Jumat, 30 September 2016

hal-hal yang kamu lihat di luar jendela di tengah suatu tempat tidak dimanapun juga.

Ada yang akan selalu menarikmu untuk pergi pulang pergi dari perjalanan ini. 

Kamu memandang pemandangan diluar jendela busmu dan sepenuhnya sadar bahwa kamu benar-benar tidak tahu sedang berada dimana. Atau harus kemana. Apalagi bersama siapa. Tapi apakah seburuk itukah perasaan kesendirian? 

Beberapa ratus kilometer kemudian kamu kembali melihat keluar jendela omprenganmu. Setelah dilenakan oleh cuaca dan aroma asap dupa, kamu ingat kembali bahwa untuk kesekian kalinya kamu kembali sadar tidak tahu sedang berada dimana. Atau harus apa. Terlebih lagi berapa lama. Tapi apakah seburuk itukah perasaan terasing? 

Sudah ternuahkan harapanmu. Habis semua sedih sedu sedanmu di suatu hari pada suatu waktu. Karena itu akhirnya kamu pulang membawa foto-foto berisi hal-hal yang kamu lihat di luar jendela di tengah suatu tempat tidak dimanapun juga. 

Rabu, 28 September 2016

Aku tak habis pikir

aku tak habis pikir kenapa aku harus pulang jika nanti aku hanya makan, tertidur, mandi kemudian berangkat lagi
lalu bekerja
lalu pulang
lalu makan, tertidur, mandi, kemudian berangkat
lagi.

Lalu mati

Senin, 26 September 2016

Kita suatu ketika

Ia adalah kita pada suatu ketika.

Saat kamu mengangakat-angkat tanganmu membawa kumpulan proses sambil terbingung-bingung harus apa kamu hari ini. 

Kamu bisa saja membakar rokok berbatang-batang sampai habis oksigen terakhir di paru-parumu digantikan  karbon dioksida. Atau kamu bisa kembali terdiam dalam kamar gelap dan kembali menulis surat tentang sesuatu yang pernah ada. 

Atau sebagai aku yang menatapmu dan berpikir tentang apa yang Tuhan pikirkan saat menciptakan sempurnamu. Luar biasa. 

Ia adalah kita suatu ketika. 

Ia sungguhan pergi, 
ujarmu penuh-penuh. Kamu kemudian mengeluh dan memutuskan untuk membiarkan kapal dengan dirinya untuk terus berlabuh. 

Aku kembali terbangun tengah malam dengan lintingan tembakau di tangan dan asap di udara.  Kamu tak pernah tahu tentang segala sesuatu, tapi apa kamu perlu tahu tentang segala sesuatu? 


Minggu, 25 September 2016

Panekuk

"Aku ingin makan panekuk pisang," ujarku pagi itu.

Kamu tertawa. "Yang terbaik yang bisa kusarankan hanya roti bakar. Bagaimana?" 

Aku menatapmu tak percaya. Kenapa kamu tawarkan roti bakar pada orang yang ingin panekuk pisang? Apa nanti kamu akan menawarkanku kacang pada saat aku ingin memakan Pizza? 

"Roti tak masalah. Tapi mungkin lebih baik kita tetap disini untuk beberapa saat lagi."

Kali ini kamu setuju. Sayang diluar tidak sedang hujan jadi aku kehilangan alasan untuk membujukmu tetap disini hingga sore tiba. 

Dan ternyata roti bakar tak terlalu buruk juga

Rabu, 21 September 2016

Tentang tengah malam

*untuk: bocah-bocah utara

Aku muak untuk selalu meminta maaf dan tak berani menatap bola matamu,
sungguh.

Kondisi ini tak ideal, memang. Berapa banyak sebenarnya rahasia yang kamu sembunyikan di hatimu aku tak pernah tahu, sayang.

Apa aku ingin pergi atau aku ingin selalu disini? Kamu tak peduli. Aku peduli sesungguh hati.
Apa kamu memikirkanku saat tengah malam terbangun dan saat tanganmu mencoba meraih gelas untuk membilas mimpi buruk? Aku peduli.

Sekarang kutemukan sulit untuk menulis puisi hanya dari sudut pandang pertama. Jadi bagaimana ceritamu?

**

Kamu meminta maaf lagi dan lagi. Permintaan maaf macam apa kalau kamu tak berani menatap bola mataku?

Aku muak dengan ceritamu. Rancauanmu di tengah malam saat setengah mabuk membangunkanku. Tak ada yang suka menjadi orang seperti itu.

Tahukah kamu mimpi burukku selalu tentangmu?




Sore itu

Semua selesai sudah saat aku tertidur di Sofa sore itu
kamu tak membangunkanku, hanya berjingkat lalu mengambil tasmu kemudian pergi.

