Senin, 30 Mei 2016

Semanggi

Kami titipkan suara dan rasa lapar kami pada gemeretak gigimu saat kamu dihajar oleh polisi pagi itu.

Jadi kamu akan merasa perlu untuk terus berseru-seru walau moncong senapan sudah siap menunggu.

Kami titipkan tangisan anak dan keluhan tak berujung kami pada aliran darah saat ia keluar dari pelipismu sore itu.

Jadi kamu tak akan ragu walau dadamu tembus dihajar peluru

Jumat, 27 Mei 2016

Kekasihku Astronot

Kekasihku, Astronot. Ia pergi ke bulan kemarin. 

Aku terima telegramnya pagi ini:
"aku baik-baik saja. Tak perlu menungguku pulang, kamu bisa makan sendiri."

Dan dunia ini terlalu aneh sedang kamu terlalu jauh

Senin, 23 Mei 2016

Tanda baca

Aku tak sempat berpikir dalam hati, "Apakah itu sebuah pertanyaan?" ketika kamu berkata singkat setelah aku memakai jas dan bersiap pergi,

"Kamu akan pergi"

Sulit menerka maksud perkataanmu apabila tak ada tanda baca. Suaramu selalu datar. Tak ada kurasakan tanda seru, titik, tanda tanya, atau titik tiga sebagai perumpamaan ucapan yang tak perlu dibalas.

Dan jawabanku? Tentu Aku hanya diam.

Minggu, 22 Mei 2016

Nebukadnezar

Tuhanku yang baik,
apakah ada perbedaan doa semut-semut dan doa raja-raja?

Planet-planet

Planet-planetmu kemarin kini telah hilang dimakan lubang hitam dan kini aku tak bisa melihat langit dengan perasaan yang sama ketika aku melihatnya bersamamu beberapa masa lalu,

"Ada yang bilang ketika kamu mati kamu menjadi bintang. Omong kosong..."
ujarmu. Aku menyandarkan tanganku di kepala beralas rumput, kamu setengah duduk sambil membakar kretek di sampingku.

"Omong kosong bagaimana?"

"Ketika bintang mati ia akan menjadi lubang hitam. Mana mungkin yang sudah mati menjadi lebih mati dan menghancurkan yang lain?

Aku tak terlalu peduli dengan ucapanmu malam itu saat itu tapi aku ingat seluruh kalimatmu pada malam ini ketika planet-planetmu hilang dimakan lubang hitam.

"Kalau aku mati, aku akan menjadi planet." ujarmu yakin. Kamu kemudian menunjuk satu tempat diantara bintang yang kosong dan berujar bahwa disanalah kamu akan muncul.

"Aku adalah putaran debu, dalam jantungku ada jalur susu darah namanya, oksigen yang tersisa disana cukup untuk beberapa mikroba. Sungguh aku akan menjelma planet ketika aku mati."

Aku tersenyum dan menggeleng. Aku balas ucapanmu,

"Kalau aku mati, aku akan menjadi bintang. Kalau aku lebih mati lagi, aku akan menjadi lubang hitam pemangsamu."

"Gila kah, kau?" tanyamu cepat.

"Mungkin. Tapi bukankah dengan begitu kita bisa bersama selamanya?"

Di warung kopi

Kamu bilang kita bukanlah tentang waktu atau lama bersua
jadi kukira pada malam itu saat kita bertemu pada pukul setengah sepuluh malam, kamu, aku
(barangkali siapa pun diantara kita berdua)
sudah pulang menuju rumah.

Kamu kemudian mengeluh,
"Aku seharusnya sudah menuju rumah. Tapi lihat dimana kita saat ini: di warung kopi dan hanya salah satu diantara kita yang meneguk air rebusan biji."

Aku menatapmu,
"Aku tak menghalangimu. Hujan yang baiklah yang mencegahmu pulang."

Diluar hujan turun. Kita tak kembali bercerita, betul. Tapi uap biji kopi yang digerus tetap bersembunyi diam-diam dibalik diam kita.

Jumat, 20 Mei 2016

Mistik

Jilatan matamu pada sore hari itu adalah mantra

Penumpang terakhir

Kereta berhenti juga, kamu melirik jauh ke kanan kemudian memutuskan bahwa ini benar-benar stasiun terakhir.

"Bagaimana kalau aku ingin ke stasiun terakhir tapi tak ingin menambah membayar tiket?

Petugas restorasi yang cantik tersenyum kemudian menempelkan jari ke mulut sambil menunjuk pojokan tempat cuci yang penuh dengan piring kotor.

Kamu mengangguk mengerti.

Satu piring kotor...

Dua piring kotor...

Tiga piring kotor...

"Maaf aku harus turun, rumahku bukan disini tapi aku harus berada disini malam ini. Kamu bisa turun dimanapun, kereta ini milikmu selama kamu mencuci habis piring-piring di sini."

Kamu menggangguk sebagai ucapan terima kasih. Petugas restorasi memelukmu pelan. Sesaat kamu merasa ingin pulang. Sesaat kamu ingin turun dimanapun petugas restorasi turun.

Empat piring kotor...

Sekian piring kotor...

Piring kotor habis sudah. Kamu adalah masinis kereta malam ini dengan hantu-hantu yang baik sebagai penumpang yang buruk. Kamu tersenyum, kereta masih berjalan sedang pikiranmu tak hendak kemana-mana.

Jadi kita kembali ke awal puisi ini, kereta berhenti. Kamu adalah penumpang terakhir tapi sayang kamu harus turun supaya kereta tetap menjadi kereta.

Tandukmu

Tandukmu yang semalam mengoyak paru-paruku kini telah tergantung gagah diatas ruang tamuku.
Kamu tak sempat menghela nafas pagi itu, aku ingat tentu. Dan tentang ceritamu? Siapa yang selalu ingat seluruh cerita tentang seseorang pada suatu waktu?

Lalu aku?
Aku akan pulang dengan tangan di dalam saku dan mata menatap segala penjuru. Aku kira sekarang pukul dua, masih maukah kamu keluar rumah dan pulang menyambutku?

Telah kuterima suratmu tadi pagi.
"Ketika kamu terima suratku, aku sudah jauh pergi..."