Minggu, 18 November 2012

Jejak kaki

Tak tahu juga ia kenapa harus kemari.
Langkah-langkah kakinya habis, jejak terakhirnya lunas di depan gedung.

Tersimpan baik-baik segala cerita dalam benakmu.
Kepahlawanan kemarin, kepecundangan tadi sore, semuanya.
Pikirannya habis, dirinya habis.

Ia tak tahu sejak kapan mengarahkan kakinya kemari

Balikpapan

Tak disangkanya udara membelah sungai
Angin menggerus sungai hingga habis. Hanya tersisa puyuh rindu dan magis yang mengiris kuping

Ada pantai di seluruh kota. Di belakang rumah, pertokoan, selokan, semua.
Bangunan terburuk pun memiliki pantai. Dan bandara yang muncul di atas pelabuhan.

Jalanan-jalanan asing yang dalam hati membuatmu bersumpah bahwa kamu pernah kesini sebelumnya. Tapi kamu tidak. Ini bukan kotamu. Impianmu tak pernah kemari. Masa lalumu ada di kota-kota lain.

Sedang masa depanmu? Siapa tahu...

Riuh

Sejak kemarin tak ada lagi suara rindu riuh-riuh
Yang tersisa hanya kumpulan debu yang terbawa angin timur jauh
Sudah tak ada lagi ucapan salam dari barat. Sedang mereka kini sudah berada dalam waktu yang sama

Tak ada yang ada di masa depan salah satu dari antara mereka. Detik yang sama, menit yang sama, jam yang sama. Semua

Dalam pandangan mereka hanya ada waktu yang sama. Tak ada lagi awan yang menggelayut enggan di atas kepala mereka. Matahari pun tetap sama. Rembulan tak pernah kemana-mana.

Mereka tak perlu kemana-mana. Karena semenjak tadi, rindu tak datang lagi riuh-riuh.
Sela jemari saling terisi. Air mata berhenti.

Tak ada rasa sesal yang menyuruhnya untuk menulis. Tak ada pula rasa sedih. Senang, duka, cinta, semua tak ada.
Ia hanya memperhatikan jemari menggerakan besi perlahan. Ia menunggu. Di waktu yang sama. Langit yang sama

Maka sejak itu, rindu sudah hilang riuh-riuh.
Dan kemarin saat rindu datang terakhir kali, ia menyesal setengah mati tak dinikmati rindu sebaik-baiknya

Senin, 12 November 2012

Kerangka

Mungkin sudah waktunya kita pulang,
sudah habis daging dikerat tanah.
Bola mata bergulir lepas. Rahang jatuh kesamping.

Rambutmu masih melekat. Namun kulit kepala perlahan menghilang.
Dan tinggal waktu, kita menjadi kerangka.
Rangka, daging, dan kulit.

Perlahan kita habis jadi hilang lalu benar-benar pulang

Kamis, 08 November 2012

Pertanyaanmu

Nak, aku harap kamu tak pernah menanyakan kenapa kita harus ada.
Karena aku tak tahu. Sungguh tak tahu.

Aku tak tahu kenapa harus ada kelingking bersebelahan dengan jari manis pada tangan.

Aku juga tak tahu kenapa aku harus mendengar pertanyaanmu pada malam hari dan hanya tersenyum.

Kalau kujawabkan, "Aku mencintaimu." Sudah cukup terjawabkah semua pertanyaanmu kini dan nanti?

Minggu, 04 November 2012

Rumah kita

Mari ke jendela. Atau memang jika rumahmy tak berjendela, mari duduk di depan pintu menunggu terbuka.
Atau bisa saja kita buka sendiri dan melangkah keluar.

Atau bisa saja kita menunggu di tengah ruang tamu dan memperhatikan bel saat berdering.
Nanti saat berdering, kita akan berlomba menuju pagar sambil menerka siapa yang ada di balik pintu.

Bisa saja kita duduk dan mengopi di beranda. Membiarkan kucing-kucing hilir mudik di antara kita.

Atau mungkin saat lelah, kita bisa berbaring di kasur lalu menebak berapa jumlah domba dari masing-masing kita hitung dalam pikiran kita.

Lalu jika nanti tiba dan benar-benar tiba. Mungkin kita akan menumpuk di halaman belakang rumah dan membuat terkejut orang-orang di masa depan yang hendak membangun pondasi baru untuk rumhanya.

Ah rumahnya. Betapa rumah kita tak akan menjadi rumah kita untuk selamanya.