Minggu, 13 September 2015

Devil Blues

Sayang kita bukan Tuhan di Persimpangan, Sayang.
Kita juga bukan Setan sehingga tak mampu menjajikan apa-apa kepada lelaki dengan gitar.
Aku juga tak tahu harus apa dan sedang apa.

Lalu bagaimana kabarmu, tanya lelaki dengan gitar.
Aku mengangkat bahu. Tak tahu, jawabku.

Kamu bukan Setan atau Tuhan? Tanyanya.

Aku menggeleng. Ia nampak sedih tapi mau bagaimana lagi, tak ada gunanya berbohong pada waktu-waktu seperti ini.

"Bagaimana kalau kamu kuajarkan bermain gitar?"
Ujar suatu suara

Rabu, 19 Agustus 2015

Cerita tengah malam

Kamu tak ingin jatuh cinta padaku, terutama pada malam-malam seperti ini.

Ujarku yang tak pernah kukatakan padamu. Setengah dua belas masih bersiap untuk berdentang dua belas kali di jam yang terduduk diam di tembok atas. Kamu entah dimana, aku sedang berada disini. Jadi begini,

Bagaimana kalau kepada cerita? Bukankah kamu selalu penuh cerita?

Balasmu. Aku tersenyum. Jatuh cinta pada cerita, apalagi yang bisa lebih indah dari itu?

Baik. Jadi pada suatu hari...

Aku bercerita. Tentang suatu hari yang tak pernah benar-benar terjadi. Tentang lelaki yang tak betul-betul pernah ada disini. Tentang wanita yang mungkin hanya hidup di imajinasi belaka. Tapi begitu cerita itu diberikan dan begitu pula cerita akan kusampaikan.

Kamu mendengarkan dengan tenang. Aku tak bercerita tentang naga, istana atau kurawa. Tidak. Aku bercerita tentang bukan apapun. Tentang apapun. Dan tentang sedikit yang pernah terceritakan.

Sedetik sebelum pukul dua belas kamu angkat bicara:

"Ini untuk para pendosa dan tindakan baiknya dimasa depan." ujarmu mengangkat gelas. Aku membalas

"Ini untuk masa lalu, masa depan dan masa sekarang."

Lalu kita tertidur dengan tenang.

Di atas motor

Bagaimana gemeretak rantai memanggilmu kamu sudah tak begitu ingat lagi
kamu ingat tentang masa lalu, masa depan dan mendadak masa kini tak pernah begitu semenakjubkan sekarang.

Kamu berada di masa kini, masa lalu dan masa depan sekaligus. Siapa sangka motor usang akan membawamu seperti itu?

Rabu, 12 Agustus 2015

Hujan di Denpasar

Aku tak begitu yakin apakah hujan di Denpasar ini membawa air yang sama dengan hujan di Malang, Surabaya, atau Jakarta.

Tapi hujan yang baik selalu membiarkan aku duduk sendiri di beranda. Ia tak menggangu. Ia tak menghakimi. Lebih dari apapun ia tak apa-apa.

Senin, 10 Agustus 2015

Ketapang

Aku tahu semestinya aku tetap duduk manis dan tertidur didalam bus.
Tapi apa pasal? Perjalanan 7 jam mau tak mau akan berubah jahat kepada bokongku akhirnya.

Aku tahu semestinya aku tak berhenti mendengar dangdut yang menghentak.
Tapi apa pasal? Tawaran mendengar lagu sendiri sembari berpikir terlalu manis untuk ditolak.

Aku tahu semestinya aku duduk manis saja di kabin bawah
Tapi apa pasal? Angin selat memanggilku ringan untuk hadir di atas dek.

Aku tahu semestinya aku tak pergi sendiri.
Tapi mau bagaimana lagi? Aku lelaki.

Supir

Tuanku supir yang baik, kenapa pula kamu antarkan ke tempat-tempat penuh masa lalu dan kenangan sore ini?
Ujarku memojokkannya.

Tuanku penumpang yang baik, tugasku hanya mengantarkan penumpang-penumpangku ke tujuan. Urusan masa lalu, masa kini, dan masa depan adalah urusan masing-masing kalian dengan pikiran-pikiran kalian sendiri.
Ia membalas ringan

Ah sejak kapan pula aku mendapat supir seromantis ini?

Sabtu, 08 Agustus 2015

Cerita dan cinta

Cerita yang baik bisa saja berakhir pendek, panjang tak berujung atau tak pernah benar-benar selesai diceritakan.

Apakah karena lantas cerita yang pendek berarti cerita itu bukan cerita yang baik?
Apakah karena panjang apakah berarti cerita itu cerita yang baik?
Apakah karena tak pernah benar-benar selesai apakah berarti itu bukan sebuah cerita (yang baik atau yang buruk)?

Begitu pula cinta.
Ya, kurasa