Rabu, 30 Oktober 2024

apakah kamu akan percaya kalau kereta adalah perumpamaan waktu dalam puisi ini?

ada kereta melintas di kepalamu
diam-diam melindas jalan pikiranmu
meraung-raung dari jauh tak peduli teriakanmu
pergi menjauh ketika kamu hanya bisa menatap tak percaya

Senin, 30 September 2024

setahun

setahun dari sekarang salah satu dari kita akan pergi dan tak pernah kembali
sedang yang tertinggal akan diam sendiri. memandang pintu, menghitung waktu perlahan-lahan menahan rindu abadi.

tak pernah terucap kata rindu dari salah dua mulut kita,
seperti mantra, ucapan semoga semua baik-baik saja terucap berulang kali hingga mengeras menjadi permata.

Senin, 09 September 2024

tentang ingatan

dan akhirnya aku bisa melihat wajahku dipantulan bola matamu
dan benar-benar hanya aku dan kamu saja di garis pantai malam itu

dan betapa waktu begitu baik kepadaku namun begitu jahat kepadamu karena ia membiarkan kita berdua pernah berada di waktu yang sama suatu masa

dibayanganku ada satu foto hitam putih di suatu tempat di suatu masa merekam kita berdua menatap bintang dan membayangkan tentang yang tidak pernah terjadi di sisa malam itu

tapi andaikan tak pernah ada foto semacam itu, telah kusimpan kenangan itu dalam satu kerak ingatan selamanya

Kamis, 29 Agustus 2024

Anjing-anjing Jimbaran

Pagi ini di Bali, tidak ada yang lebih bahagia dari anjing-anjing Jimbaran yang tadi kamu temui

Minggu, 25 Agustus 2024

Keputusan m(u/k)

aku titipkan impian-impianku tentang negeri ini kepada bocah-bocah ingusan kemarin sore yang saat ini sedang berteriak-teriak di depan gedung dengan tiket masuk termahal di negeri ini.

aku lebih memilih kembali tidur, lalu terbangun membaca berita esok hari dan membicarakan tentang betapa brengseknya aparatur negara di sela-sela waktu makan siangku.


Sungguh

menatap langit bertabur bintang malam ini membuatnya berpikir ada kemungkinan walau kecil saja bahwa ia menatap satu bintang yang sama yang kamu pandang hari ini walau mungkin kemungkinan itu bisa saja menjadi nol karena kamu tak melihat bintang malam ini namun toh ia senang yang membayangkan yang romantis-romantis seperti itu daripada membayangkan andaikan kalian bertemu dan tak ada lagi sapaan atau kalimat lembut mesra darimu keluar. betul. sungguh

maksudnya begini, alternatif lainnya adalah ia akan kembali ke dalam kamarnya setelah menyalakan dupa dan berdoa kepada dewa-dewa yang menyayat hati dan tulang berharap bahwa masih ada kemungkinan walaupun kecil untuk kalian akan tetap bersama lebih lama walau hanya sehari saja.

diantara dua pilihan itu, bukankah pilihan pertama lebih menarik? betul. sungguh.

seharusnya ada sesuatu

membaca pesan darimu membuatku akhirnya membuatku berpikir bahwa seharusnya ada sesuatu di antara kita.
 
namun saat kucoba ingat dengan pasti setiap langkah ragu yang aku ambil setiap malam menuju rumahmu, injakan kakiku di atas lantai dansa, tawa lepasmu di atas mobil, cerita yang tak habis di atap rumahmu, cahaya matahari yang masuk pelan-pelan di antara rambutmu setiap pagi, dan pelukan pelanmu saat aku akan pergi, aku benar-benar yakin bahwa kita memang tak pernah ada apa-apa.