Ia akan hadir dalam mimpimu,
menjelma menjadi belukar liar di ujung jalan aspal dan diam saja seperti batu.
Ia akan hadir dalam mimpimu, sungguh.
Berubah akar darn arang, mencoba mengayuh sepeda dan jauh berlabuh
Ia akan hadir dalam mimpimu, mungkin.
Terdiam di atas air terjun, menghitung mimpi mengiris ingin.
Ia akan hadir dalam mimpimu setelah lewat pagi dan kamu ingin menari.
Tapi tidak malam ini
Senin, 11 September 2017
Sabtu, 02 September 2017
Yang buta
Yang buta tentu tidak bisa melihat hujan namun dingin tetap mampu menusuk kulit.
Lalu bagaimana yang buat dan mati rasa?
Tentu ia tetap bisa mencium aroma air menggerus tanah
Rabu, 30 Agustus 2017
Orang ketiga tidak tahu segala
Kamu selalu berbicara seperti tokoh utama suatu drama tragedi yang sedang bermonolog dan bercerita pada sudut pandang orang ketiga tidak tahu segala,
"Dan kalau penulis drama kita adalah penulis drama yang baik, kita akan baik saja,"
Ujarku saat kusinggung pemikiranku padamu.
Kamu diam dan menghembus nafas bercampur sisa-sisa asap rokok yang masih berserak di paru-paru.
"Kalau penulis drama kita adalah benar penulis drama yang baik, aku harap..."
Kamu kemudian berhenti. Seperti tidak ada apa-apa kamu lanjut membakar rokok yang terputus dan diam saja menghisap udara bercampur nikotin.
"Aku harap apa?" Desakku tak sabar.
Kamu tersenyum,
"Aih, Sayang. Tokoh cerita yang baik tak pernah membocorkan cerita pada para pembacanya."
Selasa, 29 Agustus 2017
Hingga subuh hampir tiba
Tapi ia masih merindukanmu dengan rindu yang ia simpan diam-diam dibalik kaki-kaki meja dan kisi-kisi pintu.
Dan dengan setiap dentuman jendela yang menutup serta nyanyian burung parkit yang tertahan di kerongkongan, dengan baik ia sembunyikan rindumu hingga tak mampu ia temui sepanjang siang saat ia sibuk bekerja.
Namun saat malam tiba, rindu itu keluar tidak tahu malu membangunkannya saat ia setengah tertidur dan enggan membiarkannya terlelap sampai subuh hampir tiba.
Dan saat pagi tiba, rindu itu akan diam saja membiarkan nya terduduk memakan asap untuk sarapan lalu bekerja dan makan siang sambil bersiap untuk muncul malam lagi dan menemaninya hingga subuh hampir tiba.
Dan begitu seterusnya.
Kamis, 17 Agustus 2017
Bahasa buatanmu sendiri
Bicara tentang kebahagiaan bagimu membuatku belajar menggunakan bahasa buatanmu sendiri sementara membiarkan kata-kata yang mengalir menggantikan perasaan.
"...dan walau sekarang sudah pukul sebelas malam aku kamu kita mereka masih pula enggan tertidur."
kita biarkan anak-anak kita kelak dirawat sore dengan cukup baik hingga mereka besar sebelum tengah malam sedang kita akan keluar pukul Dua belas malam lebih satu menit untuk menari."
Dan seperti biasa aku tak mengerti. Kamu hanya terdiam di bangku penumpang menyandarkan kepala pada bahuku sementara aku berpikir hendak kemana kita malam ini.
Sedang malam semakin panjang dan cerita kita akan semakin pendek. Aku melihat ke trotoar,
"Ciranai." katamu.
Aku mengerti tak mengerti bahasamu lagi. Aku mencoba tak peduli tapi bagaimana mungkin aku tak peduli padamu?
"...dan walau sekarang sudah pukul sebelas malam aku kamu kita mereka masih pula enggan tertidur."
kita biarkan anak-anak kita kelak dirawat sore dengan cukup baik hingga mereka besar sebelum tengah malam sedang kita akan keluar pukul Dua belas malam lebih satu menit untuk menari."
Dan seperti biasa aku tak mengerti. Kamu hanya terdiam di bangku penumpang menyandarkan kepala pada bahuku sementara aku berpikir hendak kemana kita malam ini.
Sedang malam semakin panjang dan cerita kita akan semakin pendek. Aku melihat ke trotoar,
"Ciranai." katamu.
Aku mengerti tak mengerti bahasamu lagi. Aku mencoba tak peduli tapi bagaimana mungkin aku tak peduli padamu?
Senin, 14 Agustus 2017
Reruntuhan
Jatuh cita di pelukan bola matamu
Ia berkata,
"Aku batu setiap malam sebelum pagi sesudah siang."
Dan apakah ada yang masih bercerita tentang kelopak mata dan betapa jarak antara bola mata dan horizon mendadak bisa terasa tak terhingga.
Rabu, 02 Agustus 2017
Melihat langit Jakarta
Untuk apa tengadah setiap malam dan hanya mampu melihat belantara baja di sepanjang panorama?
"Untuk apa kamu tinggal di tempat semacam ini?"
Tanyamu.
Tapi bukankah kota adalah kumpulan kita? Dan di antara kita ada beberapa yang mencintai langit tak berbintang atau berbintang?
Tapi bukankah mungkin jika semua masalah waktu? Dan sekarang bukan waktu yang tepat dan aku bukan mengantarmu pulang pada malam hari dan sisa malam-malam serta siang di sela-selanya
Langganan:
Postingan (Atom)