Selasa, 13 Mei 2014

Di Apotek

Di Apotek sore itu apoteker sibuk meracik obat dibalik kelambu,
"Bagaimana dengan batuk dan flu?"
Sodor seorang tiba-tiba.

Apoteker tersenyum,
"Silakan minum obat biru setiap sebelum makan dan merah sebelum tidur. Mudah-mudahan aku tak bertemu tuan sampai beberapa waktu."

Aku ragu, kemudian bertanya pelan,
"Bagaimana dengan rindu? Apakah anda memiliki obat yang jitu?"

Ia membalas pelan,
"Aih Tuan! Berkali-kali kudengar pertanyaan itu dan Tuan tepat orang keseribu yang bertanya begitu. Sayang aku tak punya obat untuk rindu. Tapi obat paling jitu untuk rindu adalah bertemu. Sudah, begitu."

Aku tersenyum kemudian pergi. Jadi jangan kaget jika tiba-tiba malam nanti aku mengetuk pelan pintu rumahmu

Sabtu, 10 Mei 2014

Mari kita pulang

Mari kita pulang,
lalu menyeduh teh.

Dan benar-benar pulang

Selasa, 06 Mei 2014

Meronce

Lalu mengapa pula kamu masih duduk di halaman, memandang taman dan menggumam rindu?

Selamat pagi. Aku harap kamu ada di rumah saat ini. Kadang aku teramat muak dengan nada panggil teleponmu dan pikiran yang melumat perasaan.

Waktu itu pukul satu. Kamu mungkin tertidur di kamar atau sibuk meronce duka.

Saat itu aku sedang pulang, sungguh. Untuk apa aku berduka? Lalu matahari serupa peluru, sayang cahaya tak mampu membunuh manusia.

Lalu mengapa pula kamu masih duduk di halaman, memandang taman dan menggumam rindu?

Selasa, 29 April 2014

Menjadi Indonesia

Mungkin Tuan sudah lama tidak berjalan-jalan sendiri dibimbing Bayangan Tuan sendiri.
Tuan bisa menyaksikan betapa orang sudah kebal dengan doa sedang derita tak pernah berkurang. Mungkin derita ibarat virus dan doa ibarat vaksin. Mungkin derita sudah kebal dan doa tak mampu lagi menawar apa pun.
Mungkin saat Tuan berjalan sendiri di negara asing, tak pernah sedikit pun orang-orang serupa ini hinggap di pikiran tuan. Tapi bukankah Tuan dan mereka masih sama-sama manusia?
Bukankah diam-diam dalam hati Tuan bangga menjadi Indonesia. Dan Indonesia lah yang dicintai mereka diam-diam. Jika kalian saling cinta diam-diam, tidak perlu alasan lain lagi kan untuk menjadi saudara?
Kalau nanti suatu saat Tuan rindu dengan segala sesuatu, sebagian dari mereka rindu setengah mati tidur di tempat tidur sendiri. Mungkim bisa makan tiga kali sehari, syukur-syukur anak-anak kalian bisa menemani.
Tapi kami bukan Tuan. Mereka bukan Tuan. Dan sayangnya Tuan enggan dengan kami.
Kami titipkan mimpi kami pada tuan-tuan yang berdasi. Kami tak mampu lagi bahkan sehendak mengusap daki. Mimpi kami hancur lebur setiap malam. Dan rindu yang kami rindukan semakin habis dihisap cacing dalam perut kami.
Tuan yang baik, jalanan selalu memiliki cerita sedih. Pun begitu, cerita baik tak henti-hentinya tiba. Jadi janganlah menjadi iba.
Maaf hamba hanya berpuisi. Hamba pun bukan kami, tapi mereka menjadikan hamba sebagian dari mereka. Siapa lagi yang mampu menulis semacam ini?
Cukuplah selesai dengan doa-doa. Biarkan doa menjadi milik yang teraniaya. Dan kaum mana lagi yang lebih teraniaya dari kami?
Sempatkanlah dalam pikiran tuan tentang kami. Teteskan beberapa rindu tapi cukup sampai disitu.
Lalu jika enggan, izinkan kami diam-diam membangun rindu dan tak perlu kemana-mana lagi.

Hujan di braga

Diam-diam hujan turun di braga.
Beberapa pelukis cepat-cepat membungkus lukisannya. Mungkin mereka takut air mencuri keindahan lukisannya.
Atau mungkin mereka ingat sewaktu kecil dulu ibunya melarang mereka bermain hujan. Lalu sekarang atas nama rindu ibunya, mereka menjadikan hujan sebagai kawan yang selalu dirindu.

Ada yang menyebrang jalan, berdiri di trotoar dan menghirup udara bercampur air. Seorang gila berteriak-teriak, ia lupa bahwa dirinya harus pulang 20 tahun lalu. Tapi hujan mengembalikan ingatannya, dan nanti saat hujan reda ia akan kembali menjadi orang gila biasa di pinggir jalan.

Jadi kalau suatu ketika kamu sempat berjalan kala hujan di braga, sisa-sisa bayanganku akan masih tersisa di sebuah restoran sejak 1929 sembari menunggu ampas kopiku turun ke bawah

Ia lupa tentang doa

Ia tak ingat betul dengan doanya semalam tadi. Jujur, ia bahkan tak sungguh-sungguh ingat apakah ia sempat berdoa semalam.

Lalu saat pada akhirnya sore hari cerah, ia bisa duduk santai di bangku taman sembari menegak kopi. Dalam hati ia sungguh-sungguh berpikir:
"Mungkin semalam aku berdoa hari serupa ini."

Rabu, 23 April 2014

Gula dalam secangkir kopi

Baik, saatnya kamu pulang.
Sembari kamu memikirkan kenapa, mengapa dan kapan, aku akan menyeduh kopi dan meniriskan gula
dan nanti jika air sudah mendidih dan kopi telah siap, aku akan bertanya pelan:

"Kali ini berapa banyak gula yang kamu butuhkan dalam secangkir kopimu?"