Senin, 31 Desember 2012

Keramaian

Dari keramaian yang tak tertembus bata-bata merah, kau meringkuk sendiri di depan pintu
kamu bayangkan pintu terbuka, kembang api bersahutan di atap kamarmu lalu terompet-terompet bergantian meneriakkan:

"Selamat tahun baru."

Minggu, 30 Desember 2012

Ditengah kerumunan

Tepat saat ditengah kerumunan ditemukan dirinya yang bukan sebenar dirinya
Hanya ada jantungnya di trotoar jalanan, jemarinya di saluran air dan bola matanya tergantung di tiang listrik dekat taman

Selasa, 25 Desember 2012

Spasi

Semenjak lahir ia tak sempat berandai-andai akan jadi apa ia jika tak jadi spasi pada puisi-puisi ini.
Ia selalu iri kepada huruf a yang selalu hinggap di setiap kata.
Mungkin juga iri kepada z yang walau jarang namun selalu menunjukkan kegagahannya setiap muncul.

Ia bisa saja lahir di puisi-puisi lain dan menjelma menjadi i pada "Bulan Juni".
Atau bisa saja (jika beruntung) diizinkan untuk hadir menjadi u pada "Cita-cita".

Namun ia sabar saja dan tak pernah protes padaku ia lahir hanya menjadi spasi pada puisi ini.

Diberkati

Terberkatilah hujan yang dibawa angin malam ini.
Berkat itu, ia bisa kembali memuja aroma tanah tercampur tetesan-tetesan air dari langit.

Terkenang ia akan malam-malam yang habis sendirian di depan pintu kamarnya kamar.
Terberkati pula aroma asap diudara yang membuatnya beberapa tahun lebih muda.

Terberkatilah cahaya kilat sesaat yang muncul terkadang saat hujan malam ini.
Membuatnya teringat akan betapa rindunya terhadap siang hari yang baru ditinggalkannya beberapa jam yang lalu.

Diberkati pula bulan Desember yang membawanya duduk di atas kursi saat menulis puisi.

"Aku ingin,"
Begitu lirihnya.
Tak ada yang mendengar, karena itu ia memberkati segala hal yang ada di sekujur tubuhnya.

Ia izinkan katak melompat-lompat girang dari tanah. Pun juga suara gemuruh petir yang walau datang terlambat, selalu dengan sederhananya dapat membuatnya berkata-kata dalam huruf dan titik.

Senin, 24 Desember 2012

Kepada angin

Kepada angin,
tulis ia di sudut kiri atas suratnya.
Dijadikannya jemari sebagai pena, ujung kuku sebagai ujungnya dan air liurnya sendiri sebagai tinta.

Betapa aku iri padamu,
lanjutnya.
Ia jadikan suratnya kepada angin sebagai puisi pendek.

Ia tak tahu tentang kenapa dan mengapa ia harus ada disini.
Bukankah sudah ada telapak kakinya yang menuntunnya, namun angin semalam menerbangkannya kesini. Dan ia rindu untuk terbang lagi.

Karena itu, ditulisnya entah surat entah puisi untuk angin pagi ini.

Sabtu, 22 Desember 2012

Pepohonan

Tuanku yang baik, aku harus pulang sekarang.
Tak pernah dikatakannya. Setengah mati ia rindu dengan pohon jambu yang ketika berbuah ia panjat sampai atas lalu berkelahi dengan tupai sambil tertawa-tawa.

Rindu pula ia dengan angin yang hinggap di bahu kanannya membawa aroma sungai dari ujung desa di balik bukit.

Ia rindu akan mimpi-mimpinya yang dititipkan di akar pepohonan jati saat masih ia dan pohon-pohon itu masih kecil dan sama tingginya.

Lalu saat beberapa puluh tahun kemudian ia datang ke desanya, ia terkejut setengah mati saat kembali ke pepohonan jati.

Ia menangis dalam hati. Benar, ia menangis. Ia berteriak keras,

"Sudah tersampai impianmu jadi pepohonan menusuk langit. Kini aku, masih saja aku. Berkeliaran di akar-akar pepohonan, berkelahi dengan tikus-tikus hutan untuk sekerat daging."

Pepohonan itu diam. Ingin disuarakannya, namun apa daya bukankah pepohonan selama ini tak pernah bisa berbicara?

Ia kemudian diam. Pepohonan diam. Hanya ada tangisannya diam-diam bergema disekujur pepohonan.

Desember yang baik

Dihabiskannya malam-malamnya, fajar-fajarnya, pagi-paginya, siang-siangnya, dan senja-senjanya dengan menulis. Ya, menulis.

