Senin, 25 Maret 2013

Langit

Sedetik setelah kakimu lepas landas dari udara, kamu akan sadar bahwa pada sebenarnya kamu takkan pernah merindukan pulau ini.
Tak juga udaranya, aroma bunga di sekitarmu, dan juga cahaya yang menyeruak masuk ke jendelamu

Tapi Ya Tuhan, betapa kamu akan merindukan langit-langit yang serupa di tanah ini.

Jumat, 22 Maret 2013

Puisinya yang terakhir

Mungkin ini puisinya yang terakhir. Siapa yang bisa tahu?

Lalu nanti jika beberapa tahun kemudian ia membuka perkamen-perkamen lama, ia akan menyesal setengah mati kenapa ia tak mampu menulis lagi.

Maka jika saat itu tiba, ia akan menyalahkan mata karena buta, telinga karena tuli, dan tangannya karena lumpuh.

Beberapa waktu yang lalu

Bulan yang tiba-tiba muncul di hadapannya tak pernah peduli apakah dirinya yang saat ini adalah sama dengan dirinya beberapa hari yang lalu, beberapa bulan yang lalu, atau bahkan beberapa tahun yang lalu.

Dan udara yang datang dan pergi di sekitarnya tak pernah tahu apakah oksigen yang mengalir disekujur tubuhnya itu adalah sama atau tidak dengan oksigen beberapa saat yang lalu.

Lalu beberapa jemarinya yang menggenggam harap, tak pernah yakin apakah harapan yang dipegangnya kini adalah sama atau tidak dengan harapan yang dibawanya saat masih kecil.

Dan ia ingat benar saat ia masih kecil dan keluar ke teras rumah, disaksikannya bulan, udara dan jemarinya ada disekitarnya.

Ia sempat bersumpah bahwa apapun yang terjadi, bulan, udara, dan jemarinya akan tetap sama.

Lalu kini? Ia tak pernah tahu. Apakah bulan, udara dan jemarinya adalah bulan, udara, dan jemarinya yang sama dengan bulan, udara, dan jemarinya yang dimilikinya beberapa waktu lalu.

Rabu, 20 Maret 2013

Malam-malam

Malam-malam itu ada yang habis dengan tidur bersembunyi baik-baik diantara mimpi.

Ada pula yang habis dengan lampu kamar menerangi huruf dan angka di atas tubuhmu yang tertidur.

Ada pula yang habis denganmu menuliskan segala sesuatu yang sebenarnya kamu tak pernah tahu apa itu.

Kotak bergambar hati

Aku tak habis pikir kenapa masih kau bawa-bawa pula kotak bergambar hati milikmu itu.

Lalu kutanya pelan padamu,
"Aku tak habis pikir masih kau bawa-bawa pula kotak bergambar hati milikmu?"

Kamu menjawab pelan,

"Ini bukan kotak bergambar hati, Sayang. Ini adalah hatiku bergambar kotak."

Yang tumpah kemarin

Air matamu yang tumpah kemarin membuatku sadar bahwa aku yang sebenarnya mengalir diantara mata dan dagumu.

Tak sempat kuceritakan pada hidung dan mulutmu betapa aku merindukan cerita yang disampaikan oleh mereka saat diam.

Tak sempat pula kusampaikan rindu yang sedalam-dalamnya rindu kepada wajah, telapak tangan dan jemari yang disembunyikan olehmu dariku.

Tak sempat

Sayang kamu tak sempat hidup kemarin. Tahu-tahu kamu muncul di esok memainkan benang diatas jemari.

"Mampukah kamu membuat bola dunia dari benang-benang?"

Mana sanggup, Tuan. Aku sendiri sedang merajut langit dengan alis.

Skizofrenik

Tentu saja kamu tak bisa menyalahkan hujan yang hadir saat kamu tertidur
Atau suaranya yang mengiring dan mengirimmu ke mimpi
Dan beberapa guntur yang membangunkanmu di tengah tidur, membuatmu berpikir sejenak sekarang pukul berapa lantas tertidur lagi.

Sama seperti kamu tak bisa menyalahkan nol yang hadir mengikuti beberapa angka.
Atau betapa tentang 1 yang sedemikian merindukan 31.
Atau kamu yang merindukan bola matamu, dan aku yang merindukan bola mataku dan beberapa angka yang tak bisa lagi aku ingat.

Juga dengan sebongkah emas diatas tugu api. Tentang anak kecil yang berlari dipelataran parkir.
Dan juga tentang mimpi kemarin yang tak punah juga sampai hari ini.

Lalu saat otakmu yang mati dan membuatmu berpikir apa beda antara saat ini, kemarin dan beberapa detik yang akan datang.
Sekarang terdengar suara-suara di mulutmu. Dan dari telingamu keluar nyanyian sendu dan bisikan-bisikan yang membius kulitmu dengan aroma rindu yang dihembuskan oleh masa kecilmu.

Dari beberapa kenangan yang kamu ingat, dan beberapa kenangan yang tak pernah kamu ingat, lalu beberapa kenangan yang setengah mati kamu harapkan untuk kamu ingat.

"Mungkin kita bisa mulai dari awal lagi?"
ujarmu pada kamu. Lalu diteruskannya pada bayangmu dan akhirnya pada cahaya lampu samar-samar yang muncul tiba-tiba dari kamar.

Jumat, 15 Maret 2013

Setelah

Kita bertatapan setelah sekian lama tak bertemu.
Kamu dengan buku sketsa di tangan kiri dan pensil di tangan kananmu.
Aku dengan Probe Simpson di tangan kananku dan Diagram di tangan kirimu.

Di tengah musim

Sendimu dimakan musim nak, dan musim dingin pun belum benar-benar tiba.
Jemarimu yang membeku kini mendesiskan suara rindu terhadap api. Rindu yang sama yang diucapkannya kepada salju di tengah kemarau.

Tulang-tulangmu bergemeretak lirih. Bola matamu melirik ke sana kemari.
Tak lama kemudian kamu tertidur. Esoknya kamu tak perlu terbangun lagi untuk merasakan semua itu

Senin, 11 Maret 2013

Pada beberapa

Pada beberapa puisi aku sungguh tak tahu sama sekali tentang apa yang kutulis.
Kadang aku memuja hujan, kadang menghinanya.
Kadang aku menceritakan debu, kadang menyapunya.

Dan kadang karena aku hanya sekedar ingin menulis.

Kamis, 07 Maret 2013

Pada sebuah doa

Kami panjatkan doa karena kami sudah tak bisa memelukmu lagi.
Dan kata-kata yang terucap, rindu-rindu yang mengerak di lidah, tangisan-tangisan yang sudah mengering.

Maka kami harap dengan sesungguhnya harap bahwa Engkau akan menyampaikan kepadamu bahwa kami selalu mencintaimu.