Selasa, 27 Oktober 2015

Setengah perjalanan

Setengah perjalanan menuju rumah mau tak mau aku berandai-andai pula apakah kamu benar-benar akan baik-baik saja kutinggal sendiri dan mendadak hujan turun.

Lalu apakah aku harus kembali? Sedang jalan sudah tak jauh lagi. Aku bisa saja pulang meneguk cokelat. Atau kembali menawarkanmu bernaung satu payung menuju rumah.

Jadi tepat pada saat itu aku berada diantar tengah-tengah. Tak ada yang terlalu jauh. Pulang atau kembali padamu, sama jauhnya.

Sampai saat ini aku berpikir bahwa "Selamanya" itu terlalu lama.

Kamis, 22 Oktober 2015

Hal-hal kecil yang indah

Kalau aku tak sempat memesan apa-apa mungkin kamu sudah pergi sedari tadi.
Sayang, kamu tahu betapa jauhnya kotaku dari kotamu lalu kenapa pula kamu buru-buru pergi meninggalkan segelas kopi?

"Pesawatku sudah tiba,"
Tutupmu.

"Pesawat selalu bisa menunggu."
Tantangku.

"Begitu?"

Lalu kita berbicara berempat di kafe di bandara.

"Kamu ingat kita pernah pergi ke suatu menara?"
bukamu.

Minggu, 18 Oktober 2015

Kembang Gerbera

"Aku tak pernah benar-benar tahu bahwa bunga Gerbera itu benar-benar ada,"
ujarku jujur.

"Oh ya?", pancingmu.

"Ya, aku kira Gerbera hanya julukan yang diberikan oleh Sitor pada si Gadis." Balasku.

"Masuk akal. Tidak ada nama bunga seindah itu di bahasa Indonesia." Jawabmu.

Aku mengangguk. Di tanganku masih tergenggam seikat bunga mawar dan dua kuntum bunga Gerberra di tengah-tengahnya.

"Gerbera serupa matahari," ujarmu.

Aku mengangguk. Bunga Matahari seperti matahari tapi kurasa Gerbera serupa matahari. Apa beda antar seperti dan serupa? Tak sempat kutanyakan karena kamu menanyakan hal yang lebih penting setelah itu.

"Jadi kenapa kamu berikan seikat Mawar dan dua Gerberra padaku?"

Aku tersenyum.

"Karena Gerberra kusangka tak pernah ada, ternyata ia ada dan seindah ini. Aku rasa hal yang sama berlaku padamu. Aku sangka kamu yang serupamu tak pernah ada, tapi ternyata ia ada. Bukankah kamu serupa Gerbera?"

Aku menjawab panjang.

"Serupa atau seperti?" kamu menanyakan hal yang sama dengan yang hampir kutanyakan.

"Aku tak tahu perbedaan antara serupa atau seperti." Jawabku jujur. "Bukankah mereka sinonim?"

"Aku sinonim dengan Gerbera?"

"Bukan, serupa dengan seperti."

"Ah ya, ya." jawabmu. "Lalu kenapa ada dua kembang Gerbera?"

Aku mengangkat bahu. "Kenapa kamu banyak bertanya?

"Oh, ya? Kenapa menurutmu?"

"Kan, kamu bertanya lagi." Aku kemudian tertawa. Di tanganku masih tergenggam seikat mawar dan Gerbera.

"Jadi, aku adalah si gadis dalam ceritamu?"

"Mungkin, mungkin. Apakah kamu akan selalu ada dimana-mana saat aku kemana-mana?"

"Mungkin. Tapi Sitor bukan penulis ceritamu kan?" ujarmu sembari mengambil seikat mawar dan dua kuntum Gerbara dari tanganku.

"Mungkin, mungkin."

*untuk Sitor Situmorang dan Kembang Gerbera nya

Senin, 05 Oktober 2015

Para serdadu

Aku ingin menceritakanmu tentang...
kupikir-pikir lagi tidak. Aku tak pernah benar-benar ingin menceritakanmu tentang apapun.

Aku sempat ingin bertanya apa kamu ingat saat...
kupikir-pikir lagi tidak. Aku tak pernah berharap kamu teringat apapun tentangku.

Mungkin pada waktu kamu memikirkan akankan kamu mencintaiku apa tidak pagi itu, aku sudah pergi entah kemana.

Aku berharap ingat namamu, sungguh aku berharap. Tapi aku hanya akan selalu ingat genggaman tangamu yang erat dan tetes air matamu

Minggu, 04 Oktober 2015

Kalau kamu sempat

Kalau kamu sempat aku ingin kamu keluar sebentar di sela-sela pekerjaanmu lalu berjalan perlahan menuju resepsionis dan menyambutku di depan.

Jika kamu beruntung bisa saja kamu mendapatkanku tengah tersenyum lebar membawa bunga dan coklat.

Jika kamu sedang tidak beruntung setidaknya kamu masih bisa mandapatkanku tengah tersenyum lebar namun tanpa bunga dan coklat.

Dan jika kamu sedang benar-benar tidak beruntung kamu masih bisa mendapatkanku.

Paris

Aku dengar kamu ke Paris malam itu, benar begitu?
Aku hanya sesekali melihat Paris dari televisi dan gambar. Siapa sangka seseorang diantara kita benar-benar merasakan kehidupannya.

Aku tahu benar gambar-gambar pojok kotanya, tentang orang yang berjalan, dan menara Eifel. Ya, Tuhan Menara Eifel!
Aku tak tahu pasti tentang tata kota, tapi apa benar kamu bisa melihat Menara Eifel dari segala penjuru kota? Ibu kota negara mana yang bisa seromantis itu membiarkan bongkahan besi dapat terlihat dari segala?

Kalau kamu kembali akan kutanyakan cerita dan kuucapkan selamat. Tapi sampai kamu memberitahuku padaku sendiri, aku hanya akan berpura-pura tidak tahu.

Lalu pada suatu hari kamu akan bercerita,
"Aku ke Paris bulan September 2015."
Aku akan memasang wajah terkejut lalu bertanya pelan, "Oh ya? Ceritakan padaku..."

Bisa aku bayangkan wajahmu saat bercerita. Bisa kubayangkan wajahku yang memperhatikanmu bercerita. Bisa aku bayangkan Parismu. Tapi aku tak akan pernah bisa benar-benar membayangkan apa yang ada di dalam hatiku saat itu