Rabu, 03 Juli 2019

Istriku hamil anak pertamaku

Dinda, Istriku sedang hamil anak pertamaku.

Pernah ia bertanya,
"Bagaimana jika aku kelak menjadi gempal dan buruk rupa?"

aku berpikir dalam hati:
"bukankah cantikmu saat ini adalah cantik tak terhingga yang tak akan habis terbagi hingga akhir semesta?"

tapi toh aku berbohong juga. mana bisa aku seromantis itu?
aku menjawab ringan (berbasa-basi):

"aku akan mencintaimu seterusnya."

Ramuanmu

sekurang-kurangnya dua sendok teh,
ujarmu menutup mantra.

dari lubang hidungmu mengalir awan putih kecil, menaik.
perlahan sampai angkasa.

dari angkasa melompat cepat dua bulir, air. turun.
hinggap di atas ramuanmu.

Selasa, 02 Juli 2019

Asam lambung

tapi apa pasal, perutnya kini tak mampu lagi mencerna kopi dan tembakau dengan praktis.

asam lambung merangkak naik dan membuat dirinya mual lalu memuntahkan segala sesuatu asal bukan kata-kata.

Dan kata-kata tak pernah lagi hinggap dengan baik di ujung jemarinya. Seperti menangkap kupu-kupu saja, hanya mampu dilihat namun tak pernah hinggap.

Kecuali pada keadaan yang benar-benar darurat, kata-kata akan keluar seperti pancuran air memadamkan dirinya sendiri.

Jumat, 22 Februari 2019

siapa sudi ia bohongi

sekejap saja ia hadir terdiam di depan gigi taringmu
terselip diantara
taring
geraham
dan
remah-remah
ja
gung

menceritakan tentang cerita-cerita yang terkadang
(mau diakui atau tidak)
seperti dusta
tapi tetap saja kamu berkata lantang

"laki-laki semacam aku (dan hanya aku sajalah yang) tak pernah berdusta."

membiarkan kata-katamu ditadaburi tanpa berpikir oleh yang mengamini tiba-tiba.

kamu diam, mungkin karena setuju, mungkin juga karena
hendak membual
lagi
lagi
dan
;lagi.

Senin, 11 Februari 2019

tapi semua tak mengapa

tapi

semua

tak me

nga

p


a

betapa menyenangkannya

betapa menyenangkannya (ia duga) ketika ia berpura-pura bahwa ia adalah orang pertama tahu segala dan menarasikan langkah kaki kanan-kiri mu sampai kamu tertidur di sebuah.

kasur.

dan betapa semua cahaya pada akhirnya mengingatkannya pada temaram abu kelambunya di bawah naungan telingamu tengah tertunduk di pahamu.

menangis.

dengan air mata yang merembas perlahan-lahan di antara lipatan betis dan pahanya sampai jadi kolam di telapak kakinya.

selamanya

Jumat, 30 November 2018

Semoga kamu tak mendengar

disentuh oleh pisau, lehermu sedang mulutmu mengeluarkan kata-kata tak berhingga mengisi udara.
dipaksanya oleh pandangan matamu, mataku. sedang jalanan tak pernah sepi dan harapanmu tak pernah sampai.

"telah kulakukan hal-hal yang aku tak suka." desismu. mengalir tajam dari lidah ke telingaku. belatiku tetap tergenggam erat enggan pergi.

"kita semua melakukan hal-hal yang tak kita suka." kataku padaku. "karena itu kita manusia." dalam hatiku. kamu tak mendengar--semoga kamu tak mendengar.