Selasa, 17 Oktober 2017

Lelaki Bekerja

Ada pilihan tak terhingga yang kini mencegahnya untuk tidak pulang sebelum jam makan siang menemuimu lalu memutuskan untuk berhenti bekerja dan tidak akan sekalipun menyentuh kertas-kertas usang di meja kantornya lagi.

Tapi ia masih disini kan? Dan kamu masih bekerja. Ia hanya menanyakan kabarmu sekilas, mengucapkan selamat beraktivitas lalu berharap pada tanggal 25 (lebih cepat jika tanggal 25 kebetulan jatuh pada hari Sabtu Minggu atau hari besar negara) gajinya akan masuk ke rekeningnya.

Disimpannya foto Polaroidmu yang sedang menari di acara tujuh bulanan keponakannya beberapa bulan lalu dan ia merasa semua akan baik-baik saja. Kalau rasa bosan sudah memuncak, ia akan turun ke bawah, menghisap rokok, dan jika beruntung ia bisa menelepon dan berbicara denganmu.

Jika sudah tidak ada email yang masuk atau bosnya menyuruh ia lembur, ia akan pulang seenaknya meninggalkan meja kantor yang berantakan karena ia tahu esok pagi ia akan kembali, mengulang rutinitas yang sama, dan pulang dengan meja yang sedikit lebih berantakan dari pertama kali ia masuk kerja dulu.

Jumat, 13 Oktober 2017

Seiras

Ada seseorang yang duduk di kursimu dan ia hampir dirimu
dengan bola mata hitam sekelam malam, nyaris seperti milikmu
dengan bayangan janji-janji bermain tenang dikelopak matanya, menyerupai dirimu.

Aku melihat dirimu dengan aromamu di bangkunya, tapi ia bukan dirimu.

Rabu, 04 Oktober 2017

Mendengar dirimu tertawa

Mendengar dirimu tertawa membuatnya mustahil untuk tidak berpikir bahwa dirinya adalah bagian penting yang membuatmu tertawa, dengan tertawa serupa malam-malam yang ia habiskan berkelana seorang diri dengan isi perut sudah terkuras habis beberapa hari lalu dan ia hanya mampu memandangi rembulan kemudian alih-alih membayangkan tentang keindahannya ia hanya mampu berpikir betapa indah jika ia bisa mati sendiri malam ini, dibawah rembulan lalu pagi tiba dan ia akan ditemani mentari sampai ditemui oleh seorang petani yang kebetulan akan menggemburkan tanah dengan kotoran kerbaunya yang ia warisi dari ayahnya lima belas tahun lalu dan seperti dirinya kini kerbau itu mulai sakit-sakitan dengan kotoran dibercaki darah semerah dahak yang keluar dari tenggorokannya sendiri saat ia terbatuk-batuk dan mengerang memecahkan segelas air putih yang ia coba ambil setengah mati jam dua malam, beberapa jam sebelum ia akan menemui sesosok mayat dalam perjalannya mencoba menggemburkan kebun kacangnya yang sudah beberapa tahun ini dirasa semakin sedikit jumlah kacang yang ia hasilkan.