Minggu, 23 Februari 2014
Membaca pikiranku
"Bisakah kamu membaca pikiranku?"
Aku sungguh berandai apakah kamu bisa membaca pikiranku.
Jadi mungkin pada malam ini kita bisa mengurangi sedu sedan
dan menyisakan kenangan yang cukup baik bagi siang.
Namun kalau memang misalnya kamu benar-benar bisa membaca pikiranku: kenapa pula aku harus pergi?
Aku tak berkeberatan jika kamu tak berkeberatan, dan bukankah kamu diam-diam akan tahu bahwa aku mencintaimu terserah kamu mencintaiku atau tidak
Intermission
Tak terasa sudah 5 tahun lebih sejak blog puisi ini dibuat. Dan, Bam! Tahu-tahu 500 puisi. Saya tak menyangka, sungguh!
Blog puisi ini adalah bagian kecil yang penting bagi saya. Jika orang-orang menggunakan album foto dan diari untuk mengingat ceritanya yang lampau, saya akan membaca blog ini.
Seperti yang sudah saya ceritakan berkali-kali, saat saya membaca kembali puisi saya, saya akan ingat tentang segala sesuatu tentang diri saya saat itu. Perasaan, keadaan di sekililing, dan pikiran-pikiran saya. Maka dari itu jangan heran kalau kadang puisi saya seperti tak bermakna, karena kadang memang hanya saya yang.
Ibarat rumah, menyenangkan apabila saya duduk sendiri sambil mengopi di beranda. Namun saat beberapa tamu datang, saya akan bahagia setengah mati karena pada saat itulah saya benar-benar yakin bahwa saya tidak sendiri. Karena itu saya ucakpan terima kasih pada pengunjung yang datang ke blog ini.
Terima kasih. Sungguh. Terima kasih.
Jadi mungkin lebih baik jika saya tutup celotehan ini. Apakah saya akan menulis terus? Mungkin. Mungkin tidak. Siapa tahu? Tapi jika saya ditanya begitu tentu saja jawaban saya adalah ingin terus menulis.
Dan bukankah masa depan adalah misteri?
Selasa, 18 Februari 2014
Pintu rahasia
Kamu tak perlu menunggu di depan pintu sampai aku tiba. Ah sayang, aku mengerti sungguh kenapa kamu tetap duduk menghadap tembok dalam gelap. Lalu saat tiba-tiba mimpi menghampirimu kamu tak mampu lagi membedakan hitamnya tembok dan mimpimu tentang malam semalam. Aku akan pergi, tentu saja. Dan kembali? Pasti. Tapi aku tak tahu kapan, bagaimana, dan cerita macam apa yang akan kubawa. Yang bisa kujanjikan hanyalah aku akan sungguh-sungguj merindukanmu sampai sesaat aku akan membuka pintu |
Minggu, 16 Februari 2014
Puisiku tak lagi indah
Aku bisa saja menyalahkan pena dan tinta, tapi sejak kapan aku menulis puisi di atas kertas?
Beberapa hari belakangan cuaca sedang buruk. Sungguh, aku tak berbohong.
Kamu bisa melihat abu dari mulutmu mengeluarkan asap setiap kali kamu bernafas dan membuatmu berandai-andai untuk apa pula beberapa hari kemarin kamu membeli tembakau untuk sekedar menghembus udara jika kamu bisa melakukannya setiap saat?
Atau mungkin aku rindu untuk pulang. Aku tak tahu. Mungkin, mungkin juga tidak. Aku rindu pada segala apapun yang tak bisa kuingat. Dan yang demikian itu bukankah rindu yang paling indah?
Mungkin bisa juga jika dikatakan tak ada yang salah. Ujung jari mungkin pada akhirnya mengambil alih. Tapi kupikir lagi manusia macam apa yang menyalahkan ketakmampuan menulis puisi pada ujung jari?
Jadi aku akan menulis. Sekali lagi maaf jika ia tak lagi indah.
Atau jangan-jangan memang puisiku tak pernah indah?
Cuaca sedang baik
Selain satu sama lain, bukankah kita merindukan sinar matahari?
Kamu bisa memesan awan yang menggelantung pelan-pelan, sedang aku bisa memesan aroma rumput dan pepohonan.
Lalu nanti setelah semua lengkap, kita bisa kembali ke kamar kita masing-masing ketika cuaca kembali buruk
Rabu, 12 Februari 2014
Tentang malam
Apa kabar malam? Atau bisa saja malam adalah orang tua yang baik, yang memberikan istirahat pada anak-anaknya |
Beritamu
Aku benar-benar berharap beritamu dibawa oleh angin.
Namun kadang aku berpikir, jika cerita tentangmu dibawa angin akan sampaikah ia kepadaku? Atau mungkin ia hanya akan hanyut diatas samudra.
Maaf atas puisiku kali ini. Tapi setidaknya aku kembali menulis puisi saat ini.
(Kukira) |