Aku tak tahu kenapa kau begitu menyukai hujan
Saat aku terbata-bata mengeja kata cinta,
Hujan turun kemudian kau tertawa
Disiramnya suka, namun demi siapa?
Sedang aku tak ada apa-apa, untukmu kah? Diriku kah? Kita?
Mengapa?
Dan kau yang menari-nari dibawah guyuran hujan
Dan aku yang duduk dibawah pohon, mengawasimu
Aku takut...
Kita duduk bersampingan, lalu kau pergi menyambut hujan
Lalu kau yang menangis, entah untuk apa
Aku yang duduk tadi disampingmu, kau anggap aku siapa?
Tetapi Tuhan sayang kepada kamu,
diturunkannya hujan agar kamu punya teman
Aku menyerah, bukan waktuku kali ini
Aku takut kamu tersambar petir...
(Okt-08)
Selasa, 28 Februari 2017
Kasa
Ah, aku tak tahu mbah kenapa rasa ini harus ada
Kau bahkan pergi saat aku belum mampu berpikir tentang mimpi
Lalu apa yang harus kukatakan pada ayahku?
Aku masih ingat tentang malam-malam kita keluar bersama
Saat kita tertawakan bintang, dan hanya saat itu dan itu
Langit itu ada, kau ceritakan sebuah cerita padaku
Lalu aku akan menunduk dihadapanmu, menghargai seorang wanita yang pernah dilukisnya mimpi dengan tangan-tangannya
Aku belum mampu lagi berbicara denganmu
Dan demi Tuhan, aku tak pernah mendengar penyesalan dari mulutmu
Ceritakanlah padaku,
kenapa air mata ini terus mengalir?
15 November 2008
Kau bahkan pergi saat aku belum mampu berpikir tentang mimpi
Lalu apa yang harus kukatakan pada ayahku?
Aku masih ingat tentang malam-malam kita keluar bersama
Saat kita tertawakan bintang, dan hanya saat itu dan itu
Langit itu ada, kau ceritakan sebuah cerita padaku
Lalu aku akan menunduk dihadapanmu, menghargai seorang wanita yang pernah dilukisnya mimpi dengan tangan-tangannya
Aku belum mampu lagi berbicara denganmu
Dan demi Tuhan, aku tak pernah mendengar penyesalan dari mulutmu
Ceritakanlah padaku,
kenapa air mata ini terus mengalir?
15 November 2008
Dan Hanya
Dan hanya karena matahari memberimu sinar sebanyak-banyaknya bukan berarti ia mencintaimu
Dan hanya karena hujan menghalangi perjalananmu bukan berarti ia membencimu
Dan hanya karena aku diam saja disini bukan berarti aku ingin kau pergi...
(Jan-09)
Dan hanya karena hujan menghalangi perjalananmu bukan berarti ia membencimu
Dan hanya karena aku diam saja disini bukan berarti aku ingin kau pergi...
(Jan-09)
Televisi
Selamat malam televisi, ujarmu menyapa. Ia selalu ada didalamnya sampai beberapa detik yang lalu. Lantas tertidur dengan remot masih tergenggam jemari
.
Pagi-pagi benar ia terbangun dan menyadari televisinya menyala semalaman. Ia menggerutu ringan mengingat tagihan listrik yang akan melunjak jika kebiasaan buruknya itu tak dihentikan. Sedetik kemudian ia tak peduli. Beberapa puluh ribu adalah receh baginya.
Ia sadar bahwa dibalik tivi adalah dirinya. Lalu mengasumsikan bahwa semuanya jadi nyata. Semuanya memang nyata, gumamnya. Cintanya adalah arus listrik dengan ribuan getaran yang di terbangkan antena.
Masih kecil ia ketika televisi mengajarkannya cara mengeja.
Dan kini ia menatap satu lawan satu dengan televisi. Ia kalah, tentu saja. Tapi tetap saja televisi membutuhkannya untuk membayar listrik, kan?
(Okt-11)
.
Pagi-pagi benar ia terbangun dan menyadari televisinya menyala semalaman. Ia menggerutu ringan mengingat tagihan listrik yang akan melunjak jika kebiasaan buruknya itu tak dihentikan. Sedetik kemudian ia tak peduli. Beberapa puluh ribu adalah receh baginya.
Ia sadar bahwa dibalik tivi adalah dirinya. Lalu mengasumsikan bahwa semuanya jadi nyata. Semuanya memang nyata, gumamnya. Cintanya adalah arus listrik dengan ribuan getaran yang di terbangkan antena.
Masih kecil ia ketika televisi mengajarkannya cara mengeja.
