Mari ke malam-malam beberapa bulan lalu karena memang aroma timbal yang terbakar akan selalu mengingatkanmu akan sebuah ruangan di dekat jembatan
Bagaimana kau habiskan waktu di pohon akasia, menanti para pemancing dan berjalan berdua dengan imajinasi di atas besi-besi
Setengah mati kamu benci pada timbal yang menguap kamu tahu kamu akan selalu merindukan duduk menatap langit dan berpuisi pada gemerisik dedaunan di atas kepalamu
Ah, betapa kamu rindu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar