Aku tidak mendengar dan tidak akan pernah mendengar setiap kamu mengucapkan selamat tinggal,
aku akan terus menyapamu esok hari
esoknya lagi
esoknya lagi
esok
nya
lagi.
Siapa yang ingin hidup luar biasa? Hidup serupa ini bisa mempesona jutaan orang. Kopi di tangan kanan dan kretek di tangan kiri sedang gunung berganti motor di hadapan mata.
"Selamat tinggal," ujarmu lagi.
Aku menggeleng. Sayang, bukankah sudah kukatakan:
"Aku tidak akan mendengar selamat tinggalmu."
Kamu balas gelenganku dengan gelengan lain tapi kamu tambahkan senyum disitu. Aku mau tak mau tersenyum pula
aih sayang,