Rabu, 19 Agustus 2015

Cerita tengah malam

Kamu tak ingin jatuh cinta padaku, terutama pada malam-malam seperti ini.

Ujarku yang tak pernah kukatakan padamu. Setengah dua belas masih bersiap untuk berdentang dua belas kali di jam yang terduduk diam di tembok atas. Kamu entah dimana, aku sedang berada disini. Jadi begini,

Bagaimana kalau kepada cerita? Bukankah kamu selalu penuh cerita?

Balasmu. Aku tersenyum. Jatuh cinta pada cerita, apalagi yang bisa lebih indah dari itu?

Baik. Jadi pada suatu hari...

Aku bercerita. Tentang suatu hari yang tak pernah benar-benar terjadi. Tentang lelaki yang tak betul-betul pernah ada disini. Tentang wanita yang mungkin hanya hidup di imajinasi belaka. Tapi begitu cerita itu diberikan dan begitu pula cerita akan kusampaikan.

Kamu mendengarkan dengan tenang. Aku tak bercerita tentang naga, istana atau kurawa. Tidak. Aku bercerita tentang bukan apapun. Tentang apapun. Dan tentang sedikit yang pernah terceritakan.

Sedetik sebelum pukul dua belas kamu angkat bicara:

"Ini untuk para pendosa dan tindakan baiknya dimasa depan." ujarmu mengangkat gelas. Aku membalas

"Ini untuk masa lalu, masa depan dan masa sekarang."

Lalu kita tertidur dengan tenang.

Di atas motor

Bagaimana gemeretak rantai memanggilmu kamu sudah tak begitu ingat lagi
kamu ingat tentang masa lalu, masa depan dan mendadak masa kini tak pernah begitu semenakjubkan sekarang.

Kamu berada di masa kini, masa lalu dan masa depan sekaligus. Siapa sangka motor usang akan membawamu seperti itu?

Rabu, 12 Agustus 2015

Hujan di Denpasar

Aku tak begitu yakin apakah hujan di Denpasar ini membawa air yang sama dengan hujan di Malang, Surabaya, atau Jakarta.

Tapi hujan yang baik selalu membiarkan aku duduk sendiri di beranda. Ia tak menggangu. Ia tak menghakimi. Lebih dari apapun ia tak apa-apa.

Senin, 10 Agustus 2015

Ketapang

Aku tahu semestinya aku tetap duduk manis dan tertidur didalam bus.
Tapi apa pasal? Perjalanan 7 jam mau tak mau akan berubah jahat kepada bokongku akhirnya.

Aku tahu semestinya aku tak berhenti mendengar dangdut yang menghentak.
Tapi apa pasal? Tawaran mendengar lagu sendiri sembari berpikir terlalu manis untuk ditolak.

Aku tahu semestinya aku duduk manis saja di kabin bawah
Tapi apa pasal? Angin selat memanggilku ringan untuk hadir di atas dek.

Aku tahu semestinya aku tak pergi sendiri.
Tapi mau bagaimana lagi? Aku lelaki.

Supir

Tuanku supir yang baik, kenapa pula kamu antarkan ke tempat-tempat penuh masa lalu dan kenangan sore ini?
Ujarku memojokkannya.

Tuanku penumpang yang baik, tugasku hanya mengantarkan penumpang-penumpangku ke tujuan. Urusan masa lalu, masa kini, dan masa depan adalah urusan masing-masing kalian dengan pikiran-pikiran kalian sendiri.
Ia membalas ringan

Ah sejak kapan pula aku mendapat supir seromantis ini?

Sabtu, 08 Agustus 2015

Cerita dan cinta

Cerita yang baik bisa saja berakhir pendek, panjang tak berujung atau tak pernah benar-benar selesai diceritakan.

Apakah karena lantas cerita yang pendek berarti cerita itu bukan cerita yang baik?
Apakah karena panjang apakah berarti cerita itu cerita yang baik?
Apakah karena tak pernah benar-benar selesai apakah berarti itu bukan sebuah cerita (yang baik atau yang buruk)?

Begitu pula cinta.
Ya, kurasa

Jumat, 07 Agustus 2015

Rentang suatu cerita

Aku tak yakin benar apakah kamu sempat mengetuk pintu rumahku atau tidak. Aku hanya ingat bahwa saat aku membuka pintu untuk duduk di beranda, tiba-tiba kamu sudah muncul berlinang air mata. 

"Maaf aku telah dan akan selalu mengganggumu malam-malam. "
Aku membuang nafas kemudian tersenyum.

"Menjawab tangisan-tangisanmu dan mengembalikanmu kepada rumahmu adalah resiko yang kuambil ketika aku katakan aku mencintaimu sore hari itu."

Ujarku lewat diam

Senin, 03 Agustus 2015

Apa pertanyaan yang membuka puisi ini?

