Kalau tak ada salah satu dari kita yang memesan apa-apa, untuk apa pula kita masih duduk di samping meja? Tapi kamu memilih diam. Aku mencoba memesan rindu, tapi tak ada yang lebih mengenal rindu daripada malam. "Maaf tuan, kami tak pernah menjual rindu." ujar pelayan jujur. Aku dan kamu menghela nafas. Kamu tetap tak memesan apa-apa. Aku mencoba memesan air tapi sorot matamu menolak. "Jam sembilan malam aku pulang. " ujarmu. |
Jumat, 19 Juni 2015
Meja konservatif
Kamis, 11 Juni 2015
Setidaknya
Aku tidak tahu pukul berapa di bantalmu saat ini tapi setidaknya aku masih terbangun. Maaf untuk surat (dan rindu) yang masih terus kukirim-- Jadi dimana aku harus mulai dan kapan aku harus selesai? Setidaknya aku masih terbangun |
Jumat, 22 Mei 2015
Di persimpangan sore nanti
Aku tak bisa mengatakannya sekarang jadi kuharap kamu akan menunggu ku di persimpangan jalan sore nanti,
ujarmu.
Aku diam di meja makan. Aku melihat sekeliling, masih pukul dua belas siang orang-orang sedang makan siang. Aku tahan keinginanku untuk mengunyah roti yang sedari tadi kubayangkan sudah lumat di perut.
Persimpangan jalan, meja kantin, apa bedanya? Katakan saja disini,
jawabku.
Kamu menggeleng.
Persimpangan memberimu jalan pulang. Lalu karenanya akan memberiku harapan. Dan selanjutnya memberi arti pada hidup kita.
Kamu menjelaskan perbadaan antara Persimpangan jalan dan yang bukan persimpangan jalan. Aku tak mengerti
Aku mengangkat bahu lalu tertawa. Roti kumakan juga akhirnya.
Persimpangan jalan tak pernah kemana-mana, Sayang.
Ujarku sambil mengunyah roti.
Tapi aku serupa Peta cintaku. Dan kamu persimpanganku.
Ujarmu setelah mendengarkanku.
Aku tak pernah mengerti bahasamu, Sayang.
Ujarku.
Dan aku tak pernah tahu kenapa aku mencintaimu, Kekasihku.
Ujarmu.
Tapi kamu tahu kan aku mencintaimu?
Ujarku
Selalu. Jadi kutunggu kamu di persimpangan sore nanti.
Ujarmu sebelum pergi.
Aku kembali duduk sendiri. Susu sudah kuteguk untuk membilas roti.
ujarmu.
Aku diam di meja makan. Aku melihat sekeliling, masih pukul dua belas siang orang-orang sedang makan siang. Aku tahan keinginanku untuk mengunyah roti yang sedari tadi kubayangkan sudah lumat di perut.
Persimpangan jalan, meja kantin, apa bedanya? Katakan saja disini,
jawabku.
Kamu menggeleng.
Persimpangan memberimu jalan pulang. Lalu karenanya akan memberiku harapan. Dan selanjutnya memberi arti pada hidup kita.
Kamu menjelaskan perbadaan antara Persimpangan jalan dan yang bukan persimpangan jalan. Aku tak mengerti
Aku mengangkat bahu lalu tertawa. Roti kumakan juga akhirnya.
Persimpangan jalan tak pernah kemana-mana, Sayang.
Ujarku sambil mengunyah roti.
Tapi aku serupa Peta cintaku. Dan kamu persimpanganku.
Ujarmu setelah mendengarkanku.
Aku tak pernah mengerti bahasamu, Sayang.
Ujarku.
Dan aku tak pernah tahu kenapa aku mencintaimu, Kekasihku.
Ujarmu.
Tapi kamu tahu kan aku mencintaimu?
Ujarku
Selalu. Jadi kutunggu kamu di persimpangan sore nanti.
Ujarmu sebelum pergi.
Aku kembali duduk sendiri. Susu sudah kuteguk untuk membilas roti.
Rabu, 20 Mei 2015
Pada malam
Salah satu dari kita tidak akan lagi terbangun tengah malam dan berpikir harus mencintai apa dirinya esok pagi. Pada malam yang baik, salah satu dari kita yang beruntung itu hanya akan diam dan tertidur sampai pagi. Dan yang tak beruntung hanya akan mengeluh walau pada akhirnya akan tertidur pula |
Senin, 11 Mei 2015
Pertanyaan sesungguhnya
Apakah sulit menulis puisi yang baik,
ujarmu setelah memesan pilu.
Aku menutup menu, aku isyaratkan untuk tak memesan apa-apa malam itu.
Pelayan pergi. Aku hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaanmu.
Kamu tertawa. Aku perlahan mengambil segelas teh hambar yang sedari tadi disediakan di meja.
"Pertanyaannya sesungguhnya adalah..." bukaku.
Tutupku.
ujarmu setelah memesan pilu.
Aku menutup menu, aku isyaratkan untuk tak memesan apa-apa malam itu.
Pelayan pergi. Aku hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaanmu.
Kamu tertawa. Aku perlahan mengambil segelas teh hambar yang sedari tadi disediakan di meja.
"Pertanyaannya sesungguhnya adalah..." bukaku.
Tutupku.
Pergi
Apakah sudah benar-benar enam hari sejak aku terakhir berkunjung?
Aku masih ingat tentang gelas yang sempat berisi teh manis kini masih duduk manis dirubung semut.
Aku masih ingat tentang kaki-kaki kursi yang terdiam dan ujung meja kayu tercukil sisa isengku yang lalu.
Dan aku takut pergi sendiri, betul. Namun malam semakin jelas hingga aku benar-benar harus pergi sebelum kamu berkata,
"Jangan Pergi. Mari kuhidangkan segelas kopi."
Aku pergi. Jangan pergi. Selamat pagi
Aku masih ingat tentang gelas yang sempat berisi teh manis kini masih duduk manis dirubung semut.
Aku masih ingat tentang kaki-kaki kursi yang terdiam dan ujung meja kayu tercukil sisa isengku yang lalu.
Dan aku takut pergi sendiri, betul. Namun malam semakin jelas hingga aku benar-benar harus pergi sebelum kamu berkata,
"Jangan Pergi. Mari kuhidangkan segelas kopi."
Aku pergi. Jangan pergi. Selamat pagi
Mungkin Mungkin
Adakah yang lebih indah daripada duduk sendiri?
Duduk berdua? Mungkin. Mungkin.
Adakah yang lebih indah daripada berjalan sendiri?
Berjalan berdua? Mungkin. Mungkin
Adakah yang lebih indah daripada berbicara sendiri?
Berbicara berdua? Mungkin. Mungkin
Duduk berdua? Mungkin. Mungkin.
Adakah yang lebih indah daripada berjalan sendiri?
Berjalan berdua? Mungkin. Mungkin
Adakah yang lebih indah daripada berbicara sendiri?
Berbicara berdua? Mungkin. Mungkin
Langganan:
Postingan (Atom)