diam-diam melindas jalan pikiranmu
meraung-raung dari jauh tak peduli teriakanmu
pergi menjauh ketika kamu hanya bisa menatap tak percaya
aku titipkan impian-impianku tentang negeri ini kepada bocah-bocah ingusan kemarin sore yang saat ini sedang berteriak-teriak di depan gedung dengan tiket masuk termahal di negeri ini.
aku lebih memilih kembali tidur, lalu terbangun membaca berita esok hari dan membicarakan tentang betapa brengseknya aparatur negara di sela-sela waktu makan siangku.
menatap langit bertabur bintang malam ini membuatnya berpikir ada kemungkinan walau kecil saja bahwa ia menatap satu bintang yang sama yang kamu pandang hari ini walau mungkin kemungkinan itu bisa saja menjadi nol karena kamu tak melihat bintang malam ini namun toh ia senang yang membayangkan yang romantis-romantis seperti itu daripada membayangkan andaikan kalian bertemu dan tak ada lagi sapaan atau kalimat lembut mesra darimu keluar. betul. sungguh
maksudnya begini, alternatif lainnya adalah ia akan kembali ke dalam kamarnya setelah menyalakan dupa dan berdoa kepada dewa-dewa yang menyayat hati dan tulang berharap bahwa masih ada kemungkinan walaupun kecil untuk kalian akan tetap bersama lebih lama walau hanya sehari saja.
diantara dua pilihan itu, bukankah pilihan pertama lebih menarik? betul. sungguh.