Jumat, 28 November 2014

Dindaku sayang

Dindaku sayang, maaf waktu semalam kamu bertanya tentang kenapa aku tidak pernah cukup romantis aku hanya tertawa.

Aku juga tidak tahu, Sayang. Sungguh. Aku hanya tahu seperti ini, duduk sendiri kemudian menulis puisi. Tentang romantis? Aku tidak pernah paham benar.

Maaf aku tak pernah bisa mengejutkanmu di Hari Ulang Tahunmu. Aku tak tahu apa yang harus disiapkan, siapa yang harus ditelepon atau harus pergi kemana.

Dan untuk hari-hari yang sudah-sudah dan hari-hari yang akan datang, aku minta maaf. Puisi ini pun sebenarnya hanya omong kosong, aku hanya akan selalu memainkan kata-kata sampai kamu lupa tentang apa yang sedang kita bicarakan sebenarnya.

Tapi kalau kamu masih berkenan menerima permintaan maaf lelaki yang tidak romantis ini, nanti suatu malam saat kamu sedang sakit dan anak kita sudah tertidur pulas. Aku akan terjaga semalaman membisikkan "I love you" di telingamu sampai pagi.

Pola bicara

Aku sudah hafal dengan pola bicaramu jadi aku yakin setengah mati kamu akan berkata "Kita tak seharusnya begini" setelah kita berbicara tentang berita di koran pagi ini.

Tapi apalagi yang aku punya? Sepoci teh untuk berdua, kretek untukku dan ceritamu.

Aku kira kamu sudah cukup hafal dengan pola bicaraku tapi aku selalu saja terkejut saat kamu terkejut ketika aku berkata,

"Kita? Kita-mu telah berakhir ketika malam hari kamu terisak-isak mendengarkan aku berbicara tentang segelas teh yang tertinggal di halaman rumahku. "

Kamis, 27 November 2014

Di atas meja makan

Kalau kamu pulang esok hari, takkan lagi ada yang mengingat namamu.
Jadi kamu bisa tersenyum ketika dipanggil Doni, Agus atau Giri. Terserah

Tapi kalau kamu masih benar-benar mau pulang, akan aku sajikan segelas susu hangat dan roti bakar di atas meja makan.

Senin, 24 November 2014

Senapan dari San Francisco

Aku dan kamu tak pernah berandai-andai tentang bagaimana jika kita terlahir sebagai peluru.
Dan peluru-peluru yang bergemerincing pelan ketika keluar dari Senapan (dari San Francisco), tak pernah berandai-andai tentang bagaiman jika ia terlahir sebagai aku dan kamu.

Senapan dari San Francisco yang baik itu tak pernah menanyakan tentang namaku atau kenapa aku mulai menembusi daging dan tulang dengan peluru.
Dan aku yang tidak baik ini pun tak perlu tahu tentang darimana Senapan (dari San Francisco) itu datang.

Aku, kamu, dan Senapan dari San Fransisco tak pernah berpikir hal yang sama sampai suatu ketika Senapan melihat air matamu menetes pelan saat peluru hampir habis. Kemudian kami berpikir:
"Akan berada dimana kita jika kita tak pernah saling bertemu?"

Ikan

Sampai nanti Weselmu tiba, aku tak pernah ingat bagaimana pemandangan Atlantik saat aku pertama kali datang.
Aku ingat akan dingin,
gelap,
dingin.
Dan lagipula kenapa kamu ingin mengetahui tentang Atlantik?

Aku menginginkanmu. Utuh. Lalu kita bisa menari semalaman di bawah ombak disinari bulan purnama yang kebetulan tiba. Lalu nanti sejuta anak kita akan saling menari di dalam perut gurita.

Minggu, 23 November 2014

Cerita yang baik

Bagaimana cerita yang baik bisa berhenti?
Mungkin jalanan memang tak pernah indah tapi kita selalu bisa melihat sekeliling kita. Bergandengan tangan bersama berharap lubang dan selokan serupa taman dan lampu jalan.

Kalau kamu harus pulang mungkin aku juga harus pulang. Kita tidak pernah terlalu muda atau terlalu tua. Kita tak pernah terlalu terlambat atau cepat. Tapi mungkin kita terkadang lupa. Aku tak tahu.

Aku ingin meminta maaf ketika melihat wajahmu esok hari. Maaf aku harus pergi, ujarmu.
Aku terdiam. Bukankah aku yang harus kemana-mana?

Maaf sayang, kamu tak perlu pergi. Aku bisa menggantikanmu mendongeng pada anak-anak perempuanmu. Tapi sekali-sekali kamu perlu menemui anak lelakimu. Kamu sesekali perlu menemuiku.

Sekarang pukul setengah tiga sore. Lampu jalan belum juga menyala. Pulang selalu ada di pikiranmu jadi aku tak habis pikir kenapa pula kamu duduk di meja sembari menangis. Kamu kekasihku yang baik. Kekasihku yang baik. Kekasihku yang...