"Zahara?" jawabku cepat.
"Ah... Gurun itu? Mungkin maksudmu Sahara? "

Aku cepat-cepat pula mengangguk. Zahara? Orang bodoh macam mana yang tertukar antara Sahara dengan Zahara?

Tapi kamu tampak tak peduli dengan kesalahanku. Kamu hanya mengangguk dalam diam. Beberapa menit pikiranmu berkelana entah kemana. Beberapa menit pula kukagumi kecantikanmu.

"Mungkin... Jawaban yang baik. "

Kamu tersenyum. Dan aku tak habis pikir bagaimana bisa seseorang yang sudah sedemikian cantik jadi bertambah cantik hanya dengan tersenyum.

Kamu kemudian menyadari aku memperhatikanmu tak tahu malu. Kamu senggol ringan telapak tanganku.

" Hey... "

" Ah maaf... Pertanyaan apa yang sedang kita bicarakan tadi? "

" Entah... Aku juga lupa. "

Kamu melihatku. Aku balas melihatmu. Kemudian kita tertawa terbahak-bahak.

Minggu, 02 Agustus 2015

Dusta

Aku tak pernah mengerti kenapa kamu masih pula berdusta bahkan ketika kamu sudah tahu bahwa aku tahu kalau kamu berdusta.

Kamu selalu berkata,
"Kita akan baik-baik saja. Sungguh, Sayang. "
Dan kini? Lihat kita sekarang.

Aku tak pernah berkata aku adalah orang yang baik. Aku yang baik hanya ada di kepalamu. Aku yang ada di kepala semua orang selainmu adalah aku yang buruk.
Ujarku suatu waktu.

Tapi kamu menggeleng.
"Kamu adalah kamu yang baik. Kamu tahu itu. "

Dan aku tak tahu apakah kamu berdusta atau tidak saat itu karena aku tak pernah yakin aku menilai diriku apa di dalam kepalamu itu.
"Kita akan baik-baik saja. Apakah kamu percaya padaku?"

Dan aku menggeleng. Gelengan jujur pertamaku semenjak ribuan kali kamu ulang pernyataan itu yang selalu kubalas dengan anggukan.
"Kita tak bisa begini selamanya. Kamu harus kembali dan aku harus pergi. Kenapa pula kamu menyodorkan tanganmu malam itu?"

Kamu melihat ke matahari senja saat itu. Aku bersumpah melihatmu menangis tapi aku pura-pura tak melihat.
"Katakan, " tanyamu." Tanya pada hatimu. Apakah aku benar-benar melakukan hal yang salah? "
Aku berpaling menunjukkan punggungku padamu. Kutahan sekeras mungkin keinginanku untuk menangis.

"Ya, tindakanmu salah. Lebih baik kamu pergi."
Lalu begitu saja kamu pergi. Tak ada tangisan, tak ada permohonan, tak ada apa pun.
Yang tersisa hanyalah rasa sesal bahwa kata-kata yang terakhir kuberikan padamu adalah dusta.

Dompet

Jadi kadang aku merasa perlu minta maaf padamu karena tak selalu bisa pulang.

Maaf sayang, setidaknya kamu selalu bisa menyimpan foto kita di kantung transparan dalam dompetmu

Sabtu, 01 Agustus 2015

Bunga bakung

Saat aku membuka pintu malam itu, seharusnya kamu yang berkata, "Maafkan aku," bukannya aku.

Kamu mengalihkan pandangan ke beberapa pot kosong yang dulu pernah berisi bakung yang kau taruh di beranda sebelum kamu pergi. Aku ingat benar-benar kata-katamu sore itu,

"Aku harus pergi. Tolong jaga bunga bakung di beranda kita."

Begitu saja. Tak ada permintaan maaf, tak ada penjelasan kamu pergi kemana, berapa lama sampai kamu kembali, berapa kali sehari bunga bakung harus disirami, pupuk mana yang harus kuberikan, hama apa yang harus kuwaspadai, semuanya.

Jadi ketika lewat tiga tahun sejak kamu pergi akhirnya bunga-bunga itu mati aku habiskan beberapa malam dalam tangisan. Aku ingat suara dan pesanmu tapi samar-samar wajahmu mulai hilang dari ingatanku.

Lalu tepat sebulan dari matinya bunga-bunga itu kamu kemudian mengetuk rumah perlahan. Dan ketika kubuka pintu semua kenangan tentangmu mengalir deras. Dan hal pertama yang kuingat adalah pesan terakhirmu untukku supaya menjaga bunga bakung itu.

Jadi aku tak sempat berpikir betapa kurang ajarnya kamu yang seenaknya saja pulang dan pergi begitu saja. Tentang air mata yang habis pada malam-malam saat kumerindukanmu. Tentang cuaca yang tak ramah lagi pada bunga bakung. Semuanya.

"Maafkan, bunga bakung yang kamu titipkan padaku sudah mati semua." ujarku.

Lalu aku menangis kencang-kencang di pelukanmu