Selasa, 24 Mei 2011
Antara lantai lima dan seratus sekian kilometer per jam
ada bagian dari tangga darurat di gedung lantai lima ini yang membuatnya sedikit sama dengan saat ia berada diatas motor dengan kecepatan seratus sekian kilometer per jam dan tak pernah peduli lagi dengan pengguna jalan raya lain yang mengklakson-klakson liar atau saling menyalip tak tahu diri dan juga tentang masalah-masalah yang ia miliki sehari-hari karena ia tahu masalah baru ada jika ia sudah sampai pada suatu sempat, bukan saat diatas sepeda motor:
Kesendirian
Dalam benaknya
dalam benaknya tak habis pikir kenapa ada dan selalu ada pikiran tentangmu
bukankah semua semestinya sudah berakhir saat kamu bilang bahwa kamu tak bisa menjadi seseorang yang amat serupa dengan dirimu saat kemarin?
Tapi bukankah memang tak harus menjadi seseorang seperti kemarin untuk berjalan bersama sampai besok? Atau setidak-tidaknya lima menit terakhir ini
Kamis, 19 Mei 2011
Terlanjur
lalu apa lagi? Semua kata-kata sudah terlanjur keluar
perasaan sudah terlanjur mengalir
kopi sudah terlanjur habis
malam terlanjur larut
masih pukul setengah setengah sembilan sebenarnya
tapi bukankah setengah delapan saja menurutmu sudah terlalu malam?
Sore hari setelah dan sebelum purnama
bahasaku sederhana, engkau yang menerjemahkannya terlalu rumit
bagaimana bisa pertanyaan "Ya" atau "Tidak" malah kau balas dengan rentetan jawaban tak henti?
Puisiku sederhana, engkau yang membacanya terlalu lantang
bagaimana bisa puisi lembut macam ini malah kau teriakkan seakan membangungkan yang mati?
Patah hati itu sederhana, engkau yang membuatnya sulit
(bukankah menyebalkan kalau akhir puisi ini tak berima? Tapi bagaimana lagi? Puisiku tak sulit, keinginanmu lah yang membuatnya terlalu rumit)
Minggu, 15 Mei 2011
Tentang cinta
mungkin ia jatuh cinta padamu, mungkin
mungkin saja ia terjatuh dan melupakan tentang cinta
dan ia hanya akan membiarkanmu pergi begitu saja
Rabu, 04 Mei 2011
Sonet tengah malam
maafkan karena kata maaf sudah terlanjur tercipta
maaf karena ia sudah terlanjur bangun di malam hari dan enggan bermimpi. Apalagi tertidur lagi. (Apalagi mati). Dan bukankah memang sudah sejak kemarin ia menjelma manusia?
Nak, kau tak pernah terbangun lantas tertidur lantas terbangun lantas berpikir bahwa kau masih tertidur lantas terbangun lantas tertidur lagi, ujar ayahmu saat kau terbangun
lalu kau tak ingat lagi apakah kau memang berayah?
apakah kau memang terbangun?
apakah kau emang kau?
lalu ia berjalan sendiri saja, melayang. lalu ia melayang sendiri saja, bersama saya. lalu ia melayang berdua saja bersama saya, ke semesta. lalu ia melayang ke semesta berdua saja bersama saya.
ia melayang ke semesta berdua saja bersama saya. Tapi bukankah ia tak pernah ke semesta?
ia melayang berdua saja bersama saya. Tapi bukankah ia tak pernah bersama saya?
ia melayang sendiri saja. Tapi bukankah ia tak pernah bisa melayang?
ia berjalan sendiri saja.
(Dan ia tak pernah ingin diingat namanya)
"Panggil aku 'Malam' saat pagi, 'Siang' saat sore, dan 'Sore' saat malam. Bukankah namaku akan selalu dan memang selalu mengundang rindu?"
Ah nak, seharusnya jangan pernah kau duduk sendiri lantas berlari-lari dengan imajinasi.
Racun! Racun! Racun!
Selasa, 03 Mei 2011
Jatuh cinta pada bulan
Ah nak, semestinya kau jangan pernah jatuh cinta pada bulan
(terutama saat malam hari)
Langganan:
Postingan (Atom)