Jumat, 29 April 2016

Aku kita

Hampir-hanpir saja aku terbangun semalam dan tersadar bahwa aku sedang bermimpi pada waktu aku sedang bermimpi
"Tuan, kamu sedang tidak terbangun saat ini, kamu bisa menikmati saat sedang tak berada dimana-mana"
ujar kabel listrik.

Aku tersenyum.

Ya ya ya, aku kita bukan kupu-kupu aku harus terbangun.

Tentang Jalan Pulang

Jalan pulang yang kamu tuju itu tak pernah ada walaupun kamu sesungguhnya sangat yakin bahwa langkah-langkah yang kamu ambil beberapa hari lalu itu benar-benar pernah terjadi pada suatu ketika, suatu masa, suatu saat.

"Kamu tiba pukul berapa?"
takkan ada yang menanyakannya apapun tentang perjalanan pulangnya. Apakah ia benar-benar berumah? Aku tak tahu jadi bagaimana mungkin kamu bisa tahu?


Minggu, 10 April 2016

Tuan kemarin

Cerita-ceritamu yang sempat kamu sampaikan dulu dan kukira akan cepat kuli pakai dan membosankan setengah mati ternyata masih juga aku nikmati hingga detik ini. 

Pun juga nafas dan semburan hangat ringan yang kamu berikan setiap kali kamu terengah-engah menaiki tangga. 

Semua tampak jadi sederhana ketika tuanku yang kemarin, aku yang sekarang dan tuanku untuk hari ini adalah tuanku yang sama

Jumat, 08 April 2016

Sepatu lari

Aku hanya menghela nafas pelan sambil mengepak barang-barangku,

"Kamu ingat dimana kamu taruh sepatu lariku?"

Kamu membalas pertanyaanku dengan pandangan nanar tak percaya. Aku tahu aku tahu, tidak semestinya aku membahas pertanyaan konyol seperti itu ditengah isak air matamu. Tapi aku benar-benar harus tahu dimana sepatu lariku.

"..."

Kamu hanya diam. Aku menggeleng dan mengangkat bahu pelan, sia-sia aku tanyakan pertanyaan semacam itu saat ini. Aku tahu kamu berharap pelukan terakhir, ucapan maaf atau apapun serupa itu.

Maaf aku tak sekuat itu, kamu tak tahu kan betapa setengah mati kutahan isak tangisku saat diam-diam kumasukkan foto kita berdua ke saku kemejaku?

Selamat tinggalmu mempesona

Aku tidak mendengar dan tidak akan pernah mendengar setiap kamu mengucapkan selamat tinggal,
aku akan terus menyapamu esok hari
esoknya lagi
esoknya lagi
esok

nya

lagi.

Siapa yang ingin hidup luar biasa? Hidup serupa ini bisa mempesona jutaan orang. Kopi di tangan kanan dan kretek di tangan kiri sedang gunung berganti motor di hadapan mata.

"Selamat tinggal," ujarmu lagi.

Aku menggeleng. Sayang, bukankah sudah kukatakan:

"Aku tidak akan mendengar selamat tinggalmu."

Kamu balas gelenganku dengan gelengan lain tapi kamu tambahkan senyum disitu. Aku mau tak mau tersenyum pula

aih sayang,

Kamis, 07 April 2016

Siapa sangka

Kamu tak mendengar suaranya malam itu karena tidak seperti malam-malam sebelumnya, pada malam itu kamu tertidur sore-sore benar.

Kamu tak sempat mendengar sapaan halusnnya, ketukan jemarinya di pagar saat menunggu atau pandangan matanya penuh ragu menghadapi pintu yang tak kunjung terbuka. 

Ia membayangkan kamu masih marah dan enggan bertemu dengannya untuk beberapa lama,
padahal kamu hanya tertidur, siapa sangka?