Kapan terakhir kali kamu bertemu ibumu pun sudah tak tahu,
hanya kemarin kamu sempat dibaptis embun sisa semalan dan beberapa waktu kemudian matahari muncul di segala.
"Aih, mungkin matahari sedang rindu pada aroma hujan sore hari."
Mungkin tapi bukankah matahari akan lebih rindu kepada aromamu yang baru muncul dan hilang beberapa saat lalu?
Atau mungkin kamu bukan seekor, seonggok, atau sesuatu. Kamu mungkin adalah "ketika" tapi tak pernah pandai menjelaskan pada orang tentang cerita.
|
Kamis, 27 Februari 2014
Belalang
Rumahku
Rumahku tak indah, tapi kamu selalu diterima di dalamnya. aku hidup di kepalamu, sungguh. Dan kita akan memiliki satu sama lain: jadi mungkin rumah tak pernah berpengaruh apa-apa. rumahku tak terlalu indah. Kalau kita bersama semua akan berbeda, mungkin. Kita belum pernah mencobanya kan? |
Rabu, 26 Februari 2014
Membaca peta
Tebak mana utara dan mana tenggara. Mungkin rumahmu tepat di tengah-tengah suatu khatulistiwa atau bahkan mungkin dunia.
Kapan terakhir kami pulang? Aih Nona, pertanyaanmu seperti pertanyaaan Ibu kami saja
Kapan terakhir kami pulang? Aih Nona, pertanyaanmu seperti pertanyaaan Ibu kami saja
Api dan abu di rumahmu
Kapan terakhir kali kamu melihat abu diatas kepalamu?
Dan mendadak di seluruh udara ada jilat-jilat api memelukmu pelan. Sedang pelan-pelan panas menyelinap ke balik bola matamu dan membuatmu teracun kilat.
Oh Tuhan, kapan terakhir kali kamu melihat rumahmu terbakar di depanmu?
Pertanyaan kemudian muncul, apakah kamu benar-benar melihat rumahmu terbakar di depanmu?
Oksigen mengundangmu pulang.
Sinting, pulang kemana?
Di mana rumahmu?
Apa abu menjelma alamat, sedang teror menjadi kode pos. Kalau memang harus begini, kenapa ia tak habiskan kopi tadi pagi?
Selamat datang di kotamu dan kamu tak pernah benar-benar yakin pernah tinggal di kota.
Sejak kapan kamu menjadi asing di kotamu sendiri? Seperti musafir, hanya singgah sejenak di beranda dan setiap pagi kemudian pergi entah kenapa.
Kenapa pula aku tulis puisi ini?
Kalau kamu sempat, kamu bisa sapa beberapa kelereng di pinggir jalan. Kemudian setelah beberapa langkah kamu bisa ucapkan selamat tinggal kepada riak yang mengering di udara.
Dan walau mustahil bukankah air matamu bisa menjadi uap dan menjelma menjadi kastil di angkasa.
Dan mendadak di seluruh udara ada jilat-jilat api memelukmu pelan. Sedang pelan-pelan panas menyelinap ke balik bola matamu dan membuatmu teracun kilat.
Oh Tuhan, kapan terakhir kali kamu melihat rumahmu terbakar di depanmu?
Pertanyaan kemudian muncul, apakah kamu benar-benar melihat rumahmu terbakar di depanmu?
Oksigen mengundangmu pulang.
Sinting, pulang kemana?
Di mana rumahmu?
Apa abu menjelma alamat, sedang teror menjadi kode pos. Kalau memang harus begini, kenapa ia tak habiskan kopi tadi pagi?
Selamat datang di kotamu dan kamu tak pernah benar-benar yakin pernah tinggal di kota.
Sejak kapan kamu menjadi asing di kotamu sendiri? Seperti musafir, hanya singgah sejenak di beranda dan setiap pagi kemudian pergi entah kenapa.
Kenapa pula aku tulis puisi ini?
Kalau kamu sempat, kamu bisa sapa beberapa kelereng di pinggir jalan. Kemudian setelah beberapa langkah kamu bisa ucapkan selamat tinggal kepada riak yang mengering di udara.
Dan walau mustahil bukankah air matamu bisa menjadi uap dan menjelma menjadi kastil di angkasa.
Senin, 24 Februari 2014
Tengah
Beberapa bulan kemudian kamu akan lupa bagaimana wajahnya, suaranya dan segalanya
tahu-tahu kamu sudah duduk di depan televisi dan tak sadar kenapa kemudian menangis tersedu-sedu
tahu-tahu kamu sudah duduk di depan televisi dan tak sadar kenapa kemudian menangis tersedu-sedu
Senyummu
Bagaimana kalau kamu tawarkan senyummu padaku dan aku tawarkan sebagian hatiku untukmu? |
Minggu, 23 Februari 2014
Sebuah nasihat
Nak, suatu saat nanti kamu akan menjadi laki-laki. Sebelum itu kamu akan sempat duduk berdua denganku di bangku taman dan berbicara tentang:
masa kini, ceritamu, dan tentangmu.
Mungkin kamu tak akan ingat, tapi akan kuberikan satu kata-kata untukmu:
"Kamu tak akan mendapatkan semua yang kamu inginkan."
Mungkin kata-kata itu buruk, tapi kata-kata itu kudapatkan dari kakekmu. Kamu tak perlu mengingatnya, namun cukup baik apabila kamu ingat tentang kakekmu.
Lalu aapabila semua tidak berjalan dengan baik walau kamu tak ingin tersenyum, walau kamu ingin menangis, atau pun jika kamu benar-benar ingin tersenyum , kuharap kamu akan tersenyum.
masa kini, ceritamu, dan tentangmu.
Mungkin kamu tak akan ingat, tapi akan kuberikan satu kata-kata untukmu:
"Kamu tak akan mendapatkan semua yang kamu inginkan."
Mungkin kata-kata itu buruk, tapi kata-kata itu kudapatkan dari kakekmu. Kamu tak perlu mengingatnya, namun cukup baik apabila kamu ingat tentang kakekmu.
Lalu aapabila semua tidak berjalan dengan baik walau kamu tak ingin tersenyum, walau kamu ingin menangis, atau pun jika kamu benar-benar ingin tersenyum , kuharap kamu akan tersenyum.
Langganan:
Postingan (Atom)