Ia menebak cempedak hanyalah kawan lama, tak disangkanya ia bersyukur menyicipinya saat setengah matang.

Bulan Desembernya (ah Desember yang baik) diisinya dengan menulis. Ya, menulis.

Ada dalam harapannya bahwa ia sedang tak berada disini, tapi mau dimana ia tak tahu. Ia tak pernah tahu. Karena itu ia menulis.

Ia berbicara dengan jutaan orang dan tersenyum saat dirasakannya hidup satu-satu. Dalam satu persatu cerita, setiap mulai ia kesal tak hidup dalam masing masing cerita. Namun pada setiap akhir, ia merasa bersyukur ia tetap menjadi ia karena bisa didengarkannya jutaan cerita itu satu persatu.

Pada awal, tengah, dan akhir puisi ini. Dan pada tengah malamnya.

"Ya Tuhan, sudah pukul berapa siang ini?" Ujarnya tengah malam semalam.

Ia masih tak ingat atas beberapa mimpi yang hinggap ke pikirannya semalam, pun juga tentang rasa kantuk yang sempat mendekapnya untuk terlelap.

Ia teringat saat terlahir beberapa puluh tahun, mungkin karena itu ia muak tak pernah ingat mimpinya semalam.

Ia lebih muak lagi tak bisa ingat waktu. Sudah beberapa tahun matanya buta tapi tak pintar-pintar juga ia membedakan rasa matahari atau bulan di sekujur tubuhnya.

Ia tak terpikir untuk mencerabut gendang telinganya. Tidak, sungguh tidak. Ia mengusap ginjalnya lalu dalam hati merasa bersyukur bahwa ia dapat kencing dengan tenang setiap pagi saat terbangun.

Lalu semalam, ya semalam. Seperti pada awal puisi ini diceritakan, ia mendesis pelan:
"Ya Tuhan, sudah pukul berapa siang ini?"

Ia tak hendak bertanya pada Tuhan. Puluhan tahun ia bertanya pada Tuhan setelah terlahir, Tuhan tak pernah memperdengarkan suara-Nya di telinganya.

Ia iri pada Musa. Tentang betapa terhormatnya ia bisa berbicara dengan Tuhan nya lewat rerumputan yang terbakar.

Ia pernah mencoba membakar rumput untuk berbicara dengan Tuhan. Namun saat ganjanya dihisap dan mengalir di aliran darahnya, tak ditemukan Tuhan dimana-mana. Ia menemukan dirinya. Dan telinga kirinya berbicara pelan di hadapannya.

Ia tak habis pikir dengan masalah Tuhan, pikirannya terlanjur habis. Hanya malam-malam yang ia habiskan mendengar lagu dan asap yang hilang di paru paru. Tinggal menjadi racun.

Lalu seperti pada awal dan pertengahan puisi ini, ia berkata pelan. Mendesis. Sambil terkaget-kaget,
"Ya Tuhan, sudah pukul berapa siang ini?"

Ia tak tahu waktu. Pikirannya ia rasa pada hari ini namun impiannya tertinggal kemarin. Tuhan ia raba pada urat lehernya, ia berandai-andai manakah tempat yang lebih dekat dari itu?

Kerincingan

Ia memberkati kerincing-kerincingan yang kemarin tumpah ruah di langit.

Ia tak habis pikir, bukankah satu bulan penuh ia berharap emas mengalir di sungai dan perak berhamburan di persawahan. Maka saat kini kepingan turun dari langit, ia tak mengerti kenapa kepalan tangannya menghadap bawah kemudian ia meninju keras ke bumi sambil berkata lantang,

"Anjing!"

Rabu, 19 Desember 2012

Isak

Mari pulang, pintumu menunggumu terisak.
Ubin-ubinmu berderik rindu, pepohonan terkenang saat menyelubungimu dengan bayang-bayangnya.

Meja makanmu tumpah ruah, gelas-gelasmu pecah, dan kuburan ibumu. Dan kuburan ibumu.

Betapa kamu merindukan malam-malam saat adzan maghrib masih tersangkut di telinga dan kamu seorang sendiri banjir diatas nisan.

Kamu ucapkan kalimat rindu sebaik-baiknya. Sebaik-baiknya. Dan kau rindu dengan sesungguh-sungguhnya. Sesungguhnya-sungguhnya.

Kau bayangkan takkan sempat anak-anakmu memanggil neneknya. Tak sempat pula dicicipinya masakan-masakannya. Tak sempatnya diceritakan tentan keluarga alan. Tak sempat pula dibacakan olehnya doa saat perut-perut kecilnya merintih kesakitan.

