Kamis, 28 Februari 2013

Aku ingat Ibuku

Ibu, siang kah ditempatmu saat ini?
Atau memang tak pernah ada waktu disana, sekedar 1 hari yang tak pernah berganti? Aku tak tahu Ibu.

Aku tak pernah tahu tentang kematian. Aku sungguh-sungguh tak tahu.
Apakah mati sekedar berpindah dari bumi lalu hidup ke dalam memori?

Aku ingin memlukmu Ibu. Lalu dikatakan semua akan baik-baik saja. Dan aku akan percaya setengah mati. Lalu aku tak perlu peduli tentang apapun, bukankah aku memiliki Ibuku dipelukanku?

Takkan pernah aku bisa membalas Ibu.aku ingin menangis dipangkuanmu lalu menghabiskan seluruh air mataku dan tak perlu mengeluarkannya lagi seumur hidupku.

Ibu. Sudah pagikah disana?

Maafkan atas segala luka disekujur tubuhmu. Maaf tak sempat aku basuh kakimu. Maaf aku tak pernah sempat menunjukkan betapa aku mencintaimu. Maaf untuk segala sesuatu Ibu. Maaf untuk segala sesuatu Ibu. Maaf untuk segala sesuatu Ibu.

Jumat, 22 Februari 2013

Akar kelakar

Kau cabut cerabut akar dan kelakarku.
Aku tak tahu apakah aku gusar atau parau. Atau harus mengingat sendu saat hujan putus dan kering mengangkat tubuh.

Tapi bukankah aku manusia menurutku? Lalu apa guna akarku?

Tapi bukankah aku pohon menurutmu?
Lalu apa guna kelakarku?

Mendung

Aku tulis puisi ini saat mata setengah tertutup,
dan tenggorokan setengah tercekat. Dan binatang serta bintang menjalar di lantai.

Dan mimpi menjutai di pinggir jemari.

Aku mungkin bermimpi saat ini, tak tahu.
dan penaku mungkin menulis sendiri, aku tak tahu.
Atau kertas meluncur jatuh serupa hujan yang enggan turun malam ini.

Terima kasih mendung karena kamu tak pernah diingatan saat segala sesuatu yang buruk tiba

Kamis, 21 Februari 2013

Drakula

Tak ada yang mengunyahmu. Maka aku sempat bertanya-tanya apakah diantara kedua telapak kakiku akan tetap tersembunyi tanduk-tanduk milikmu

pun juga anakmu. Kamu bersumpah tak akan menarik darahnya. Aku percaya. Namun aku tetap berandai-andai apa yang terjadi pada anak-anak yang bukan anakmu?

Apa pula yang terjadi pada jemarimu. Pada tanganmu. Pada iris dan kelopak matamu. Kau biarkan ia menggembung sementara kamu mengisakkan tangis panjang dari bola mata.

(Yang kelak kamu sungguh percaya saat tangisanmu masih berlanjut sedang air matamu surut dan sedihmu tak pula larut, hanya ada darah segar yang mengalir menggantikannya)

Tentu saja itu menurutku. Aku tak tahu tentang ceritamu. Namun bagaimana sempat kamu menjelaskan sementara jubahmu selalu melayang diantara langit malam?

Minggu, 17 Februari 2013

Lalu kamu

Lalu kamu.
Duduk sendiri di depan beranda menikmati udara.
Dan aroma kopi yang membakar hati.
Dan abu yang menyala di kejauhan.
Dan pikiranmu yang kembali padamu beberapa tahun yang lalu.

Selamat datang

Lalu kota ini mengucapkan kata-kata "Selamat Datang." yang persis dikatakannya 3 bulan lalu.
Tamparan sama yang diberikan oleh udara kota ini ke paru-parumu.
Uap air dan udara yang sama mengisi aliran darahmu.

Maka, selamat datang kembali di kota yang mungkin saja akan menjadi kotamu.
Ya, siapa tahu?

Rabu, 13 Februari 2013

Matanya

Diucapkannya selamat datang kepada matanya
Mungkin ini kotaku, ujar matanya.
Lidahnya menggeleng, namun dibiarkan angan-angannya mewakili jawaban pembuluh darahnya.

Kataku, mungkn ini kotaku.
Ujar matanya lagi.
Angannya tak cukup mampu untuk berujar. Lidahya enggan berbicara. Bukankah kata-kata dan kalimat seperti ini tak pernah dimaksudkan untuk diucapkan?

Kamis, 07 Februari 2013

Pulang

Bus yang membawamu datang tepat 3 bulan lalu kini menjelma menjadi bus yang membawamu pulang kini
Sudah tercium aroma rumahmu, empuknya kasurmu, senyum ayahmu, aroma sedap malam, semua.

Maka (mungkin) saat kamu pulang, kamu akan berandai-andai untuk apa sebenarnya kamu pergi

Rabu, 06 Februari 2013

Weker

Pada saat wekermu berbunyi dan kamu tak terbangun, beberapa jam berikutnya kamu berpikir kenapa pula kamu tak terbangun di tengah bunyi alarm sekeras itu

Mungkin karena telingamu kebas mendengar hal yang sama setiap pagi
Atau mungkin karena otakmu bosan untuk terbagun setiap pagi