never can actually use it. "
N: "That's a silly reason! I love you, you know. Does it make you hate me for using words you hate?"
A: "Nope! Because I love you too"
N: "Hey! But you said that you hate the words 'I love you' !
A: "Oh yeah? Well, think it as I'll do everything, even the things that I hate to tell you that I love you"
N: "That's stupid..."
A: "Yeah... but I love you"
N: "Cut it out, you make me blush"
A: "I love you even though I hate ' I love you'..."
Sabtu, 17 Oktober 2009
Taman
Sayang aku tak bisa hadir saat bungamu mekar
Mungkin ia tak pernah tahu tentang cerita-cerita
Saat aku menemanimu menyiraminya
Tertawa-tawa riang saat matahari sedang terik-teriknya
Ia mungkin tak pernah tau tentang kisah-kisah
Tentang malam yang kau habiskan berdua hanya dengannya
Atau tentang terik matahari yang kau takutkan akan merontokkannya
Lalu tentang kedatanganku yang sia-sia
Ah, kenapa selalu badai saat kamu tersenyum?
Love in another outer space
Another buzzer buzzed your mind
Leave the other empty, the other forgotten
Foreign kisses, something you can't recall from your memory
And you hope it's forever, we sure do
For it's too good, you think heaven already come to earth
...or maybe in Venus? Mars? Pluto?
Your leg move into nowhere, but your head move to stars
The unbreakable chain of happiness, shoot down a meteor that came slowly
And you feel like everybody is alien and you're the normal one
Minggu, 11 Oktober 2009
Eksibisi kata
Tadi malam aku tahu-tahu bermimpi tentangmu
Membicarakan tentang hal-hal yang tak pernah terucapkan
Tentang kenapa mendadak kau mendadak menghilang
Mencaci makiku tanpa alasan
Masih kulihat kau seperti terakhir kali kulihat
Tawamu, perubahaan moodmu yang mendadak
Tawamu
Tawamu
Dan tak pernah kusangka, kukira ini sudah lama hilang
Aku merindukanmu
Sungguh
MF
F: "Tak bisakah kamu berhenti berpura-pura?"
M: "Berpura-pura? Berpura-pura apa?"
F: "Berpura-pura bahwa kamu tak pernah menyukaiku"
M: "...tapi aku memang tak pernah suka padamu..."
F: "Bukankah sudah kukatakan untuk berhenti berpura-pura?"
M: "...maaf..."
F: "Ah, ya. Dan berhentilah meminta maaf."
M: "....lalu aku harus berkata apa?"
F: "Bukankah ada jutaan kata lain yang bisa kau pilih? Yang kularang hanya 'Maaf' dan kata-kata 'Aku tak menyukaimu'"
M: "T,tapi. Mengapa?"
F: "Masihkah perlu bertanya?"
M: "Apakah orang yang tak mengerti tak punya hak untuk bertanya?"
F: "Tapi orang yang sudah MENGERTI tak berhak untuk Bertanya"
M: "Mengerti? Tapi aku sungguh tak mengerti. Mengapa?"
F: "Jangan biarkan perasaan hatimu menutupi pengetahuan otakmu..."
M: "....jadi.... maksudmu..."
F: "...teruskan kalimatmu..."
M: "Jadi ....kamu juga menyukaiku? Begitu?"
F: "...ah, akhirnya kau menyadarinya..."
Jumat, 09 Oktober 2009
Menunggu hujan reda
Suatu sore di halte kau sibuk menyimak suara hujan turun
Kau bernyanyi-nyanyi riang seakan hujan hanya diturunkan untukmu
Kau biarkan orang-orang yang menatapmu heran
Suara tawamu tak pernah berhenti
Kemudian mendadak kau diam, menoleh padaku
"Apakah hujan masih turun?"
Aku menggeleng
Kemudian kau menghilang bersama rintik terakhir hujan sore ini
Jumat, 02 Oktober 2009
Part time angel part time devil
You are not an angel nor devil
Sometimes I hope you become the total devil
So that I can blamed you, yelled and sweared at you even for no reason
Or in the other time you can be the angel
For that you can singing,
Bringing light, enlighten the strange
That's why I like you for you are
Jumat, 25 September 2009
Mari sejenak kita berpikir (tidak?) seperti penjahat
Ya, aku tahu aku akan mati. Bahkan para begundal yang paling rusak sekalipun tidak akan mengingkari kalau ia akan mati pada akhirnya. Tapi apa lantas aku berharap untuk mati? Tidak. Apa aku kemudian menghindari kematian? Tidak. Menunggu? Tidak. Pasrah? Tidak. Menjemput? Tidak. Mati ya mati, tak usah di apa-apa kan.
Yang membunuh pada akhirnya bukan peluru, belati atau yang lain. Yang membunuh selalu perasaan. Ya, perasaan. Sederhana. Entah pikiranmu, entah pikiran orang lain yang membunuh. Kalau kamu hidup tapi dianggap mati oleh semua orang, apa masih berguna sisa hembusan nafasmu? Dan kalau memang kita telah mati tapi orang menganggap kita masih hidup, apa ada yang berkeberatan?
Aku tahu Tuhan itu Maha Besar dan aku tahu Ia punya kuasa untuk menerima semua doaku. Lalu kau berpikir apakah aku akan berdoa untuk masuk ke surga? Tidak. Apa aku berdoa agar aku dijauhi dari neraka? Tidak juga. Aku malu berdoa semacam itu sedangkan dosaku membabi buta. Jika aku memang harus berdoa, doa yang aku panjatkan ialah agar neraka tidak terlalu panas. Sederhana kan? Setidak-tidaknya dengan itu aku mengakui dosa-dosaku dan aku mengakui keberadaan Tuhan dengan caraku sendiri
Senin, 21 September 2009
Rainbow girl
Even the rainbow will bow to you
For your smile, the cure of all sickness
For the unspoken sound, even make the raging storm calm
For the neverending colors, everlasting than the rainbow itself
Minggu, 20 September 2009
Lailatul Qadr?
