Kalau ia beruntung maka ia masih akan mendapati bahwa hionya belum terbakar habis saat ia pergi keluar dan memanjatkan doa. |
Rabu, 14 Agustus 2013
Ralat untuk puisi Hio
Aku menulis diatas beranda sebuah hotel di Surabaya
Masa tepat diantara ia merasa normal membaca permainan rangkaian dan tidak sudah tak dapat ia terka lagi dengan benar. Ia tetap bisa menikmati keindahan kata sesungguhnya. Jadi ia tak mampu untuk memprotes apa-apa. Ia masih bisa duduk di beranda sediri saja dan tidak perlu khawatir ada orang lain yang diam-diam memperhatikannya menangis. Ia selalu saja datang dan pergi sendiri. Dan ia benar- benar meyakini bahwa ia tetap sama dengan dirinya sendiri. Tapi jelas saja ada yang berbeda. Dan jika kamu menanyakannya kenapa ia takkan pernah mampu menjelaskannya dengan baik kepadamu |
Senin, 12 Agustus 2013
Hio
Doamu bukanlah hio yang terbakar lalu hilang menjelma udara. Dan doamu yang pada akhirnya dengan lembut membangunkanmu. Membawa aroma hio ke sekitar dan akhirnya memaksa setiap makhluk mengamini doamu. |
Minggu, 11 Agustus 2013
Kopi dan teh
Belum lagi dingin kopi yang kamu sajikan diatas meja namun aku sudah berandai-andai pula sejak kapan aku lebih menyukai kopi daripada teh. Mungkin sejak kemarin, mungkin sedari dulu, atau mungkin baru saja sesaat setelah kamu seduh. Tapi saat akhirnya kamu memintaku pulang, aku hanya sempat berkata pelan: "Setidaknya biar aku habiskan satu cangkir ini dulu." |
Sabtu, 10 Agustus 2013
Perangko
Tak pernah aku tempel perangko di sudut kanan atas puisi-puisiku.
(Tapi sebenarnya aku benar-benar berharap kamu akan diam-diam selalu membaca puisi-puisiku)
|
Kotamu tak pernah melupakanmu
Kotamu tak pernah melupakanmu. Kamu yang selalu melupakannya.
Setiap langkah yang kamu buang di kota lain, ia berias secantik-cantiknya agar kamu enggan tak kembali.
Lalu udara yang kamu buang di dataran lain, ia jelmakan menjadi oksigen baru yang kamu hisap hanya saat berada disini.
Lalu nanti saat kamu pulang kamu hanya tersenyum sendiri sambil berpikir:
"Bukankah tak pernah ada yang mencintai kota ini seperti aku mencintainya?" |
Di kota malam hari
Tuan, bukankah Anda semestinya sudah terebah diatas hotel? Kenapa pula anda masi enggan melepaskan tangan dari stang sepeda motor? Ah, rupanya engkau rindu |
Senin, 05 Agustus 2013
Doa pelaut untuk anaknya
Selamat malam laut. |
Senyummu malam itu
Bulan bersinar remang-remang, awan terkadang menghalangi cahaya sedang hewan-hewan malam berkeliaran sesukanya.
Namun yang sampai kini membuatku heran ialah tentang aku yang tak pernah bisa mengingat senyummu malam itu
Sabtu, 03 Agustus 2013
Azan milik Ibu
Azan isya mengajakmu pulang. Setengah merwngut kau balas lambaian tangan mesra ibumu yang menjemput dari pos Ronda. "Tapi bu, hari ini aku masih ingin terus bermain hari "Kamu masih bisa terus bermain, Kamu tatap wajah ibumu lekat-lekat. Kamu kemudian berkata pelan. Ibumu tersenyum kemudian memelukmu pelan. Kamu tersenyum dan mebalas pelukan ibumu kemudian berujar, |
Puisi dan penulisnya
Puisi tak serupa surat. Tak perlu ada yang menunggu diseberang. Para penulis yang terbaik hanya benar-benar berharap puisinya dibawa angin alih-alih tas pengap Pak Pos. Para penulis yang baik tidak menualahkan pena atau jemari atas kata-kata yang tertuang di atas kertas. Kalau memang harus ada yang dikesalkan mungkin hanya betapa ia tak mampu menulis puisi sebaik ini untuk esok hari |
Jumat, 02 Agustus 2013
Pencuri
Hanya ada tiga ekor jangkrik di halaman saat seorang perampok datang ke rumahku. Aku mau tak mau terbangun juga saat kemudian berkata lantang: Kuusap-usap wajahku perlahan lalu berjalan ke beranda. Kulihat bayangannya berdiri seakan dipancang cahaya bulan. Ia kemudian berjalan ke arahku. Pencuri itu menamparku lalu lari cepat-cepat. Sayang tak sempat dinikmatinya cahaya bulan yang petlahan mengjilang dibawah bayangan pepohonan. |