Kamu tak bisa pulang pukul sekian dan berharap sampai di rumah pukul setengah satu.
Akan ada pembangunan jalan di suatu tempat di Jakarta yang akan menghambatmu dan mencegahmu pulang tepat waktu.
Kamu tak bisa pula duduk santai diatas kursi membakar dupa dan berdoa tentang segala.
Kamu harus mengarahkan doa pada suatu rupa, bukan doa seenaknya tentang semuanya.
Kamu tetap saja tak bisa pulang jika tak tahu rumahmu dimana. Atau hatimu dimana. Atau kepalamu. Pikiranmu.
Kamu mungkin bisa bersenandung tenang sembari mengetukkan jemari diatas kemudi memandang perbaikan jalan di depan mata. Kamu tak harus pulang, kamu bisa di jalan selamanya.
Jadi tentang apa puisi malam ini? Aku belum tahu, jadi kenapa tidak kamu baca sampai selesai?
Aku akan menjelma menjadi kalimat pendek penyambung kalimat pembuka dan penutup pada sebuah paragraf tentang suatu kota.
Aku adalah trotoar kecil yang remuk ditembus lumut dan ilalang.
Aku adalah sendal sebelah kiri yang terlindas gepeng dijalanan.
Aku adalah lampu jalan yang mendadak mati saat kamu lewat tadi.
Aku adalah bangkai tikus yang bahkan tak pernah kamu sadar telah lindas tiga kali dalam seminggu ini.
Aku adalah pandangan matamu. Ceruk legam ditrotar jalanmu. Kelakson angkutan umum. Dan jalan pulang panjang tak berujung