Suatu hari kamu menyapaku perlahan:
"Apa ada yang tersembunyi saat yang disembunyikan tak lagi tersembunyi?"
Aku tersenyum menjawab,
"Kalimat sapaan macam apa itu?"
Aku lalu teringat pada malam-malam yang habis dalam sendiri
Ada
Berpuasa itu apa maksudnya?
Menyembah itu apa maksudnya?
Ada itu apa maksudnya?
Kita itu apa ada kah artinya?
Jumat, 18 September 2009
Yang datang mengiba
Kau kunci rapat-rapat matamu
Dari cahaya terang, dari
Matahari
Aku tahu aku mencintaimu
Tapi kurasa kamu terlalu lama mencintai sepi
Terlalu lama sampai membenciku
Tapi aku bukan sepi
Aku nyanyian yang mengantarmu tidur
Sabtu, 12 September 2009
Gerimis kala badai
Kadang-kadang aku menjadi orang bodoh
Yang berlarian liar diantara orang-orang
Mencuri sedikit kebahagiaan
Tertawa-tawa lepas tanpa tujuan
Atau dikemudian hari aku menjadi
Gerimis kala badai
Rintik-rintik hujan kecil saat hujan menggila
Sejumput garam di samudra antartika
Rabu, 09 September 2009
Oh yes, I'm also a sinner
Strange man walking down the street
Walking down the street
No gun, no fun
No gun, no fun
Someone run
The other crumbs
Dream shattered
I'm a sinner
Selasa, 08 September 2009
Something that feels like never ending
. . .
. . .
. . .
Oh crap, I could do this forever . . .
. . .
Minggu, 06 September 2009
Kita tak perlu menangis
Kita biarkan saja urusan tangis-menangis ke kaum yang bodoh
Karena selagi suara ini lantang mengumpat
Kita sisakan air mata ini tumpah lain kali
Mungkin besok
mungkin lusa
Mungkin sesaat sebelum kita mati
Tapi kalau memang sudah benar-benar tak tahan
(aku akan bersembunyi) lalu menangis keras-keras
Senin, 31 Agustus 2009
Bukankah kamu ingin membakar dan merusak segala?
Angin berputar-putar ringan di kepalamu
Tetap juga tak kau bisa rasakan aroma wangi udara yang mengelilingimu
Suara biola, piano, denting harpa yang terdengar
Menyedihkan, ia malah menjadi nyanyi sunyi untukmu
Suatu waktu kamu menyesal atas ketidakberadaan
Dilain waktu kamu menyesal atas keberadaan
...dirimu
Kamu ingin marah, memberontak, menganggap sampah semua yang menganggapmu sampah
Mengobrak-abrik pikiranmu, menjungkirbalikkan pemahamanmu
Menyobek semua lembaran buku yang pernah kamu baca
Kamu bosan terhadap eksistensi
"Bersyukur? Aku bahkan tak pernah minta untuk dilahirkan"
Kau berani berkata seperti itu
Walau kamu tahu kamu takut terhadap Tuhanmu, entah kenapa kamu tak ingin menarik pernyataan itu
Bukankah kemarin kamu telah datang dan berkata dengan lantang
"Aku ini perusak segala"
Kamis, 27 Agustus 2009
Saat kamu
Aku ingin hujan turun saat kamu ada
Karena saat itulah kehangatan darimu akan semakin terasa
Aku ingin angin berhembus kencang saat kamu datang
Karena saat itulah kamu akan tahu betapa kuatnya perasaan cinta ini
Aku ingin maut datang saat kamu dan aku bersama
Karena pada saat itulah kamu akan tahu bahkan maut tak bisa memisahkan kita...
Sabtu, 22 Agustus 2009
Jika aku
Jika aku api, kamu udara tak beroksigen
Jika aku tanah, kamu tanaman kering gersang
Jika aku mati, kamu lubang galian semalam
Jika aku banjir, kamu sampah-sampah menggunung
Jika aku Amerika, kamu seluruh dunia
Jika aku mata, kamu gelap kelam
Jika aku gorden, kamu cahaya terang
Jika aku pena, kamu tinta yang kering
Kamis, 20 Agustus 2009
Di depan padang rumput hijau
Dan aku tak gila saat pepohonan berbisik,
"Matilah, dan biarkan kami hidup"
Selasa, 18 Agustus 2009
Kereta terakhir di hari minggu
Sembari dikebiri pikiranku sendiri, impianmu berjalan mengawang-awang:
Anak-anak kecil yang berlarian riang
Mimpi-mimpi baru yang mendadak menjadi usang
Kamu bius pikiranku dan saat itu aku berani bertaruh opium akan kehilangan singgasana
Lalu kau berbicra tentang ini, ini, dan ini
Aku bertanya,"Tak bisakah kau bicarakan tentang itu?"
Kau berteriak-teriak kesetanan,
"Itumu sudah lewat! Ia telah menjelma menjadi kereta terakhir di hari minggu!"