Dan kamu merindukannya. Siapa yang tidak.

Kamu butuh tidur. Ah tidak, kamu tak pernah butuh tidur. Kamu hanya selalu butuh mimpi. Dan mimpi adalah penawar rindu termurah yang terbaik.

Aku meneleponmu malam-malam tadi

Aku meneleponmu malam-malam tadi, entah mengapa.
Sedetik sebelumnya hanya ada pepohonan dan sisa-sisa hujan disekelilingku. Sedetik kemudian, kita duduk berdua dengan wajahmu di segala sudut mataku melirik.

Aku bentuk wajahmu dari masa lalu, sebaik-baiknya. Rambutmu, bentuk rahangmu, matamu, semuanya.
Kusadari beberapa tahun lepas, aku tak tahu bagaimana wajahmu kini.

Masih adakah sinar-sinar matahari di irismu?
Masih adakah ombak-ombak laut bersembunyi di rambutmu?
Masih adakah bukit-bukit berbunga matahari di ujung hidungmu?

Lalu aku duduk disampingmu. Mungkin kamu juga tak peduli. Tak mengapa, apa peduliku jika kamu tak peduli?

Saat-saat itu aku berharap tubuhku serupa oksigen, melayang pelan ke arahmu, menyapa ringan paru-parumu lalu hilang menjadi karbon.

Senin, 17 Desember 2012

Diucapkan selamat malam dan tinggal

Maka diucapkan selamat malam dan tinggal pada kasurnya,
pada bantalnya,
pada selimutnya.
Pada semuanya

Satu-satunya yang tak ditinggalkannya adalah para mimpi-mimpinya

Sabtu, 08 Desember 2012

Ujar(m/k)u

Maaf aku lupa,
ujarmu.
Aku tak tahu kamu lupa,
ujarku.

Karena itu aku bilang,
ujarmu.
Apakah itu merubah sesuatu?
tanyaku.

Tidak, tapi kurasa kamu ingin tahu.
Ujarmu.
Aku tak peduli,
ujarku.

Jadi kemarin

Jadi kemarin kamu datang sendiri saja
Payung di tangan kanan dan mendung sore hari di tangan kiri
Matamu menatap pintu rumahku sementara aku menunggu di balik pintu

Selasa, 04 Desember 2012

Semalam berdua

Kemarin kamu terbangun malam-malam dan terkenang saat kamu duduk berdua diatas meja.

Aku memesan kelambu. Sedang bola matamu sibuk mengelilingi menu dan menimbang mana yang lebih baik:

Angin atau Debu.

Kemudian botol tiba. Ia pecahkan dirinya sendiri. Kamu pungut pecahan-pecahan beling, kamu lumat dengan tangan.

Aku terkejut melihat darahmu mengalir diantara beling kecil-kecil. Kamu tiup, tertawa-tawa lantas bertanya:

"Tahukah kamu apa yang aku lakukan?"

Aku bergidik, kemudian menggeleng.

Kamu tertawa semakin kencang. "Aku juga tidak."

Lalu kelambu tiba. Kamu terbangun. Tanganku berdarah.

Hujan mencintaimu sebaik-baiknya

Hujan mencintaimu sebaik-baiknya
ia izinkan kamu membakar dupa sembari melihat gemerincik air di atas dedaunan seberang pandangmu

ia memukul sendimu agar tak mengeras, lalu membiarkan kamu tidur dengan baik. Sebaik-baiknya tidur.

Ia turun lantas naik lagi. Di antaranya, ia membuatmu terduduk lantas berdoa.

Senin, 03 Desember 2012

Semanggi

Tengah malam tadi, daun semanggi mengetuk pintu kamarku
Saat kubuka, ia berkata pelan:
"Hujan kah di luar?"

Aku tak mengerti, kemudian menggeleng.
: "Bukankah kamu yang semenjak tadi berada diluar?"

Ia diam. Kupikir ia menggeleng.
: "Gilakah kau?"

Aku menggeleng. Mungkin mengerti.
"Apa aku gila karena tak mengerti apakah di luar hujan atau tidak?"

Ia tersenyum. Kemudian berkata:
"Justru hujan turun saat kamu menjadi gila."

Lalu hujan turun deras. Daun-daunnya tercerabut dari batang dan hilang disapu angin. Aku terdiam sendiri. Gilakah aku?