Dan kini ia menatap satu lawan satu dengan televisi. Ia kalah, tentu saja. Tapi tetap saja televisi membutuhkannya untuk membayar listrik, kan?
(Okt-11)
Sewaktu hujan datang
Sewaktu hujan datang, tiba-tiba bayanganku pergi ke jendela, menyelinap di balik di balik jeruji, kemudian pergi begitu saja lalu kembali saat hujan reda
Sejak saat itu aku tak memiliki bayangan saat hujan. Karena itu aku malu berjalan dibawah lampu saat hujan dan lebih memilih meringkuk sendiri di dalam kamar
(Nov-11)
Sejak saat itu aku tak memiliki bayangan saat hujan. Karena itu aku malu berjalan dibawah lampu saat hujan dan lebih memilih meringkuk sendiri di dalam kamar
(Nov-11)
Pukul tiga di Dempo
Siapa sangka bahwa aku masih terbangun? Gila apa kalau tengah malam ini aku masih sempat-sempatnya disangka robot?
Siapa sangka menulis di laptop tidak semenyenangkan dulu? Sudah tak ada morfin, puisi pun mengalir seadanya, kata-kata tertahan di jendela dan enggan keluar.
Esok malam akan kutuliskan sebuah cerita yang takkan membuatmu bosan membacanya
(Feb-12)
Senin, 27 Februari 2017
Memuja kata-kata
Sejak malam itu walau kalian berpisah, kalian telah memutuskan diam-diam untuk tetap memuja kata-kata walau berbeda.
Ia akan ingat akanmu setiap senja ketika AAR tak sengaja terputar di radio tape mobilnya dan kemudian akan diterjemahkannya dalam puisi dan prosa.
Kamu akan ingat padanya setiap kamu melihat billboard-billboard yang kamu lalui mengisyaratkan nama sebuah kota lalu diubahnya rindu sesaat menjadi sapuan kuas dalam lukisan.
Dan ia akan tertegun dan merasa kalah, mana mungkin bisa membandingkan puisi dengan lukisan yang mampu berbicara dengan jutaan kata dalam jutaan bahasa?
Dan kamu akan menggeleng tak percaya, mana mungkin mampu membandingkan lukisan dengan puisi yang mampu membakar jiwa hanya dengan segelintir kata-kata?
Dan tanpa kalian sadari kalian tetap memuja kata-kata.
Selasa, 21 Februari 2017
Mengkhawatirkanku
Kamu tak perlu mengkhawatirkanku, aku akan baik-baik saja.
Aku tak perlu alkohol untuk membasuh luka. Kamu bisa ambil kasa dan mulai membalut lebam.
Kamu tetap bisa tengadah dan mengharap impian menjelmakanmu Astronot.
"Sampai sekarang aku masih berharap jadi Astronot." ucapmu jujur.
Aku sampai sekarang masih berharap berkelana keliling dunia naik sepeda motor. Toh kita masih sama-sama disini tak berbuat apa-apa.
Kamu teruskan saja bicaramu pukul sepuluh malam dengan Amerika, aku tak apa-apa.
Aku akan di paviliun mendengar lagu dan menulis puisi ketika pulang nanti.
"Sampai sekarang aku masih percaya ada raksasa dibawah jembatan."
Aku sampai sekarang masih percaya kita bisa bernafas di luar angkasa. Toh kita masih sama-sama tak berbuat apa-apa.
Senin, 20 Februari 2017
Jangan dulu
Tolong jangan hujan dulu, aku enggan berjalan tanpa sepatu sore ini.
Aku enggan menenteng sepatu, menegaskan tangan mencoba menyentuh gerimis hujan dan menutupi rambut beberapa saat kemudian.
Aku enggan duduk di rumah, berbaring dan memikirkan semua sambil berharap tidak berasa di rumah saat ini.
Aku enggan dibayar lunas sepi oleh hujan dan berkata bahwa aku akan berhutang esok lagi
Selasa, 07 Februari 2017
Baik baik
Baik, baik, aku akan pulang.
Jadi kamu mulai bisa menahan tangis dan sedu sedanmu itu.
Lalu kamu bisa menungguku di atap dan bercerita tentang dirimu dan kota. Lalu akan memelukmu dan mengatakan semua akan baik-baik saja.
Baik, baik, aku akan pergi.
Jadi kamu mulai bisa mengumpulkan air mata untuk tangismu lain kali.
Lalu jika nanti semua sudah baik-baik saja, aku harap kamu masih mengharapkan baikku hadir di atapmu.
Langganan:
Postingan (Atom)