Lantas kau buat aku menyesal mendengarmu mengoceh-merancau
Ah sial, lagi-lagi aku harus tidur di masjid stasiun malam ini
Romantis berakhir tragis
Saya tahu saya sedang mencoba untuk romantis
Walau tahu pujianku tak lebih mampu menimbulkan lebih dari senyum meringis
Namun anda adalah objeknya
Walau kadang mati ditabrak sebuah objek asing
Lalu anda tertawa, entah menangis
Ah tragis
Minggu, 16 Agustus 2009
Lagi-lagi
Ah lagi-lagi aku memikirkanmu
Lalu melupakan bahwa semestinya aku sudah lupa
Dan berandai-andai
Andai saja kamu (masih mau) tahu
Kamis, 13 Agustus 2009
Sendiri di pojok kamar
Selamat malam bung
Selagi anda sibuk melanglang buana
Saya sibuk memandang terpesona
Tapi membosankan memang memandang tembok putih yang tak pernah berubah
Saat anak lain sibuk mengubah dunia, saya merasa diri saya tak berguna
Selasa, 11 Agustus 2009
Sabtu
Semua pada akhirnya kosong
Lantas menghilang
Maka tak bisakah kau membiarkan aku duduk tenang di bangku taman?
Maaf aku memplagiatmu di hari sabtu semurni ini
Minggu, 09 Agustus 2009
Satu larik lagi
Kucoba rangkai kata-kata ini
Untuk menjadi satu larik
Kemudian satu larik lagi
Satu larik lagi
Satu larik lagi
Satu larik lagi
Kurang satu larik lagi
Satu larik lagi
Sabtu, 08 Agustus 2009
Saat ini
Dalam hatiku ini saat ini
Jujur, aku takkan bisa seromantis Sapardi
Tak bisa juga meledak-ledak dengan indah
Entah, semestinya aku kagum dengan Marcos
Tapi aku mencintaimu, sederhana
Pada akhirnya kau akan terbakar juga
Pada akhirnya
Inspirasimu akan terbakar
Lalu abunya kau panggil imajinasi
Ampasnya kau panggil impian
Tinggal kau sendiri yang berpikir
"Yang mana yang karya seni?"
Rabu, 29 Juli 2009
How I messed up the big time
I don't know what have I done wrong to you, I swear I really don’t know it. And how I supposed to know if you kept silence in that stupid way?
Maybe you’re too busy with that word exhibition of yours, and I’m too lazy to question it.
But I never get tired of waiting...
Selasa, 28 Juli 2009
Sendiri
Aku sendiri, lalu kau juga sendiri
Tak bisakah kita jadikan semacam kebiasaan?
Aku tahu sendiri itu memuakkan, aku merasakannya
Dan kalau semua orang sendiri berarti kita sendirian bersama-sama kan?
Senin, 20 Juli 2009
Bulan
"Bulan itu buta! Bulan itu buta!"
Diamlah, aku sudah tahu
"Bulan itu buta! Bulan itu buta!"
Diamlah! Lagipula apa guna mata baginya?
"Bulan itu buta! Bulan itu buta!"
Demi Tuhan,diamlah!
"...bulan itu..."
Buta kan?
Lampu jalan
Lampu jalan itu tak pernah tahu
Tentang siapa yang terus menerus diteranginya sepanjang malam
Kadang anjing kudis
Di kemudian hari merpati abu-abu
Lalu esoknya dua buah
Matahari
Rabu, 08 Juli 2009
Senin, 06 Juli 2009
Kau bunuh
Aku bisa terima kalah dari:
Gelap, sunyi, atau pagi tak bermentari
Tapi dari seorang pecundang lainnya?
Minggu, 05 Juli 2009
Kalau kau menyadarinya
Aku benci terhadap sesuatu/sebuah
Kupikir-pikir aku lebih muak terhadap senjata
*sayang, kurang sopan rasanya mencampur bahasa Indonesia, Inggris dan Jawa dalam satu puisi
Jumat, 03 Juli 2009
Menghitung satu sampai seribu
Tak ada yang mampu, mungkin tapi aku tak yakin
Ada seseorang yang berkata
(entah berada dimana ia saat ini)
"Akan kuajarkan kau cara berhitung, tapi kau harus berani
bermimipi...."
Sembilan ratus sembilan puluh sembilan
Dua kota hancur
Tapi selama itu bukan kota kita takkan pernah peduli kan?
Seribu
Selasa, 30 Juni 2009
Psikadelik
Yang mengundang ia dimalam hari itu kira-kira
;rasa takut, damai; aku sudah tak peduli
Mungkin juga kamu, tapi aku sudah lupa
Segelas alkohol, yang membakar
Lagi-lagi aku lupa
Kamu atau aku
Siapa mengundang siapa, atau siapa yang tak pernah peduli tentang:
"Siapa saja"
aku bertanya, "Siapa yang barusan berkata?"
Entah aku lupa
Mungkin alkohol, mungkin juga....
Opium
Minggu, 28 Juni 2009
Manifesto
Tak pernah ada orang yang membaca puisi, aku tahu itu. Sedikit saja mungkin, kurasa kata itu lebih tepat daripada "tak pernah ada".
