Senin, 28 Maret 2011
Ode untuk sesuatu
Hari sudah malam nak tapi kita akan tetap melesat seperti ini
bukankah memang kita ini selalu dan akan selalu serupa peluru?
Bukankah memang kita diciptakan, selalu seperti itu
sebagai apa kita hanya bisa menerka, tapi bukankah kita menganggap diri kita manusia?
Lalu apa beda kita dengan peluru? Sekumpulan batu bahkan serumpun bambu?
Kita akan selalu melesat seperti ini nak, selalu begini
selamanya kita akan serupa peluru, terkadang batu esok hari mungkin bambu. Kita tak tahu, kita tak tahu
bukankah kita menganggap diri kita manusia, nak?
Kita akan selalu berada di tepi jalan selama jalan ini tak berujung
Senin, 21 Maret 2011
Waktu
Waktu itu tak abadi, kita yang abadi
Yang selamanya itu selalu satu setengah detik, sedangkan satu menit adalah setengah keabadian
Semenjak
Semenjak udara terbakar, ia sudah lupa sejak lama untuk merajah wajahnya
lagipula orang gila mana yang tak pernah berhenti berpuisi?
Waktu itu merentang, sayang. Jauh.
Bukankah kemarin kamu berharap ia tak berhingga? Lantas kenapa kamu tampak amat menyesal saat mati pagi hari ini?
Lalu aku akan menggumam rindu tak henti-henti.
Tak henti-henti
hingga ia dianggap bid'ah, padahal orang macam apa yang tak pernah mendzikirkan sesuatu karena rindu?
Sabtu, 19 Maret 2011
Aku berandai-andai
Aku berandai-andai: bisakah jendela aku anggap sebagai hatimu?
Jika bisa, dengan senang hati akan aku congkel dengan linggis kemudian menyelinap kedalamnya dan takkan pernah ingin keluar
Aku berandai-andai: bisakah tebing aku anggap sebagai hatimu?
Jika bisa, dengan senang hati aku akan melompat kemudian berharap untuk tak pernah jatuh membentur tanah
Aku berandai-andai: bisakah hatimu aku anggap sebagai hatimu?
Jika bisa, aku ingin menghilangkan hatiku, hatimu, lantas menggantikannya dengan hati kita
Jalanan itu tak pernah berujung
Bukankah ia memang benar-benar bisa berada dimana-mana?
Saat tangan menggenggam stang dan mata menatap jalan
sedang pikiran tak pernah memikirkan suatu tempat
ia bisa kemana-mana saat ini, kan?
Mungkin ke rumahmu (yang tak pernah ia tahu)
mungkin ke hatimu (yang ia tak pernah tahu)
atau setidaknya ke matamu (yang tak pernah ia tahu)
Dan bukankah memang jalanan itu tak pernah berujung?
Lalu ia bisa kemana-mana
Minggu, 06 Maret 2011
Rembulan
mungkin ini yang terakhir, siapa tahu?
"Aku tak tahu," ujarku jujur
dan bukankah memang aku selalu jujur padamu
walau kamu tak henti-hentinya ragu (ah, aku tak pernah menyalahkanmu)
mungkin nanti saat kita bertemu lagi hanya tinggal jemari yang tergetar
menggerek batu pun tak mampu, paru-paru menghisap udara pun tak mau, air mata yang mengalir pun enggan keluar
ia berharap bisa menghabiskan udara yang ada, dijadikan abu pun tak masalah
dan bukankah memang aku selalu jujur padamu?
ah betapa kamu selalu benar
Laki-laki dan kota
Ia eratkan kemejanya sambil berpura-pura itu jaket. Andai kamu bisa melihat betapa rapihnya ia di kemeja -kontras dengan yang biasanya kamu lihat: jeans belel dan kaos seadanya-. Aku rasa beberapa orang yang berpapasan dengannya dijalan bahkan sudah jatuh cinta padanya.
Di tangan kanannya ia mengenggam badai sedang tangan kiri ia sembunyikan baik-baik payung merah jambu. Tetap saja ia berandai-andai tentang dimana kalian akan berada saat ini andaikan ia memilih menyambut ajakan tanganmu.
Langganan:
Postingan (Atom)