Selasa, 29 April 2014

Menjadi Indonesia

Mungkin Tuan sudah lama tidak berjalan-jalan sendiri dibimbing Bayangan Tuan sendiri.
Tuan bisa menyaksikan betapa orang sudah kebal dengan doa sedang derita tak pernah berkurang. Mungkin derita ibarat virus dan doa ibarat vaksin. Mungkin derita sudah kebal dan doa tak mampu lagi menawar apa pun.
Mungkin saat Tuan berjalan sendiri di negara asing, tak pernah sedikit pun orang-orang serupa ini hinggap di pikiran tuan. Tapi bukankah Tuan dan mereka masih sama-sama manusia?
Bukankah diam-diam dalam hati Tuan bangga menjadi Indonesia. Dan Indonesia lah yang dicintai mereka diam-diam. Jika kalian saling cinta diam-diam, tidak perlu alasan lain lagi kan untuk menjadi saudara?
Kalau nanti suatu saat Tuan rindu dengan segala sesuatu, sebagian dari mereka rindu setengah mati tidur di tempat tidur sendiri. Mungkim bisa makan tiga kali sehari, syukur-syukur anak-anak kalian bisa menemani.
Tapi kami bukan Tuan. Mereka bukan Tuan. Dan sayangnya Tuan enggan dengan kami.
Kami titipkan mimpi kami pada tuan-tuan yang berdasi. Kami tak mampu lagi bahkan sehendak mengusap daki. Mimpi kami hancur lebur setiap malam. Dan rindu yang kami rindukan semakin habis dihisap cacing dalam perut kami.
Tuan yang baik, jalanan selalu memiliki cerita sedih. Pun begitu, cerita baik tak henti-hentinya tiba. Jadi janganlah menjadi iba.
Maaf hamba hanya berpuisi. Hamba pun bukan kami, tapi mereka menjadikan hamba sebagian dari mereka. Siapa lagi yang mampu menulis semacam ini?
Cukuplah selesai dengan doa-doa. Biarkan doa menjadi milik yang teraniaya. Dan kaum mana lagi yang lebih teraniaya dari kami?
Sempatkanlah dalam pikiran tuan tentang kami. Teteskan beberapa rindu tapi cukup sampai disitu.
Lalu jika enggan, izinkan kami diam-diam membangun rindu dan tak perlu kemana-mana lagi.

Hujan di braga

Diam-diam hujan turun di braga.
Beberapa pelukis cepat-cepat membungkus lukisannya. Mungkin mereka takut air mencuri keindahan lukisannya.
Atau mungkin mereka ingat sewaktu kecil dulu ibunya melarang mereka bermain hujan. Lalu sekarang atas nama rindu ibunya, mereka menjadikan hujan sebagai kawan yang selalu dirindu.

Ada yang menyebrang jalan, berdiri di trotoar dan menghirup udara bercampur air. Seorang gila berteriak-teriak, ia lupa bahwa dirinya harus pulang 20 tahun lalu. Tapi hujan mengembalikan ingatannya, dan nanti saat hujan reda ia akan kembali menjadi orang gila biasa di pinggir jalan.

Jadi kalau suatu ketika kamu sempat berjalan kala hujan di braga, sisa-sisa bayanganku akan masih tersisa di sebuah restoran sejak 1929 sembari menunggu ampas kopiku turun ke bawah

Ia lupa tentang doa

Ia tak ingat betul dengan doanya semalam tadi. Jujur, ia bahkan tak sungguh-sungguh ingat apakah ia sempat berdoa semalam.

Lalu saat pada akhirnya sore hari cerah, ia bisa duduk santai di bangku taman sembari menegak kopi. Dalam hati ia sungguh-sungguh berpikir:
"Mungkin semalam aku berdoa hari serupa ini."

Rabu, 23 April 2014

Gula dalam secangkir kopi

Baik, saatnya kamu pulang.
Sembari kamu memikirkan kenapa, mengapa dan kapan, aku akan menyeduh kopi dan meniriskan gula
dan nanti jika air sudah mendidih dan kopi telah siap, aku akan bertanya pelan:

"Kali ini berapa banyak gula yang kamu butuhkan dalam secangkir kopimu?"