Aku juga tak begitu suka membaca puisi orang lain, dan berani taruhan orang lain pun berpikiran sama denganku. Tapi apa lantas itu menjadi alasan untuk tak menulis lagi? Tergantung siapa yang kau tanya. Kalau kau tanya aku jelas kujawab "Tidak!". Tulisan itu baru berguna saat ada orang yang membacanya. Sedang puisi-puisiku? Kan setidak-tidaknya ada aku yang setia membacanya
Sabtu, 27 Juni 2009
Senin, 22 Juni 2009
Untukmu
Ada yang mengetuk pintumu perlahan saat kau menangis
Akan ada yang menunggu dengan sabar di depan kamarmu saat kau berteriak
Dan selalu ada yang tersenyum sebaik-baiknya untukmu saat kau memuja benci
Minggu, 21 Juni 2009
Larik
Menyedihkan ya? Memang! Tapi apa lantas aku peduli? Tidak
Karena ada hal-hal yang aneh itulah lantas hidup dianggap ada
Kalau kau sampai suatu titik, kau akan tahu betapa banyak titik yang ada di sekeliling kita
Ah mungkin lebih baik tulisan ini kujadikan paragraf, bukan larik-larik
Jumat, 19 Juni 2009
Bebek-bebek di utara
Entah kau yang sendiri atau memang tak tak pernah ada sepi
Kau ada dan menunggu lama tapi tak pernah ada yang datang menghampiri
Kau berharap ada damai disuatu tempat
Suatu masa; Waktu
Dan tak ada yang suka sendiri, kau berpikir seperti itu
Seperti bebek, kau merasa musim dingin tak harus ke selatan
(Tampak konyol) dan kau berpikir kau akan disana sendiri
Dan tahu-tahu tak kau sadari darimana datangnya
Hadir bebek-bebek lain
Kau tak punya panggilan untuk mereka,
tapi mungkin lebih baik kau panggil:
"Sahabat"
Kamis, 18 Juni 2009
Lorong
Kau boleh datang lalu merusak segala
Di sebuah lorong, kau berontak tak bertanya
Tak juga tentang sebuah cerita, kau anggap semua itu hina
Lalu kalau memang saatnya tiba, kurasa itu waktuku tuk bicara
Senin, 15 Juni 2009
Minggu, 14 Juni 2009
Harusnya
Harusnya ada yang menunggu dengan sabar
Tentang harapan yang tak pernah saling terkait
Dan tentang mendung yang tak pernah menjadi:
Hujan
Setia menunggu sampai reda tangismu
Diam tanpa kata saat kau sibuk berbicara
Berharap untukmu saat kau sudah bosan
Semestinya itu aku
Atau dia
Atau mereka
Atau kita
Atau ...
Semestinya itu aku
Kamis, 11 Juni 2009
Puisi sederhana
Aku ingin duduk disampingmu
Berbicara tentang ini dan itu
Lalu tertawa menghina waktu
Rabu, 10 Juni 2009
Di tempat lain
Saat ini aku benar-benar berharap
Kamu akan datang, lalu
Ah,tak disini juga tak masalah
,berada di tempat lain pun tetap menakjubkan
(asal bersamamu)
Selasa, 09 Juni 2009
Suasana
Di suatu tempat bebek bebek berkata,
"Babuabaibabu"
Kau terjemahkan sendiri menurut bahasamu
"Sungai kotor di tengah kota tak pernah seindah ini!"
Lalu mendadak seseorang protes kepadamu:
"Hei, bebek tak berbicara manusia!"
Kau balas ketus:
"Bebek pun tak pernah berkata 'Babuabaibabu', lantas apa pedulimu?"
Jumat, 29 Mei 2009
Sebuah puisi tentang waktu
Kamu menyuruhku untuk menunggu
Dan terus memaksa diri bicara tentang waktu
Padahal waktu itu satu-satunya yang kita tidak punya...
Kamis, 28 Mei 2009
Menunggu senja di kutub utara
Kalau kau mau menunggu lebih lama mungkin
Pada akhirnya aku akan datang menghampirimu
Menanyakan kabarmu, lalu pergi dari tempat ini bersamamu
Namun kau terlalu bosan untuk menunggu
Padahal senja akan selalu ada, bahkan di kutub utara
Rabu, 27 Mei 2009
Ruang kosong di sebelah kiri
Kau boleh memecahkan, lalu berteriak riuh rendah
Menyambut keramaian yang dihadirkan entah berapa lama
Di suatu tempat di pikiranmu, seharusnya kau tinggalkan untukku
Di ruang kosong di sebelah kiri
Sebelah cerebrumu yang membeku
Sabtu, 23 Mei 2009
Kamis, 21 Mei 2009
Abu
Ia dijadikan abu tanpa harus menghitung sampai seribu
Dan kini ia berpikir mengenai angin: Akankah ia merindukannya?
Saat ia dihembus menjelajah keluar, entah berada dimana ia saat tarikan nafas berikutnya
Dan tentang palang-palang matahari yang menembus pepohonan
Akankah ia ingat tentang sepinya waktu tanpa kehadiran dirinya?
Ada yang berdenyut dalam dirinya, tapi ia tak tahu:
"Ia abu kan sekarang?"
Dan angin, palang matahari, dan aku semua lupa pada keberadaannya
Tapi aku masih bisa berpuisi
Sedang langit hanya menyisakan perih
Rabu, 20 Mei 2009
Berkakulasi
Waktu yang menjadi jawaban jawaban semua pertanyaanmu itu;
Membuat kita berpikir bahwa kita melangkah
Padahal tak bergerak kemana-mana
Jumat, 15 Mei 2009
Kalau
Kalau kita tetap diam disini rasa-rasanya kita akan dihajar oleh pandang mencibir orang-orang lewat
Air matamu
Air matamu itu kelak menjadi awan
Dan kau tertawa dalam tangismu
"Kau berbohong!" ujarmu
Aku diam karena memang aku berbohong
Tapi setidak-tidaknya air matamu itu nantinya akan menembus tanah
Mengoceh
Ia minta agar badai dihentikan untuknya
Dan aku menggeleng, dendam tak diciptakan hanya untukmu Za
"Aku mencoba berkata"
Dan kau menggeleng, berkata namun terbata aku tak mengerti,
"Kenapa? Bukankah hujan, badai dan segala yang ada dalam dirimu...
kuharap palsu? Begitu?"
