Minggu, 30 Juli 2017

Dendam Laut

Laut, ibumu yang baik kadang menjadi pasang dan memutarbalik kan lambungmu dan mengeluarkan paksa isi sarapanmu tadi pagi melalui kerongkongan. 

Dan ia yang walau baik kadang pula menyimpan dendam yang disembunyikan dibalik deburan ombak dan pandangan rindu orang-orang di atasnya. 

Atas sebuah beberapa ratus lalu, betapa manusia mudah melupakan sedang seratus dan seribu bagi laut hanya sekejap dari keabadian. 

Dan bagaimana rindu dendam yang akan dibayar lunasnya suatu saat, betapa indahnya ia apabila harus hari ini laut tidak menjadi dirinya yang biasa. 

Atau siapa pun yang melihatnya, siapa pun dapat menjadi siapapun, ujar ulinan inangi nya suatu hari. 

Dan laut yang mendendam hanya akan mendengar sayup-sayup ucapan rindumu suatu saat dan takkan disampaikannya pada kekasihmu sebagai ucapan dendam yang disimpannya dalan-dalam

Selasa, 25 Juli 2017

Termasing

Andaikan aku tiba atau tak tiba apa ada perbedaan di aula itu pada hari itu jam itu detik itu sepersekian kedepan mata itu

atau semesta akan begitu dan terus begitu sedang udara hanya kehilangan oksigen dan bertambah seperbagian karbon dioksida

jadi apa ada artinya aku hadir dan tidak hadir? Sedang kita selamanya berkendara di antara dago atas sampai perempatan dago bercerita tentang yang sudah-sudah. 

Dan sudah dipersiapkan bagi termasing-masing kita masa depan sendiri-sendiri. Apa beda ucapan selamat yang tak sempat diutarakan atas masa depan masing-masing kita? 

Dan satu-satu impian yang pernah ada berganti dengan impian yang baru. Dan sesekali mengenang rindu selamanya akan menyenangkan selama tidak berubah menjadi candu

Merah Muda

Andaikan yang berekor tidak berekor dan yang bertanduk selamanya bertanduk apakah ada perbedaan antara yang berjalan atau sedang terduduk? 

Dan bukankah kosa kata Bahasa Indonesia sedemikian terbatasnya hingga kamu hanya mampu membuat Rima yang begitu-begitu saja. 

Andaikan yang berpuasa tidak berpuisi dan yang menunggu akan selamanya menunggu apakah ada perbedaan yang terus melangkah dengan yang diam saja menunggu badai reda? 

Dan bukankah puisi bisa semembosankan itu sehingga kamu hanya mampu bercerita tentang hal-hal yang sama berulang-ulang?

Minggu, 23 Juli 2017

Puisi atas nama malam

Telah dinisbahkan malam atasmu dan semua kata-kata yang hadir setiap saat kamu keluar dan menatap pohon palem yang tak bergeming walau angin telah tiba sedari tadi. 

Dan beberapa hasta jarak antara indramu dan kelingking jemarimu membuatmu sepenuhnya tersadar bahwa tak pernah ada yang benar-benar mampu untuk menjadikan malam lebih dari malam daripada fajar yang hampir hadir. 

Dan di balik selimutmu kamu mengulang-ulang kata penutup malam hari dan menjadikannya upeti murah untuk mimpi indah sampai ia terbangun lagi

Jumat, 21 Juli 2017

Bara Api

Bara api yang membakar kelopak mata kanan mu perlahan mulai menghanguskan perlahan bola matamu sedang kamu masih tertidur sampai alarm sunyi membangkunkanmu pukul setengah tiga pagi dini hari nanti. 

Dan kamu terbangun, dan matamu terbakar, dan semua mendadak tampak cerah. Siapa sangka jika seluruh warna adalah hitam jika kamu perhatikan baik-baik. 

Siapa sangka pagi akan tiba walau kamu tak ingin ia baka. Padahal kamu kami ingin tertidur dan terbangun seberapa kami kamu suka dan tak perlu memperdulikan efek jangka panjang dari tertidur melewati subuh. 

Dan bara api yang perlahan-lahan menghasutmu untuk terbangun pun tak mampu berbuat lebih banyak. Perlahan lahan ia menembus tengkorakmu, menyayat syaramu lalu memeluk mesra otakmu yang enggan dilepaskannya untuk pergi