Sabtu, 27 Februari 2010

Rinduku

Kutitipkan rinduku pada sebuah lampu pijar diatas tumpukan kertas-kertas puisi di rumahmu Jadi, ketika suatu saat ia pecah berkeping-keping kemudian membakar habis rumahmu Dalam nyala api yang berkobar-kobar, kuharap kau berpikir: "Ah, laki-laki itu sedang merindukanku rupanya..."

Jumat, 26 Februari 2010

Koma

Ditahannya sekian lama tapi kini tak bisa lagi Semestinya tak ada yang beda dengan detik-detik yang berganti, tapi entahlah Terakumulasi mungkin, atau ia hanya sedang berada di tempat yang teramat tidak tepat Siapa yang tahu? Ah, mungkin kamu? Ah, ini kisah tentang koma yang iri terhadap titik Yang muak berada di sela-sela kalimat, yang selalu ingin menjadi akhir dari segalanya Akhirnya diucapkan segala-galanya pada titik Titik menatap murung; tak percaya lantas berkata: "Adakah kau lihat titik di setiap akhir kalimat dari puisi ini?"

Rabu, 24 Februari 2010

Sedetik

Kamu tahu? Untuk sedetik tadi aku sempat amat teramat mencintaimu

Minggu, 21 Februari 2010

Jatuh cinta

Suatu hari ada laki-laki yang jatuh cinta kepada angin Esoknya ia jatuh cinta pada angin Esoknya ia jatuh cinta pada angin Kemudian diurungkan niatnya, lalu ia jatuh cinta pada matahari Esoknya ia jatuh cinta pada matahari Esoknya ia jatuh cinta pada matahari Kemudian diurungkannya niatnya, lalu ia jatuh cinta pada laut Esoknya ia jatuh cinta pada laut Esoknya ia jatuh cinta pada laut

Membakar Warna

Teman-temanku membakar warna untuk bersenang-senang Merah dibakar menjadi api Biru dibakar menjadi laut Hijau dibakar menjadi tundra Tapi aku bingung Hitam haruskah menjadi kelam atau sepasang bola matamu yang indah?

Senin, 08 Februari 2010

Ssst, anggap aku sedang berpuisi

Kalau aku menghinamu, seharusnya itu tersirat setidak-tidaknya dalam bentuk puisi atau prosa, atau apalah terserah Kalau begitu anggap saja kalimat dibawah ini dalam bentuk prosa-prosa indah, kalimat yang mengetuk jiwa, atau kata-kata yang membius "Seleramu jelek"

Lantas

Kukira bukan aku yang membuatmu datang kemari Tapi sayangnya matahari sudah tak terbit disini lagi hari ini Lantas kau pergi

Minggu, 07 Februari 2010

Joni

Joni mati di bulan Januari Ironis memang,tapi mau bagaimana lagi? Tunggu-tunggu, apa kita mengenal Joni? Satu orang diantara milyaran, akan tahukah kita? Yang datang,menghilang sama persis dengan yang lainnya Joni mati di bulan Januari

Jumat, 05 Februari 2010

Sisa-sisa bulan januari

Saat ini Februari memang, kita yang mengumpulkannya terserak saat subuh terlalu mengantuk untuk bangun terlalu pagi sewaktu kokok-kokok ayam tercekat, meleleh atas ketidakberdayaan dan hujan yang turun terlalu tajam sinar matahari yang terlalu dingin, membekukan kain-kain yang terjemur di beranda dan angin yang terlalu panas, membakar keringat yang semestinya berhenti tentang segelas kopi yang mengepul-ngepul ringan dihadapan kita lalu sendok yang menari-nari seorang diri sekarang ini jam berapa?