Andaikan cerita yang kamu ceritakan beberapa hari itu benar sekalipun aku tak tahu harus berbuat apa hari ini
pun apa bila cerita yang kamu sampaikan itu salah sekalipun aku tetap tidak akan berbuat apa-apa hari ini,
jadi aku benar-benar tak tahu untuk apa kamu sampaikan ceritamu kemarin?
Senin, 28 Maret 2016
Selasa, 15 Maret 2016
Gigi geraham
Aku tahu diammu adalah bom waktu,
Bam! Tahu-tahu kau hantam rahangku.
Aku menatap senyummu tak percaya. Kusentuh daguku pelan dan kurasakan darah mengalir perlahan.
"Apa nama gigi yang berada antara taring dan geraham?" Aku bertanya padamu.
Kamu mengangkat bahu. Aku pun lupa yang pasti tak ada bedanya sekarang. Kuludahkan gigi keluar, untuk sesaat aku merasa seperti jagoan di televisi.
Kuraba pipiku untuk merasakan gigi-gigiku dr luar. Bisa kurasakan gusi mengalirkan darah segar.
"Anjing juga kamu hari ini... "
Rabu, 09 Maret 2016
5 mililiter
Kamu ingat benar kamu pernah meminum obat batuk yang sama beberapa belas tahun lalu.
Dan saat cairan memenuhi garis batas 10 mililiter di gelas takar, kamu sadar dulu kamu hanya meminum 5 mililiter
Dewasa: 10 mililiter 3 kali sehari
Anak kecil: 5 mililiter 3 kali sehari
Apa perbedaan antara kedewasaan dan ketidakdewasaan hanyalah sekedar 5 mililiter?
Aku tak tahu.
Tapi harapan untuk segera sembuh memang tak pernah selalu ada. Dulu kamu berharap supaya tak harus pergi ke sekolah, sekarang kamu berharap supaya tak harus pergi bekerja. Sama saja.
Senin, 15 Februari 2016
Itu ini mana
Kamu tak pernah suka seperti ini lalu kenapa pula kamu masih saja sepert ini?
Dan kalau kamu tahu kamu suka seperti itu kenapa pula kamu masih pura-pura tidak tahu?
Jika saja kamu masih ada dimana-mana, apakah kamu masih akan mempertanyakan hal yang sama?
Lalu apakah masih ada kamu jika kamu masih saja seperti ini, tak suka disitu, dan enggan pergi kemana-mana?
Dan kalau kamu tahu kamu suka seperti itu kenapa pula kamu masih pura-pura tidak tahu?
Jika saja kamu masih ada dimana-mana, apakah kamu masih akan mempertanyakan hal yang sama?
Lalu apakah masih ada kamu jika kamu masih saja seperti ini, tak suka disitu, dan enggan pergi kemana-mana?
Kata
Tuanku yang baik tidak dianugerahi kata-kata di ujung jarinya
sehingga setiap malam ia diam-diam berjalan keluar membiarkan pikirannya
matanya
dan kadang
segalanya
mencipta kata-kata.
Menulis bukan merupakan terapi yang baik, betul.
Selalu ada
Candu
tapi kata-kata akan tetap mengiba untuk disuara
kan.
Aku yang baik tidak memiliki kata-kata atau huruf di ujung jariku
lalu aku diam saja saat matahari bersinar pelan-pelan dan musik blues mengalir pelan dibalik teling.
"Kamu hendak kemana pagi ini?"
aku tak tahu, aku hendak bertemu dengan kata tapi aku tak pernah tahu ia berada dimana.
Dan kumpulan kata-kata ini nyaris saja menjadi puisi jika saja ada
sehingga setiap malam ia diam-diam berjalan keluar membiarkan pikirannya
matanya
dan kadang
segalanya
mencipta kata-kata.
Menulis bukan merupakan terapi yang baik, betul.
Selalu ada
Candu
tapi kata-kata akan tetap mengiba untuk disuara
kan.
Aku yang baik tidak memiliki kata-kata atau huruf di ujung jariku
lalu aku diam saja saat matahari bersinar pelan-pelan dan musik blues mengalir pelan dibalik teling.
"Kamu hendak kemana pagi ini?"
aku tak tahu, aku hendak bertemu dengan kata tapi aku tak pernah tahu ia berada dimana.
Dan kumpulan kata-kata ini nyaris saja menjadi puisi jika saja ada
Kamis, 28 Januari 2016
2130 atau lebih
Maaf aku terlambat sampai kotamu walau aku tahu kamu tak akan pernah sabar menunggu.
Berapa hari? 2130? Ah Nona, apakah kamu tahu aku tak pernah menghitung sampai seribu?
Aku harap masih ada sisa karbon dioksida dari paru-parumu di udara, massa dari bayanganmu di ujung-ujung kota dan getaran nyanyianmu di tengah-tengah hiruk pikuk kota. Tapi aku sadar aku bermimpi terlalu banyak saat ini.
Aku tak suka kota ini, sungguh tak suka. Dengan manusia serupa robot dimana-mana. Aku ingin pulang, betul. Tapi aku jauh lebih ingin bertemu denganmu.
Selasa, 12 Januari 2016
Tuhan di perempatan
Aku rasa ada Tuhan di setiap perempatan yang akan menunggumu apakah kamu akan belok ke kiri, ke kanan atau lurus saja ke depan.
Pun juga dibalik tembok rumahmu yang diam-diam mulai retak dibayar hujan dan matahari.
Atau mungkin di jantungmu yang masih saja tidak bosan memompa darah ke otakmu jadi kamu bisa memutuskan untuk belok ke kiri karena kamu tahu pada pukul berapa jalanan di depan akan mulai dipadati anak-anak yang pulang sekolah.
Kamu hanya diam saja mengetuk-ngetuk setir mobilmu sambil bersenandung pelan mengiringi musik familiar yang kebetulan keluar dari radio yang kamu setel sedari tadi.
Dan saat kamu belok ke kiri, Tuhan tahu dengan pasti bahwa kamu sudah akan belok ke kiri puluhan masa bahkan sebelum kamu lahir.
Tapi Tuhan menunggu. Dan kamu? Kamu tak pernah sesabar itu
Langganan:
Postingan (Atom)