disentuh oleh pisau, lehermu sedang mulutmu mengeluarkan kata-kata tak berhingga mengisi udara.
dipaksanya oleh pandangan matamu, mataku. sedang jalanan tak pernah sepi dan harapanmu tak pernah sampai.
"telah kulakukan hal-hal yang aku tak suka." desismu. mengalir tajam dari lidah ke telingaku. belatiku tetap tergenggam erat enggan pergi.
"kita semua melakukan hal-hal yang tak kita suka." kataku padaku. "karena itu kita manusia." dalam hatiku. kamu tak mendengar--semoga kamu tak mendengar.
Jumat, 30 November 2018
Kamis, 18 Oktober 2018
Bunglon
Di sampingmu belati melaju menderu-deru berubah debu menghujam matamu membawamu duduk
diam
menunggu.
Sampai masa dan tiba tentang suatu kapan, entah suatu hari atau abad. Seberapa tua manusia bisa dikatakan tua jika ia tak pernah muda?
Ia berharap menjadi bagianmu dan mengiba bahwa harapan mengharapkannya menjadi bukan dirinya. Dan dirinya selalu berharap bahwa dirinya esok hari bukanlah dirinya hari ini. Bukan pula dirinya yang esok. Serupa kaktus, ia ingin selalu berubah-rubah menjadi dirinya, bukan dirinya, dan seterusnya seperti itu.
diam
menunggu.
Sampai masa dan tiba tentang suatu kapan, entah suatu hari atau abad. Seberapa tua manusia bisa dikatakan tua jika ia tak pernah muda?
Ia berharap menjadi bagianmu dan mengiba bahwa harapan mengharapkannya menjadi bukan dirinya. Dan dirinya selalu berharap bahwa dirinya esok hari bukanlah dirinya hari ini. Bukan pula dirinya yang esok. Serupa kaktus, ia ingin selalu berubah-rubah menjadi dirinya, bukan dirinya, dan seterusnya seperti itu.
Rabu, 17 Oktober 2018
Motor Semesta
Pulang sebelum atau setelah malam menjadikan dirinya (atau bukan dirinya, siapapun yang memegang kendali motor kecepatan 80 kilometer perjam itu) semakin mahir untuk berhitung huruf.
Dan kombinasi angka serta letusan minyak yang berderak-derak di kompres piston dan diletupkan busi lalu menjelma menjadi monoksida membuatnya merayap jauh.
Sampai tiba ia di depan lampu merah. Duduk diam begitu saja menghitung jumlah kepala kendaraan bermotor yang kebetulan lewat di hadapannya, memaki sejenak kepada pedagang yang menghabiskan jalan, atau membuang iba kepada cahaya.
Adakah yang pernah menghitung jalan raya berkilometer-meter hingga tak habis? Dan apabila habis dihitung bagaiman dengan jalan terjal berbatu yang menghantarkannya pada suatu sore, duduk terdiam menatap matahari dan membiarkan keringatnya menetes satu demi satu hingga malam tiba dan air mineral masuk ke mulutnya (dengan perlahan mungkin, aku lupa) menggantikan ion atau apapun itu dan menggerakkan jemari serta bola matanya sebelum akhirnya tertidur sampai pagi tiba.
Membicarakan tentang apapun dengan suara. Membiarkan segala sesuatu menjadi yang bukan satu, menjadikan yang dua menjadi tak berhingga. Lalu dia harus tiba, entah kemana.
Dimana dia hari ini?
Sungguh mati Tuhan, aku tidak tahu. Ia tiba di kota suatu ketika. Dengan nafas mengalir perlahan-lahan menghiasi hidung dan membakar paru. Menjadi monoksida serupa buangan knalpot motornya.
Apakah ia adalah motor semesta?
Mungkin. Mungkin.
Mungkin
Dan kombinasi angka serta letusan minyak yang berderak-derak di kompres piston dan diletupkan busi lalu menjelma menjadi monoksida membuatnya merayap jauh.
Sampai tiba ia di depan lampu merah. Duduk diam begitu saja menghitung jumlah kepala kendaraan bermotor yang kebetulan lewat di hadapannya, memaki sejenak kepada pedagang yang menghabiskan jalan, atau membuang iba kepada cahaya.
