Jumat, 27 Januari 2017

Setiap senja

Ia hanya ingin menjadi Astronot pada setiap senja sehingga setiap kamu menatap langit pukul lima lima belas sore ia akan selalu ada dalam pandangan mata periferalmu walau kamu tak pernah tahu.

Ia lalu bisa lebih dekat dengan bintang-bintang dan bagai ahli nujum ia bisa menerangkan segala sesuatu tentang kalian setelah mengobservasi pergerakan bintang dan planet. 

Atau setidaknya biarkan ia menjadi astronom yang mampu menduga-menduga kecepatan rotasi bumi dan memastikan seberapa jauh kecepatan cahaya jarak antara dirimu dengan dirinya. 

Atau bila ia teramat sial sekali seperti hari ini, ia ingin diizinkan melihat senyummu walau sesaat. 

Kamis, 19 Januari 2017

Telegram dari masa lalu

Titik

Aku tak tahu apa titik harus dimaknai sebagai titik dalam tanda baca atau murni sebagai kata titik. Siapa pula yang masih mengirim telegram sekarang ini?

Tapi telegrammu benar-benar tiba di meja kerjaku pagi itu. Aku mengerutkan kening, kenapa ada telegram sembunyi dengan tidak baik di kumpulan surat dan gambar-gambar diagram?

Aku membaca sekilas telegram satu kata atau satu tanda bacamu itu dan aku berani bersumpah aku mencium aroma shampomu dari hembusan pendingin ruangan.

"Dunia ini teramat besar, Sayang. Dan kita akan pergi sendiri-sendiri sampai kita harus pulang nanti."

Mungkin itu maksud titik mu. Aku tak tahu. Tak akan pernah tahu.

Jumat, 13 Januari 2017

Dodo Memento

Sejauh apapun kita pergi bersama, pada akhirnya kita akan pulang sendiri sendiri. 

Tutupmu.

Aku tersenyum sebelum kamu menutup pembicaraan. Sesaat setelah itu aku hanya menatap atap tak berujung. Aku berpikir di balik atap ada langit, lalu atmosfer, lalu luar angkasa, lalu alam semesta. Apa aku bagian dari alam semesta atau aku hanya pengobservasi sementara saat ini?

Pikiran itu tepat sebelum kamu memutuskan untuk bekerja lewat tengah malam. Aku lelah ingin tertidur tapi kenapa pula aku harus tertidur saat itu ketika ada dirimu? Aku rasa kita telah membicarakan tentang sesuatu tapi aku lupa. 

Maaf aku berbohong. Aku ingat tentang ceritamu, semua. Aku ingat tentangmu, semua. Tapi aku selalu suka berpura-pura bahwa aku suka berpura-pura.

Aku putuskan untuk singgah walau sejenak. Aku mengharapkan wajah terkejutmu tapi aku sudah terbiasa dengan wajahmu yang seperti itu. Aku hanya ingin berbaring dan membicarakan tentang alam semesta dan Megalodon. Kamu memilih Dodo. Aku tertawa dalam hati dan berpikir siapa yang akan memenangkan pertarungan: seekor Megalodon atau lima ribu Dodo. Sayang tak sempat aku tanyakan saat itu.

Jadi sebenarnya aku datang malam itu tidak berharap apa-apa dan pulang tidak dengan apa-apa. Dan hanya pulang tidak dengan apa-apa yang menjadi nyata.

Alzheimer

Pada akhirnya semua akan menjadi ingatan yang kamu benar-benar tak pernah yakin apakah ingatan itu pernah benar-benar terjadi apa tidak.

Pikiranmu serupa perpustakaan raksasa: besar, menggurita dengan segala cerita. Tapi aku kadang ingin mengingat sesuatu dan tersesat di dalam pikiran semesta.

Semua akan baik-baik saja, toh jika kamu tidak pernah sadar bahwa kamu memiliki Alzheimer, kamu takkan punya cukup waktu untuk mengasihani dirimu sendiri.

Kasihan selalu datang dari sudut pandang ketiga. Sudut pandang orang pertama hanya serupa novel. Kacamata besar dengan kemampuan pembesaran teramat jauh hingga melupakan batas pinggir halaman-halaman buku.

Rasa derita selalu datang dari pikiranmu yang membandingkan sesuatu dengan sesuatu lain. Kalau tak mampu berpikir, bagaima bisa kamu menderita?

Bagaimana bisa kamu merasa tercela terbangun di kasur penuh dengan muntah dan bantal basah dengan air mata?

Kamis, 12 Januari 2017

Pergi sendiri

Ada yang pernah berkata bahwa hanya tinggal masalah waktu bagimu untuk akhirnya pulang setelah pergi sendiri.

Aku tahu kamu akan sungguh kembali. Aku hanya akan tetap di rumah, memandangi jendela menyeduh kopi setiap pagi. Jadi ketika kamu kembali, seluruh rumah akan wangi dan kamu akan berkata pelan:

"Aku berharap tak pernah pergi."

Rabu, 11 Januari 2017

Kita tak berhingga

Ada aku yang teramat mirip dengan aku dan kamu yang teramat mirip denganmu pada suatu tempat yang teramat mirip sini pada suatu waktu yang teramat mirip sekarang pada suatu masa dan suatu ketika. 

Tapi mereka bukan kita. 

Ada kita yang tak terhingga pada waktu yang sama, tapi kita hanya ada pada waktu saat ini

Pada kita yang tak terhingga itu ada salah satu dari mereka yang akan hidup bersama, menanam bensin dan menuai badai. Kita hidup di dalam suatu gubuk usang di kaki Himalaya dan bercanda sambil meneguk kopi. 

Mereka yang teramat mirip kita tapi bukan kita itu adalah sepasang kekasih yang teramat sempurna. Hidup bersama hingga tua dan saat mati nanti warga desa akan mendirikan patung merupakan mereka. 

Tapi kita yang saat ini bukan kita yang itu. 

Kita pada saat ini hanya akan berpapasan di lampu merah. Aku belok kanan, kamu belok kiri. Lalu cerita kita habis sudah