Selasa, 21 Mei 2013

Kamu ingin apa sekarang

Kalau ditanya sekarang:
apakah kamu ingin emas tak terhingga?
Tidak.

Mungkin wanita tercantik di dunia?
Tidak.

Atau kamu lebih suka hidup selamanya?
Tidak.

Lalu kamu ingin apa?
Tidur.

Menulis biasa-biasa

Sebenarnya saya ingin menulis biasa-biasa saja.
Tapi sejak kapan tulisan saya menjadi serumit ini pun saya tak pernah tahu.

Mungkin kata-kata ibarat buluh. Semakin dipakai semakin runcing.

Tapi untuk apa memiliki sajak dengan kata-kata yang runcing? 

Di perjalanan

Kemarin tiba kacamu di jendela,
dan beberapa air yang menetes dari balik jalan.

Mungkin kita akan tiba,
ujarku.
Kamu menggeleng.

Kita tak perlu tiba dimana. Kita ada dimana-mana.
Ujarmu.

Aku mencoba mengabaikanmu dan membiarkan udara menerbangkan aroma canggung dan sendu.
Bukankah kita berdua saling mengait rindu?

Kita akan tiba. Sungguh, kita akan tiba.
Tekanku.

Kamu lagi-lagi menggeleng.
Untuk apa tiba jika kita memang tak pernah kemana-mana?
Tanyamu.

Singkat.

Aku ingin pulang. Dan kamu tak ingin kemana-mana.

Mungkin yang selama ini salah adalah pertanyaan. Bukan titik atau koma

Jumat, 17 Mei 2013

Astronot

Selamat pagi walau kami tak pernah tahu apa bedanya lagi.
Maaf atas perbedaan zona waktu, seluruh dunia bagai kelereng bagi kami. Dan kami bergerak, sungguh. Kami bergerak dan menyaksikan dunia bergerak.

Lalu kami tersadar,
"Ah betapa kecilnya."
Tak ada lagi perbedaan antar kamu, aku, kita, mereka. Kita semua muat dalam lingkaran telunjuk dan ibu jari kami.

Dan saat kalian tertawa, menangis, atau jutaan orang meninggal disana-sini. Sungguh, tak ada bedanya bagi kami. Sama sekali tidak ada.

Yang tersisa hanya kerinduan tentang daratan. Lalu kopi. Ya, kopi akan sangat membantu

Kamu Takkan pernah bisa menangis di luar angkasa

Sayang hanya air matamu yang tertahan turun. Aku tak sempat merasakan sedih atau sekedar apapun.
Aku hanya menatap matamu yang merah dan nafasmu yang tercekat.

Ah sayang, kamu takkan pernah bisa menangis di luar angkasa

Nil (ii)

Mungkin kamu dan aku serta beberapa orang yang sedikit saja ada disekitar kita menghirup udara yang sama.
Mungkin juga tidak. Pasir yang kita hirup tak sengaja mungkin juga sudah terbang ribuan kilometer jauh berharap dapat kembali pulang.
Sayangnya tidak. Sementara air yang mengalir tak henti-henti dari sungai didepan mata kita muncul dari air ribuan kilometer jauhnya dari suatu tempat.
Atau memang tidak.

Tapi bisa jadi. (Ya, bisa saja terjadi),
seluruh udara, air, dan pasir yang terbang jauh mungkin berasal dari nil yang hinggap dibawah kaki kita.

Sabtu, 11 Mei 2013

Nil

Kami akan selalu memuja beranda.
Dengan angin yang dibawa pasir dan aroma dupa terbawa menuju tepian laut

Kamis, 02 Mei 2013

Pada setiap senja

Hanya pada setiap senja ia duduk saja (seorang diri mungkin) menghadap jalan raya sambil menghardik satu persatu anjing yang lewat.
Lalu jika sudah lelah, ia akan rapikan kursinya perlahan lalu mengutuk punggungnya yang selalu nyeri setiap udara dingin datang.

Kemudian ia duduk di depan televisi, menyalakan api dan seribu dupa.
Ia harap dirinya berdoa. Sungguh, ia benar-benar berharap seperti itu.

Tapi jika memang besok tak sampai senja lagi, mungkin ia takkan pernah menyesal menghabiskan sore terakhirnya menghardik satu persatu anjing yang lewat.