Aku tak mengharapkanmu menyunggingkan senyum atau menawar tawa jika nanti benar-benar aku akan pulang. Aku hanya sekedar meminta untukmu membuka pintu bila aku pulabg |
Minggu, 13 April 2014
Bila aku pulang
Sabtu, 05 April 2014
Cerita
Namun bila aku tak selalu hadir dalam ceritamu, tolong maafkan aku
Apabila ini bukan permintaan maaf yang baik, maka aku maklum saja jika kamu tak pernah merindukanku.
Vulkanus meletus sayang, aku di puncaknya saat itu (merindukanmu)
Ini cerita tak sempat sampai telingamu, tak mengapa. Salah satu rindu yang baik adalah rindu yang tak pernah disayangkan.
Zaitun-zaitun tumbang, air mata mengalir.
Aku? Aku mencintaimu tentu. Tapi sampai kapan? Aih sayang aku tak pernah tahu jawaban macam itu |
Jumat, 04 April 2014
Seminggu
Jika Senin sedang cerah dan senyummu tak juga membatu, pelan-pelan akan kueja namaku ke telingamu jauh: Nanti di selasa setelah kudengar namamu kita akan berjalan menuju jendela. Nyanyianmu kudengar dan samar-samar akan kurayu dirimu. Rabu, matamu. Bukankah cahaya mengalir pelan dan aku tersenyum menyaksikan matahari terbenam dan tenggelam. Kamis, kuharap gerimis. Ceritamu tak habis-habis. Cintaku tak habis-habis. Jumat kepalamu telapak kakimu. Sedang airmatamu adalah darahku. Matamu telingaku. Sabtu abu. Sebagianku adalah sebagianmu. Kau ambil hatiku dan kusimpan hatimu baik-baik. Jemarimu melingkar di leherku, ku percayakan jantungku di sela-sela bola matamu. Lalu minggu kuharap tak ada lagi aku dan mu. |
Ceret
Selagi kupanaskan ceret kamu mungkin bisa duduk di kursi dihadapanku menyajikan cerita. Bagaimana kabarmu? |
Selasa, 01 April 2014
Kamu harus pulang
Kepalamu tidak mengutuk. Tapi bukankah lebih baik kamu pulang dan terebah. Perlukah kamu berada di tempat ini saat ini? Kamu harus pulang. |
Tentang ingatan
Mungkin kamu masih ingat saat kamu duduk di bangku penumpang dan aku dibangku pengemudi. Kamu mungkin tak ingat tentang lagu-lagu, tapi samar-samar kamu ingat tentang band favoritku. Kuharap begitu. Lalu ratusan malam berikutnya. Bukankah aku benar-benar menyayangimu? Kenapa pula kamu terus menurus menggores hatiku? Bukankah aku mencintaimu? Lalu untuk apa kamu mencuri hatiku lalu menginjaknya diam-diam? Kalau kamu berkenan, aku akan menjadi satu memori ketika suatu lagu terdengar di radio. Sekedar itu |
Langit malam ini
Sedang kopi mendingin, pikiran kita tak pula sama. "Sudah habiskah kita? Maka tak akan ada lagi cerita kita, anak-anak kita, masa depan kita, semua?" Tanyaku. Kamu tersenyum. Kemudian menangguk. Kemudian menangis. |