Atas namanama Dewa-Dewa dan dewadewa yang masih ada, pernah ada, selalu ada atau tak pernah ada.
Ia pintakan agar kamu segera pulang dengan harap seutuhnya harap tanpa tambahan keinginan terhadap pulangmu.
Sekedar kamu membasuh peluh menghirup aroma tubuhmu sendiri di dalam rumah lalu disilakannya kamu untuk pergi kemana pun lagi.
Kemana lagi Ia harus berharap apabila pinta tak pernah dibalas. Atau kemana rindu harus diarahkan jika rindu bukan serupa kompas yang mengantarkanmu pulang. Lalu bagaimana dengan harapan yang semakin lama semakin mengecil lalu hilang?
Dan jika pintanya yang ia arahkan kemanapun tak dibalas oleh siapapun, apa masih ada guna rindu dan harapan serupa itu?
Jumat, 06 Juli 2018
Bukit Yang Tak Beranjak dan Ranting Yang Tak Bergerak
Dan doa-Mu yang menjadikanku hampir aku
pada suatu pagi di atas Bukit Yang Tak Beranjak
meminang baik-baik jemari dari
Ranting yang tak bergerak
Dan setiap langkah yang hampir tiba serta jarak yang semakin kabur membuatmu mendoakannya dengan doa yang semakin lama semakin hampir habis
dan akan diisi ulang setiap pagi lalu berulang sampai suatu hari dengan tangan tengadah ia coba kumpulkan sisa-sisa doa yang menyesap di sela-sela sebaran air hujan.
Selamat Jalan Tuan. Semoga semua baik-baik saja
pada suatu pagi di atas Bukit Yang Tak Beranjak
meminang baik-baik jemari dari
Ranting yang tak bergerak
Dan setiap langkah yang hampir tiba serta jarak yang semakin kabur membuatmu mendoakannya dengan doa yang semakin lama semakin hampir habis
dan akan diisi ulang setiap pagi lalu berulang sampai suatu hari dengan tangan tengadah ia coba kumpulkan sisa-sisa doa yang menyesap di sela-sela sebaran air hujan.
Selamat Jalan Tuan. Semoga semua baik-baik saja
Selasa, 22 Mei 2018
Januari 1998
Pada Januari 1998 Ia tinggal tidak jauh dari kosan tempat kamu mengiba pada induk semangmu untuk dapat membayar tagihan bulan kemarin dan bulan ini pada bulan depan
Ia tinggal di dalam gang sempit, beberapa puluh meter dari warung nasi tempat kamu biasa sarapan lalu membayar hanya dengan senyum dan ucapan terima kasih sungguh-sungguh.
Ia berandai-andai apakah ia akan bertemu denganmu tak sengaja suatu ketika
Dan di dalam kepalanya ia siapkan cerita-cerita yang lebih masuk akal tentang kenapa ia berada disini.
Ia mencoba membayangkan apa yang kamu bayangkan pada setiap langkah yang kamu ambil pulang tengah malam setengah mengantuk menuju kamarmu sebelum kamu tertidur pulas dan terbangun pada suatu pagi
Dan sampai bulan-bulan yang ia duga tak pernah akan tiba padamu akhirnya ia pasrah juga bahwa kamu telah pergi ke suatu mana.
Dan ia akan membungkus tiga stel pakaiannya dan mengejar bayanganmu yang masih tersisa lekat-lekat di gapura selamat datang
Hampir puisi
Aku melihatmu duduk di bawah air mancur membayangkan menuliskan surat untukku yang akan kubalas secepat aku membacanya.
Dan kamu akan bicara bahwa kamu lelah. Kita semua lelah. Tapi kamu menuliskannya dengan jauh lebih cantik.
Dan hidup kadang membuatmu terasa seperti ini saja tapi kalimat-kalimat tafsiranmu membuatku merasa iri dengan ujung jemarimu karena dikendalikan imajinasimu.