Aku (Papa)

Anda boleh saja menulis puisi kepada siapa saja
tapi mungkin tidak akan menyakitkan jika anda ingat bahwa saya yang membukakan pintu kepada anda malam-malam setengah mengantuk.

Anda boleh jika berkenan untuk duduk dan makan dengan siapa saja
tapi mungkin akan sedikit menyenangkan jika anda ingat saya lah yang bangun pertama pagi-pagi lalu menghujanimu dengan doa sampai kau basah kuyup.

Anda tentu saja diizinkan jika ingin melangkah dan terbang kemana-mana
tapi mungkin akan baik (jauh lebih baik) jika anda tahu bahwa saya akan selalu menunggu di depan pintu, menelesuri lorong hidup satu satu dengan satu harapan untuk bisa bertemu denganmu.

Menulis saat hujan

Tak tahu pula kenapa ia terus menerus menulis
padahal di luar hujan sedang turun deras-derasnya
padahal biasanya saat hujan, dia akan pergi ke bawah pohon lalu menari sampai basah kuyup
kemudian saat hujan reda, ia akan berteriak-teriak keras:
"Lagi! Lagi! Lagi!"

Tentang dirinya

Ia benci segala sesuatu tentang dirinya:
Telapak kakinya,
celah-celah di jemarinya,
kerutan di tumitnya,
lapisan tipis di atas kukunya,
bayangannya,
pantulan korneanya,
sendi-sendi di punggungnya,
semuanya.

Tapi ia paling benci tentang dirinya yang merasa bahwa dirinya adalah bukan dirinya dan terus saja berdusta dengan cara menulis puisi.

22 Tahun

Semestinya ia terlahir Esok hari pada 22 tahun lalu.
Dengan begitu, saat ditulisnya ditulisnya puisi ini ia akan tepat berusia 22 Tahun kurang 1 hari.
Tapi mau bagaimana lagi? Saat ditulisnya, bocah ini tepat berusia 22 Tahun

Kembang di pojok kanan atas

Kamu takkan pernah bisa menyalahkan kembang kecil yang hinggap di pojok kanan atas amplopmu dengan tulisan "2000" di atasnya.
Kembang merah itu tak pernah bisa menyalahkan dirinya mengapa ia harus lahir sebagai kembang yang hanya akan hidup di pojok kanan atas amplop dan diam saja.

Ia tak sempat merasakan matahari, udara segar atau kumbang-kumbang yang mengelilingi batang dan daunnya.
Ia hanya kenal lampu sortir, udara apek dalam tas pak pos atau jari jemari lincah petugas pos.

Yang tak pernah disadarinya adalah tentang betapa irinya kembang merah dipinggir jalan terhadap kembang kecil yang hinggap di pojok kanan atas amplopmu.
Kembang kecil dipinggir jalan itu akan tumbuh lalu mekar sesaat. Sedang kamu, kembang merah di pojok kanan atas amplopmu akan mekar selamanya

Minggu, 02 Desember 2012

Kamus

Esok ia terlahir kembali sebagai kamus
di dalam kumpulan kata, takkan ada kata: mana,
siapa,
apa,
mengapa,
bagaimana.

Sehingga nanti, orang-orang takkan lagi dapat bertanya:
mana,
siapa,
apa,
mengapa,
bagaimana.

Yang ada tinggal rasa penasaran yang sesungguhnya. Rasa penasaran yang andaikan sudah ada kata-kata:
mana,
siapa,
apa,
mengapa,
bagaimana
pun tak pernah bisa hilang

Sabtu

Sabtu seperti ini mengingatkannya akan sesuatu yang sebenarnya tak pernah ada di ingatannya
Dikatakan bahwa waktu itu adalah sabtu dan tak ada yg bisa dilakukannya kecuali percaya dan melihat kalender masa lampau

Ia teringat akan cerita-cerita lalu dari mulut ibunya.
"Kamu akan selalu menjadi yang pertama."
Dan kini ia tak bisa lagi meyakinkan dirinya hal yang sama.
Apakah ibunya benar-benar mengatakan hal itu? Apakah ingatannya serupa liat yang terbentuk?
Tak bisa ditanyakan lagi tentang hal yang sama.

Sabtu seperti ini mengingatkannya akan sesuatu yang sebenarnya tak pernah ada di dalam ingatannya

Telapak tangannya

Saat terbangun semalam, diperhatikannya lekat-lekat telapak tangannya
Diputar-putarnya sejenak dan ia coba memastikan bahwa tangannya adalah tangannya
Jemarinya panjang menjuntai dan ia berpikir ringkas, "Apakah selama ini jemariku sepanjang ini?"