Jumat, 22 Februari 2019

siapa sudi ia bohongi

sekejap saja ia hadir terdiam di depan gigi taringmu
terselip diantara
taring
geraham
dan
remah-remah
ja
gung

menceritakan tentang cerita-cerita yang terkadang
(mau diakui atau tidak)
seperti dusta
tapi tetap saja kamu berkata lantang

"laki-laki semacam aku (dan hanya aku sajalah yang) tak pernah berdusta."

membiarkan kata-katamu ditadaburi tanpa berpikir oleh yang mengamini tiba-tiba.

kamu diam, mungkin karena setuju, mungkin juga karena
hendak membual
lagi
lagi
dan
;lagi.

Senin, 11 Februari 2019

tapi semua tak mengapa

tapi

semua

tak me

nga

p


a

betapa menyenangkannya

betapa menyenangkannya (ia duga) ketika ia berpura-pura bahwa ia adalah orang pertama tahu segala dan menarasikan langkah kaki kanan-kiri mu sampai kamu tertidur di sebuah.

kasur.

dan betapa semua cahaya pada akhirnya mengingatkannya pada temaram abu kelambunya di bawah naungan telingamu tengah tertunduk di pahamu.

menangis.

dengan air mata yang merembas perlahan-lahan di antara lipatan betis dan pahanya sampai jadi kolam di telapak kakinya.

selamanya

Jumat, 30 November 2018

Semoga kamu tak mendengar

disentuh oleh pisau, lehermu sedang mulutmu mengeluarkan kata-kata tak berhingga mengisi udara.
dipaksanya oleh pandangan matamu, mataku. sedang jalanan tak pernah sepi dan harapanmu tak pernah sampai.

"telah kulakukan hal-hal yang aku tak suka." desismu. mengalir tajam dari lidah ke telingaku. belatiku tetap tergenggam erat enggan pergi.

"kita semua melakukan hal-hal yang tak kita suka." kataku padaku. "karena itu kita manusia." dalam hatiku. kamu tak mendengar--semoga kamu tak mendengar.


Kamis, 18 Oktober 2018

Bunglon

Di sampingmu belati melaju menderu-deru berubah debu menghujam matamu membawamu duduk
diam
menunggu.

Sampai masa dan tiba tentang suatu kapan, entah suatu hari atau abad. Seberapa tua manusia bisa dikatakan tua jika ia tak pernah muda?

Ia berharap menjadi bagianmu dan mengiba bahwa harapan mengharapkannya menjadi bukan dirinya. Dan dirinya selalu berharap bahwa dirinya esok hari bukanlah dirinya hari ini. Bukan pula dirinya yang esok. Serupa kaktus, ia ingin selalu berubah-rubah menjadi dirinya, bukan dirinya, dan seterusnya seperti itu.

Rabu, 17 Oktober 2018

Motor Semesta

Pulang sebelum atau setelah malam menjadikan dirinya (atau bukan dirinya, siapapun yang memegang kendali motor kecepatan 80 kilometer perjam itu) semakin mahir untuk berhitung huruf.

Dan kombinasi angka serta letusan minyak yang berderak-derak di kompres piston dan diletupkan busi lalu menjelma menjadi monoksida membuatnya merayap jauh.

Sampai tiba ia di depan lampu merah. Duduk diam begitu saja menghitung jumlah kepala kendaraan bermotor yang kebetulan lewat di hadapannya, memaki sejenak kepada pedagang yang menghabiskan jalan, atau membuang iba kepada cahaya.

Adakah yang pernah menghitung jalan raya berkilometer-meter hingga tak habis? Dan apabila habis dihitung bagaiman dengan jalan terjal berbatu yang menghantarkannya pada suatu sore, duduk terdiam menatap matahari dan membiarkan keringatnya menetes satu demi satu hingga malam tiba dan air mineral masuk ke mulutnya (dengan perlahan mungkin, aku lupa) menggantikan ion atau apapun itu dan menggerakkan jemari serta bola matanya sebelum akhirnya tertidur sampai pagi tiba.

Membicarakan tentang apapun dengan suara. Membiarkan segala sesuatu menjadi yang bukan satu, menjadikan yang dua menjadi tak berhingga. Lalu dia harus tiba, entah kemana.

Dimana dia hari ini?

Sungguh mati Tuhan, aku tidak tahu. Ia tiba di kota suatu ketika. Dengan nafas mengalir perlahan-lahan menghiasi hidung dan membakar paru. Menjadi monoksida serupa buangan knalpot motornya.

Apakah ia adalah motor semesta?
Mungkin. Mungkin.

Mungkin

Senin, 27 Agustus 2018

Menembus 120

Ia bertemu kamu di dalam majalah usang yang tertinggal di kedai

sebulan kemudian ia nikahimu.

Lalu kalian bercerai.
dan ia menikahi bayanganmu selama-lamanya.