Jumat, 18 April 2014

Untuk: Anakku

Anakku sayang,
saat kutulis puisi ini kamu belum ada, tapi ada yang takkan berubah:
Aku mencintaimu

Ayahmu ini belum tahu akan jadikah kamu lelaki atau perempuan. Tapi aku akan sayang. Sungguh.

Aku akan berada di rumah sebelum kamu tertidur, mendengarkan cerita tentang permainanmu seharian penuh, menceritakanmu cerita tentang Mahabharata dan legenda, dan diam-diam keluar dari kamarmu saat kamu tertidur.

Nanti saat tengah malam tiba dan ibumu tertidur, ayahmu ini akan diam-diam masuk kamarmu dan mencium pelan keningmu.

Aku harap kamu takkan bosan dengan doa-doa, karena akan kusirami kamu dengannya setiap hari.
Sesekali kamu akan bertemu dengan tantemu, dan kamu akan tahu bahwa ia adalah tante terbaik di dunia.

Kamu harus sayang ibumu. Kamu bisa marah padaku tapi selalu dayangi ibumu. Ucapkan kamu sayang padanya setiap hari. Jangan jadikan penyesalan Ayahmu ini kelak menjadi penyesalanmu.

Kamu bisa jadi penulis terbaik, pelari terbaik, atau penulis terburuk dan pelari terburuk. Terserah. Aku hanya ingin kamu melakukan apapun dengan usahamu yang terbaik.

Anakku sayang. Anakku tercinta. Aku hantarkan rindu dan cinta dari masa lalu. Maaf ayahmu tak pandai berpuisi, aku harap kamu akan lebih baik dari ayahmu ini.

Jadilah lebih baik dari Ayah dan Ibumu dalam segala sesuatu. Dan nanti saat kami tua, kami hanya akan tersenyum saja saat kamu mengunjungi kami sesekali.

Anakku sayang, Aku mencintaimu. Dan Ibumu aku yakin begitu. Jadi kemana pun kamu akan melangkah tolong yakinlah bahwa setidaknya kamu akan selalu dicintai oleh dua orang ini

Senin, 14 April 2014

Bensin

Gas yang mengalir pelan dalam tangki tak mau banyak tanya saat semburan api busi menjadikannya abu dan dikeluarkan.
"Kami terlahir kembali setelah jutaan tahun. Apa bedanya harus padam dan tenggelam barang seaaat?"

Aku rahasiakan tentang jalanan panjang yang habis kulumat semalam. Sehingga tepat 130 kilometer per jam kemudian aku bisa benar-benar merasa ada dan tiada bersamaan

Tukang cukur di taman

Cerita ini belum habis, jadi akan kubawa sisanya pelan-pelan tak terceritakan.
Suatu hari aku potong rambut di sebuah taman pinggir jalan.
Di sela-sela bayangan cermin, tukang cukur itu berkata pelan,
"Ah aku ingat benar. Aku yang memotong rambutmu 23 tahun lalu saat kamu masih bayi dulu. Bagaimana kabar ayahmu? Masih menangiskah kamu setiap habis potong?"
Aku tersenyum. Cerita mengalir. Orang gila mana yang masih ingat wajah bayi 23 tahun lalu?
"Ah ceritamu selalu indah. Dulu aku harap bola matamu takkan pernah membesar, tapi apa lacur?"
Aku tersenyum.

Karena aku mencintaimu

Karena aku mencintaimu makanya aku bisa terbangun malam-malam mendengar isakmu tak mengeluh, menyebrang lautan ratusan kilo untuk hadir di kotamu lalu mengucapkan selamat pagi, mendengar dengan sabar dan tertawa pada setiap candaanmu.

Tapi sungguh sayang, jangan pernah paksa aku menerjang hujan. Besok pagi-pagi benar aku harus bekerja.

(Dan duduk sendiri di beranda kadang jauh lebih mengundang dari segala sesuatu)

Dihantam hujan

Kalau wajahmu sudah habis dihantam hujan sore itu, mungkin kamu bisa berhenti dipinggir jalan dan menadahkan tangan berkata:
"Masih hujankah di kotamu saat ini?"

Karena hujanmu dan hujanku adalah hujan yang baik. Dan air hujan dan air matamu serta ku, adalah air sebaik-baiknya air.

