Selasa, 27 Desember 2016

Obat

Malammu mengingatkanku akan aku yang akan menjelma segala sesuatu. 

Tapi aku bukan itu. Aku hanya akan duduk di bangku taman mendengarkan lagu.

"Jangan menjadi sesuatu yang kamu inginkan. "

Aku selalu bisa duduk di bangku kosong pinggir jalan menatap jalan dan berpikir tentang akan jadi apa aku jika aku tidak di sini saat ini:

Astronot
Astronom
Asteroid 


Sabtu, 24 Desember 2016

Belajar menari Salsa

"Tidak sulit untuk menari Salsa. Kamu hanya perlu mengikuti irama, begitu saja." 

Aku mengangguk cepat. Tapi tetap saja aku tak bisa. Aku menggeleng, 

"Sia-sia. Lebih baik kamu mengajari bambu menari."

Kamu diam. Aku kira kamu akan tertawa mendengar lelucuonku yang tidak lucu. 

Plak. 

Kamu tampar aku. Pelan sebenarnya tapi aku terdiam tak percaya. Kamu berkata datar namun dalam, 

"Dari seluruh makhluk di dunia, hanya manusia yang mampu menari Salsa..."

Aku mengerti maksud ucapanmu. Aku meminta maaf dan kamu tersenyum. Jemarimu menyentuh pelan bekas tamparanmu di pipiku yang mulai memerah. Kemudian mereka bergerak ke dagu lalu mencium pelan bibirku. 

"Tatap aku dan aku saja tapi biarkan telinganu mendengar suara musiknya."

Aku menggangguk lagi. Aku menatapmu dan kamu saja. Rambut hitammu, mata hazelnutmu, senyum serupa mataharimu, semuamu. 

Dan semestaku mendadak hanya ada kamu dan musik salsa yang mengalun pelan ditelingaku. 

Mendengarkan Andrew Jackson Jihad

Kamu tak bisa pulang pukul sekian dan berharap sampai di rumah pukul setengah satu.
Akan ada pembangunan jalan di suatu tempat di Jakarta yang akan menghambatmu dan mencegahmu pulang tepat waktu. 

Kamu tak bisa pula duduk santai diatas kursi membakar dupa dan berdoa tentang segala. 
Kamu harus mengarahkan doa pada suatu rupa, bukan doa seenaknya tentang semuanya. 

Kamu tetap saja tak bisa pulang jika tak tahu rumahmu dimana. Atau hatimu dimana. Atau kepalamu. Pikiranmu. 

Kamu mungkin bisa bersenandung tenang sembari mengetukkan jemari diatas kemudi memandang perbaikan jalan di depan mata. Kamu tak harus pulang, kamu bisa di jalan selamanya. 

Jadi tentang apa puisi malam ini? Aku belum tahu, jadi kenapa tidak kamu baca sampai selesai? 

Aku akan menjelma menjadi kalimat pendek penyambung kalimat pembuka dan penutup pada sebuah paragraf tentang suatu kota. 

Aku adalah trotoar kecil yang remuk ditembus lumut dan ilalang. 

Aku adalah sendal sebelah kiri yang terlindas gepeng dijalanan.

Aku adalah lampu jalan yang mendadak mati saat kamu lewat tadi. 

Aku adalah bangkai tikus yang bahkan tak pernah kamu sadar telah lindas tiga kali dalam seminggu ini. 

Aku adalah pandangan matamu. Ceruk legam ditrotar jalanmu. Kelakson angkutan umum. Dan jalan pulang panjang tak berujung

Selasa, 20 Desember 2016

Britannia Raya ke Indonesia

Tiket pesawatmu menunjukan hanya ada sekitar 7000 mil jarak antara Britannia Raya dengan Indonesia 
tapi dalam hati kamu tahu betul jarak antara keduanya ada lebih dari itu. 

Ada masa depan, masa lalu dan masa kini yang terhampar diantaranya 

Sabtu, 17 Desember 2016

Pergi kembali

Kalau kamu tak memaafkan aku ketika aku pergi maka seharusnya kamu akan bahagia setengah mati saat aku kembali... 
kan? 

Tapi tidak, kamu tetap saja diam dan aku menghabiskan makan malam ditemani sepi.

 "Pergi lagi?" 
Aku mengangkat bahu tak mengerti. Tentu saja, siapa yang mampu berdiam diri seperti ini? 

Kamu menghela nafas tak peduli. Aku hanya melirik jam kayu di sebelah atas kursi. 

Manchester

Udara dan jalanan membawamu ke suatu kota lagi suatu waktu suatu ketika. 

Ketika punggungmu lelah dihajar debu jalanan dan matamu tak mampu lagi mampu membedakan kecepatan kendaraan sebenarnya. 

Di tengah kantukmu kamu berpikir:
Apakah aku benar-benar berada di jalanan Britania Raya saat ini? Apakah kecepatan mengacaukan pikiranmu dan membawamu ke suatu tol di Pulau Jawa, mendengarkan Dialog Dini Hari menuju Jakarta? 

Tapi kamu sadar kamu disini. Dan tidak disini. Kamu di mana-mana. Kamu bukan pengunjung. Kota lah yang datang dan pergi di sekelilingmu. 

Jadi wajar saja kamu tak mampu membedakan Manchester, Liverpool, Birmingham dengan Bandung atau Jakarta sekalipun. Karena kamu tak pernah kemana-mana. Kota lah yang mengunjungimu. 

Dengan batu bata usang, tepian trotoar, jembatan penyebrang jalan. Mana bisa kamu membedakan kota dari jarak dekat? 

Lalu kamu terbangun. Puisi ini tercipta saat kamu setengah tertidur. Tidak masalah. Justru puisi terbaik tercipta saat kamu tak sedang i ingin berbuat apa-apa. 

Dan kali ini? Aku rasa aku sedang tak ingin berbuat apa-apa di Manchester. 

Jumat, 02 Desember 2016

Konservatisme

Aku tak tahu apakah harus meminta maaf untuk kejadian yang aku tak pernah sepenuhnya sadar terjadi karenaku, tapi bagaimanapun... 
maaf... 
tidak. Aku cabut kembali permintaan maafku.

Aku sudah begini, Sayang. Dan akan terus begini. 

Aku akan pulang ke rumah sebelum pagi dan makan malam sebelum terlelap lagi. 

Aku akan terbangun tengah malam, berandai-andai kenapa mendadak jemariku memanjang dan tersadar  bahwa aku sedang bermimpi. 

Aku akan terbangun tengah hari di keliling gelak tawa dengan cara terbangun yang sebaik-baiknya. 

Aku akan tersenyum diatas roda-roda sepeda ya g membawaku ke suatu tempat di peta. 

Aku akan tetap menghabiskan waktu di beranda membandingkan masa lalu dan masa kini. 

Jadi untuk apa untuk meminta maaf atas hal yang menjadikanku aku? 

Kamis, 01 Desember 2016

Pekanbaru

Waktu akan berkali-kali membawamu ke suatu tempat asing dan kemudian menjadikanmu bagian dari semesta kecilnya,
kamu akhirnya terbiasa dengan udara suatu kota sampai beberapa saat kamu dipaksa menuju kota lainnya.

Dan Pekanbaru?

Siapa yang tak merasa asing disini? Tapi kamu merasa betul-betul rindu suasana seperti ini. Kamu ingin pulang, tentu. Tapi siapa pula tak ingin disini untuk beberapa waktu lagi