| Kamu tak pernah menelepon kecuali ketika kamu menangis.
Jam tiga pagi itu, telepon berdering sedang sesaat sebelumnya aku tengah tertidur.
"Halo" mu keluar. Lirih. Beberapa menit kemudian kamu bercerita. Beberapa menit kemudian mau tak mau aku harus benar-benar terbangun.
Aku tak mempermasalahkan teleponmu di tiga pagi, atau fakta aku sedang tertidur, atau tentang tangisan serta ceritamu. Tidak
Aku hanya penasaran kenapa kamu hanya meneleponku ketika kamu menangis?
|
Jumat, 25 September 2015
Kenapa Kamu hanya meneleponku ketika kamu menangis?
Selasa, 22 September 2015
Lalu bagaimana
Tutupmu sore itu.
Aku merasa kita sudah harus pergi. Ceritamu sudah habis. Ceritaku sudah habis. Cerita kita sudah habis. Apalagi yang bisa ceritakan?
Kamu mungkin bisa menyapaku.
Jawabku singkat.
Kamu mengangguk.
Lalu bagaimana kalau suatu hari nanti aku temui aku masih jatuh cinta padamu?
Minggu, 13 September 2015
Devil Blues
Kita juga bukan Setan sehingga tak mampu menjajikan apa-apa kepada lelaki dengan gitar.
Aku juga tak tahu harus apa dan sedang apa.
Lalu bagaimana kabarmu, tanya lelaki dengan gitar.
Aku mengangkat bahu. Tak tahu, jawabku.
Kamu bukan Setan atau Tuhan? Tanyanya.
Aku menggeleng. Ia nampak sedih tapi mau bagaimana lagi, tak ada gunanya berbohong pada waktu-waktu seperti ini.
"Bagaimana kalau kamu kuajarkan bermain gitar?"
Ujar suatu suara
Rabu, 19 Agustus 2015
Cerita tengah malam
Ujarku yang tak pernah kukatakan padamu. Setengah dua belas masih bersiap untuk berdentang dua belas kali di jam yang terduduk diam di tembok atas. Kamu entah dimana, aku sedang berada disini. Jadi begini,
Bagaimana kalau kepada cerita? Bukankah kamu selalu penuh cerita?
Balasmu. Aku tersenyum. Jatuh cinta pada cerita, apalagi yang bisa lebih indah dari itu?
Baik. Jadi pada suatu hari...
Aku bercerita. Tentang suatu hari yang tak pernah benar-benar terjadi. Tentang lelaki yang tak betul-betul pernah ada disini. Tentang wanita yang mungkin hanya hidup di imajinasi belaka. Tapi begitu cerita itu diberikan dan begitu pula cerita akan kusampaikan.
Kamu mendengarkan dengan tenang. Aku tak bercerita tentang naga, istana atau kurawa. Tidak. Aku bercerita tentang bukan apapun. Tentang apapun. Dan tentang sedikit yang pernah terceritakan.
Sedetik sebelum pukul dua belas kamu angkat bicara:
"Ini untuk para pendosa dan tindakan baiknya dimasa depan." ujarmu mengangkat gelas. Aku membalas
"Ini untuk masa lalu, masa depan dan masa sekarang."
Lalu kita tertidur dengan tenang.
Di atas motor
Rabu, 12 Agustus 2015
Hujan di Denpasar
Aku tak begitu yakin apakah hujan di Denpasar ini membawa air yang sama dengan hujan di Malang, Surabaya, atau Jakarta. Tapi hujan yang baik selalu membiarkan aku duduk sendiri di beranda. Ia tak menggangu. Ia tak menghakimi. Lebih dari apapun ia tak apa-apa. |
Senin, 10 Agustus 2015
Ketapang
Aku tahu semestinya aku tetap duduk manis dan tertidur didalam bus. Aku tahu semestinya aku tak berhenti mendengar dangdut yang menghentak. Aku tahu semestinya aku duduk manis saja di kabin bawah Aku tahu semestinya aku tak pergi sendiri. |