Aku tak tahu Za, jangan paksa aku
Semestinya saat ini aku tengah berhadapan satu lawan satu dengan matahari
Namun mendadak kau hadir ditengah harapan
Berkata pelan,
"Kuharap kau datang hari ini"
Dan aku mengangguk
Entah untukmu, entah untuk senja yang terkadang datang terlambat
Kamis, 14 Mei 2009
Sedikit potongan senja
Dar!
Lalu mendadak tiba-tiba sesuatu yang abstrak tak terduga kiranya datang kemudian mengacak-acak merancau mengobrak-abrik lalu diam mendiamkan dan sunyi mensunyikan yang ribut sembari membuat yang lain terpojok oleh sunyi juga bisu terkadang juga pedih namun di sisi lain ia juga membawamu hadir di suatu potongan-potongan mozaik senja yang kau rasa pernah dan memang seharusnya ada di dalam lipatan-lipatan otakmu di suatu tempat yang kau rekam di suatu masa walau kau tahu tak pernah ada tapi yah kau membiarkan khayalanmu mengambil alih dengan berdalih bahwa suatu dusta dapat jadi kenyataan apabila kau sedemikian mempercayainya
Tapi yah, itu menurutku
Selasa, 12 Mei 2009
Entah siapa namamu
Aku selalu menemuimu saat cuaca tak pernah cerah
Entah siapa namamu, tapi kurasa namamu ada di pikiranku
Suatu hari kau tersenyum sambil berkata,
"Nama sekedar nama, manusia lah yg membuatnya jadi bermakna"
Dan aku hanya mengangguk, padahal belum sampai koma kalimatmu kucerna"
Jumat, 08 Mei 2009
Disorientasi ruang
Entah kau yang menjauh atau memang jarak diantara kita tetap begini sedari dulu
Aku tak mengerti, seakan-akan aku tak pernah ada disini
Semestinya itu menjadi misteri, tapi sudahlah aku tak mau tahu lagi
Entah kau yang sedang berada di venus dan aku yang sedang mencari air di nebula
Atau aku sedang terbang melayang, tergantung di simpul tali milik Ixtab
Aku lagi-lagi tak ada disini, padahal aku tahu semestinya aku ada
Disorientasi ruang
Kamis, 07 Mei 2009
Tuan sudah pulang
Hei, tuan sudah pulang rupanya
Sudah berapa lama ya, sedetik lalu atau seribu tahun sejak terakhir kali anda kesini tuan
Api yang membakar tungku sudah padam
Tembok yang menggarisi tanah ini sudah hilang
Sudah berapa lama ya?
Saya terakhir kali memikirkan anda
Dan anda memikirkan saya
Atau waktu memang tak pernah ada?
Ah, selamat datang tuan! Mari, silakan masuk
Bersihkan dulu kaki anda sebelum masuk,
orang-orang mengeluh
Senin, 04 Mei 2009
Tiga bait atau mungkin sebenarnya dua
Aku tak pernah bagus dalam puisi cinta
Namun aku tak pernah berdusta
(Syukurlah!)
Sabtu, 02 Mei 2009
Bendera setengah tiang
Dengan bedil di senjatamu kau mencoba tawar menawar dengan maut
Kau berujar,
"Berikan waktu beberapa lama untukku sekedar sampai habis darahku"
Tapi maut tak mau dengar itu
Ia mengangguk namun tak pernah setuju
Sampai pada akhirnya kau sampai pula di depan rumahmu
Kau saksikan bendera setengah tiang berkibar
Kau bertanya-tanya, "Siapa lagi yang mati hari ini?"
Lalu anak-anakmu berteriak keras-keras, berhamburan keluar
"Ayah telah mati! Ayah telah mati" tangisnya
Aku?
Selasa, 28 April 2009
Mempertanyakan otoritas
Mungkin lebih baik bagi kita untuk mempertanyakan otoritas, karena kita tahu semestinya tidak ada seseorang berhak menginjak orang lain dengan alasan sesederhana "Karena kami berhak".
Setiap orang semestinya bisa mempertanyakan otoritas, kemuakkan terhadap rasa tunduk patuh tanpa alasan itu semestinya yang membuka gerbang kebenaran. Bukannya sebuah ketundukkan sampah yang dibangun oleh rasa takut. Rasa takut bukan Tuhan, jadi janganlah dibuat jadi pedoman. Berdirilah diatas kakimu, lalu rasakan bumi bergetar sendiri. Bukan karena dikatakan bergetar lantas kau sekedar mengamini
Senin, 27 April 2009
I grant you my biggest smile since you do smell like villain
I wish I could make you stay a second longer
Then you'll know how to notice the sunshine that always abandoned until it disappeared
Sastra semestinya milik semua
Kau sibuk memutar-mutar rangkaian itu
Satu kau ubah mendatar, lalu membujur
Kau umpat nama Thevenin, Norton, entah apa maksud mereka membuat ini
Lalu lampu led berkedip-kedip, waktumu hampir tiba
Aliran listrik yang menerjangmu tak kenal waktu sekedar mengingatkan untuk berapa lama
Kau sibuk lagi-lagi kau sibuk lantas lupa untuk berbicara dan mendengar
Hanya mengumpat sebentar, tapi kau bosan dengan aroma listrik di udara
"Mungkin lebih baik bermain-main di tengah padang pasir"
ujarmu pada serat tembaga
Cenayang
Lagi-lagi kamu menempatkanku dalam
Suatu tempat tanpa kata-kata
Yang membiarkan berkata, lalu tergilas hampa
Kau lagi-lagi asyik beretorika menguntai fakta yang tak pernah ada
Dan pada akhirnya kau muak, lalu kau coba untuk membakar
Perasaan yang ada, perih yang menusuk jiwa, titik didih yang menembus seribu
Apakah kau cenayang?
