Rabu, 29 Juli 2015

Tentang cerita

Aku kira aku harus belok kiri tadi, tapi apa pasal aku sudah terlanjur tersesat.
Jadi aku harus pulang, siang hari sudah habis dan malam pelan-pelan mengintai. Dan kamu sungguh-sungguh tak ingin berada di tempat semacam ini pada malam hari.

Oh, semesta masih suka pula kau mengerjai tua bangka semacam ini.

Rabu, 01 Juli 2015

Tentang kemarin

Jadi tentang kemarin,
apa masih ada akhir bahagia tentang kita?

Sudah pukul dua belas hari ini, aku masih berandai-andai apakah kamu sudah terbangun ataukah masih mabuk air mata sedang aku hanya duduk di beranda.
Jadi mohon maaf kalau tentang kemarin tak bisa habis dalam hari ini. Cerita kita tak pernah indah, karena memang selalu begitu. Siapa yang selalu memiliki cerita indah?

Aku masih berharap kamu menerima tanganku dan terbangun dengan tanganmu masih benar-benar berada di tanganku. Siapa yang kuat untuk bermimpi tidak seperti itu setiap malam?

Lalu tentang kemarin. Tentang hari ini. Tentang esok. Tentang tiga detik.
Satu detik yang lalu, satu detik saat ini, satu detik kemudian...

Dan diam-diam aku berharap ada Tuhan Tiga detik.

Jumat, 19 Juni 2015

Meja konservatif

Kalau tak ada salah satu dari kita yang memesan apa-apa, untuk apa pula kita masih duduk di samping meja?
Kita bisa saja pergi lalu berbicara tentang yang lalu.
Atau kita bisa memesan air putih dan membicarakan tentang yang akan.

Tapi kamu memilih diam. Aku mencoba memesan rindu, tapi tak ada yang lebih mengenal rindu daripada malam.

"Maaf tuan, kami tak pernah menjual rindu." ujar pelayan jujur.

Aku dan kamu menghela nafas. Kamu tetap tak memesan apa-apa. Aku mencoba memesan air tapi sorot matamu menolak.

"Jam sembilan malam aku pulang. " ujarmu.

Kamis, 11 Juni 2015

Setidaknya

Aku tidak tahu pukul berapa di bantalmu saat ini tapi setidaknya aku masih terbangun.

Maaf untuk surat (dan rindu) yang masih terus kukirim--

Jadi dimana aku harus mulai dan kapan aku harus selesai?

Setidaknya aku masih terbangun

Jumat, 22 Mei 2015

Di persimpangan sore nanti

Aku tak bisa mengatakannya sekarang jadi kuharap kamu akan menunggu ku di persimpangan jalan sore nanti,
ujarmu.

Aku diam di meja makan. Aku melihat sekeliling, masih pukul dua belas siang orang-orang sedang makan siang. Aku tahan keinginanku untuk mengunyah roti yang sedari tadi kubayangkan sudah lumat di perut.

Persimpangan jalan, meja kantin, apa bedanya? Katakan saja disini,
jawabku.

Kamu menggeleng.

Persimpangan memberimu jalan pulang. Lalu karenanya akan memberiku harapan. Dan selanjutnya memberi arti pada hidup kita.
Kamu menjelaskan perbadaan antara Persimpangan jalan dan yang bukan persimpangan jalan. Aku tak mengerti

Aku mengangkat bahu lalu tertawa. Roti kumakan juga akhirnya.

Persimpangan jalan tak pernah kemana-mana, Sayang.
Ujarku sambil mengunyah roti.

Tapi aku serupa Peta cintaku. Dan kamu persimpanganku.
Ujarmu setelah mendengarkanku.

Aku tak pernah mengerti bahasamu, Sayang.
Ujarku.

Dan aku tak pernah tahu kenapa aku mencintaimu, Kekasihku.
Ujarmu.

Tapi kamu tahu kan aku mencintaimu?
Ujarku

Selalu. Jadi kutunggu kamu di persimpangan sore nanti.
Ujarmu sebelum pergi.

Aku kembali duduk sendiri. Susu sudah kuteguk untuk membilas roti.

Rabu, 20 Mei 2015

Pada malam

Salah satu dari kita tidak akan lagi terbangun tengah malam dan berpikir harus mencintai apa dirinya esok pagi.

Pada malam yang baik, salah satu dari kita yang beruntung itu hanya akan diam dan tertidur sampai pagi.

Dan yang tak beruntung hanya akan mengeluh walau pada akhirnya akan tertidur pula

Senin, 11 Mei 2015

Pertanyaan sesungguhnya

Apakah sulit menulis puisi yang baik,
ujarmu setelah memesan pilu.

Aku menutup menu, aku isyaratkan untuk tak memesan apa-apa malam itu.

Pelayan pergi. Aku hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaanmu.

Kamu tertawa. Aku perlahan mengambil segelas teh hambar yang sedari tadi disediakan di meja.

"Pertanyaannya sesungguhnya adalah..." bukaku.

Tutupku.