Rabu, 20 Maret 2013

Yang tumpah kemarin

Air matamu yang tumpah kemarin membuatku sadar bahwa aku yang sebenarnya mengalir diantara mata dan dagumu.

Tak sempat kuceritakan pada hidung dan mulutmu betapa aku merindukan cerita yang disampaikan oleh mereka saat diam.

Tak sempat pula kusampaikan rindu yang sedalam-dalamnya rindu kepada wajah, telapak tangan dan jemari yang disembunyikan olehmu dariku.

Tak sempat

Sayang kamu tak sempat hidup kemarin. Tahu-tahu kamu muncul di esok memainkan benang diatas jemari.

"Mampukah kamu membuat bola dunia dari benang-benang?"

Mana sanggup, Tuan. Aku sendiri sedang merajut langit dengan alis.

Skizofrenik

Tentu saja kamu tak bisa menyalahkan hujan yang hadir saat kamu tertidur
Atau suaranya yang mengiring dan mengirimmu ke mimpi
Dan beberapa guntur yang membangunkanmu di tengah tidur, membuatmu berpikir sejenak sekarang pukul berapa lantas tertidur lagi.

Sama seperti kamu tak bisa menyalahkan nol yang hadir mengikuti beberapa angka.
Atau betapa tentang 1 yang sedemikian merindukan 31.
Atau kamu yang merindukan bola matamu, dan aku yang merindukan bola mataku dan beberapa angka yang tak bisa lagi aku ingat.

Juga dengan sebongkah emas diatas tugu api. Tentang anak kecil yang berlari dipelataran parkir.
Dan juga tentang mimpi kemarin yang tak punah juga sampai hari ini.

Lalu saat otakmu yang mati dan membuatmu berpikir apa beda antara saat ini, kemarin dan beberapa detik yang akan datang.
Sekarang terdengar suara-suara di mulutmu. Dan dari telingamu keluar nyanyian sendu dan bisikan-bisikan yang membius kulitmu dengan aroma rindu yang dihembuskan oleh masa kecilmu.

Dari beberapa kenangan yang kamu ingat, dan beberapa kenangan yang tak pernah kamu ingat, lalu beberapa kenangan yang setengah mati kamu harapkan untuk kamu ingat.

"Mungkin kita bisa mulai dari awal lagi?"
ujarmu pada kamu. Lalu diteruskannya pada bayangmu dan akhirnya pada cahaya lampu samar-samar yang muncul tiba-tiba dari kamar.

Jumat, 15 Maret 2013

Setelah

Kita bertatapan setelah sekian lama tak bertemu.
Kamu dengan buku sketsa di tangan kiri dan pensil di tangan kananmu.
Aku dengan Probe Simpson di tangan kananku dan Diagram di tangan kirimu.

Di tengah musim

Sendimu dimakan musim nak, dan musim dingin pun belum benar-benar tiba.
Jemarimu yang membeku kini mendesiskan suara rindu terhadap api. Rindu yang sama yang diucapkannya kepada salju di tengah kemarau.

Tulang-tulangmu bergemeretak lirih. Bola matamu melirik ke sana kemari.
Tak lama kemudian kamu tertidur. Esoknya kamu tak perlu terbangun lagi untuk merasakan semua itu

Senin, 11 Maret 2013

Pada beberapa

Pada beberapa puisi aku sungguh tak tahu sama sekali tentang apa yang kutulis.
Kadang aku memuja hujan, kadang menghinanya.
Kadang aku menceritakan debu, kadang menyapunya.

Dan kadang karena aku hanya sekedar ingin menulis.

Kamis, 07 Maret 2013

Pada sebuah doa

Kami panjatkan doa karena kami sudah tak bisa memelukmu lagi.
Dan kata-kata yang terucap, rindu-rindu yang mengerak di lidah, tangisan-tangisan yang sudah mengering.

Maka kami harap dengan sesungguhnya harap bahwa Engkau akan menyampaikan kepadamu bahwa kami selalu mencintaimu.