Rabu, 22 April 2009
Kita, Kita, Kita
Lalu kita berpura-pura untuk menjadi
Kita yang bukan kita
Mungkin sedikit kita
Tapi selamanya bukan kita
Siapa tahu?
Minggu, 19 April 2009
Kamis, 09 April 2009
Aku harap
Aku harap kau merindukanku dengan rindu yang tak pernah kau ceritakan padaku, pada mereka, pada dunia
Rabu, 08 April 2009
Djingareyber
Kalau aku sampai di Djingareyber suatu hari
Mungkin kau telah lupa tentang kedalaman pasir
Luasnya samudra tak berair
Sejenak lalu angin bertalu-talu
Disuatu tempat diujung dunia
Kalau aku sampai di Djingareyber
Sweet sugar, good old memory
Once he hope to be a man
Who sing in that dead end:
"Tahtt, tarat, tat-tat"
Senin, 06 April 2009
Bungkammu
Entah kau namakan apa benci itu Za, tapi aku tahu ia selalu memenuhi kepalamu
Berkhayal di bahteramu (yang kau anggap hidup, tapi hei kau tak pernah melihat ke sekeliling!)
Kau berujar pelan padaku di suatu pagi, membungkamkanku
"Tuhan memiliki rencana untuk segala sesuatu"
Dan aku berteriak keras menyalahkanmu, namun kau masih saja mencoba mendiamkanku dengan lembut
Tapi kita bukan kita! Aku tak habis pikir tentang semua kita (dan tentang beberapa kita yang tak pernah sempat terujar diantara kita)
Jumat, 03 April 2009
Diam diantara bisunya
Kenapa harus kau yang ada dalam mimpiku malam ini
Menebarkan suka namun berdansa dalam perih
Kenapa harus kau yang mengetuk pikiranku pagi tadi
Menimbulkan pasang kemudian dihempas di atas karang
Kenapa harus kau yang bisu diantara waktu saat ini
Kenapa?
Selasa, 31 Maret 2009
Aku tak tahu
Ini tentang kau yang belajar tentang cinta
Lalu apa?
Menghajar hari dan terus mengiba?
Tentang seseorang yang tertawa gembira
Disandirkan harapan tentang segenggam merica
Lalu sedih kemudian terluka
Tentang kau yang sedih kala maut meraja
Terhimpit manusia lalu putus merenggang nyawa
Dan kau berduka
Ini tentangmu, tentangku
Yang berharap kebahagian yang tak semu
Dan kau yang kelak menerima cintaku?
Aku tak tahu....
Tentang seorang gadis
Dan ada seorang gadis
Yang mencuri hati kemudian tertawa meringis
Menertawai hari, lalu apa?
Terbata saat mengucapkan...
Ini tentangmu dan keindahanmu
Yang belajar mengeja cinta, jangan kau ucap ambigu
Rabu, 25 Maret 2009
Menembak burung kenari
Ditinggalkan olehmu akhirnya
Tentang impian masa kecilmu
Kau berkata
"Masa lalu tinggallah masa lalu"
Ketapel usang yang sebenarnya bosan kau gunakan
Sepasang sendalmu
Semuanya
Tapi sekali-kali rindu juga
Menembak mati burung kenari
Sabtu, 21 Maret 2009
Kamis, 19 Maret 2009
Semestinya tak pernah perlu ada kata untuk cinta
Saat bersamamu Ra, mendadak terlupa olehku
Tentang waktu
Tentang aku
Tentang
semu...
Akhirnya kau berseru padaku malam itu Ra,
"Pulanglah, aku muak dengan semua-muamu!"
Saat aku berhias sebaik-baiknya dihadapanmu
Hanya untukmu Ra!
Semestinya tak pernah perlu ada kata untuk cinta
Rabu, 18 Maret 2009
Terdiam dalam sunyi
Aku tertegun dan mencoba untuk menulis
Namun yang terbayang dalam pikiranku hanya:
Kamu
Apa yang bisa kupuisikan?
*Seret ide
Kamis, 12 Maret 2009
Terputus
Menyedihkan memang kau tak bisa menikmati senja hari ini
Kau termenung sendiri dan melupakan uluran tanganku
Hei tapi aku selalu memiliki matahari
Menyedihkan memang kalau kau tak pernah bisa menikmati hembusan angin di motorku
Tapi hei
hei...
Rabu, 04 Maret 2009
Senin, 02 Maret 2009
Saat sendiri
Kami adalah malam-malam sunyi
Yang kau habiskan saat kau duduk
Sendiri
Mencoba berpikir
Lalu tersungkur tak terbujur
Kau kemudian mencoba untuk menyalahkan
Tuhanmu, keadaanmu, sekelilingmu
tapi tak pernah
Dirimu
Kau berteriak dalam sunyi
Dan berharap ada yang mendengar walau kau muak
Kau tak ingin ada yang melihatmu menangis
Kau duduk dan menangis pada akhirnya
Dan tak tahu kenapa kau menangis
Apa yang ditangisi
Sampai kapan
Dan hanya ada kata-kata hanya
Kau terpekik kaget
"Jadi untuk ini kah semua ini?"
Kau lagi-lagi menyalahkan Tuhanmu, keadaanmu, sekelilingmu
Tapi dalam hati kau sadar
Kau kemudian menghina
Dirimu
Dirimu
Dirimu
*Untuk Ia
Kamis, 26 Februari 2009
Seseorang di seberang
Aku tak tahu apakah
Atau mengapa
Aku hanya tahu
Ada seseoarang di seberang
Yang mencoba hadir sebaik-baiknya bagiku
Mengucapkan
”Selamat malam”
Sayang itu bukan kamu
Kuharap...