Minggu, 13 April 2014

Bila aku pulang

Aku tak mengharapkanmu menyunggingkan senyum atau menawar tawa jika nanti benar-benar aku akan pulang.
Atau juga rentangan tangan terbuka siap memeluk dan air mata yang perlahan menangis.

Aku hanya sekedar meminta untukmu membuka pintu bila aku pulabg

Sabtu, 05 April 2014

Cerita

Namun bila aku tak selalu hadir dalam ceritamu, tolong maafkan aku
Apabila ini bukan permintaan maaf yang baik, maka aku maklum saja jika kamu tak pernah merindukanku.
Vulkanus meletus sayang, aku di puncaknya saat itu (merindukanmu)
Ini cerita tak sempat sampai telingamu, tak mengapa. Salah satu rindu yang baik adalah rindu yang tak pernah disayangkan.
Zaitun-zaitun tumbang, air mata mengalir.
Aku? Aku mencintaimu tentu. Tapi sampai kapan? Aih sayang aku tak pernah tahu jawaban macam itu

Jumat, 04 April 2014

Seminggu

Jika Senin sedang cerah dan senyummu tak juga membatu, pelan-pelan akan kueja namaku ke telingamu jauh:
A-L-D-O

Nanti di selasa setelah kudengar namamu kita akan berjalan menuju jendela. Nyanyianmu kudengar dan samar-samar akan kurayu dirimu.

Rabu, matamu. Bukankah cahaya mengalir pelan dan aku tersenyum menyaksikan matahari terbenam dan tenggelam.

Kamis, kuharap gerimis. Ceritamu tak habis-habis. Cintaku tak habis-habis.

Jumat kepalamu telapak kakimu. Sedang airmatamu adalah darahku. Matamu telingaku.

Sabtu abu. Sebagianku adalah sebagianmu. Kau ambil hatiku dan kusimpan hatimu baik-baik. Jemarimu melingkar di leherku, ku percayakan jantungku di sela-sela bola matamu.

Lalu minggu kuharap tak ada lagi aku dan mu.

Ceret

Selagi kupanaskan ceret kamu mungkin bisa duduk di kursi dihadapanku menyajikan cerita.
Kita bisa bicara tentang angka dan suara, lalu saat cerita mulai habis maka kita bisa mulai menyeduh teh dan tertawa.

Bagaimana kabarmu?
Kamu masih saja duduk berdua dengan sunyi padahal aku duduk di bangku dihadapanmu. Bagaimana dengan kisah tentang nama? Aku ingat jelas tangisan-tangisanmu malam itu. Dan tanganku yang sebagaimanapun bergetarnya tetap tak mampu memelukmu

Selasa, 01 April 2014

Kamu harus pulang

Kepalamu tidak mengutuk. Tapi bukankah lebih baik kamu pulang dan terebah.
Lalu akan disiapkannya mimpi-mimpi terbaik setelah kamu tiba. Kamu tak perlu menghitung satu dua tiga, ia sudah akan menyerah.

Perlukah kamu berada di tempat ini saat ini?

Kamu harus pulang.

Tentang ingatan

Mungkin kamu masih ingat saat kamu duduk di bangku penumpang dan aku dibangku pengemudi.

Kamu mungkin tak ingat tentang lagu-lagu, tapi samar-samar kamu ingat tentang band favoritku. Kuharap begitu.

Lalu ratusan malam berikutnya. Bukankah aku benar-benar menyayangimu? Kenapa pula kamu terus menurus menggores hatiku?

Bukankah aku mencintaimu? Lalu untuk apa kamu mencuri hatiku lalu menginjaknya diam-diam?

Kalau kamu berkenan, aku akan menjadi satu memori ketika suatu lagu terdengar di radio. Sekedar itu

Langit malam ini

Sedang kopi mendingin, pikiran kita tak pula sama.
Kamu mungkin tentang gambar dan aku tentang cerita. Selalu cerita.

"Sudah habiskah kita? Maka tak akan ada lagi cerita kita, anak-anak kita, masa depan kita, semua?" Tanyaku.

Kamu tersenyum. Kemudian menangguk. Kemudian menangis.