Senin, 27 Agustus 2018

Menembus 120

Ia bertemu kamu di dalam majalah usang yang tertinggal di kedai

sebulan kemudian ia nikahimu.

Lalu kalian bercerai.
dan ia menikahi bayanganmu selama-lamanya.

Tembakau

menghamba pada dirinya sendiri menjadikan masa yang sekelibat lepas di depan matanya menjadikannya dirinya sebagai dirinya dan yang bukan dirinya sekali pun menjadi dirinya.

Dan ia membakar sebatang rokok malam hari ini.

"Tuanku yang baik, ada perbedaan mendasar tentang Rokok dan Kretek."

Tak ada yang menggangguk. Tak ada yang menggeleng. Semua tak mengerti kecuali dirinya sendiri yang menghamba pada dirinya sendiri.

Tak lantas dibayar dengan tunai penjelasan pada dirinya sendiri. Jadi diam-diam sebenarnya ia tak tahu apa-apa dan dibiarkannya dirinya dibohongi oleh tuannya sendiri.

Masih terbakar Rokok Kreteknya dan ia bertanya-tanya mengapa pula masih ia bakar candu tembakaunya

Mungkin karena semua Tembakau sebenar membunuh. Sedang Kretek murahan yang ia beli secara kiloan gelap tanpa cukai ini adalah satu-satunya Tembakau yang terasa memapatkan paru-parumu perlahan.

Sungguh

ia pulang pukul setengah satu malam.

sungguh.

seharusnya ia bisa pulang pukul sepuluh, bahkan setengah tujuh.

tapi tidak

ia tetap pulang pukul setengah satu.


ditanya oleh
waktu
dan beberapa kisah masa
lalu.

dan atas nama yang tak bernama ia berani bercerita.
dengan lebam dan patah tulang dihajar
hantu.

dan lalu.
kemudian lalu.
lantas lalu

Selasa, 21 Agustus 2018

Api tungku

Ia kepalamu
dari mimpi-mimpi. 

Dari api tungku yang dijaga dewa-dewamu
semalam tadi 

Genggaman batu

Ketika ia lahir suatu dulu, di masa itu
Dengan genggaman
Batu 

Mengetuk pintu-pintu dan harap-harap membawakan puja-puja serupa doa-doa sembari membakar dupa-dupa. 

Ia kira tuntas semua pagi itu:
Segala rupa, benci serta rindu. 
Semua gala, kelopak mata serta windu. 

Dan atas nama doa yang hampir lari dari hbu lidahnya, ia memohon maaf sejujur-jujurnya pada dirinya sendiri. 

Sehingga lain kali jika memang benar ia bisa hidup lagi, ia takkan selalu habis dihajar malu. 

Jumat, 06 Juli 2018

Yang Menyayat Tulang Kaki dan Tulang Tangan

Atas namanama Dewa-Dewa dan dewadewa yang masih ada, pernah ada, selalu ada atau tak pernah ada.
Ia pintakan agar kamu segera pulang dengan harap seutuhnya harap tanpa tambahan keinginan terhadap pulangmu.
Sekedar kamu membasuh peluh menghirup aroma tubuhmu sendiri di dalam rumah lalu disilakannya kamu untuk pergi kemana pun lagi.

Kemana lagi Ia harus berharap apabila pinta tak pernah dibalas. Atau kemana rindu harus diarahkan jika rindu bukan serupa kompas yang mengantarkanmu pulang. Lalu bagaimana dengan harapan yang semakin lama semakin mengecil lalu hilang?

Dan jika pintanya yang ia arahkan kemanapun tak dibalas oleh siapapun, apa masih ada guna rindu dan harapan serupa itu?

Bukit Yang Tak Beranjak dan Ranting Yang Tak Bergerak

Dan doa-Mu yang menjadikanku hampir aku
pada suatu pagi di atas Bukit Yang Tak Beranjak
meminang baik-baik jemari dari
Ranting yang tak bergerak

Dan setiap langkah yang hampir tiba serta jarak yang semakin kabur membuatmu mendoakannya dengan doa yang semakin lama semakin hampir habis
dan akan diisi ulang setiap pagi lalu berulang sampai suatu hari dengan tangan tengadah ia coba kumpulkan sisa-sisa doa yang menyesap di sela-sela sebaran air hujan.

Selamat Jalan Tuan. Semoga semua baik-baik saja