Selasa, 25 Juli 2023

Membaca pesan

 membaca pesan-pesan masa lalu membuatmu teringat bahwa kamu pernah menjadi sesua

tu

pada seseo

rang.



Minggu, 05 Maret 2023

Malam seperti ini

pada malam-malam seperti ini, kamu akan ingat setiap helai bulu romamu yang berdiri menggigil dihajar hawa dingin AC lantai 19 sementara semua orang tertidur.

Dan kamu akan teringat malam-malam sunyi 5 tahun lalu (atau lebih mungkin? Aku tak pernah baik dengan akurasi memori).

Kamu akan menginfat aat kamu tak ada apa-apa, tapi tak pernah ingin kembali. Apa pasal? Yang kamu miliki saat ini jauh lebih menarik dari yang pernah kamu hampir memiliki. (Tapi bukankah kamu selalu boleh mengenang?)

Rabu, 01 Maret 2023

Bertaruh pada waktu

 tapi kamu kalah lalu menyerah.


tergeletak kamu di antara tiang-tiang berniang dan menjulang.


dan kamu merasa percuma.

percuma.


Selasa, 24 Januari 2023

Di

antara senyap suara lagu satu dan lagu lainnya di radio, kamu dengar baik-baik suara sunyi.

Dan pada saat itu kamu yakin benar bahwa kamu kami akan selalu sendiri.

Sampai sunyi kemudian hilang, dan kemudian siklus hilir mudik berganti

Senin, 23 Januari 2023

Dan gedung serta kota

akan ingat atas bayanganmu yang tertinggal 5 tahun lalu berjingkat di antara jembatan layang antara karet hingga kampung melayu.

Sampai kamu tiba lagi dan tergores sama bayanganmu, dan kamu teringat gedung serta kota sudah ada sebelum kamu ada. Dan akan selalu ada setelah kamu tiada.

Rabu, 04 Januari 2023

Hingga microwave berdenting

Bagaimana kalau kamu mulai memasak dan aku mulai menari?

hingga microwave berdenting, akan ku kenang langkah-langkah. kamu akan mengingat harus belanja apa esok hari.

 

aku akan mengingat harus bagaimana mencintaimu seribu tahun lagi

 

(atau hingga microwave berdenting sejenak lagi)

Pohon Apel

Pohon Apel pun masih mengeja namamu
pada cuaca-cuaca tidak tahu malu
di kota kita setiap malam Rabu.

Seperti zikir, ia ingatan.

hingga pagi

aku-kita tak pernah ada, kukira.
yang ada hanya lidah di antar gerigi dan teman kosanmu yang berpura-pura tidur di kasur (yang bukan milik kita, kurasa)

"Aku masih ingin menghirup aroma nafas beraroma tuakmu."

aku nyaris tak tahu mana yang nyata. hanya jemari di depanku yang kusangka ada, surga tahu.

akhirnya tiba suatu malam kamu tak lagi menunggu di depan pintu. aku masuk sendiri, tak tertidur hingga pagi

Metronom

Hatiku metronom, tak pernah diam.
tak berketuk tapi berdetak perlahan. 

tak berandai-andai, hanya bergerak.

mungkin bersuara tapi tak pernah terdengar (kadang aku tak tahu pasti)

hatiku hatiku, tak pernah tak ada.
(apa saat hatiku tak ada aku masih ada? aku bertanya)


Suatu kabar suatu masa

kabar tak ada rasa, ia hanya ada.
suatu tempat suatu masa.

kamu katakan suatu hari:
"Kamu tentukan sendiri suatu berita, apakah ia baik atau buruk."

aku balas dengan diam. kopiku semakin dingin. seperti dirimu

"Kita nyaris seperti...:"
ujarku. tapi kuhentikan. kamu tak bertanya. kamu hanya melirik jam di atas kepalaku sedang aku melihat kamu lekat-lekat.

"Satu seperlima belas." ujarmu.
aku bilang aku tak pernah sampai sana. Jarak antara kota-kota dan satu seperlima belas terlalu jauh, alasanku. tapi dalam hati aku tahu bahwa aku sebenarnya tak peduli tentang berita darimu.

7 7 7

yang kamu lakukan 7 tahun lalu kamu mungkin tak ingat lagi

mungkin kamu ada di suatu tempat suatu masa,

duduk sendiri atau berdua

terduduk atau tertidur

terbangun

lalu berpikir sendiri apa yang akan kamu lakukan 7 tahun lagi.

siapa kira kamu akan duduk sendiri menulis puisi di Duri?

Selasa, 03 Januari 2023

Kazakhstan

titik tengah antara Norwegia dan Indonesia tak pernah lagi muncul dalam diskusi kami. sekarang hanya ada bayang-bayang tentang yang akan datang, yang akan pulang, dan yang akan berakhir malang.

dan saat air matanya mengalir pelan-pelan dari sudut matanya dan terjatuh di atas kaki telanjangnya, nyaris kalah aku melawan keinginan untuk jatuh cinta lagi padanya.

tapi ya itu tadi, Norwegia terlalu dingin sedang Indonesia terlalu panas. 

suatu waktu ia mengeluh tentang betapa sun-block terbaik pun tak mampu juga mencegah kulitnya untuk terbakar. aku hanya tertawa
sedang suatu hari aku mengeluh betapa dinginnya udara Norwegia yang mampu membuat ujung jemariku kaku. ganti ia yang tertawa
lalu kami jadikan cerita indah tentang hidup berdua di suatu gurun di Kazakashtan, tepat di antara Norwegia dan Indonesia.

betapa kuat keinginan? hanya sekuat butir pasir di Kazakhstan yang tersapu angin Mansoon dari Indonesia ke Norwegia