Mungkin kamu tak ingin kenangan terakhir yang kuingat tentangmu adalah punggungmu yang bergetar haru.

Mungkin kamu selalu ingin diingat sebagai mimpi indah sore itu.

Selasa, 20 September 2016

Tetrahedral

Seharusnya kita tidak berbicara tentang satu sama lain,
tentang rumus kimia yang mencipta kita,
tentang cairan dan semburan hormon yang membuat kita saling mencinta.

Aku menginginkanmu dan kita bisa mulai menari di sisi miring dan merasa sedikit bagian dari surga ada di bawah telapak kita.
Dan sebagian dari neraka ada di ujung jemari kita saat saling bersentuhan.

"Bukankah kamu rasa lagu kali ini berbeda dengan lagu-lagu lain (kali)?"

Aku mengangguk dan mencoba mengalihkan perhatianmu dari gerakan kaki payah. Kamu pura-pura tak terpengaruh oleh rindu tapi bagaimana kamu masih manusia.

"Seluruh keberadaan kita bisa didefiniskan dengan atom. Dan kalau atom hanya direkatkan oleh medan magnet, aku bersyukur bisa merasakan dirimu di ujung jemari."

aku berkata jujur. Aku tahu kamu mengerti rancauanku. Aku mengerti kamu mengerti aku. Aku mengerti tentang semesta. Dan semestaku kini seluruhnya di hadapanku sedang menari kali ini.

Puisi tentang kilometer, jarak, dan segala yang ada disekitarnya

Kamu tidak perlu menjadi satu untuk mampu berhitung sampai lima ratus tiga puluh satu. Selalu ada yang tidak berkeberatan menjadi ratusan puluhan dan satuan. Kamu dan aku tidak pernah masalah kalau kita menjadi nol.

Jadi apakah kamu masih takut pada gelap di siang hari dan terang di malam hari? Masih kah kamu melakukan tindakan magis diatas meja makan.

"Semalam aku bercumbu dengan gadis bisu melalui bahasa isyarat."
ceritaku bangga.

Kamu hanya tertawa dan menanyakan tentang bagaimana kabar cuaca di Jakarta dan segala tetek bengeknya.

Aku hanya menggeleng. Jakarta akan selalu seperti itu, kota ini hanya indah pada tengah malam jika kamu mencintai kota semacam yang kamu bayangkan.

Tapi kamu selalu ada dimana-mana. Benar-benar dimana-mana:
di ujung Piramida
di balik tembok Alamo
ujung kereta gantung namsan
di
pi
ki
ran
ku.

Agak aneh membayangkan kamu ada dimana-mana padahal kamu tak pernah pergi dari mana-mana,

"Telah kutitipkan sebagian dari diriku di bola matamu malam itu. Kemudian kamu besarkan dengan baik di tenggorokan lalu saat ia menjadi darah, ia akan tiba di hatimu dan takkan pergi kemana-mana lagi."

Aku hanya mengangguk-angguk. Mungkin karena angin, mungkin karena ucapanmu yang semakin lama semakin mencoba dimengerti malah semakin sulit itu dipahami.

"Jadi bagaima kabar.."

"Jakarta?" ujarku memutus cepat.

Kamu menggeleng. Kamu tersenyum lalu berkata:

"...ku."

Aku tertawa. Mana mungkin kamu menanyakan kabarmu padaku padahal kita sudah sekian lama tak bertemu. Aku melirik jam, pukul 12 tengah malam.

"Mungkin kita harus di Jalan saat ini."

Kamu menggangguk pada anggukanku. Kita di Jakarta. Pukul 12 tengah malam dan berhenti di bahu jalan kilometer satu saat tangismu pecah sekeras-kerasnya.

Kamis, 15 September 2016

Jatuh cinta dengan dirimu sendiri

Kapan terakhir kali kamu jatuh cinta dengan dirimu sendiri semacam ini?
Kamu akhirnya menikmati lagi di atas motor, tertawa-tawa seperti orang gila dan berkendara.

Motor bisa berbeda, dirimu tidak pernah sama, tapi ada perasaan yang tak pernah berubah.
Kamu bisa merasakan senyummu tergores lebar. Samar-samar kamu mendengar tawa yang tak kamu ketahui milik siapa sampai sesaat kamu sadar bahwa kamu yang tertawa

Kamu ingat, di atas motor kamu bisa jadi siapa saja di atas motor. Kamu serupa Musa di Thursina. Kamu mendadak seperti Muhammad, menyendiri di Gua Hira. Kamu hampir-hampir mendapat pencerahan seperti Buddha di Pohon Boddhi. Dan nyaris menjadi abadi seperti Yesus di Tiang Salib.

Kamu tetap kamu. Dengan sepeda motormu. Dengan angin kamu rasakan berderu-deru.