Baik, cerita mungkin harus usai. Telingamu masih bisa mendengar kan, Sayang? Maka aku undang kamu ke rumahku sebaik-baiknya rumah. Seratus meter persegi, tenda dan meja makan. Perlu apa lagi kita untuk hidup?

Kalau memang aku tak merubah apa-apa, anak-anakmu tak merubah apa-apa, maka setidaknya izinkan kami menjadi foto yang selalu tersenyum di dalam dompet yang selalu tersembunyi di saku celanamu.

Petinju Pasar Malam

Nina kekasihku, mungkin aku tidak akan pulang bulan depan.
Mana mungkin aku pulang dengan rahang terlepas, mata lebam dan wajah yang membiru?

Aku harap kamu terima suratku bulan kemarin serta semoga tukang pos masih sedikit baik untuk tidak mengambil selembar uang lima puluh ribu yang kuselipkan di sela-sela kertas jadi kamu bisa membeli beras atau gincu.

Nina kekasihku, maaf aku tidak akan bisa pulang dua bulan lagi atau bulan-bulan setelahnya. Kamu bisa berkenalan dengan lelaki baru atau menjadi penyendiri seumur hidup.
Tapi kalau kamu masih sisakan rindu untukku (walau sedikit), kamu bisa potong rambut panjangmu dan tinggalkan di atas tanahku.

Bukankah kamu selalu cantik dengan rambut panjang hitam, senyum tanpa gincu dan bola matamu yang menatap mataku tajam?

Sabtu, 22 November 2014

Pergi ke istana

Kamu masih saja pergi malam itu.
Aku kira setelah segelas air putih yang kedua, kamu akan meminta kopi dan memintaku mengurungkan niat untuk membakar sebatang kretek. Siapa sangka kamu mendadak harus pergi?

Belum sempat kuceritakan tentang mimpi-mimpi semalam lalu. Apalagi tentang cinta yang mendadak muncul. Kamu hanya berkata pelan,

"Aku harus ke istana, "

Aduh nona. Tidak cukup kah kamu pergi dari halte malam itu? Kenapa pula sekarang kamu harus pergi malam ini (dan malam-malam berikutnya?)

Jumat, 21 November 2014

Makhluk luar angkasa

Bagaimana kalau semenjak dulu memang Bumi bukan rumahmu?

Kamu tak perlu menilai tentang pukul, meja dan bangku taman. Kamu tak perlu juga meraba hati mencoba mengerti perasaan.

Lalu kamu benar-benar yakin bahwa kamu adalah makhluk luar angkasa yang baik. Kamu makhluk luar angkasa yang baik.

Tak usah kamu tanya lagi tentang sedang apa disini, melupakan tentang esok hari dan melupakan namamu.

Minggu, 09 November 2014

Keanehan pada puisi saya

Beberapa puisi lama saya tampak tidak tidak beraturan dengan spasi dan jeda yang tidak beragam. Maafkan, mungkin itu keteledoran dari saya.

Tapi karena saya terlalu malas memperbaiki dan lebih memilih menulis lagi, saya mohon maaf sekali lagi

Kamu tawar telingaku

Nonaku yang baik aku sempat mendengar kamu menawar telingaku semalam,. Maaf tapi harga itu terlalu mahal.
Dengan harga yang sama kamu bisa dapatkan tiga pasang telinga dari sekeluarga pemulung yang sempat kita temui sedang tertidur semalam di dalam gerobak sampah.

Dan aku bukanlah seorang pedagang yang baik.

Mungkin kita sudah terlalu jauh berjalan dari keramaian namun kamu pasti ingat tentang trotoar dan lampu taman. Dan jendela dan cahaya lampu. Dan bayangan dan air mata.
(Serta telingaku dan telingamu)

Jadi kamu tak perlu menawar telingaku. Aku tawarkan hatiku, itu saja. Telingaku tetap milikku dan keping-keping recehmu selamanya jadi milikmu.
Sampai suatu hari kamu memutuskan untuk menawar tiga pasang telinga dari keluarga pemulung yang tertidur di bawah cahaya lampu taman berselimut bayang dan lirikan mata-mata penuh cemooh dari jendela rumah.

Dan air matamu bisa saja tetap jadi milikmu jika saja tak kamu keluarkan malam itu.

Jumat, 07 November 2014

Jalan masih terlalu panjang

Jadi ketika pagi itu kamu tiba-tiba bertanya,

"Sampai kapan kita akan terus begini?"
Aku diam-diam bertanya,
"Sebenarnya sejak kapan kita begini?"


Tapi tak kukatakan. Tak pernah kukatakan.

Jalan masih terlalu panjang, pertanyaan-pertanyaan akan terus keluar. Tapi daripada pertanyaan dan jawaban bagaimana kutawarkan tanganku untuk kamu genggam selamanya?

Selasa, 04 November 2014

Puisi untukmu

Sayang, maaf aku tak selalu menulis puisi untukmu.
Tapi percayalah dari balik sela-sela spasi, titik, dan koma pikiranku tentangmu tak henti-hentinya mengalir