Tapi surat balasanmu tak pernah tiba. Kukira ia terhimpit di dalam tumpukan tas tukang pos yang akhirnya merasa sudah cukup muak mengantarkan rindu dan tipu orang-orang tak pernah habis. Aku tak terlalu yakin.
Jadi takkan pernah sempat kita bertemu. Karena itulah takkan sempat pula aku mematahkan harimu atau sebaliknya. Mungkin lebih baik begini.
Pantura
Apa yang kamu ketahui, ia mencoba mengingat tentang
kata
kata
yang menyeruak tidak tahu malu saat ia sedang duduk
sendiri
di dalam bus di jalur pantura
Sebelum mendadak ia sudah tertidur di dalam masjid Demak memikirkan tentang
Masa lalu
dan dirinya
saat ini.
Ia tak ingin kemana-mana saat bus menuju Demak membujuknya untuk pergi. Tapi toh ia ternyata naik juga
Memperhatikan orang-orang yang berbicara tentang banyak hal kecuali tentang kota yang ditinggalkannya dan yang akan hendak ditujunya.
Membuatnya sedikit mengira-ngira apakah ia benar-benar ingin pergi?
Ataukah ia ingin tinggal selamanya di kota ta g sama.
Dan saat bus berjalan pergi
Ia akan berpura-pura tertidur
Sembari diam-diam menghitung pada putaran roda keberapa ia benar-benar sudah tertidur.
Senin, 09 April 2018
Kedai kopi di Osaka
Kamu memesan roti sedang aku memesan
rindu
dan cinta yang tak habis habis
untukmu.
Di belakang kita biarkan suami istri berkelahi sebagai suara latar
Dan lelaki paruh baya membaca berita tak peduli
Sementara di konter lelaki tua memakan roti sambil menonton berita, berkata:
"Bukankah sudah kulihat berita serupa ini kemarin?"
Dan bukankah berita seperti itu? Berulang sampai hilang lalu suatu saat muncul lagi suatu hari.
Dan kita akan selamanya seperti ini sampai klentingan lonceng mengingatkan kita bahwa kita harus pulang
Kamis, 08 Maret 2018
Sampai pagi nyaris tiba
tentu saja ia tak berada di rumah, jangan bercanda.
ia memakan bola matamu perlahan dan keluar setiap sehari dua kali pukul tiga pagi dan pukul setengah sebelas malam. Mengucapkan selamat tidur untukmu dan berharap pelan-pelan bahwa ia akan hadir pada setiap malammu setelahnya.
tapi ia tidak.
ia tidak berada di rumah, demi Tuhan tidak.
Dan atas segala nama yang ada di jantungnya saat ini, ia benar-benar teramat sungguh-sungguh ingin pulang: tolong percaya padaku tentang hal ini.
jadi ia ucapkan permintaan maaf yang tak pernah sampai padamu tengah malam tadi dengan harapan samar-samar kamu akan memaafkannya dan mengizinkannya hinggap kembali di pergelangan tanganmu sampai pagi nyaris tiba
ia memakan bola matamu perlahan dan keluar setiap sehari dua kali pukul tiga pagi dan pukul setengah sebelas malam. Mengucapkan selamat tidur untukmu dan berharap pelan-pelan bahwa ia akan hadir pada setiap malammu setelahnya.
tapi ia tidak.
ia tidak berada di rumah, demi Tuhan tidak.
Dan atas segala nama yang ada di jantungnya saat ini, ia benar-benar teramat sungguh-sungguh ingin pulang: tolong percaya padaku tentang hal ini.
jadi ia ucapkan permintaan maaf yang tak pernah sampai padamu tengah malam tadi dengan harapan samar-samar kamu akan memaafkannya dan mengizinkannya hinggap kembali di pergelangan tanganmu sampai pagi nyaris tiba
Langganan:
Postingan (Atom)