Minggu, 22 Februari 2009
The chili dog, lady and Mexico City
Bang! And one man die
You even didn't know who the hell is this guy
Nor his name or why he is here
You just yelled out loud:"
"Damn, i killed again..."
Minggu, 15 Februari 2009
Yang
Yang ia coba mengerti adalah
Sesuatu
Tapi ia tetap saja berandai
Andai
Kamu yang berjalan sendiri
Ia yang tertawa saat cerah
Malam yang menggelayut di pikirannya
Kemudian ia sadar, tapi muak untuk mengakuinya
Ia masih merindukanmu
dan kamu tidak...
Sabtu, 14 Februari 2009
Surat mati*
Sudahlah, aku tak perlu lagi segala perubahan yang ada didalam dirimu. Kamu sudah cantik dengan segala yang sudah ada didalam dirimu. Wajahmu, tanganmu, bahkan setiap langkahmu sudah menimbulkan hentakan nada yang bernyanyi kencang di dalam diri ini.
Kalau perlu aku katakan, keparat semua dengan semua ucapan sampah yang selalu membayangi setiap langkahmu. Segala ucapan-ucapan iri yang secara terselebung mulai mengubah dirimu sedikit-sedikit, bukan, banyak-banyak mungkin kalau mau kukatakan lebih jujur walau sebenarnya kuakui tak ada derajat dalam kejujuran…
Aku benci dengan seluruh kedaan yang mulai menyetir diri kita, bukan kau saja yang salah tapi aku juga ikut ambil bagian dalam tangisan ini. Rancangan-rancangan cacat yang disiapkan untukmu tapi turut merusak sebuah bangunan yang telah disiapkan bersama. Mereka, tanpa peduli tentang nasib kita, terus saja memacu suara-suara mereka sedemian kerasnya hingga kurasa seluruh dunia ini menghilang ketika tak mendengarnya. Mengikuti sebuah perubahan yang terpojokkan ketika dihadapkan kepada perubahan lainnya. Seakan berkata, “Kau bodoh jika tetap sama….”
Kita ini seperti rantai-rantai berkarat yang hari demi hari mulai perlahan retak dan akhirnya memutus umat ini menjadi potongan-potongan kecil yang hanya berayun sekehendak diri mereka sendiri. Sedangkan mereka mulai merayakan kemenangan gemilang perang mereka yang diraih dengan mengorbankan darah kita disekujur tanah peperangannya
Kalau ada yang membaca ini, bahkan aku sendiri tak yakin kau membaca surat ini. Sebuah salinan yang amat tak sempurna dari hati ini, yang mungkin takkan membekas di otakmu atau mungkin hanya akan menyisakan sebuah cerita tentang ucapan tak berguna. Tapi begitulah, sebuah tembakan takkan melesakkan peluru kecuali ada yang menarik pelatuknya….
14 Desember 2006
*Surat mati yang akhirnya dikirimkan
Jumat, 13 Februari 2009
Mungkin, tapi hanya mungkin
Berandai-andai itu menyenangkan
Berharap sembari berkata:
Mungkin
Sibuk mereka-reka
Kadang menerka:
Bagaimana jika?
Cih, sayang sayangku
Mungkin sekedar mungkin
Mungkin, tapi hanya mungkin...
Kamis, 12 Februari 2009
Bukan tentang Nabi
Andai Adam tahu
Tapi pikirku, ia tak ingin tahu
Ia merasa harus tunduk rendah
Karena ia hormat
Andai Musa tahu
Mungkin takkan ia biarkan arus menghempas
Atau mungkin ia berharap air pasang
Isa mungkin tak peduli
Tentang harapan dan tak pernah tunduk tuk peduli
Aku
Aku?
Rabu, 11 Februari 2009
Mengerti sebaik-baiknya
Mungkin aku hanya
Tetapi aku adalah seseorang untukmu
Yang berharap suatu hari dapat berkata:
"Kita"
Lalu aku mencoba mengerti sebaik-baiknya
Tapi tetap terbayang satu pertanyaan
Siapa aku bagimu?
Senin, 09 Februari 2009
Jack Jack
Untuk Jack Jack, walau kau tak pernah mendengar
Walau kau muak ditulisi kata
Dilangkahi suara
Untuk Jack Jack walau kau selalu diam dalam bisu
Saat tenang dan tak ada satupun yang mendengar
Saat ramai dan semua orang tak peduli
Dan kalau kita tahu kenyataan tak pernah seindah harapan kita takkan pernah berani untuk berharap
Sesederhana itu
Tapi sulit dimengerti
Minggu, 08 Februari 2009
Sabtu, 07 Februari 2009
Diam-diam
Diam-diam ada yang ingin
Memanggil namamu riuh rendah
Lalu berkata,
"Halo, selamat tinggal"
Berandai-andai
Dan kita berdua berandai-andai
"Andai aku menjadi kamu, dan kamu menjadi aku"
Kau memulai dan aku mengamini
Kalau boleh jujur, sebenarnya ingin cepat diakhiri
Lalu kita berdiri, berhenti berandai-andai
Malam segera tiba
Sial...
Inginnya
Inginnya malam
menggantikanmu hadir kemudian
Wuuush, kau meng
hilang
Inginnya senja
menghidupkan suasana yang
pernah ada lalu, fiuh
berharap
Inginnya aku
melupakanmu
tapi apabila, syuut
aku tak tahu
Apa mencintaimu saja sudah cukup?