Ziarah

Mustahil kamu ada disini namun ada disana dalam waktu bersamaan. Tapi memang kadang sesuatu kadang bisa begitu tidak masuk akal hingga satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah suatu penjelasan yang tidak masuk akal. Aneh.

Kamu terduduk di kursi depan omprengan dan mencoba mengingat segala sesuatu dalam jangka waktu tertentu. Waktumu berhenti pada suatu Senin sore, kamu tertidur di dalam bis menuju demak dan terdampar di suatu tempat.

"Berapa jauh dari sini ke Masjid Agung Demak?"

"Lebih jauh dari yang kamu duga. Lebih baik kamu kembali ke bus yang sudah meninggalkanmu."

Kamu diam saja kemudian memutuskan untuk berjalan mundur.

"Hendak ke Masjid Agung Demak, kah? Mari naik, aku sendiri tidak kemana-mana." ujar pengendara taksi baik hati.

Kamu tersenyum setengah mati. Jalan hitam panjang membawamu kembali ke tempat yang sudah kamu lewati tapi tak pernah benar-benar kamu pahami.

"Apa yang membawamu ke jalan sepi macam ini? Kamu beruntung aku adalah salah satu yang tersisa dari banyak pengendara. Kamu bisa saja beberapa jam menghabiskan waktu seorang diri."

Kamu mengangguk dan berterimakasih betul betul. Sedang tentang apa yang membawamu? Kamu tak pernah tahu. Kamu hanya ada saat ini, perlukah ada pertanyaan lebih jauh lagi?

"Terima kasih. Aku harapkan keberuntungan ada di manapun kamu menuju." ujarmu pada pengendara taksi. Pengendara taksi tersenyum kemudian menghilang. Kamu tak pernah tahu apakah ia pernah benar-benar ada.

Kamu habis sudah dan akhirnya tertidur di Masjid Agung Demak. Lucu mengingat bangunan ratusan tahun masih saja mampu meneduhkanmu. Lucu mengingat ia sudah ada jauh belum kamu ada dan mungkin masih akan ada jauh setelah kamu tiada.

Kamu serupa tatal. Serpihan. Harus ada yang mengikat, betul. Karena itu kamu tertidur dan terbangun saat azan subuh sayup-sayup berkumandang.

Pagi tiba dan kamu berjalan ke makam. Kamu merasa ada dimana-mana sekali lagi. Tapi kamu selalu disini walau tak ada orang yang mengenali. Kamu bisa saja mengakui sebagai siapa pun, tapi apa untungnya untuk selalu berdusta.

"Manusia itu begitu. Mulutnya kecil, perutnya kecil, tapi jika diberi dunia pasti mau dimakan semua."

Kamu tertawa mendengar lelucuon. Kamu kemudian menghabiskan sisa waktu menyadari betapa lelucuon menjadi pelajaran.

"Bagaimana dengan Muria?" Tanya supir Angkot.

"Aku tak tahu tentang panggilan. Aku hanya merasa harus pergi." ujarmu jujur.

Supir angkot tersenyum. Ia mengangguk dan bercerita tentang ceritanya. Kamu duduk dan merasakan udara semakin dingin. Kamu mendengar benar-benar ceritanya. Kamu merasa ia adalah juru kunci dan kamu hanya salah satu pengunjung makam.

"Lain kali kita harus bertemu lagi. Kamu bisa mencariku: Muhendi, kamu bisa tanya semua orang di sekitar sini. Lalu kita bisa duduk dan berbincang melalu kopi."

Kamu lagi-lagi hanya tersenyum dan berterima kasih sungguh-sungguh. Kamu rasakan dunia sayup pelan-pelan. Siapa kamu sebenarnya saat tak ada yang mengenalmu?

Kamu tiba di Gresik. Kamu duduk di pagar dan pagar mengarah pada seseorang. Ia kemudian bercerita:

"Bagaimana tentang daun?"

Kamu menatap ke atas dan menatap pohon dengan cara yang tak pernah kamu rasakan sebelumnya. Kamu merasa dikelilingi oleh segala sesuatu. Kamu meraba lehermu dan merasa sedemikan dekat.

Lalu kamu harus pulang.

Sayang kamu harus pulang...

Minggu, 11 September 2016

Minotaur

Kamu bisa menaruh jemariku di dahimu dan berpura-pura bahwa jempol dan telunjuk adalah tanduk. 

Oh siang, kamu tak pernah tahu betapa lahirnya selalu menunggumu pulang. Tak bisa selalu mencium dinding sebelah kiri dan berharap kamu kan sampai di singgasana yang pemiliknya akan menyambutmu:

"Selamat datang di istana. Kamu kah Theseus berikutnya? "

Kamu kemudian menatap cermin lalu membalas pandang pada minotaur. Kamu tahu tandukmu palsu, jadi kamu menduga bahwa kamu akan tinggal disini selamanya.