Jumat, 08 Agustus 2014

Pada malam itu

Pada malam itu ia ingin lupa sedang ada dimana, harus pergi kemana atau bahkan tentang sekedar siapa dia.
Bisa jadi karena ia sedang rindu kepada siapa yang enggan ia sebutkan namanya.

Jumat, 18 Juli 2014

Farewel

Suatu saat mungkin kamu akan merindukan Balikpapan setengah mati sehingga kamu enggan pergi kemana-mana lagi sebelum sempat berada disini.
Tapi untuk sekarang ini kamu benar-benar harus pergi

Selasa, 15 Juli 2014

Desing

Telah sampai desingan pelurumu di telingaku.
Maka aku berandai-andai berapa jauh antara yaman dan jalan pulang. Atau Yerusalem dengan Roma. Atau hatiku dengan hatimu.
Sayang aku hanya mampu melihat saat sekujur tubuhmu penuh luka

Senin, 07 Juli 2014

Yang tak pernah pulang

Puisiku tertahan di gerbong terakhir sebelum mimpimu.
Mungkin ia enggan membayar tiket atau kondektur terlalu malas untuk mengampuninya yang jelas ia tak lagi menuju ke pikiranmu.

Aku tak pernah ingat jelas rupanya tapi lucu aku tak pernah bisa lupa aromanya.
Mungkin kamu ingat tapi kupikir-pikir lagi mana mungkin kamu mengingat sesuatu yang tak pernah kamu rasakan?

Mungkin jika kamu sedang dalam perjalanan pulang dari mimpimu ke mimpiku bisa saja kamu temui puisiku yang tak pernah pulang di salah satu stasiun

Selasa, 24 Juni 2014

Mungkin karena harus pulang

Mungkin karena harus pulang aku hanya tersenyum saja di halaman rumahmu.
Masih ingat aku, sore waktu itu. Kamu baru saja membawakan segelas air putih baru.

Aku menunggu.
Entah langit yang memburu, atau sekedar isyarat matamu untuk tak menghentikan temu.

Selasa, 17 Juni 2014

Mungkin (saja)

Mungkin ada bayanganmu diam-diam mengintai.
Bukan di kota ini, tapi kota yang teramat mirip dengan kotamu tapi bukan kotamu.

Jadi kita bisa diam-diam saja berjalan pulang sendiri-sendiri dan berandai-andai berjalan berdua.

Mungkin juga telah menjelma kota harapanku. Dan hadapanmu. Harapan kita. Tentang bayangan, kota, dan jalan berdua.

(dan tentang kita)

Mungkin suatu saat aku tak perlu lagi berkata -ku atau -mu.
Mungkin hanya akan ada kita.

Atau mungkin (saja) jalan masih terlalu terjal berliku.

Maaf aku harus menulis

Maaf aku harus menulis,
bukan karena ingin.

Mungkin karena kamu sedang tampak cantik-cantiknya malam ini.
Mungkin karena pena sedang tajam, dan pikiran sedang sebaik-baiknya.

Mungkin karena aku harus pulang dan segera berpuisi