Kamis, 05 Februari 2009
Minggu, 01 Februari 2009
Karenanya
Karenanya aku benci hujan
Hanya ada ia dimatamu saat aku hadir serapih-rapihnya
Karenanya aku (ingin) membencimu
Walau takkan pernah bisa
Bukan soal warna
Kau memuja kelabu
Sedang aku selalu suka biru
Tapi yah,walau kadang tak terlihat seperti itu
Saat menunggu
Kau tertegun dan berandai-andai
"Kapan hujan akan turun?" tanyamu
Aku menggelang
"Aku tak tahu, yang penting malam tiba tepat waktu"
Kemudian kau bernyanyi lagi, entah dengan siapa
Selasa, 27 Januari 2009
Tapi kita...
"Tapi kita bukan Nabi, menolong dunia bukan urusan kita..."
kataku lirih
Kemudian kau bertanya
"Tapi kau masih manusia kan?"
Ceremai
Ceremai itu mencoba untuk mengerti sebaik-baiknya
Alasan kenapa kamu berlari pergi
Dan tak pernah menari lagi
Tentang tawamu yang tak pernah dilihatnya lagi
Air matamu yang mengalir deras
dan ia
Diutarakannya padaku,
"Kenapa kau tak cari dia?"
Kataku,
"Ia akan kembali... hanya kau dan aku yang ia miliki"
Senin, 26 Januari 2009
Gila
Orang-orang mencibirnya
Dipanggil hina,
Sampah
Lalu ia berteriak dalam hati
"Tapi gila itu Tuhan yang beri !!!"
Sabtu, 24 Januari 2009
Weird Poem
hear the thunder, sometimes it lies to you
go to the outside and all you find is cows and its moo
is that your face? tell me why it become so blue?
for i worked to hard and all you said was "shoo!"
*credit goes to Anonim down below
Kamis, 22 Januari 2009
Rabu, 21 Januari 2009
Seruling Izrail
"Izrail tak punya dan takkan pernah berseruling!"
Begitu katamu pada suatu pagi
Dan aku mengangguk-angguk, sekedar tak peduli
"Izrail mungkin memiliki seruling..."
Begitu katamu pada suatu hari
Dan aku diam, semakin tak peduli
"Izrail berseruling..."
Begitu katamu pada suatu esok hari tepat ketika kamu mati
Sayang kau takkan sempat memberitahuku semerdu apa suaranya
Menunggu di waktu subuh
Mendadak ia terbangun di subuh hari
Ia tak memikirkan tentang cara ia tidur lagi
Tak juga tentang segala sesuatu yang menghantuinya sepanjang malam
Ia hanya ingin menunggu
Kemudian ia berkata sendiri,
"Apa yang aku tunggu?"
Lalu ia berpikir untuk tidur
Lantas sadar bahwa ia tak memikirkan tentang cara ia tidur lagi
Tak juga tentang segala sesuatu yang menghantuinya sepanjang malam
Ia hanya ingin menunggu
Kemudian ia berkata sendiri...
Tadi pagi
Tadi pagi mendadak kau datang dan berkata padaku
"Ada yang ingin kubicarakan, tapi aku lupa"
Dan aku tertawa, kemudian aku berbicara
"Giliranku, aku ingin bertanya kenapa aku bisa menyukaimu?"
Kau tersenyum, kemudian menjawab
"Aah, itu pula hal yang ingin kutanyakan padamu!"
Selasa, 20 Januari 2009
... (Tiga titik)
Aku yang terbakar amarah tak bisa membedakan
antara: Aku, kamu, kita, mereka
Kemudian ada yang datang dan bertanya sembari menjawab
"Saya terbakar amarah sendirian!"
Lalu ada yang bisu
*untuk Pram walau kau bosan bermain dengan perasaan
Senin, 19 Januari 2009
Duduk di meja makan
Segelas teh yang kau tatap berkata
"Cepat kau minum aku!"
Dan kau menggeleng, lantas berpikir
"Temani aku, aku sedang tak ingin sendiri"
Kau balas tatap ia
Ia balas menatapmu
Begitu seterusnya sampai kau lupa kenapa kau ada disini
Asing
Tahu-tahu kau merasa asing di kota ini
Kau hanya ingin berjalan dan tak ingin ada yang bertanya:
Kenapa? Kemana? Bagaimana?
Dengan siapa?
Kau ingin sendiri, hanya sendiri
Padahal kau selalu sendiri
Minggu, 18 Januari 2009
Saat malam mengetuk
Kau berkata entah apa
Dan aku menatap entah kemana
Kita berdua berada entah dimana
Namun kita ada
Seharusnya...
Aku menunggu
Aku masih menunggumu sebenarnya
Di tengah kumpulan sepeda
Di depan pagar rumahmu
Di atas batu itu
,ya batu yang
itu
Sayang kau sudah tahu
Sabtu, 17 Januari 2009
Musa kecil
Musa kecil tak tahu kenapa ia ada disini saat ini
Ia terbangun saat pagi
enggan bermentari
Dan ia mati, sekedar mati
Padahal ia masih ingin hidup
Langit bersebelahan dengan neraka
Hati tak tahu derita
Kau mengiba-ngiba, kemudian badai datang mendera
Cukup! Kau acungkan jari tengahmu ke a rah
ku
Dan dipojok lagi-lagi ada yang tertawa gembira
Tangis bersebelahan dengan tawa, sudah biasa
Kau kibaskan tanganmu berkat
a
Malam ini langit bersebelahan dengan neraka
Kamu dan kata
Aku dan kamu duduk berdua saja
Kau sedang asik menghitung kata
Sedang aku sibuk mengeja angka
Lalu siang berganti malam,
kau menoleh tersentak
berkata
"Sejak kapan kamu ada disini?"
First post
Post pertama gw di nih blog. Niatnya semua karya2 sastra gw yang suram bakal gw masukin kesini ketimbang ke blog gw yang atu lagi. Liat2 lagi yak. Blog induk: rs-rs-rs.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)