Senin, 21 Januari 2013

Pada selembar foto

Pada selembar foto yang dikirimkan oleh Ayahmu, hal pertama yang kamu lihat adalah betapa tampak lelah punggungnya.

Dan wajahnya yang dulu dengan garang menantang angin, kini kendur ditendang waktu.

Dan matanya yang tetap matanya. Namun dapat kamu lihat betapa rindu tersimpan baik-baik disana.

Dan betapa kamu tak berada di sampingnya. Menjadi tulang baru bagi punggungnya, menjadi rahang yang menahan angin dan menghapus rindu yang tersembunyi dimatanya.

Jumat, 18 Januari 2013

Mungkin seharusnya

Mungkin aku seharusnya tidak disini,
ujarmu padamu sendiri.

Tapi akan berada dimana jika kamu ada di tempat selain ini pun kamu tak tahu.

Atau mungkin memang bahwa sebenarnya kamu sedang tak ingin berada dimana-mana saat ini.

Rabu, 16 Januari 2013

Yang membedakannya dengan senja

Yang membedakannya dengan senja mungkin hanyalah ia tak perlu menjadi abu untuk menutupi matahari dan sekedar bangun lalu menggerakkan tulangnya.

Mungkin juga karena ia tak pernah peduli harus muncul kapan. Karena selama ini ia sadar betul bahwa senja tak pernah datang terlambat.

Atau mungkin (dan memang sangat mungkin) yang membedakannya hanya sekedar bahwa ia ingin setengah mati menjadi senja sedang senja tak pernah terbayang sedikit pun ingin menjadi dirinya.

Selasa, 15 Januari 2013

Insomnia

Beberapa malam yang dihabiskannya sendiri selalu membuatnya bertanya-tanya kenapa ia terbangun di tengah-tengahnya dan enggan untuk tertidur kembali.

Ia duga itu cara malam memarahinya. Untuk beberapa saat saja. Lalu saat marah malam reda, dibiarkannya tertidur kembali.

Dibuainya ia dengan iringan angin, gemericik daun dan kehadiran embun. Dan ia tertidur.

Mungkin malam memarahinya karena pada malam-malam lainnya ia habiskan diatas kursi dan memikirkan tentang segala sesuatu.

Jadi pada malam-malam tertentu, ia terpaksa membiarkan malam mencuri tidurnya

Sabtu, 12 Januari 2013

(Atas) Nama

Saat air matamu turun, ia sungguh tak tahu apa yang bisa dilakukannya.
Ia berharap ada disampingmu, memelukmu, lalu mengatakan padamu bahwa semua akan baik-baik saja.

Namun ratusan kilometer yang memisahkan kalian, membuat sayatan-sayatan kecil pada tali yang saling kalian genggam.

Karena itu, ia izinkan seseoarang dengan (atas) namanya disampingmu, memelukmu, lalu mengatakan padamu bahwa semua akan baik-baik saja.

Lalu beberapa ratus kilometer jauh situ ia telan sendiri air matanya dan berharap bahwa pada nantinya akan kembali di titik tengah.

Entah ia, entah dirimu

Dalam perjalanan

Maka tepat saat berada di perenaman yang akan membawamu ke Sambera, kamu baru benar-benar sadar bahwa sesungguhnya kamu tak pernah tahu berada dimana sesungguhnya.

Yang kamu lihat hanya pepohonan di sekeliling, angin yang tak berubah, dan aroma kelelawar yang begitu. Selalu begitu.

Diharapkannya olehmu bahwa kamu akan ditempatkan pada tempat yang baru. Harapan yang tak perlu karena memang kamu akan berada di tempat baru beberapa jam kemudian.

Jadi kamu nikmati saja duduk di udara, telapak kaki menyentuh lumpur dan besi, serta atap-atap berminyak yang menggores rambutmu.

Tak ada yang duduk di kananmu. Kamu sendiri. Benar, kamu sendiri. Maka dinikmatinya aroma dupa dan debu yang terbakar di udara.

Nillam

Maka setelah diputar-putarnya olehmu sambungan-sambungan peralatan satu sama lain, kau mendongak dan menatap ke angkasa lantas bergumam:

"Ya Tuhan, awan berlarian kesana-kesini, angin membawa hujan, dan matahari bersinar terang-terang ke bumi. Mengapa aku harus bekerja di hari seindah ini?"

Sesaat kemudian kamu diam. Lalu kembali memutar-mutar sambungan peralatan. Lalu diam, mendongak dan menatap angkasa lantas bergumam:

"Ya Tuhan, burung terbang lantang-lantang, pepohonan menutupi langit, biru mewarnai angkasa. Mengapa aku harus bekerja di hari seindah ini?"

Sesaat kemudian kamu diam lago. Lalu kembali memutar-mutar sambungan peralatan. Lalu diam. Pada akhirnya kamu menulis puisi ini.

Kemudian kamu memutar-mutar peralatan lagi.

Selasa, 08 Januari 2013

Selembar foto pinggir kapal

Tepat sesaat setelah (andaikan) kamu lepas balon putihmu itu, maka benar-benar kuharapkan bahwa heliumnya cukup kuat untuk membawanya ke muara
atau kota kecil. Aku tak pernah yakin berada dimana saat fotomu diambil.

Tapi sungguh, dan memang benar-benar sungguh, aku harapkan aku sedang ada di balik lensa dan membidikmu yang sedang tersenyum sembari memegang balon putih berhelium.

Pada segala sesuatu

Pada kerumunan kami titipkan harapan-harap kami yang tersisa di tengah kepulan helium di udara

Lalu pada radio kami sembunyikan kesunyian.

Sebenar-benarnya kesunyian

Kamis, 03 Januari 2013

Timbal

Mari ke malam-malam beberapa bulan lalu karena memang aroma timbal yang terbakar akan selalu mengingatkanmu akan sebuah ruangan di dekat jembatan
Bagaimana kau habiskan waktu di pohon akasia, menanti para pemancing dan berjalan berdua dengan imajinasi di atas besi-besi

Setengah mati kamu benci pada timbal yang menguap kamu tahu kamu akan selalu merindukan duduk menatap langit dan berpuisi pada gemerisik dedaunan di atas kepalamu

Ah, betapa kamu rindu