Adakah yang pernah menghitung jalan raya berkilometer-meter hingga tak habis? Dan apabila habis dihitung bagaiman dengan jalan terjal berbatu yang menghantarkannya pada suatu sore, duduk terdiam menatap matahari dan membiarkan keringatnya menetes satu demi satu hingga malam tiba dan air mineral masuk ke mulutnya (dengan perlahan mungkin, aku lupa) menggantikan ion atau apapun itu dan menggerakkan jemari serta bola matanya sebelum akhirnya tertidur sampai pagi tiba.
Membicarakan tentang apapun dengan suara. Membiarkan segala sesuatu menjadi yang bukan satu, menjadikan yang dua menjadi tak berhingga. Lalu dia harus tiba, entah kemana.
Dimana dia hari ini?
Sungguh mati Tuhan, aku tidak tahu. Ia tiba di kota suatu ketika. Dengan nafas mengalir perlahan-lahan menghiasi hidung dan membakar paru. Menjadi monoksida serupa buangan knalpot motornya.
Apakah ia adalah motor semesta?
Mungkin. Mungkin.
Mungkin
Senin, 27 Agustus 2018
Menembus 120
Ia bertemu kamu di dalam majalah usang yang tertinggal di kedai
sebulan kemudian ia nikahimu.
Lalu kalian bercerai.
dan ia menikahi bayanganmu selama-lamanya.
sebulan kemudian ia nikahimu.
Lalu kalian bercerai.
dan ia menikahi bayanganmu selama-lamanya.
Tembakau
menghamba pada dirinya sendiri menjadikan masa yang sekelibat lepas di depan matanya menjadikannya dirinya sebagai dirinya dan yang bukan dirinya sekali pun menjadi dirinya.
Dan ia membakar sebatang rokok malam hari ini.
"Tuanku yang baik, ada perbedaan mendasar tentang Rokok dan Kretek."
Tak ada yang menggangguk. Tak ada yang menggeleng. Semua tak mengerti kecuali dirinya sendiri yang menghamba pada dirinya sendiri.
Tak lantas dibayar dengan tunai penjelasan pada dirinya sendiri. Jadi diam-diam sebenarnya ia tak tahu apa-apa dan dibiarkannya dirinya dibohongi oleh tuannya sendiri.
Masih terbakarRokok Kreteknya dan ia bertanya-tanya mengapa pula masih ia bakar candu tembakaunya
Mungkin karena semua Tembakau sebenar membunuh. Sedang Kretek murahan yang ia beli secara kiloan gelap tanpa cukai ini adalah satu-satunya Tembakau yang terasa memapatkan paru-parumu perlahan.
Dan ia membakar sebatang rokok malam hari ini.
"Tuanku yang baik, ada perbedaan mendasar tentang Rokok dan Kretek."
Tak ada yang menggangguk. Tak ada yang menggeleng. Semua tak mengerti kecuali dirinya sendiri yang menghamba pada dirinya sendiri.
Tak lantas dibayar dengan tunai penjelasan pada dirinya sendiri. Jadi diam-diam sebenarnya ia tak tahu apa-apa dan dibiarkannya dirinya dibohongi oleh tuannya sendiri.
Masih terbakar
Mungkin karena semua Tembakau sebenar membunuh. Sedang Kretek murahan yang ia beli secara kiloan gelap tanpa cukai ini adalah satu-satunya Tembakau yang terasa memapatkan paru-parumu perlahan.
Sungguh
ia pulang pukul setengah satu malam.
sungguh.
seharusnya ia bisa pulang pukul sepuluh, bahkan setengah tujuh.
tapi tidak
ia tetap pulang pukul setengah satu.
ditanya oleh
waktu
dan beberapa kisah masa
lalu.
dan atas nama yang tak bernama ia berani bercerita.
dengan lebam dan patah tulang dihajar
hantu.
dan lalu.
kemudian lalu.
lantas lalu
sungguh.
seharusnya ia bisa pulang pukul sepuluh, bahkan setengah tujuh.
tapi tidak
ia tetap pulang pukul setengah satu.
ditanya oleh
waktu
dan beberapa kisah masa
lalu.
dan atas nama yang tak bernama ia berani bercerita.
dengan lebam dan patah tulang dihajar
hantu.
dan lalu.
kemudian lalu.
lantas lalu
Selasa, 21 Agustus 2018
Langganan:
Postingan (Atom)